Love In Venice

Love In Venice
Episode 36 Mrs. Mante


__ADS_3

Syaha menuruni tangga satu persatu. Matanya menjelajahi setiap detail rumah Ray di London. Gaya bangunan serta perabot yang dipakai bergaya klasik. Rumah itu dominan kuning gold. Benar-benar seperti istana raja. Dari atas Syaha bisa melihat keadaan di bawah. Para pelayan berjajar rapi di belakang meja makan panjang. Disana Syaha bisa melihat Ray sedang berbincang dengan dua wanita, yang satu muda satunya lagi patuh baya. Syaha mengenali wanita muda itu, Tia, adik Ray. Lalu siapa wanita paruh baya disebelah Ray? Ibunya kah? Hati Syaha tiba-tiba berdesir.


"Selamat pagi Mrs. Mante.." Salah satu pelayan menyapa Syaha begitu kakinya menginjak lantai.


Syaha terkesiap. Bukan namanya yang disebut tapi nama Mante. Marga dari ibu Ray. Syaha tahu itu.


"Panggil saya Aisyaha.." Jawab Syaha terbata. Bahasa Inggrisnya payah.


"Maaf.. Mrs. Mante saya tidak berani.." Pelayan itu menunduk hormat.


"Terserah kamu saja.." Syaha mengalah.


"Saya Sophia kepala pelayan kediaman Mante.. senang bisa bertemu dengan anda Mrs. Mante.."


Syaha tersenyum. Kehidupan bangsawan memang berbeda. Mereka punya banyak pelayan hingga harus ada kepala pelayan juga. Syaha geleng kepala.


"Sudah selesai mandi?" Suara Ray terdengar dari kejauhan. Kakinya melangkah mendekati Syaha. "Kamu cantik sekali hari ini sayang.." Puji Ray. Matanya mengkilat penuh sayang.


Syaha menjatuhkan pilihan pada gaun santai berbahan ciffon berwarna biru muda warna kesukaannya setelah melewati perdebatan panjang untuk memilih pakaian. Betapa terkejutnya Syaha ketika membuka lemari dekat kamar mandi. Itu bukan lemari, tapi walk in closet. Gila aja ya.. ketika dibuka pintunya lemari itu menyimpan berupa-rupa perlengkapan wanita. Di dalamnya tertata rapi dan sangat terurus. Dimulai dari pakaian dalam, berbagai gaun, tas, sepatu dsb. Air liur Syaha hampir menetes ketika memasukinya. Dan anehnya, semua yang ada disana adalah seleranya. Semuanya sesuai dengan ukuran Syaha. Syaha berdecak kagum. Dia yang biasanya hidup dalam kesederhanaan melihat kemewahan. Seperti mimpi saja.


"Iya.. aku memang tidak suka mandi lama-lama.." Syaha berkelit.


"Duduklah.. kami sudah menunggumu.." Ray meraih tangan Syaha kemudian menuntunnya ke meja makan.


"Tunggu.." Lirih Syaha.


"Mmm?"

__ADS_1


"Apakah itu ibumu?" Tanya Syaha.


"Iya.. Mama ingin bertemu denganmu.."


"Tapi aku belum siap.. kenapa aku harus bertemu dengannya?" Syaha mengangkat satu alisnya.


"Kita bicarakan urusan kita nanti Ais. Mama sudah menunggumu.."


Ray menarik paksa tangan Syaha.


"Silahkan duduk Mrs. Mante.." Shopia menarik kursi sebelah Ray.


"Tolong jangan panggil aku seperti itu Shopia. Aku tidak nyaman.." Syaha menudukkan wajahnya. Tak pantas rasanya menyandang nama itu sekarang. Dia bukan lagi istri Ray.


Sophia menunduk hormat. Ray memberikan tanda agar para pelayan meninggalkan ruangan.


"Pagi sayang.. bagaimana tidurmu?" Tanya ibu Ray.


"Saya tidur dengan baik Nyonya.."


"Saking baiknya sampai-sampai tak terasa sudah berpindah ke London.." Ledek Ray dengan suara terkekeh.


Syaha melemparkan tatapan sinis pada Ray. Giginya menggertak.


"Tatapanmu membunuhku sayang.. kamu memang ahlinya meluluhlan hati lawan.." Kali ini suara tawa Ray pecah. Syaha makin geram.


"Ray sudah. Jangan ganggu menantu Mama.."

__ADS_1


Menantu? What? Syaha terhenyak.


"Maaf Nyonya.. saya sudah lama berpisah dengan anak anda.." Ucap Syaha tegas. Kini dia tak canggung lagi. Dia tak ingin menunjukkan kelemahannya pada keluarga yang pernah menyakitinya dulu.


"Kakak belum menyelesaikan masalah dengan Ais ya? Aku kira sudah setelah melihat kakak membawanya kemari.." Tia buka suara.


"Sudah kok.." Jawab Ray tak ragu.


"Yakin?"


"Yakin.. sudah kan sayang?" Ray menatap Syaha.


Syaha tak faham apa yang mereka perdebatkan. Rasannya tak sopan jika membuat keributan di meja makan. Terlebih ada ibu Ray juga. Syaha akhirnya mengangguk tanda mengiyakan.


Raut wajah Ray berubah cerah sekali. Dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan hatinya.


"Ray.. Tia.. sudah jangan bertengkar. Ada Ais disini.. kita sarapan dulu ya.. Para pelayan di dapur membuatkan sarapan kesukaan Ais.." Ucap ibu Ray lembut.


"Terima kasih Nyonya.." Jawab Syaha. Mereka semua memanggil Syaha dengan Ais, pasti ulah Ray.


"Panggil Mama saja.." Titah ibu Ray.


"Hah? Mana mungkin saya berani.." Syaha gelagapan.


"Pelan-pelan saja.. Mama tidak akan memaksa.." Jelas ibu Ray dengan senyum cantiknya.


"Baik.."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2