LULLABY

LULLABY
Goresan Pengerat


__ADS_3

"Anak-anak cepat ayo kita makan" teriakan sang ibu sangat kencang seperti lonceng yang berbunyi.


Mowrin dan Lowin langsung menghampiri sang ibu yang sudah berkumandang. Mowrin sangat kesal jika sang ibu sudah berteriak-riak didalam rumah sendiri, rasanya telinga ini berdengung dan rumah ini langsung bergema jika ibunya memanggil. Begitupun Lowin, ia merasa kasihan dengan ibunya yang suka sekali berteriak-teriak.


"Bu, kenapa ibu suka sekali berteriak?" tanya Lowin.


"Nanti kau tidak mendengar jika ibu tak berteriak" jawab ibu.


"Ibu ini kebiasaan dipasarnya, cukuplah bu simpan tenaga ibu, aku pasti akan mendengarkan ibu tanpa harus berteriak. Aku sayang ibu" ucap Mowrin yang sangat menyentuh.


"Ya bu, aku juga sayang ibu" Lowin juga mengikuti perkataan sang kakak.


"Ibu juga sangat menyayangi kalian" sang ibu memeluk mereka berdua dengan hangatnya.


Kejadian sang ibu dan dua anak itu sangat menyentuh sekali, mereka yang hanya bisa berkumpul setiap sore sangat menikmati kehangatan beberapa jam saja berbagi kasih sayang, tapi sang anak sangat mengerti posisi sang ibu yang memang sibuk berjualan dipasar.


Mereka menikmati hidangan yang disajikan seadanya oleh ibu yang hanya mempersiapkan makan malam untuk mereka. Lalu kembali sibuk untuk mempersiapkan untuk dagangan dari pagi hari sampai sore hari. Setelah usai makan Lowin kembali kekamarnya dan diikuti oleh Mowrin di belakangnya.


"Kak, mengapa kakak terus mengikutiku?" Lowin merasa aneh dengan sikap kakaknya akhir-akhir ini.


"Kau ini, memang kakak salah jika kakak ingin bersama adiknya" Jawab Mowrin.


"Ya tidak juga"


Mau tidak mau Lowin menerima kakaknya mengikuti ke kamarnya. Meskipun merasa aneh tapi ia terpaksa, Lowin membuka kamarnya yang berada dilantai dua bersebrangan dengan kamar Mowrin. Seperti burung, Lowin sangat senang berada didekat jendela. Ia langsung berdiri dihadapan jendela, kakaknya mengikuti kebiasaan adiknya yang selalu bertengger didepan jendela menikmati pemandajgan langit.

__ADS_1


"Apa yang sekarang kau gambar? tanya Mowrin yang sudah mengetahui kebiasaannya.


"Menyelesaikan gambar Rakit kak!" Lowin menunjukan buku gambarnya yang ditugaskan oleh ito sheki.


"Sepertinya sangat sulit, apa ini benar sebuah rakit" tanya Mowrin membulak-balik buku gambar Lowin.


"Tidak kak ini mudah!"


Rasa penasaran Mowrin semakin jelas saja, ia membulatkan tekad untuk menjadi seorang famin. Gambar lembah elgonanvil sudah cukup jelas menjadi tujuan Mowrin, kini Mowrin melihat rakit yang sama persis ia lihat di rivin. Rakit itu memang buatan sang adik yang famin sheki simpan dirivin, bukan tanpa alasan sheki menyimpannya ditempat yang bernama rivin, meskipun sheki hanya tahu itu buatan deki tapi rakitan itu cukup mencengangkan baginya. Gambar Rakitan yang sama persis dengan didalam rivin.


Rakitan itu hanya diketahui oleh sheki yang dibuat oleh deki dan Mowrin yang dibuat oleh sang adik Lowin. Mowrin semakin penasaran dengan dunia luar yang wujudnya telah membuat Mowrin ingin melanggar peraturan sang ibu dan membohonginya. Mowrin semakin penasaran dengan semua benda dan gambar yang ia lihat rivin. Bagaimanapun yang Mowrin ketahui rivin adalah temapt rahasia para famin.


