
"Kapan kamu akan berhenti main-main Axel? Kamu tidak malu dengan Tsuma? Jangan permainkan wanita lagi. Istri Tsuma sebentar lagi melahirkan. Kamu akan segera menjadi paman.."
Axel mengernyitkan dahinya. Ocehan mamanya meningkat akhir-akhir ini. Semua ini dimulai karena sikap kurang ajar adiknya, Tsuma Orvino Lucas.
Meskipun lahir dari rahim yang sama. Dua anak laki-lakinya berbeda jauh. Syaha geleng-geleng kepala. Axel dan Tsuma bagaikan langit dan bumi. Axel dengan sikap dinginnya. Tsuma dengan sikap lembutnya. Meskipun berbeda, Syaha tidak pernah membedakan kasih sayang untuk kedua putranya.
Tahun ini Axel menginjak usia 30 tahun dan belum ada tanda-tanda untuk menikah. Sedangkan Tsuma yang berbeda usia 5 tahun dari Axel dengan gagah berani membawa pacarnya ke rumah mereka. Tak tanggung-tanggung Tsuma langsung meminta restu orang tuanya untuk menikah dengan Olivia.
Tiga bulan kemudian Olivia dinyatakan positif hamil. Wajah Axel tambah suram. Semua diskriminasi yang dia dapat bertambah parah. Setiap hari mamanya akan mengoceh dengan sindiran tajam.
"Tahun depan usia kamu 30 tahun Axel. Kapan kamu punya niat untuk serius dengan wanita? Menikah contohnya.."
Menikah. Itulah kata yang tiap hari di dengar Axel. Kenekatan Tsuma menikah dengan Olivia menambah kekacauan di rumah Mante. Tak terhitung berapa banyak olok-olok yang harus diterima Axel.
"Mama tiap hari bertambah tua.. Mama ingin segera menimang cucu dari anak tertua mama. Meskipun mama sudah memiliki cucu dari Tsuma dan Olivia tapi kalau ada cucu satu lagi dari kamu mama pasti bahagia Axel.."
Axel putus asa. Bagaimana bisa mamanya mengatakan hal seperti itu setiap hari dan tidak ada bosannya. Axel merasa sendirian menghaapinya. Tsuma memiliki rumah sendiri di luar rumah Mante. Di rumah itu tersisa tiga orang, dia, mama dan papanya. Papanya adalah orang paling pasif di dunia menurut Axel. Ketika ocehan dimuntahkan dari bibir mamanya, sang papa hanya diam seperti tak mendengar apapun.
__ADS_1
"Mah.. menikah itu bukan perkara gampang.. menikab itu harus dipikirkan matang-matang.." Habis sudah kesabaran Axel. Mangsa kecilpun jika terus-terusan terdesak dia bisa berubah jadi predator.
"Si Sidney itu.. bagaimana hubungan kalian?"
"Mama tau dari mana?"
Sidney adalah gadis yang tidak sengaja ditemui Axel di salah satu club malam kota London. Darimana mamanya tahu gadis yang menghabiskan malam dengannya.
"Tidak perlu kamu tahu darimana mama tahu Axel. Atau perlu mama jodohkan kamu biar kamu sadar dan mau menikah.."
"Mama!" Axel berteriak.
"Axel turunkan suaramu. Jangan kurang ajar sama mamamu.." Ray buka suara.
"Mama mojokin terus pa.. aku kan bisa marah juga.." Jawab Axel datar.
Ray menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan mama kamu benar. Dulu diusia kamu papa sudah menikah dua kali dengan mamamu.. setelah itu lahir kamu.. masak ya kamu kalah sama papa.." Jelas Ray.
Cerita ini lagi. Axel sampai muak dengan kisah cinta orang tuanya. Meskipun memasuki usia senja, kedua orang tuanya tak kehilangan romantisme masa muda mereka.
"Iya maaf.." Tak ada pilihan lain selain mengalah.
"Kalau begitu menetaplah di London. Cabang Jakarta biar papa yang urus. Sudah saatnya papa perkenalkan kamu dengan dewan direksi Lucas London di rapat pemegang saham bulan depan.." Titah Ray.
Kursi CEO Lucas Company masih dipegang oleh Ray. Rencananya tahta itu akan diberikan kepada Axel sebagai hadiah pernikahan. Tapi sampai umur 30 tahun, Axel tak ada keinginan untuk menikah. Tak mungkin tahta itu diberikan kepada Tsuma. Tsuma adalah dokter. Dokter banting setir ke bisnis? akan jadi apa Lucas Company ditangan Tsuma. ^^
"Apa?"
Mata Axel membulat sempurna. Tinggal di London? Itu artinya setiap hari harus sarapan omelan mamanya? Otak Axel berhenti sejenak.
Menikah? Wanita?
Arrrggghhh... Batin Axel bergemuruh.
__ADS_1
-----