Love In Venice

Love In Venice
Episode 41 Akhir


__ADS_3

Ray masuk kamar dengan tergesa-gesa. Dua hari ini menguras semua waktunya. Demi cinta. Itulah pembenaran hatinya karena gelisah meninggalkan kekasih tercintanya sendirian di tempat yang asing.


Mata elang Ray menangkap sosok yang tenang dalam tidurnya. Bahkan suara pintu terbuka tak mampu merenggut ketenangannya. "Dasar putri tidur.. bagaimana kamu bisa sepulas ini sedangkan aku tak bisa makan tak bisa tidur memikirkanmu.." Gumam Ray seraya duduk di tepian kasur. Ditelusurinya setiap jengkal wajah Syaha. Dia sungguh baik-baik saja.. syukurlah!. Dari dahi, mata, pipi, berakhir di bibir. Ray menghadiahi Syaha yang pulas dengan ciuman.


"Mas Ray.. kamukah itu?"


Suara lembut Syaha mengendurkan otot-otot Ray yang menegang. Semua lelahnya menguap begitu saja. Karena inilah Ray ingin selalu dekat dengan Syaha. Dengan mendengar suaranya saja semua keluh kesah Ray menghilang tanpa jejak.


"Iya.. maafkan aku.." Jawab Ray mengelus rambut Syaha pelan.


"Kapan datangnya?" Syaha mencoba bangkit dengan tumpuan tangannya.


Ray mendekat kemudian menyandarkan kepala Syaha di pundaknya.


"Baru saja.. Ais baik-baik saja? Maafkan Mas Ray.."


Syaha menggeleng. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Syaha bisa mengerti Ray. Momen pertemuan mereka setelah dua hari ini jangan dinodai dengan kata maaf atau penyesalan. Syaha hanya ingin mendengar kata-kata yang membahagiakan.


"Tidurlah.. besok akan jadi hari yang melelahkan untuk Ais.." Tutur Ray.


Wajah Syaha mendongak. Menatap Ray lekat. "Besok? Ada apa memangnya?"


"Besok kamu akan tahu sendiri.. sekarang tidurlah.." Ray mencium kening Syaha kemudian membaringkannya.


Selimut menutupi sebagian tubuh Syaha. Dengan belaian lembut Ray, Syaha kembali berkelana ke alam mimpi. Mimpi kali ini sangat indah karena dia telah bertemu dengan pemegang mimpinya.


-----


"Mas.. emang dimana sih ini?" Suara Syaha cukup kesal.


Beberapa menit yang lalu Ray meminta Syaha untuk menutup matanya ketika pesawat hendak mendarat. Syaha menurut begitu saja ketika Ray mengajaknya pergi menaiki pesawat, entah kenapa. Ketika Syaha bertanya kemana mereka akan pergi, Ray menjawab dengan santai "Kan ini kejutan.. kalau dikasih tahu sekarang ga seru dong.." Jawaban yang meluncur dari mulut Ray membuat Syaha tercengang. "Kejutan apa?" Tanya Syaha dalam hati.


Belum selesai urusan Syaha dengan otaknya yang sedang menerka-nerka, Ray memaksanya untuk menutup mata menggunakan kain hitam kemudian memepahnya turun dari pesawat. Rasa jengkelnya naik ke ubun-ubun. Ini mah bukan kejutan, tapi kekanak-kanakan.


"Sssttt.. Ais percaya kan sama Mas Ray?"


Syaha menggeleng. Dia hanya bisa mendengar suara Ray.


Mobil melaju ke suatu tempat. Syaha dengan tenang mengikuti Ray yang tak pernah melepas genggaman tangannya. Hatinya sudah lebih tenang dibandingkan tadi.


"Sudah sampai.." Suara Ray terdengar bahagia.


"Hah dimana?" Syaha tersentak. Kenyataan bahwa mereka sudah sampai di tempat yang disebut 'kejutan' membuat jantungnya berdetak tak karuan.


Ray melepas ikatan penutup mata Syaha.


Kelopak mata Syaha mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya yang dia terima. Pandangannya masih berkabut. Samar-samar dia bisa melihat bangunan bergaya klasik yang menjulang tinggi. Sekilas bangunan itu tak asing baginya. Tapi Syaha ragu untuk menerka. Dengan kebingungan tingkat tinggi, Syaha menoleh pada Ray untuk mencari jawaban. Namun Ray membalas Syaha dengan senyuman. Jelas Ray tahu Syaha memberi isyarat "Tempat apa ini? dimana ini?"

__ADS_1


"Yuk masuk..." Ray menarik tangan Syaha.


