
Rapat kembali diadakan setelah mereka mengetahui apa yang dicari oleh raja Xyor dari Kerajaan Xyurmaf. Ya... Raja itu mencari kembali kekuatannya yang hilang, kekuatan yang telah lama ini ia inginkan. Ia mengerahkan semua bawahannya didunia ini untuk mencari kekuatan itu kecuali pasukan khususnya, dighas.
"Dia mencari anolin itu?" Ucap famin lestiw.
"Anolin, apa itu anolin?" Tanya garsna yang belum pernah sama sekali mendengar tentang hal itu.
Raja, ketujuh obis, garsna dan sheki siap mendengarkan penjelasan dari famin lestiw yang sudah menelaah masalah tersebut dan baru saja kembali dari tugasnya yang seorang famin.
"Anolin adalah batu yang berwarna putih yang didalammya memyimpan kekuatan yang sangat kuat, selama ini raja xyor sudah mendapatkan batu Elhos batu kegelapan yang selama ini ia punya" jelas lestiw.
"Lalu bagaimana ia mencari batu anolin itu, bukankah itu sangat kecil?" Tanya garsna.
"Tidak, sebuah batu itu memang mempunyai bentuk yang kecil. Tapi tidak jika kekuatan itu sudah pindah kedalam diri manusia. Selama ini hanya raja Xyor yang memiliki kekuatan yang hebat, berarti bukan tidak mungkin jika kekuatan batu itu berada pada didalam tubuh manusia" jelas famin sheki yang mendengar penjelasan dari famin lestiw.
"Benar, oleh karena itu xyor mengerahkan banyak pasukan untuk mencari keberadaan manusia itu?" Tambah famin lestiw.
"Apa dia seorang anak-anak, remaja atau sudah dewasa?" Tanya famin sheki.
"Jika kebanyakan dari mereka yang dikerahkan adalah irgot, berarti ia hanyalah seorang anak kecil atau ia belum mengetahui dengan pasti" jawab famin lestiw.
"Berarti anak itu tidak berada ditempat ini!" Raja tobi menghela nafas lega karena irgot tidak ada yang datang kebotimalos.
"Dia tidak datang bukan berarti ia tidak ada disini, tapi mereka memang belum saja mengampiri ke tempat ini" ujar obis bian.
Mereka kembali berpikir dan mencari cara kembali, tapi famin sheki mengingat sesuatu yang mungkin dimaksud oleh raja xyor. Famin sheki teringat dengan anak yang telah membuatnya penasaran dan ingin tahu, anak dari keluarga lihomni yaitu deki lihomni yang telah membuat rakitan yang sangat mirip sekali dengan yang dilihatnya, sedangkan gambar rakitan itu sudah ada di tempat rahasia rivin berpuluh-puluh tahun lalu. Famin sheki mengetahui hal itu ketika ia melihat gambarnya, tapi bagaimana dengan deki lihomni yang belum pernah melihatnya sama sekali. Famin sheki mencoba untuk menyembunyikan hal yang berhubungan dengan deki terlebih dahulu sebelum ia benar-benar mempunyai bukti yang memang mengarah kepada deki. Meskipun rakitan itu cukup menyakinkannya.
Selama yang famin sheki ketahui, tak ada satupun famin yang berasal dari keluarga lihomni sedangkan rivin adalah tempat rahasia. Tak mungkin ada yang bisa sembarangan orang masuk kedalam kerajaan.
"Ada apa denganmu?" Tanya famin lestiw yang resah melihat tingkah famin sheki.
Famin sheki terkejut pundaknya ditepuk oleh famin lestiw, "ah, tidak aku hanya takut jika anolin itu berada di tubuh seorang anak kecil. Sedangkan disini banyak anak kecil yang tidak berdosa dan tidak tahu apapun". Famin sheki merasa khawatir jika deki akan banyak diketahui banyak orang tapi famin sheki beruntung karena tak ada yang tahu tentang rakitan itu.
ooo L U L L A B Y ooo
"Kak apa yang terjadi padamu?" ucap Lowin melihat kakaknya yang sangat senang sekali.
