Lumina

Lumina
Lumina // bab 1


__ADS_3

Suara dentingan alat makan yang bertabrakan terdengar nyaring di ruang makan. Gadis dengan rambut terurai tampak terburu-buru memakan makanannya. Pipinya menggembung berisi makanan yang belum ia telan tapi tangannya tidak berhenti memasukkan makanan ke dalam mulutnya itu.


"Makanlah dengan pelan atau kamu akan tersedak," ucap pria paruh baya yang sedang mengelap mulutnya dengan tisu. Ia sudah lebih dulu selesai memakan sarapannya karena ia hanya memakan satu helai roti tawar yang diberi selai kacang. Berbeda dengan istri dan kedua putrinya yang selalu sarapan dengan sepiring nasi beserta sayur dan lauknya.


Gadis itu meraih segelas susu yang ada di atas meja. Dengan cepat ia meneguk isinya hingga tandas. Ia pun menanggapi perkataan ayahnya. "Pagi ini ada rapat OSIS, Yah."


"Kak, ayo!" Gadis berambut sebahu itu mengelap bibirnya dengan tisu dan membuangnya sembarangan. Ia meraih tasnya yang berada di atas kursi lalu berlari keluar sambil berteriak memanggil supir untuk menyiapkan mobil. Satu langkah lagi kakinya sampai ke pintu ia menepuk keningnya keras. Ia berbalik dan berlari-lari kecil ke arah ruang makan.


"Kenapa balik lagi?" tanya Agus, heran saat melihat Zafira, putri kesayangannya itu kembali lagi.


Zafira menadahkan tangannya di depan Agus. Nafasnya sedikit ngos-ngosan karena berlari. Alis tebal pria paruh baya itu menukik tak paham dengan maksud putrinya.


"Uang. Fira, minta uang."


"Emang belum Ibu kasih?" tanya Agus bingung. Tak urung tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet tebal berwarna cokelat yang isinya didominasi oleh uang kertas berwarna merah dan biru. Ia mengeluarkan dua lembar uang kertas lima puluh ribu dan meletakkannya di atas tangan Zafira.


"Udah tapi kurang."


Zafira menerima uang itu sambil cengengesan. Dengan kilat ia mengecup pipi ayahnya dan meraih tangan besar pria paruh baya itu untuk dicium.


"Makasih, Yah." Setelah itu Zafira beralih pada ibunya. Ia mengecup dan mencium tangannya seperti yang ia lakukan pada ayahnya tadi. Setelah mendapat uang tambahan dan berpamitan, Zafira melenggang pergi meninggalkan ibunya yang geleng-geleng melihat tingkah putrinya itu.


"Aish, anak itu! Selalu saja boros dan membuat Kakaknya ikut terburu-buru. Tidakkah dia bisa menunggu Kakaknya selesai sarapan dulu?" gerutu wanita paruh baya yang tak lain adalah Rena, ibu dari gadis yang berlari tadi.


"Fira adalah ketua OSIS, tentu aja dia harus berangkat pagi untuk memberi contoh yang baik kepada teman-temannya. Dan untuk uang, aku tidak masalah jika dia menghamburkan uangku. Lagipula itu setimpal dengan prestasinya selama ini.


"Zelmira, pergilah! Jangan buat Adikmu terlambat atau kamu harus berjalan kaki ke sekolah," ucap Agus dengan tegas tanpa menatap putri sulungnya yang ia panggil dengan nama Zelmira.


Wanita paruh baya itu menatap ke arah suaminya kesal. Seperti biasa. Suaminya itu selalu membela dan memanjakan Zafira. Jujur saja, ia kurang suka dengan tindakan suaminya itu. Terlalu memanjakan anak akan membuat anak itu menjadi manja dan besar kepala, begitu pendapat Rena.


"Sekolah Zelmira lebih jauh daripada sekolah Zafira. Bagaimana bisa kamu menyuruhnya berjalan kaki?" Tatapannya beralih menatap putrinya dengan penuh kasih, "Sarapanlah dengan tenang, nanti Ibu yang akan mengantarmu," ucapnya.


"Aku sudah selesai sarapan. Aku akan berangkat bersama Fira, Ibu tidak perlu mengantarku." Gadis itu, Zelmira, bangun dari duduknya dengan senyum tipis yang terpantri di wajahnya. Ia berjalan mendekati ibunya dan mencium tangannya.


"Mira, berangkat," pamit Zelmira. Ia melakukan hal yang sama pada ayahnya dan setelah itu ia pergi menyusul adiknya atau lebih tepatnya kembarannya itu.


"Bisakah kamu berhenti pilih kasih? Zelmira juga putrimu." Rena menatap punggung Zelmira yang kian menjauh dengan sendu. Meskipun putrinya itu tersenyum, tapi ia dapat merasakan kesedihan dibalik matanya.


