Love In Venice

Love In Venice
Episode 37 Debaran


__ADS_3

Sarapan pagi yang menggembirakan. Syaha terharu bisa terlibat dengan acara makan pagi yang belum pernah ia rasakan. Orang tuanya meninggal saat usianya masih sangat muda, lima tahun. Kahidupan panti membuatnya dewasa lebih cepat dan berfikir realistis. Kemiskinan yang menggelungnya tak mengizinkannya mencecap hidup mapan.


"Bisa kita bicara sebentar Tuan Lucas?" Ucap Syaha setelah makan pagi. Di meja makan tersisa Ray dan Syaha saja. Ibu dan adiknya sudah lama meninggalkan meja karena kesibukan masing-masing.


"Ya tentu saja.." Jawab Ray seraya bangkit dari duduknya kemudian naik ke atas menuju kamar yang di pakai Syaha tadi. Syaha mengekor dibelakang.


Mereka sudah sampai di dalam kamar. Syaha bingung kenapa masuk ke kamar yang dia gunakan.


"Ais mau tanya apa sama Mas Ray?" Tanya Ray lembut.


"Apa maksudmu membawaku kemari?"


"Ais beneran pengen tahu?"


Syaha mengangguk.


Langkah Ray mendekat kemudian.. cup.. dengan kecapatan cahaya, Ray mencium bibir Syaha.


"Karena aku mencintaimu.. karena kamu adalah istriku.. karena hanya kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti.."


Tubuh Syaha membatu. Belum selesai keterkejutannya dari tindakan Ray menciumnya, Ray menambahnya dengan membuka kaos yang dia gunakan tiba-tiba di depan Syaha.


"Apa yang kamu lakukan?" Pipi Syaha merona.

__ADS_1


"Ganti baju.. aku harus berangkat ke kantor Ais.. mau ikut Mas Ray kerja?" Jelas Ray berjalan ke walk in closet.


Syaha memalingkan wajahnya. Apa-apaan dia buka baju di depanku.. jantungku tenanglah.. Syaha menekan dadanya keras. Jantungnya melonjak tak karuan karena melihat dada Ray yang telanjang. Tubuh atletis itu semakin sexy, lebih sexy dari lima tahun yang lalu. Rasanya Syaha ingin menerkam Ray. Gairahnya terbakar hanya dengan melihatnya. Keindahan itu bak patung dewa Yunani.


Belum selesai menenangkan jantungnya, lagi-lagi Syaha dibuat tercengang oleh penampilan Ray yang seperti keluar dari katalog pakaian kerja brand ternama.


Kemeja putih dipadu dengan tuxedo warna blue royal dan dasi warna senada. Celana panjang slim fit tampak pas di kaki Ray. Darah panas mengalir cepat ke seluruh tubuh Syaha. Pesona Ray menyilaukan mata. Jas yang serasi dengan tuxedonya melengkapi penampilan Ray kali ini. Syaha mungkin sudah gila hingga tak mau menerima Ray. Nyatanya pesona Ray membuat gairahnya berkobar.


"Tidak usah terpesona begitu.. Mas Ray akui memang Mas tuh ganteng.." Ucap Ray seraya memakai jasnya.


"Ih pede banget sih.." Syaha berkacak pinggang. Haruskah membuat pengumuman keseluruh penjuru dunia? Helloo.. semua orang juga tahu jika pemilik Lucas Company masih muda dan tampan. Bahkan ditubuhnya mengalir darah bangsawan Inggris, Mante Family. Keluarga yang terpandang di Inggris.


"Sepertinya Mas Ray harus membuktikan ketampanan Mas Ray di depan Ais nih.."


Langkah Ray maju mendekati Syaha. Syaha yang sadar akan jarak mereka yang semakin dekat melangkah mundur. Ray maju selangkah, Syaha mundur dua langkah. Dan terus hingga tubuh Syaha terjungkal ke kasur.


Ray tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung **** tubuh Syaha kemudian mengungkungnya.


"Dasar keras kepala.." Ray tersenyum.


"Lepaskan!" Syaha meronta. Usahanya untuk lepas dari kungkungan Ray gagal. Tenaganya kalah kuat.


"Tidak mau.. siapa suruh menggoda Mas Ray duluan.."

__ADS_1


Deg


Tatapan mereka terkunci. Syaha segera memalingkan wajahnya. Sadar Sya.. sadar.. bisa gila aku lama-lama begini.. Batin Syaha berteriak lantang. Mungkin saat ini pipinya sudah merona karena malu. Malu ditatap Ray dengan intens. Rasa debaran hatinya sama seperti lima tahun lalu. Ternyata cintanya pada Ray tak pernah berubah.


Kendalikan Sya kendalikan.. jangan sampai dia dengar detak jantungmu tak beraturan.. Syaha menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha keras untuk bersikap normal.


Ray yang melihat wajah gugup Syaha tersenyum penuh kemenangan. Bibir Syaha yang memerah karena digigit pemiliknya mengundang gairahnya.


Bola mata Syaha membulat saat Ray mencium bibirnya. Ciuman kecil berubah menjadi lumatan dan gigitan kasar. Syaha tersentak. Matanya terpejak kuat. Apakah ini nyata? Bibirnya manis sekali.


Sentuhan Ray membuat Syaha melayang. Otaknya blank.


Syaha membalas ciuman Ray saat lidah pria itu menuntutnya untuk menikmati kemesraan ini bersama. Syaha melingkarkan kedua tangannya di leher Ray. Menekan leher Ray untuk lebih memperdalam ciumannya.


"Aku harus berangkat ke kantor sayang.." Ray melepas ciumannya.


Syaha tak berdaya. Rasa hatinya kehilangan saat Ray menarik bibir manisnya. Syaha sedang mengatur nafasnya.


Diam. Syaha tak bisa menjawab. Dia tak mungkin mengatakan pada Ray jika dia menginginkan lebih dari ciuman.


"Sampai bertemu nanti malam sayang.. kalau kamu bosan, kamu bisa meminta Sophia untuk menemanimu keliling rumah.. pasti sangat menyenangkan.." Titah Ray.


"Aku mencintaimu.." Bisik Ray kemudian menarik dirinya berdiri. Langkahnya melebar meninggalkan Syaha.

__ADS_1


Ray sama dengan Syaha. Dia ingin melakukan lebih daripada ciuman dengan Syaha. Tapi apa daya, dia ada janji penting hari ini. Nanti malam. Ray akan melakukannya nanti malam.. melepas rindu dengan Syaha yang dia rindukan selama ini.


Bersambung...


__ADS_2