
Wanita menjadi masalah yang penting sekarang. Seorang Axel Lucas yang memandang wanita sebagai objek hiburan semata dipaksa orang tuanya untuk menikah. Lelaki 30 tahun yang hanya tahu senang-senang dipaksa untuk berkomitmen. Jantung Axel hampir meledak saking kesalnya.
Dia masih ingin senang-senang. Seorang istri akan menjadi penghalang hobinya itu. Dia selalu bergidik ngeri ketika melihat temannya buru-buru pulang dari pesta atau clubbing karena telpon dari istri mereka. Dari situlah Axel tak pernah serius dengan seorang wanita.
Arrrggghhh..
Axel mengusak kasar rambutnya. Seperti jatuh ke lubang hitam tak berdasar. Berat. Berat sekali. Bukannya tak mau berbakti, Axel punya alasan tersendiri kenapa dia belum menikah di usia 30 tahun.
Axel tak pernah bersama wanita lebih dari tiga hari. Karena wanita hanya objek pemuas nafsunya, Axel tak mau menjalin hubungan dengan mereka. Melihat seorang wanita yang bergantung padanya membuat Axel muak. Semua wanita yang mendekatinya selalu punya motif yang sama, karena uang. Mereka dengan suka rela melemparkan tubuh mereka pada Axel hanya demi kekuasaan dan kekayaannya. Alasan inilah yang membuat Axel jijik dengan perempuan.
-----
"Axel.. teman mama punya anak perempuan cantik. Mau mau kenalin?"
Ini lagi. Kapan semua ini berakhir. Setiap akhir pekan dia dijejali dengan kencan buta atau perjodohan yang dilakulan mamanya.
"Ma.. kali ini siapa lagi? Anak perdana menteri?" Axel mendengus kesal.
"Anak teman mama di London.. bagaimana kalau akhir minggu ini? Beritahu mama wanita seperti apa yang kamu suka biar mama carinya gampang.." Mulut Syaha nyerocos.
"Bersikaplah baik pada mereka Axel. Tiga wanita yang datang ke perjodohan itu mengaku kamu sangat dingin pada mereka.."
"Sudahlah ma.. aku ga akan cocok sama mereka.." Axel kehabisan kata-katanya.
"Gimana mau cocok kamu aja ga mau terbuka sama mereka.."
"Mama cukup. Axel bisa mengurus hidup Axel sendiri. Tolong jangan ikut campur lagi.."
Axel bangkit kemudian pergi meninggalkan mamanya tanpa menoleh. Teriakan dan panggilan ibunya tak dia dengar. Langkah terus maju menuju mobil yang dia parkir di halaman depan rumah keluarganya di London.
Dia sangat tidak suka dipaksa. Dia berbeda dengan Tsuma. Tsuma adalah anak penurut. Axel berbeda. Dia suka dengan kebebasan. Meskipun begitu, Axel pria penuh tanggung jawab. Dia tak pernah meninggalkan tanggungjawabnya sebagai CEO Lucas Company.
-----
__ADS_1
Harus cari pelampiasan.
Axel membabi buta melampiaskan segala amarahnya. Dua hari dia tidak pulang ke rumah Mante.
Keluar masuk club malam menjadi hobinya baru-baru ini. Posisi barunya menjadi CEO Lucas Company mempersulit segalanya. Dia tak bisa sebebas dulu. Tempat yang dia sukai tak bisa lagi di datangi dengan leluasa. Hanya club malam kelas atas yang bisa dia kunjungi.
Jatuh sejatuh-jatuhnya. Semuanya menjadi sulit setelah dia menetap di London dan menjadi CEO muda Lucas Company.
-----
Drrttt drrrttt
Ponsel Axel terus bergetar. Meronta-ronta ingin segera di angkat.
Axel bangun sekuat tenaga. Salah satu tangannya menopang tubuhnya yang layu sedangkan tangan satunya memijit pelipisnya yang terasa nyeri ketika kepalanya ditegakkan.
"Ah shittt..."