Agus melirik istrinya sekilas. Ia berdiri dan membenarkan simpulan dasi hitam bermotif garis-garis yang melilit kerah kemeja putih semi formalnya. "Jika Dia memiliki separuh saja kecerdasan Zafira, aku akan lebih menyayanginya."


"Tap--"


"Aku ada rapat pagi ini, jangan lupa mengantarkan makan siang." Agus mengulurkan tangan kanannya pada istrinya bermaksud menyuruh istrinya itu untuk mencium tangannya seperti biasa saat ia akan pergi bekerja.


"Hati-hati di jalan," ujar Rena yang dibalas anggukkan kepala oleh suaminya itu. Agus mengecup dahi Rena sekilas lalu melenggang pergi.


"Aku berharap kamu segera berubah, sebelum semuanya terlambat dan tidak bisa dibenahi lagi, " gumam Rena lirih.


~OoO~


Seorang gadis berjalan melewati koridor yang tampak ramai dengan siswa-siswi berkumpul dan bercengkrama di depan kelas mereka masing-masing. Rambutnya yang dikuncit dengan tali rambut model kepang yang warnanya sama dengan warna rambutnya itu bergoyang ke kanan dan ke kiri beriringan dengan langkah kakinya.


"Cewek yang tadi lewat itu Zelmira, si otak udang dari kelas 11 IPS 3. Bodohnya, beuh, nauzubillah. Adik gue yang masih SD aja pasti lebih pinter dari dia."


"Menang tampang doang, tapi otaknya kosong."


"Asal ada duit sama kekuasaan semuanya jadi mudah. Tuh, buktinya dia bisa naik kelas meskipun nilainya selalu di bawah rata-rata."

__ADS_1


Samar-samar telinganya menangkap suara dari segerombolan siswi yang ada di depan pintu kelas 11 IPS 1. Cacian seperti itu adalah makanan sehari-hari Zelmira. Rasanya ia ingin balik mencaci mereka tapi ia sadar bahwa yang dikatakan mereka itu adalah fakta. Ia memang bodoh, sangat bodoh malah. Otak udang juga sudah menjadi julukannya sedari kecil. Sekarang ia sudah terbiasa atau lebih tepatnya harus terbiasa dengan cacian dan julukan buruknya itu.


Zelmira masuk ke kelasnya, yaitu 11 IPS 3. Ia mendudukkan dirinya di bangkunya yang berada di pojok kanan yang dekat dengan jendela. Tak lama seorang gadis bertubuh tambun duduk di sampingnya.


"Eh, Ra! Lo tau gak?" tanya Fara, teman sebangku Zelmira.


"Nggak," jawab Zelmira singkat. Ia merebahkan kepalanya di atas meja dengan tas hitam miliknya yang menjadi bantal.


"Denger-denger katanya Pak Adhi lagi sakit, jadi jam pertama sama kedua kosong. Kalau iya, lo temenin gue makan di kantin, ya. Gue laper belum sarapan," ujar Fara sambil mengelus perutnya yang terus berbunyi.


Mendengar jam kosong Zelmira menegakkan tubuhnya. Ia menarik resleting tasnya dan mengeluarkan sebuah novel berjudul "Lumina" yang baru saja ia beli kemarin . Ia juga mengambil earphone dan menggenggamnya bersama dengan ponsel hitam berlogo apel tergigit miliknya.


"Sama Raya, aja. Gue ke taman belakang." Tanpa menunggu tanggapan dari Fara, Zelmira langsung melangkahkan kakinya keluar kelas sambil memasang earphone di telinganya.


Melihat itu Fara berdecak kesal. Mempunyai teman seperti Zelmira memang harus memiliki stok sabar yang banyak. Selain suka menjawab dengan singkat, Zelmira juga sering mengabaikan dirinya atau Raya saat sedang bercerita. Entah apa yang membuatnya betah berteman dengan orang seperti Zelmira itu.


Di Koridor terlihat ada beberapa siswa yang berjalan dengan terburu-buru,bshkan ada juga yang berlari. Bel masuk memang sudah berbunyi bertepatan dengan keluarnya Zelmira dari kelas. Meskipun begitu, Zelmira tidak peduli. Toh gurunya tidak masuk. Daripada harus menetap di kelas yang seperti pasar ketika guru tidak masuk, lebih baik Zelmira membaca novel di taman belakang sekolah dengan tenang.


Mata Zelmira menelisik ke seluruh sudut taman. Memastikan tidak ada orang selain dirinya di sana. Dan ya, tidak terlihat siapapun selain Zelmira di taman belakang sekolahnya yang sebenarnya tidak bisa dianggap taman karena tidak ada satu bunga pun di sana. Hanya ada satu kursi panjang yang sudah tampak berkarat dan beberapa pohon yang rindang.