"Kalau kau? Kau juga sepertinya terlihat senang sekali" balas Mowrin yang melihat sang adik juga senang.
__ADS_1
"Ya jelaslah aku senang, karena aku bisa mendapatkan teman seperti yang kakak katakan" jawab Lowin senyum-senyum.
"Kau melakukan hal itu karena kakak atau kau yang menginginkan sendiri?" sindir sang kakak.
"Ya awalnya karena kakak, tapi akhirnya aku sendiri, hehehhehe..."
Mowrin sangat menikmati saat terakhir ia bersama dengan adiknya karena setelah ini Mowrin akan menjalani latihan dan bertugas sebagai seorang famin kerajaan. Ia akan terus bersama dengan adiknya sembari mengawasi kesehariaannya yang mulai membuatnya istimewa dimata Mowrin. Entah darimana adiknya bisa mengetahui dan melihat hal itu, tapi sebagian gambar darinya hampir sama dengan yang ada di rivin dan kalung yang ia lihat ketika ayahnya memberi pada ibunya.
Mowrin teringat kembali dengan kalung itu, ia langsung pergi meninggalkan Lowin dan menghampiri ibunya yang sedang mencuci piring didapur.
"Bu...?" panggil Mowrin.
ibu masih sibuk mencuci piring, suara gesekan barang kotor menambah kebisikan yang dilakukan ibu dan Mowrin berharap ketika ia bertanya kepada ibunya tak menambah kebisingan.
"Kenapa sayang?" ucap lembut ibu yang mendengar suara anaknya.
Mowrin menghela nafas berhati-hati mengatakan apa yang ingin ditanyakannya, Mowrin takut jika ibu mengingat kembali kenangan bersama ayahnya. Mowrin sebenarnya tak ingin mengungkit hal itu tapi apa yang dilihatnya di buku gambar Lowin membuatnya penasaran dan ingin mengetahui tentang kalung itu. Ia duduk bersandar dikursi yang biasa ia gunakan untuk makan bersama. Ia merasa gelisah dan takut.
"Ada apa sayang?" sang ibu yang sudah usai mencuci piring merasa bingung dengan anak perempuannya.
"Tidak bu, aku sedang berpikir saja"
"Dulu aku pernah melihat ibu diberikan kalung yang indah oleh ayah" tanya Mowrin pelan agar keadaan lebih terkendali.
Ibunya terus berpikir mencoba mengingat kalung yang telah diberikan oleh ayahnya sebelum meninggalkannya. Ibu mengerutkan keningnya yang sepertinya sangat sulit untuk mengingat kalung pemberian suaminya
"Memangnya kalung yang diberikan oleh ayah tidak hanya satu" Mowrin memendam kesal melihat ibunya yang terlalu lama berpikir.
"Tidak banyak tapi ibu lupa" ibu menggaruk-garuk kepalanya tak mengingat apapun.
"Itu... bu! Mowrin tak bisa menahan kekesalannya. "Kalung yang berbentuk persegi tujuh yang berwarna peach ditengahnya bercahaya seperti air yang lumer"
"Owh...? mulut ibu membentuk bulat sempurna. "Ibu ingat, memangnya kenapa"?
"Ada tidak untukku?" harap Mowrin dengan senyum yang lebar. Senyum yang lebar ia gunakan hanya untuk memancing ibunya agar mengatakan seseuatu yang ia ingin dengar. Mowrin sangat tahu dengan jelas karena kalung itu hanya ada satu khusus diberikan oleh ibu, bahkan Mowrin yang ketika itu berumur tujuh tahun sangat jelas mendengar ayahnya melarangnya ibunya untuk memakai kalung itu karena hanya boleh untuk disimpan.
"Tapi untuk apa? Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" ibu balik bertanya ingin tahu maksud dari Mowrin.
__ADS_1
"A..a... aku hanya ingin saja, aku pikir ayah akan berikan untukku?" Mowrin gelagapan mendengar pertanyaan ibunya.
