Lord Of The Heaven And Hell

Lord Of The Heaven And Hell
Pelayan Yang Beruntung Atau Tidak Beruntung.


__ADS_3

Klein di pagi hari yang cerah sedang berolahraga untuk melatih fisiknya.


Dia sedang push up di tempat yang ia biasa kunjungi bersama yuri ya itu tempat pertamakali mereka bertemu.


Klein melakukan push up hingga 100 kali perhari.


Sesudah melakukan itu ia bangkit, klein tak mengenakan pakaiannya sekarang, tubuhnya yang lumayan berisi, serta perutnya yang sudah mulai terbentuk membuatnya sangat sehat dan segar.


"Huftt... nanti sore aku akan melaksanakan pertemuan Eternity Club." Sambil mengelap tubuhnya dengan handuk, klein sedikit meminum botol air yang di berikan Melissa tadi sebelum ia berangkat ke sekolahnya. "Aku harus membawa skill penyembuhan nanti."


Tak lama kemudian terdengar suara orang membuka pintu.


Lonceng berbunyi.


"Oh kau pulang sayang?" Yuri menyambut klein dengan hangat, ia memeluknya, dan mengantar suaminya untuk ke meja makan.


"Hei apa melissa belum pulang?" Klein bertanya sambil mengambil posisi duduknya yang biasa.


Klein mengambil sepotong roti di atas meja lalu memakannya.


"Paling sebe-" Suara lonceng pintu rumah berbunyi.


"Oh sudah makan siang rupanya?" Melissa akhirnya datang tepat ketika mereka membicarakannya.


Klein untuk pertama kalinya hari ini merasakan masakan istrinya.


"Nah, silahkan dinikmati kalian berdua! walau tampangku tomboy seperti ini, hobiku itu memasak lho!" Dia kembali membuat senyum yang biasanya, klein untuk pertama kali merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya sebagai seorang suami.


Klein perlahan mengambil sendok, dan terlihat sebuah sup daging ayam di sajikan di depannya, dan ia perlahan memasukan satu sendok air sup dengan ayamnya, ia perlahan lahan memasukannya ke dalam mulutnya.


"Ini enak.." Klein tersenyum ketika ia mencoba sup itu, lalu yuri juga di sampingnya tempat klein duduk ia tersenyum dan berkata.


"Aku senang jika kau menyukainya.


......................


Sebelum menjelang sore, klein sedikit berjalan jalan.

__ADS_1


Di tengah keramaian dan di penuhi oleh toko barang yang mahal, klein berjalan menyusuri tok toko itu, lalu klein menemukan toko jam saku.


"Ini dia." Klein perlahan mendekat, dan membuka pintu toko, secara bersamaan lonceng pintu toko itu juga berbunyi.


"Oh, selamat datang tuan~." Suara seorang pria paruh baya menyapa klein dengan hangat.


"Ah, aku mencari jam saku berwarna campuran emas dan perak." Klein pun berjalan ke arah jam yang sangat banyak itu, di dinding terdapat jam gantung di bawah terdapat juga jam, sangat banyak.


"Ah ini," Klein menemukan jam yang ia cari.


Klein menyentuh jam itu, lalu ia mengambilnya, "Ini perasaan nostalgia waktu aku ulang tahun dan dulu di kehidupan ku ya g sebelumnya adik perempuan kecilku lah yang memberikan sebuah jam saku bermodelkan seperti ini dulu." Klein lalu ke meja kasih dan menyerahkan bayarannya.


Selanjutnya. Klein terlihat keluar dari toko jam tersebut dan berjalan ke timur.


"Sudah mau sore, haruskah aku bersiap?" Klein melihat jam sakunya yang menunjukan arah jam 4.


Sesampainya ia di rumah klein lalu mengunci pintu kamarnya rapat rapat. "Mari kita mulai.."


Sebuah lingkaran cahya berwarna emas kecil langsung membawa klein ke aula dewa.


Tok Tok* Klein mengetuk meja itu dua kali, sama halnya ketika audrey dan alger di panggil, dengan cara sama pula yang dilakukan oleh klein.


Di taman keluarga hall, audrey terlihat sedang menggambar seseorang, pria yang di gambarnya dengan sebuah lukisan terlihat mengenakan jas hitam pekat, dengan kemeja putih, sangat mirip dengan klein.