Ketika pintu di buka, pemandangan pertama yang bisa dilihat Syaha adalah Altar.


"Tempat ini?" Gumam Syaha pelan.


"Ya tempat ini. Tempat dimana Mas Ray mengucap janji untuk sehidup semati dengan Ais.. Ais ingat?"


Syaha membuka mulutnya tak percaya. Bagaimana dia bisa melupakan tempat ini. Bagian depan bangunan telah banyak berubah, makanya Syaha tak mengenalinya lagi. Tapi ketika masuk ke dalam, semuanya masih sama seperti lima tahun lalu. Tempat terukir kengangan indahnya bersama Ray.


"Mas.. kita di Venice?" Syaha tak mampu berkata-kata.


Ray mengangguk percaya diri.


"Kemarilah.." Ray membimbing Syaha untuk mendekati altar.


Tiba-tiba dari sisi kiri dan kanan secara bersama keluar orang-orang yang Syaha kenal. Dari sisi kiri keluar Anna, Nando, dan Mala. Dari sisi kanan keluar Nyonya Alice, Tia dan Sophia. Masing-masing dari mereka membawa satu ikat bunga mawar putih. Satu persatu mendekati Syaha kemudian memberika bungan mawar itu. Syaha bingung. Mereka semua tak ada yang berbicara. Hanya senyuman dan senyuman yang bisa Syaha lihat.


"Tolong seseorang bicaralah sesuatu!" Batin Syaha berteriak.


Enam buah bunga mawar putih itu tergenggam erat di tangan kanan Syaha. Dia masih tampak bingung. Matanya mencoba mencari jawaban dari mata Ray. Gagal. Ray tak menunjukkan ekspresi apa-apa.


Ray melangkah maju ke altar dengan tangan menuntun Syaha mengikutinya. Syaha pun menurut.


"Ais.. maukah mengulang janji pernikahan dengan Mas Ray?" Ucap Ray setelah mereka sampai di atas altar.


Otak Syaha baru bisa mengurai kejanggalan hari ini.


1. Bangun tidur tanpa dilayani Sophia


2. Ray menyuruhnya mengenakan dress berwarna putih


3. Mereka naik pesawat setelah tiba di tempat tujuan matanya harus ditutup


4. Ke tempat yang tak asing untuk Syaha.


Ternyata kejanggalan itu adalah rencana Ray mengajaknya ke Venice untuk mengulang janji pernikahan mereka. Semua orang tak mengatakan apapun pada Syaha. Syaha berkubang sendiri dengan rasa penasarannya. Ah.. iya. Ini kan kejutan. Kalau aku sudah tahu bukan kejutan lagi.


"Sya kok diem aja sih.. dijawab tuh.. kasihan Mas Ray dikacangin.." Suara onar Anna memenuhi seluruh ruangan. Seolah sudah tidak tangan dengan keheningan ini. Setelah itu tawa pelan mengikutinya.


"Ah dasar Anna biang kerok.." Batin Syaha mengumpat.


Ray mengeluarkan sebuah cincin berwarna putih yang lagi-lagi Syaha kenal. Cincin buatannya sendiri. Terlalu banyak fakta yang baru saja terurai di kepala Syaha. Otaknya yang lemot atau bagimana. Syaha tidak tahu jika Ray telah mempersiapkan semuanya. Mungkin saja dua hari kepergiannya ke Luan Negeri itu adalah ke Venice untuk mempersiapkan ini semua. Kalau begitu tak ada alasan lagi untuk menolaknya.


Syaha menapat Ray dalam-dalam sebelum mengangguk. Tak ada salahnya memberikan kesempatan kedua. Toh hatinya masih milik Ray, seutuhnya.


Bak mendapatkan lotre, Ray melonjak senang. Tangannya meraih pinggang ramping Syaha kemudian memeluknya posesif.

__ADS_1


"Suiit suuuiittt.." Riuh rendah suara mengolok Syaha dan Ray dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Anna ditimpali Nando dan disambut oleh yang lain.


-----


Dua tahun sudah berlalu. Waktu berjalan begitu cepat. Setelah mengulang janji pernikahan mereka, Ray dan Syaha memutuskan untuk menetap di Venice sementara waktu. Berdalih untuk menebus waktu yang telah Ray sia-siakan, dia mengurung Syaha di dalam rumah dan tidak mengizinkan istrinya itu keluar rumah. Kekanak-kanakan.