Zelmira mendudukkan dirinya di bawah pohon mangga. Baru satu halaman ia membaca tiba-tiba pohon bergoyang. Daun-daun berjatuhan dan samar-samar terdengar suara pria yang sedang mengumpat. Zelmira berdiri sambil membersihkan rambutnya


nya yang dijatuhi daun. Ia mendongak ke atas sambil melepas earphone yang terpasang di telinganya. Matanya menyipit menatap kedua pria yang duduk di dahan pohon dengan ponsel mereka pegang secara horizontal.


"Heh, lo! Guest12345, sini! Itu musuh di depan--HEH ANJIR ITU GUE! NGAPAIN LO TEMBAK?!" Pria dengan rambut berjambul itu melotot dan terus mengumpat karena ia harus turun rank karena kalah. Dan itu gara-gara bocah yang menjadi partnernya mengira bahwa ia musuh.


"Bwhahahaha ... mampus, mampus!" Pria di sampingnya terbahak sambil menatap layar ponselnya. Pria itu tertawa karena musuhnya sangat noob.


Pria dengan rambut berjambul itu menatap tajam ke arah temannya. Ia merasa sebal karena ditertawakan. Dan saat mulut temannya itu terbuka ia dengan sengaja memasukkan daun yang sudah ia remat membentuk gumpalan. Pria itu terbahak melihat temannya memuntahkan daun dengan ekspresi wajah yang menurutnya sangat lucu.


"Nendra, sialan!" umpat pria itu. Ia menatap pria yang dipanggilnya Nendra itu dengan tajam. Tangannya terayun dan menghantam bahu Nendra dengan sangat keras. Nendra yang sedang terbahak seketika berteriak saat dirinya terdorong ke depan dan terjun bebas dari atas pohon.


Bruk


"Akhh!"


Karena tidak merasakan apapun Zelmira menurunkan lengannya. Ia menghela napas lega karena tubuh besar pria itu tidak jatuh menimpanya. Jika ya, dapat dipastikan tulangnya akan retak jika itu terjadi.


Ia menengok ke samping dan terlihatlah seorang pria yang tengkurap dengan wajah yang menghadap ke arahnya. Mata pria itu tertutup, ia meringis merasakan tubuhnya seakan remuk karena menghantam tanah dengan keras.


Perlahan kelopak mata pria itu terbuka memperlihatkan bola mata hitam pekat miliknya. Zelmira melihat pupil mata pria itu membesar saat tatapan mereka bertemu.


Dean yang melihat Nendra terjatuh pun langsung turun dari pohon.


"Sorry, tadi tadi tangan gue kelepasan. Lo juga, sih. Pake masukin daun ke mulut gue segala, gue,'kan, jadi emosi," ujarnya.


"Bidadari," gumam Nendra lirih tapi masih bisa didengar oleh Zelmira.


Rasa kasihan yang hinggap di hati Zelmira seketika hilang saat mendengar ucapan pria itu. Zelmira berdiri sambil menepuk-nepuk rok belakangnya yang kotor. Sedangkan Nendra bangun dibantu oleh Dean.


Nendra melirik ke arah Dean, ia mengernyit bingung.


"Lo mati juga, Yan?" tanya Nendra.


Dean melotot dan menjitak kepala temannya itu. "Mati, mati. Otak lo, tuh, mati."


Tak menggubris Dean, Nendra kembali menatap gadis di hadapannya yang masih sibuk membersihkan kaos kakinya dari rumput yang menempel. Saat Zelmira menegakkan tubuhnya Nendra seketika terpana. Kulitnya yang putih mulus tampak bersinar saat cahaya matahari menerpa wajahnya.

__ADS_1


"Jodoh gue," gumam Nendra.


"Ha?" Dean menatap Nendra horor.


Nendra berjalan mendekati gadis berwajah mungil itu. Sekali lagi tatapan mereka bertemu. Nendra merasa seperti ditarik masuk ke dalam mata cokelat besar milik gadis itu. Ia tidak bisa berpaling. Tanpa sadar tangannya terulur untuk memegang pipinya. Sangat halus seperti kapas. Tangan Nendra sebelumnya yang hanya menyentuh kini berani mecubitnya. Kenyal seperti permen yupi, batin Nendra.


Sedangkan Zelmira diam saja mendapat perlakuan seperti itu untuk pertama kalinya. Ia seakan menikmati kulit kasar itu menyentuh pipinya. Tatapannya bahkan tak sedikitpun berpaling dari netra segelap malam itu.


Dean menatap Nendra dengan bingung. Ia bahkan baru tersadar jika ada orang lain selain mereka berdua. Melihat tingkah aneh Nendra, Dean curiga jika otak temannya itu bergeser atau jangan-jangan dia kerasukan setan penunggu pohon mangga? Memikirkan itu, Dean bergidik ngeri.