Alkohol menggerogoti tubuh Axel. Bahkan dia tak ingat lagi apa yang terjadi semalam. Pagi ini seperti biasa, ada wanita disampingnya. Masih tidur dengan tubuh setengah telanjang. Jelas setiap malam wanita yang tidur di sampingnya berbeda. Axel menatap nanar wanita berambut pirang di sampingnya.
"Axel.. dimana kamu? Dua hari ga pulang. Kamu mau melawan mama hah? Cepat pulang. Olivia sudah melahirkan. Mama tunggu di Alexander Hospital sekarang juga. Apakah kamu baru bangun? Ya ampun Axel.. sudah jam berapa ini? Kamu tidak ke kantor? Kalau papamu ada di London pasti dia akan marah Axel. Cepat bangun, mandi dan segera kesini.." Sembur Syaha penuh amarah.
Klik
Axel belum sempat menjawab titah ibunya, telpon itu telah dimatikan sepihak dari pihak yang menelpon. Axel melongo tak percaya.
Apakah aku barusan di omeli? Ah!
Axel berteriak dalam hati. Hatinya ingin sekali kabur ke Jakarta. Kehidupan bebasnya di Jakarta tanpa pantauan dan omelan ibunya. Hari-harinya di London seperti neraka.
-----
Axel tiba di Alexander Hospital London dua jam setelah telpon ibunya. Dia tak sempat menanyakan di ruang mana Olivia di rawat. Rumah sakit ini merupakan tempat Tsuma dan Olivia bekerja.
__ADS_1
Langkahnya lebar mendekati resepsionis rumah sakit.
"Saya kakak dr. Tsuma Lucas. Ada di ruangan mana istrinya berada?" Suara Axel rendah.
Bukan jawaban yang dia dapat tapi tatapan yang tak bisa diartikan oleh para pegawai resepsionis di Alexander Hospital. Mulut mereka melongo dan wajah mereka malu-malu menatap Axel.
Axel mematut dirinya dari bawah hingga atas. Tak ada yang salah dengan apa yang dia pakai. Dia mengenakan pakain kerja hariannya, set kemeja yang sederhana.
"Ehemm.." Axel berdehem.
Mereka tampak kaget kemudian salah satu dari mereka menjawab.
"VIP 2"
"Terima kasih nona-nona cantik.." Ucap Axel sengan senyum termanis yang dia punya.
"Ahhh... ganteng banget!!!" Para resepsionis berteriak girang mendapat senyum dari Axel.
dr. Tsuma adalah dokter favorit di Alexander Hospital. Dokter ahli jantung yang keren dan ramah mencuri hati para pegawai rumah sakit. Tiba-tiba saja menikah dengan dr. Olivia, banyak wanita yang patah hati. Namun banyak juga yang mendukung.
Ceklek
Axel membuka pintu kemudian berjalan masuk ruang bersalin VIP 2. Jiwanya langsung disambut dengan suasana tenang dengan suara seseorang yang bernyanyi dengan bayi kecil di dalam pelukannya. Wanita itu menghadap ke arah jendela. Dengan lembut membelai bayi kecil dengan tangannya yang penuh kehati-hatian.
Bukan Olivia. Dia bukan Olivia. Axel sangat mengenal Olivia. Suara Olivia juga tidak semerdu ini. Siapa wanita itu? Ini benar ruang Olivia di rawat. Axel tak salah masuk ruangan.
Tubuh Axel membeku mendengar bibir gadis itu melantunkan lagu untuk bayi di dalam pelukannya. Hatinya terkesiap. Jantungnya meledak. Perasaan ini asing bagi Axel. Hatinya seperti dirayapi sesuatu yang terasa geli. Rasa ini, rasa-rasa yang benar baru.
Axel masih tertegun hingga gadis itu menyelesaikan nyanyiannya.
Menyadari ada seseorang di belakangnya, gadis itu menoleh. Bola mata coklatnya membulat.
"Siapa anda?"
__ADS_1
Bersambung...