"Apa ini?" tanya kakak yang melihat gambar adiknya.


"Darimana kau bisa menggambar lukisan kalung ini" tanya Mowrin yang melihat kalung disebuah leher seseorang


"Aku bisa menggambar semua itu ketika aku melihat langit, sungai, bulan, matahari, pepohonan, tanah dan merasakan angin" ucap Lowin dengan polosnya.


"Baiklah sudah malam, kau tidur?"


"Baik kak"


Setelah berpaling Mowrin kembali menghampiri sang adik, "Ini untukmu?"


"Apa ini kak?" Lowin diberikan sebuah kotak yang berbentuk persegi panjang dan kecil.

__ADS_1


"Ini moul senjata pedang jarum kakak, kaka pernah berjanjibuntuk memberimu beberapakan? Tapi ini berbeda yang dari kau lihat biasanya. Simpan ini untukmu?" Mowrin menggengam senjata yang berada ditangan sang adik.


"Tapi, ini bukankah senjata kakak?" Lowin merasa tak enak untuk menerimanya.


"Kakak sudah jelas masih punya banyak" Mowrin menunjukan kotak pedang jarum yang lebih besar dari yang ia berikan kepada Lowin.


"Oh ya betul juga" Lowin tersipu malu dan tersenyum senang.


Lowin menyadari ada sifat yang berbeda dari Mowrin, pemikiran bocah umur empat belas tahun belum menyadari sepenuhnya. Ia hanya menganggap Mowrin seperti kakak yang biasanya, yang selalu mengerjainya dan mengejutkannya. Ia tak tahu sama sekali apa yang akan dilakukan kakaknya. Bocah polos itu hanya mengira jika kakaknya sudah terlalu baik kepadanya yang akhir-akhir ini sering sekali mengajarinya berlatih, bermain pedang dan membuat senjata yang diberikan untuknya.


Mowrin sudah mulai menekadkan dirinya untuk membohongi adik dan ibunya yang hanya ia miliki dalam hidupnya. Ia tepaksa melakukan hal itu karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lowin, yang digambarnya, dilihatnya dan dikatakannya membuat Mowrin merasa mempunyai tanggung jawab untuk melindunginya. Ia sangat tahu sekali semua bisa terjadi tanpa sepengetahuannya, ia mungkin bisa berhasil walau tak menyangkal mungkin akan gagal, tapi Mowrin tetap harus mencari lembah itu, rakitannya dan gambar kalung yang diberikan oleh ayahnya kepada sang ibu. Semua itu Mowrin yakini Lowin tak pernah melihatnya sebelumnya.


Mowrin sangat khawatir dengan kehidupan adiknya Lowin. Ia tahu pasti akan terjadi sesuatu padanya. Semua gambarnya sangat berhubungan dengan informasi yang dikumpulkan oleh para famin.


Mowrin memeluk adik lelakinya, memegang kepala adiknya dan mengelus kepalanya, "Kakak ingin memeberitahumu satu hal, Hidup memang bukan pilihanmu tapi dalam hidup kau harus mempunyai pilihan"


"Apa maksud kakak?


"Kau tidak pernah tahu dan kapan kau akan terlahir kedunia ini, setelah kau membuka mata dan melihat dunia kau tidak akan tahu kemana arah akan membawamu dan ketika dewasa kau akan melihat semuanya, disaat itu kau harus memilih sesutu yang baik, ingatlah yang baik" jelas sang kakak.


"Ya itu pasti kak, aku akan menjadi seperti kakak. Aku inginnya seperti ayah tapi karena aku tak tahu ayah jadi aku akan seperti kakak dan melindungi ibu" ucap Lowin sumeringah menjadi kakaknya yang hebat.


"Kau tidak boleh menjadi kakak, kau harus menjadi dirimu sendiri"


"Oke, aku ingin memeluk kakak" Lowin membalas pelukan dari sang kakak yang kembali menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2