Mereka hanya tiga bulan di Venice. Kesibukan Ray menjadi faktor utama dia membawa Syaha pulang ke London setelah dinyatakan hamil. Ray tak ingin melewatkan momen sekecil apapun tentang kehamilan Syaha kali ini. Aktivitasnya yang harus bolak-balik London-Jakarta menguras sebagian waktunya hingga keguguran Syaha membuat Ray menetap sepenuhnya di London. Rahim Syaha memang sedikit lemah akibat dari kegugurannya lima tahun lalu. Rahang Ray mengeras saat mengetahui istrinya menangis tersedu-sedu karena kehilangan anaknya untuk kedua kalinya. Kalau bukan karena Syaha melarang, Ray meungkin sudah melampiaskan amarahnya pada pelayan, ibu, dan adiknya. Mereka harusnya menggantikan Ray ketika dia tidak ada. Tapi ibu dan adiknya malah sibuk dengan urusannya masing-masing, Ray sangat kecewa. Tapi Syaha melarang Ray untuk menyalahkan orang lain. Yang bermasalah adalah Syaha bukan mereka.


Satu tahun kemudian Syaha mengandung anak ketiga mereka. Belajar dari pengalaman, Ray melepas semua pekerjaannya. Dia hanya memantau dari belakang. Dokter dan tenaga medis dari seluruh penjuru dunia dia datangkan untuk memantau keadaan istri dan calon anaknnya. Lahirlah anak laki-laki pertama di keluarga Lucas. Sang penerus ayahnya, Raya Narendra Lucas. Axel, Axel Giovino Lucas. Di hari kelahirannya telah dimahkotai ayahnya dengan kerajaan bisnis Lucas Company. Bayi suci itu telah sah mewarisi kekuasaan milik Mante Family di Inggris dan perusahaan Lucas di seluruh dunia.


Disinilah mereka sekarang. Di Jakarta. Syaha menggendong anaknya yang tertidur pulas dengan Ray yang selalu setia menemani. Banyak orang yang Syaha kenal, mereka adalah rekan kerjanya dulu di Lucas Company. Hari ini adalah kemunculan pertamanya sebagai istri Ray. Semua karyawan Lucas Company memanggilnya Nyonya, sejujurnya Syaha tidak nyaman. Tapi mau bagimana lagi, keadaan yang menuntutnya begitu.


"Hai Nyonya Lucas.. lama tak bertemu.. Kelamaan di London udah kayak bule aja nih.." Suara rese itu yang sangat dikenal Syaha, suara Anna.


"Hai Ann.. kapan datang? Kok ga telpon aku sih.." Jawab Syaha dengan senyum cerah.


Hanya dua tahun tapi terasa lama tak bertemu Anna. Mereka sesekali bertukar kabar. Ketika Syaha melahirkan, Anna berencana menjenguk ke London tapi langsung ditolak Syaha. Toh nantinya mereka juga akan bertemu di pernikahan Mala dan Nando. Sekarang inilah acaranya. Baik Syaha ataupun Anna tak ada yang menyangka jika diam-diam Mala dan Nando saling memendam rasa sejak pertemuan pertama mereka di Venice. Memang ya.. Love in Venice.


"Ann kamu kapan nyusul?"


Lah ini.. pertanyaan yang akhir-akhir ini dibenci Anna.


"Kapan-kapan deh Sya.." Anna menjawab malas.


Syaha tersenyum puas. Kapan lagi bisa gatian meledek Anna.


"Kapan kamu balik ke London Sya?"


"Ga tau nih.. Mas Ray katanya sekalian ngurus beberapa hal di cabang sini.." Jawab Syaha.


"Mmmm.. enak ga jadi Nyonya rumah bangsawan Sya?" Tanya Anna tiba-tiba.


"Ya gitu deh Ann.. aku sudah terbiasa. Mereka semuanya ramah dan tulus padaku.." Jawab Syaha jujur.


"Syukurlah.."


Tubuh kecil di gendongan Syaha menggeliat. Perlahan mata kecil dengan bola mata birunya yang indah terbuka. Siapapun yang melihatnya akan tersihir. Entah dari mana bayi kecil ini mendapatkannya. Bola mata ayah dan ibunya berwarna coklat. Konon katanya warna itu mirip kakek buyutnya.


"Sayang.. sapa tante Anna.." Ucap Syaha pelan.


"Hai Axel.. jagoaan tante sayang.." Anna mengelus pipi gembul Axel. Bayi mungil itu tak nyaman. Dia menggeliat di gendongan Syaha, seolah memprotes kalau dia masih mengantuk.


"Ya ampun.. lucu banget sih Sya.. darimana bisa dapat mainan kayak gini.." Anna terus menggoda pipi gembul Axel. Sang pemilik tampak kesal.


"Makanya nikah.."


Tawa meledak dari mereka berdua.

__ADS_1


END.


__ADS_2