
"Wah... Aku tak menyangka selain cantik kakakmu ternyata hebat?" puji Miroka yang menghampiri Lowin
"Terima kasih" Ucap Lowin tersenyum.
Lowin, Dellio dan Miroka berjalan bersama menuju ke kelas mereka untuk belajar dan berlatih kembali bersama ito Sheki dan menantikan hadiah yang akan diberikan oleh ito Sheki. Tak seperti biasanya kini mereka bertiga bisa berjalan berdampinhan. Meskipun terasa sulit dan bertentangan dengan hatinya, Lowin mencoba mengikuti perkataan kakaknya untuk berbaur dengan teman-temannya, ia merasakan canggung untuk dekat-dekat dengan Miroka dan Dellio.
Buggghhhh... Pukulan Rinos melayang tepat kepipi Deki llihomni.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Lowin.
"Kau seperti tidak tahu saja, deki adalah anak dari tukang kayu yang terkenal didesa ini, tak aneh jika pengetahuannya yang bagus melekat pada karyanya" jawab Dellio.
"Ya aku tahu soal itu. Tapi kenapa ia harus memukul deki? sahut Miroka.
"Itu sudah pasti dia ingin merebut rakit buatan deki, tapi tak hanya itu, Dia masih kesal karena kakaknya dikalahkan oleh kakakmu dan dia lampiaskan pada deki" ujar Dellio.
"Mengapa dia harus seperti itu?" Ujar louin.
"Makanya kau jangan seperti patung batu jika didalam kelas" tukas miroka.
Lowin menghampiri deki yang sedang ditindas oleh Rinos dan teman-temannya. Pipinya lebam dan kebiruan akibat pukulan dai Rinos. Lowin tak menyangka dan tak mengetahui soal seperti ini ada didalam kelas, karena sifat lowin langsung pergi setelah pelajaran usai dan datang setiap ada ito yang sudah hadir didalam kelas. Deki merasakan kesakitan yang terdengar dari rintihannya. Anak itu terlalu baik untuk dijadikan bahan siksaan oleh Rinos, tapi Rinos merupakan anak yang tidak ingin kalah dari siapapun dan ia tidak peduli jika harus ada yang terluka akibat ulahnya. Ia harus mendapatkan nilai tertinggi dan terbaik dikelasnya.
"Owhh... Baru menang sekali saja dari kakakku kau sudah sombong!'" angguk Rinos mengejek Lowin.
"Setidaknya, aku tidak diabaikan berkali-kali oleh kakakku" Ujar louin yang membuat Rinos marah.
"Kau tahu apa tentang diriku!" tendang Rinos yang membuat Lowin terjatuh.
"Aku tak mau tahu apapun tentang dirimu?"
Kini didalam kelas bolwakar mulai memanas karena pertengkaran Rinos dan Lowin yang membuat seisi kelas menjadi gaduh. Rinos tak terima dengan perkataan Lowin yang tidak tahu apa-apa tentangnya. Bukan tanpa alasan Lowin mengatakan hal seperti itu karena ia sering melihat Rinos yang diabaikan oleh runag berkali-kali.
"Ito Sheki datang" Teriak salah seorang murid yang melihat kedatangan ito Sheki dan semua murid duduk dengan tenang.
"Bagaimana ini?" Deki bersedih karena rakit buatannya diambil oleh Rinos. "Ayahku sudah yakin sekali jika rakit buatanku pasti akan menang dan aku sudah menunggu hari ini. aku takut ayahku akan marah" Deki sangat bersedih.
"Ambillah ini' meskipun punyaku tak terlalu bagus seperti punyamu, Setidaknya kau tak dimarahi oleh ayahmu" Lowin menawarkan rakit buatannya untuk deki.
"Tapi..."
"Sudahlah kau terima saja!" ujar Dellio.
"Maafkan aku dan terima kasih. aku takkan melupakan kebaikanmu" Deki menerima rakit buatan Lowin.
Lowin sangat mengerti sekali jika deki menginginkan rakitannya dan memenangkan, ia pasti tak ingin membuat malu sang ayah yang sudah membantu dan menyemangati. Selain itu juga deki merupakan anak dari tukang kayu yang bisa membuat apa saja dan terkenal sekali didesa, sangat wajar jika tak ingin membuat malu ayahnya. Lowin senang telah membantu deki tapi ia juga harus siap untuk dimarahi ito karena tak melakukan tugas dengan baik.
__ADS_1
"Bagaimana anak-anak dengan tugas kalian" tanya ito Sheki setibanya di dalam kelas.
Murid-murid sangat senang dan tak sabar menunggu hadiah yang akan di berikan oleh ito Sheki.
"Sekarang kalian kumpulkan tugas kalian" Sheki meminta anak-anak untuk kedepan menyerahkan tugasnya.
Lowin terus hanya duduk terdiam karena tak ada hasil dari tugas yang harus dia kumpulkan. Rinos yang terus tertawa dengan bangga dengan hasil rakitannya yang dia ambil dari deki, deki juga mengumpulkan tugas pemberian dari Lowin, ia merasa tak enak terhadap Lowin tapi ia terpaksa melakukan hal itu demi nama baik ayahnya.
Semua anak sedang menunggu detik detik pengumuman pemenang yang akan diumumkan oleh Sheki, semua berdebar tak sabar menunggu hasilnya karena ito Sheki terus mengulur waktu dan bercanda dengan mereka. Ito Sheki terus melihat-lihat semua rakit buatan anak didiknya.