Tiba tiba mendapat panggilan untuk menghadiri pertemuan Eternity Club.


"Apa seperti ini kira kira gambar wajah beliau ya?" Audrey memeluk dirinya sendiri. "Kuyakin wajah beliau sangatlah tampan!"


"Putri audrey, anda ada jadwal untuk kelas menari sekarang." Seorang pelayan pribadi audrey, wanita muda berusia 24 tahun, penampilannya cantik, dengan rambutnya yang biru tua, dan pandangan matanya yang seakan tak peduli dengan segalanya serta sifatnya yang dingin, melihat audrey sedang melukis sesosok seseorang.


"Hmm, tumben sekali tuan putri menggambar lukisan seseorang... Siapa dia?" Pelayan nya perlahan mendekat ke samping audrey, wajah mereka bersebelahan melihat lukisan itu.


"Hehehe, Lyne aku tidak menggambar siapa siapa kok~" Nada audrey terlihat begitu bergetar.


Lalu tiba tiba muncul sebuah balon berwarna kuning, audrey yang menyadari itu muncul di sampingnya dekat dengan Lyne(pelayan pribadinya) langsung panik.


"Hmm, balon? siapa yang membuatnya?" Lyne nampak ingin meletuskan balon tersebut, ia perlahan berusaha meledakkan balon itu.

__ADS_1


"TIDAK LYNE, JANGAN KAU SENTUH!" Pluck!


Suara letupan itu langsung membawa mereka berdua yang sedang bersentuhan.


Seketika sesampainya di taman aula dewa, Lyne yang tersadar terkejut dan kagum, "Aula bangsawan mana yang memiliki taman yang indah ini!?" Secara bersamaan audrey langsung menepuk pundak lyne, "Lyne! sudah ku bilang jangan memecahkannya!" Lyne hanya terdiam dan heran melihat tingkah laku audrey yang tak biasa, di karenakan lyne adalah pelayan yang tumbuh bersama audrey, ia baru pertama kali melihat audrey menjadi emosional dan marah seperti itu.


"Haaaah~ Sudahlah, bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada beliau?" Audrey lalu melirik ke arah Lyne yang memakai baju maid di samping kirinya yang langsung berhadapan dengan taman yang indah.


"Lyne ikuti aku, kau harus bertemu Tn. Iblis.." Audrey lalu pergi ke arah pintu besar yang berhiaskan megah berwarna putih dengan kemilau keemasan layaknya sebuah akar.


"Tn. Iblis?" Lyne terheran dan mengikuti Audrey dari belakang.


Perlahan lahan audrey sampai ke pintu itu, namun pintu itu tak bisa di buka, karena pintu itu membutuhkan sebuah kata kunci dari member membernya.


Audrey di depan pintu besar itu mengucapkan.


"Aku The Justice, menghadap kepada sang dewa!"


Gemuruh.


Gemuruh tiba tiba terjadi lyne terkejut karena pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri.


Audrey perlahan memasuki aula, sekaligus di ikuti oleh pelayan nya.


Audrey dari kejauhan sudah melihat sesosok yang agung, duduk di kuris pemimpin sambil bersandar dan menaikan kakinya di atas kakinya yang lain, ia terlihat seperti bos CEO.


Audrey lalu memberi hormatnya seperti biasa.


"Pelayan the justice, menghadap ke yang mulia..." Audrey lalu sedikit mengangkat kepalanya dan tersenyum.


Namun beda dengan klein, yang tiba tiba mengeluarkan tatapan yang menakutkan, itu bisa dilihat oleh mereka karena tiba tiba cahaya merah menembus kabut tebal itu, itu menandakan bahwa klein sedang waspada atau menunjukkan ekspresi tak senang.


"Sebelum kau duduk, audrey, bisakah kau jelaskan siapa tamu yang tak ku undang ini datang bersamamu?" Klein menatap pelayan itu dengan tajam.


"E-h aku!?" Pelayan itu langsung terkejut, dan bingung karena ini bukan peristiwa biasa yang pernah ia alami seumur hidupnya.


Sementara itu di depan mereka klein sudah sangat menunjukkan bahwa dia tak senang dengan orang yang di bawa audrey secara tak sengaja.

__ADS_1


__ADS_2