Love In Venice

Love In Venice
Episode 39 Ya


__ADS_3

"Tuan besar lembur di kantor Nona. Tuan memerintahkan pada kami untuk melayani anda makan malam Nona.." Salah satu pelayan masuk ke dalam kamar.


"Aku masih kenyang. Aku ingin istirahat di kamar saja.." Jawab Syaha malas.


Tubuh terasa dingin setelah kembali dari jalan-jalan sore tadi. Bukan karena dia tidak nyaman di rumah Ray tapi karena Syaha merasa tidak pantas disana. Kenapa Ray membawanya kemari? Itulah pertanyaan terbesarnya. Besoklah biar Syaha tanyakan pada Ray, hari ini tubuhnya lelah sekali. Syaha merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama kemudian tubuhnya sudah berkelana ke alam mimpi. Hari ini cukup sampai disini saja.


-----


Ray masuk rumah dengan terburu-buru. Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Dia tak menyangka jika meetingnya bisa selama itu. Ray sudah menahan tak bertemu Syaha sejak dia berangkat. Orang-orang Lucas di London memaksanya untuk tetap di kantor.


"Orang-orang tua itu keterlaluan.." Geram Ray begitu menginjakkan kakinya di lantai rumahnya.


"Begitulah mereka Tuan.. mereka sudah lama tak bertemu anda ketika anda berada di cabang Jakarta.." Suara lirih asisten pribadinya di London terdengar menenangkan.


"Apa karena mereka tahu istriku disini makanya mereka membuatku bekerja siang dan malam? Argghhh.. mereka keterlaluan!" Suara Ray meninggi.


Ray melihat Sophia dan beberapa pelayan menyambut kedatangannya.


"Dimana dia?" Tanya Ray tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Nona sudah tidur Tuan. Tadi Nona melewatkan makan malam. Sepertinya Nona tidak nafsu makan.." Jawab Sophia penuh penghormatan.


"Jangan ada yang naik ke atas sampai kami turun Sophia.. kalian boleh beristirahat. Tidak perlu mempersiapkan apa-apa. Kalau kami butuh sesuatu akan kami urus sendiri.." Titah Ray.


"Baik Tuan.." Sophia pamit kemudian diikuti oleh beberapa pelayan.


Dengan langkah cepat Ray naik ke lantai dua kemudian berjalan ke arah kamar paling ujung. Ketika membuka pintu kamar Ray sedikit kecewa karena Syaha tenyata sudah di alam mimpi. Tapi Ray juga tak menyalahlan Syaha. Pekerjaan sialan itu menuntutnya untuk pulang larut malam. Di sisi lain merasa lega jika Syaha tak protes dipaksa untuk tinggal di London. Bahkan Syaha tak menanyakan kenapa dia di bawa kemari. Eh bahkan dikurung disini.


Ray segera melepas jas dan membuangnya di sembarang tempat. Tidur nyenyak Syaha membuatnya iri. Ray menyusup ke dalam selimut Syaha kemudian menyusul ke alam mimpi. Tangan bersarnya melingkar di perut Syaha. Damai. Nyaman. Hangat.


-----


Mata memang masih terpejam tapi bahasa tubuh masing-masing terjaga, sadar. Gesekan kulit dan posisi berdekatan mengakibatkan mereka peka satu sama lain. Biar mereka mencari sebuah pelepasan. Bergelung gairah dan ciuman panas menjadi pembuka siang ini.


Ketika Syaha terjaga sepenuhnya, Ray sudah berada di atasnya, **** tubuh Syaha dengan senyum mengembang. Ray melumat bibir Syaha rakus. Bibir itu terasa sangat manis dan membuat candu. Nafas mereka tersengal karena ciuman panas. Ray menempal dahinya ke dahi Syaha. Mereka saling membalas senyum.


"Izinkan aku menyentuhmu.." Bisik Ray pelan.


Syaja terhenyak. Matanya membulat sempurna.

__ADS_1


Dengan pipi merona merah. Syaha mengangguk sedikit malu, dia menjawab.. Ya!


Bak gayung bersambut. Ray langsung menyerang Syaha membabi buta. Gairah yang dia pendam lima tahun ini menguap. Kerinduan akan sentuhan Ray juga dirasakan Syaha. Sentuhan yang membuatnya melayang.


Siang itu terjadilah percintaan yang indah. Ray memperlakukan Syaha dengan lembut dan hati-hati. Tubuh Syaha yang kurus dan terlihat ringkih membuat Ray takut. Takut jika dia berbuat kasar, tubuh itu akan hancur.


Ray memberikan ciuman kecil di bibir dan pipi Syaha ketika tubuh Syaha gemetar menerima sentuhannya. Tubuh Syaha telah berubah, Ray menyadari itu. Syaha telah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan tubuh yang indah. Ray semakin dibuat mabuk kepayang kala menyatukan tubuh mereka.


"Apakah aku menyakitimu?" Ray berhenti sejenak.


"Tidak. Ini pertama kalinya setelah lima tahun berlalu.." Jawab Syah membelai rambut hitam Ray yang berantakan.


"Aku akan pelan-pelan.." Ucap Ray pelan.


Syaha mengangguk.


Penyatuan tubuh mereka saat ini sudah cukup jelas menjadi jawaban Syaha atas permohonan Ray untuk kembali padanya. Ray tak perlu lagi pusing memikirkan cara untuk memenangkan hati Syaha lagi.


Ray tersenyum penuh kemenangan saat melihat tubuh tak berdaya Syaha di bawahnya dengan nafas terengah dan dahi penuh keringat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2