Zelmira menepis tangan Nendra dengan kasar, tapi tidak ada raut kesakitan sedikitpun di wajah Nendra. Pria itu malah tampak tersenyum lebar.


"Jadi ini beneran nyata no tipu-tipu?" tanya Nendra semakin tidak jelas.


Zelmira tidak lagi menggubris Nendra, ia berbalik sambil kembali memasangkan earphone di telinganya.


Beberapa langkah Zelmira berjalan tangannya merasa hangat bersamaan dengan terasanya sebuah tangan dengan kulit bertekstur kasar itu menggenggamnya. Nendra mencekal Zelmira agar gadis itu tidak pergi.


Tanpa melihat pun Zelmira sudah tahu siapa yang orang itu. Dengan kasar ia menarik tangannya hingga cekalan itu terlepas. Ia melanjutkan langkahnya dan Nendra menghadangnya. Pria itu menarik tangan kiri Zelmira yang tak memegang apapun.


Ibu jarinya mengelus lembut punggung tangan gadis itu.


Tatapannya menatap tepat di mata besar Zelmira. Ia suka mata itu. Ia suka sensasi saat menatapnya. Jantungnya yang mulai berdebar kencang saat tatapan mereka kembali bertemu. Dibalik mata yang membuatnya terpesona saat ini Nendra merasa ada sesuatu dibalik mata itu. Sebuah rasa tersembunyi yang ia kubur dalam-dalam untuk menyembunyikan nya.


Zelmira mengalihkan tatapannya dari netra pria dihadapannya itu. Ia menarik tangannya dengan kasar. Zelmira kembali melangkah tapi lagi-lagi ia dihadang oleh Nendra. Saat Zelmira bergeser ke kiri, Nendra juga bergeser ke kiri. Saat Zelmira bergeser ke kanan, Nendra juga bergeser ke kanan. Begitu terus berulang-ulang.


"Minggir!" Zelmira menatap tajam ke arah Nendra yang malah cengengesan saat ditatap seperti itu oleh Zelmira dan ekspresi itu terlihat sangat menyebalkan di mata Zelmira.


"Jawab dulu pertanyaan gue," ujar Nendra.


"Lo mau gak jadi pacar gue?" Sekarang ia tidak lagi cengengesan. Wajahnya terlihat tampan saat bibirnya tertarik ke atas membentuk bulan sabit.


Rahang Dean seketika jatuh saat mendengar perkataan temannya itu. Sepertinya otaknya benar-benar bermasalah. Perkataannya melantur sekali.


Zelmira berdecak kesal. Ia menatap Nendra tajam. "Minggir!" desis Zelmira.


Bukannya minggir Nendra malah asik melihat ekspresi kesal Zelmira. Menurutnya itu sangat menggemaskan. "G. Naisha Zelmira, nama yang cantik, secantik orangnya." Nendra membaca bet nama yang ada di atas saku baju Zelmira.


Zelmira memutar bola matanya jengah. Dengan kasar ia mendorong tubuh Nendra hingga pria itu mundur beberapa langkah. Zelmira berjalan cepat takut pria gila itu kembali menghadangnya. Dan ya, itu benar terjadi. Nendra berlari dan kembali menghadangnya.


"Jawab pertanyaan gue dulu. Lo mau gak jad---"


"Gue gak minat." Zelmira mendorong Nendra menjauh. Setelah itu ia berlari-lari kecil berharap pria itu tidak lagi menganggunya.


Dean berjalan menghampiri Nendra yang masih tersenyum. "Lo masih waras, 'kan?" Dean menatap Nendra aneh.


"Yan, jantung gue disko, jedug jedug gitu," ucap Nendra sambil memegang dadanya. Ia masih tersenyum. "Gue jatuh cinta sama tuh cewek. Cinta pada pandangan pertama."


"Kalau cinta tembak dong. Keburu diambil orang ntar," ucap Dean.


"Udah. Dan gue ditolak."


"Ha?" Dean menatap tak percaya ke arah Nendra. Didetik selanjutnya ia terbahak.


"Astaga, Bro. Selamat, ya, atas penolakannya." Dean kembali terbahak saat melihat wajah kesal Nendra, ia memegang pundak Nendra sembari tertawa, tapi di dalam hati ia merutuki kebodohan gadis itu.


Seorang Graha Danendra ditolak? Buta. Satu kata buat gadis itu dari Dean. Selama ini Dean melihat banyak gadis yang sengaja mendekati Nendra. Semua suka Nendra. Semua berlomba-lomba untuk mendapatkan Nendra. Tapi sepertinya gadis itu berbeda. Mungkin itu yang menjadikan dirinya spesial di mata Nendra.

__ADS_1


______________________________________________


TBC


__ADS_2