"Aku tak melihat nama rakit buatan Lowin" ujar ito.
"Maaf ito, aku lupa membuat rakit itu?" Jawab Lowin.
"Bagaimana bisa! Selama ini kau selalu mengerjakan tugas dengan baik" tanya ito Sheki.
Lowin hanya terdian tak menjawab apapun. Miroka dan Dellio teman yang mulai dekat dengannya ikut terdiam karena ia tahu yang sesungguhnya. Sedangkan deki tertunduk sedih mendengar perkataan iro terhadap Lowin.
"Baik, Kali ini ito maafkan, tapi kau jangan terlalu sIbuknya" ujar ito dengan bijak.
"SIbuk, memangnya dia sIbuk apa?" Tanya Miroka berbisik pada Dellio.
Dellio hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
Anak-anak semakin tak sabar mendengarkan pengumuman ito.
"Pemenangnya adalah... Deki lihomni. Selamat deki kau jadi pemenangnya?" Ito sheki sumeringah memberikan pengumumannya.
"Terima kasih ito..." Deki tersenyum.
"Ada apa dengan wajahmu deki?" Tanya ito sheki melihat luka diwajah deki.
"Ini karena kemarin aku terjatuh ketika sedang membuat rakit bersama ayahku!" Ungkap deki yang harus berbohong.
"Baik... Lain kali kau harus hati-hati ya?"
Semua anak bersedih karena bukan mereka yang menjadi pemenangnya, namun mereka juga bersorak sorai dengan kemenangan deki yang tak aneh jika deki menjadi pemenangnya karena latar belakang keluarganya. Sedangkan Rinos mengepalkan tangan menggebrak meja pelan tak terima dengan putusan ito Sheki.
"Hah... Bagaimana bisa, kau lihat itukan del? Benar apa yang ku katakan, meskipun dia tak serius tapi dia selalu mendapatkan nilai yang bagus bahkan mengalahkan buatan deki yang diambil oleh Rinos" bisik kembali Miroka yang kesal kepada Dellio.
"Kau ini bisa diam tidak!" Kesal Dellio karena suara Miroka terus terngiang ditelinga Dellio.
Rinos kesal karena bukan dia pemenangnya, dia melihat ke arah Lowin dan Lowin membalas dengan senyum ejekan, kalau dia memang seorang pemenang. Tangan Rinos mengepal marah karena tak terima dengan perbuatan Lowin.
Setelah usai pelajaran seperti biasa Lowin kembali ke dermaga setelah kemarin tak kesana. Ditengah perjalanan ia dicegat oleh deki yang sudah membawa hadiah perlengkapan tulis menulis dan sebuah piala yang telah dimenangkannya dari ito Sheki.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Lowin.
"Seharusnya bukan aku yang mendapatkan semua ini" deki merasa bersalah.
"Sudahlah kau tak usah begitu?" jawab Lowin yang tak sedikitpun merasa dirugikan.
"Mungkin aku akan mengambil piala ini untuk ku tunjukan pada ayahku, tapi aku berharap kau menerima hadiah ini" deki memohon kepada Lowin untuk menerima hadiah kedua.
"Baiklah jika itu maumu" Lowin menerima hadiah itu.
Deki mengucapkan terima kasih kepada Lowin dan berlari tak sabar untuk menunjukan piala itu kepada ayahnya. Setelah bertemu dengan deki, Lowin kembali berjalan ke tujuannya tapi ia kembali dihadang oleh Miroka dan Dellio.
"Ada apa?" Tanya Lowin
"Bolehkan aku ikut bersamamu" tanya Dellio.
"Kau mau ikut denganku, tapi...." Lowin melihat ke arah Miroka yang selalu saja tak senang dengannya.
"Ya aku terpaksa ikut jika Dellio ikut" Miroka mengatakan dengan malu-malu tak melihat wajah Lowin sedikitpun.
Lowin hanya tertawa melihat tingkah Miroka. Mungkin ini maksud yang dikatakan oleh kakaknya untuk mencoba berbaur dengan teman, ternyata tidak terlalu sulit dan rasanya juga menyenangkan bisa becanda bersama. Setelah deki dan kedua orang yang kini menjadi temannya, Lowin kembali dihadang oleh Rinos yang masih kesal karena kejadian tadi dikelas.
"Ada apa lagi?" Tanya Lowin untuk ketiga kalinya.
"Kau sepertinya sudah berani padaku, baru begitu saja kau sudah seperti berada diatas angin" Rinos memuntahkan kekesalannya.
"Lalu... Apa yang kau mau?" Sahut Lowin.
"Sekarang kau boleh bernafas lega, tapi tidak untuk lain kali" Rinos beserta teman-temannya langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Sudahlah kau jangan terlalu menganggapnya" Dellio mencoba menenangkan Lowin.
"Tidak... Tidak..." Mimik wajah Miroka tiba-tiba berubah.
"Kenapa?" Tanya Lowin.
"Sepertinya dia merencanakan sesuatu? Meskipun aku tak sejahat dia tapi merencanakan taktik adalah salah satu cara balas dendam" Kata Miroka.
"Darimana kau tahu itu?" Tanya Lowin.
"Karena dia adalah orang seperti itu" ujar Dellio.
"Tatapan matanya" ucap Miroka yang sama nakalnya.
"Sudahlah ayo kita pergi" ajak Lowin yang tidak memperdulikan masalah Rinos.
__ADS_1