"Nanti ibu belikan untukmu"
"Tidak mau..." Mowrin menggelengkan kepala.
Mowrin bingung harus mengatakan apa kepada ibunya karena ia akan pergi untuk waktu yang lama. Mowrin mencari cara agar alasannya bisa diterima oleh ibunya meskipun ia harus berbohong.
"Ibu ayo tebak???" Mowrin selalu tersenyum didepan ibunya hanya untuk menghilangkan rasa curiganya.
Ibu kembali mengerutkan kening dengan mimik wajah yang aneh sembari mengeringkan piring yang barusan ia cuci.
"Aku... akan menjadi pelayan kerajaan" jawab Mowrin sumeringah.
Prakkkk... ntang... Piring yang ibu pegang tiba-tiba terjatuh mengagetkan Mowrin.
"ibu kau tidak apa-apa?" Mowrin langsung khawatir dan memegang ibunya.
"Kakak... ibu...?" Teriak Lowin yang mendengar suara benda pecah jatuh dan berlari dari kamarnya dilantai dua menuju dapur. "Ada apa?"
"Tidak Lowin, kau tak usah sekhawatir itu. Ibu tak sengaja menjatuhkannya karena kakak mengganggu ibu?" Mowrin memberikan penjelasan kepada Lowin agar tidak ikut khawatir.
"Tapi kenapa dengan ibu? Mengapa ibu terdiam?" Tanya Lowin melihat ibunya diam tak begerak.
"Sama halnya denganmu, ibu terkejut?" jawab Mowrin masih menutup tangan ibunya yang gemetar.
"Owhhh..." Lowin kembali kekamarnya setelah ia merasa tenang tak ada yang terjadi.
Mowrin terus menatap mata ibunya dan wajahnya Berkeringat merasakan ketakutan dan gemetar mendengar perkataan itu. Melihat keadaan ibunya sekarang Ia tak mungkin sanggup melihat ibunya jika ia mengatakan yang sebenarnya. Ia tak tahu harus berbuat apa jika sang ibu mengetahuinya jika ia akan menjadi serang famin. Mowrin melakukan ini semua karena ia yakin jalan yang dipilihnya adalah benar. Ia ingin mengetahui tentang gambar Lowin, larangan ibunya dan kalung pemberian ayahnya.
Ibu tetap mematung tak bergerak mendengar perkataan anaknya barusan, perkataan yang membuatnya terasa kehilangan nyawanya. Larangan yang telah ibu katakan berkali-kali tak didengar oleh anaknya, tubuhnya lemas dan gemetar. Mowrin terus memegang tangannya agar ibunya duduk dan merasa tenang. Mowrin memberinya minum dan membersihkan serpihan pecahan kaca.
"Bu... Aku masih mendengar perkataan ibu. Aku hanya menjadi pelayan kerajaan untuk 7 bulan kedepan, aku bekerja sebagai seorang pelayan, aku hanya ingin tahu dan belajar didapur untuk jenis masakan dan aku hanya ingin merasakan tinggal disebuah kerajaan" Mowrin menjelaskan kepada ibunya pekerjaan yang sederhana.
"Ibu sudah katakan padamu untuk tidak berhubungan dengan kerajaan" sang ibu menekan mulutnya membentak Mowrin agar tidak terdengar oleh Lowin.
"Bu, aku sudah besar dan aku ingin melakukan apapun yang kuinginkan, dan aku hanyalah menjadi seorang pelayan yang bekerja didapur?" jelas Mowrin.
__ADS_1
"Kau janji hanya sebagai menjadi pelayan?" sang ibu mencoba mengerti yang dikatakan oleh Mowrin meskipun bertentangan dengan hatinya.
Mowrin mengangguk dalam kesedihannya yang mendalam karena ia terpaksa membohongi ibunya tersayang, keyakinan dalam hatinya sudah sangat pasti untuk melanglang buana didunia ini, bukan hanya pekerjaan menjadi seorang famin untuk kerajaan tapi sebagai seorang kakak dan anak dalam keluarga.