Lumina

Lumina
Lumina // bab 5


__ADS_3

Suara letusan peluru yang bersahutan menggema di dalam mobil berwarna hitam yang sedang melaju dengan kecepatan standar. Dua orang laki-laki duduk manis di kursi penumpang sembari bermain game. Sedangkan satu pria harus menahan kesal saat ia diperlakukan seperti supir di mobilnya sendiri.


"Nendra, kampret! Sini lo! Bantuin gue anjir!"


"Itu! Itu! Eh, itu yang pake, Hayato, bantuin gue, woi!"


"Awas! Ada yang bawa MGL140."


"Ndra, lari bego! Itu-itu, di rumah ayam ada musuh. Tembak, cepet, tembak!"


"YAK! BOYAH!" Dean menggangkat sebelah tangannya yang terkepal ke atas saat muncul tulisan boyah di layar ponselnya yang berukuran 6,6 inci itu . Ia menelengkan kepalanya ke arah Nendra yang saat ini sedang memejamkan matanya sembari bersender di bahu kursi.


"Lo sakit, Ndra?" tanya Dean yang bingung dengan keheningan Nendra. Ia menempelkan sebelah telapak tangannya di dahi Nendra, lalu satunya lagi di pantatnya.


"Gak panas, kok," ujarnya.


Andra sesekali melirik ke arah spion yang memantulkan bayangan Nendra dan Dean. "Lo habis ditolak sama, Zelmira?" tanya Andra saat melihat wajah kusut sepupunya itu. Dan terdiam nya Nendra membuktikan kebenaran dari ucapan Andra.


"Cewek lain banyak, kali, Ndra, yang mau sama lo. Si Lesya, tuh, most wanted girl. Cantik, pinter, dan yang paling penting dia suka sama lo. Daripada Zelmira, cewek cantik tapi otaknya kosong, pake sok jual mahal lagi sama lo. Udah, lup--"


"Berisik!" ketus Nendra.


"Eh, kambing! Lo tadi waktu main epep biasanya lo paling berisik, kok, sekarang malah diem. Gak kesambet, 'kan, lo?" tanya Dean yang dihadiahi pelototan tajam dari Nendra.


"Mulut lo minta gue cabein pake cabe-cabean apa gimana, hah?! Hidup-hidup gue, kok, lo yang sewot," decih Nendra.


"Nendra lagi patah hati, gak usah diladenin. Udah sampe, nih, kalian mau turun gak?" tanya Andra sembari melepaskan seatbelt nya. Ia mengambil payung yang diserahkan oleh Dean, lalu keluar dari mobil disusul oleh Nendra dan Dean.


Mereka memasuki sebuah kafe untuk menghangatkan tubuh mereka. Ya, mereka baru pulang dari sekolah setelah mencari Nendra yang ternyata sedang patah hati di taman belakang.


Dean pergi ke toilet, sedangkan Andra dan Nendra duduk di meja pojok dekat dinding kaca yang berembun.


Tak lama seorang waitress datang.


"Selamat, siang. Mau pesan apa?" tanyanya dengan pipi yang memerah saat netranya bertabrakan oleh Andra.


"Lo mau pesen apa, Ndra?" tanya Andra sambil membaca buku menu.


"Macchiato."


"Macchiato satu sama cappucino dua," ucap Andra.


"Ada lagi?"


"Nggak."


Setelah mencatat pesanan, waitress itu pun pergi. Tak lama Dean datang dan mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Nendra. Ia melepaskan jaket model bombernya itu dan meletakkannya di atas meja.


"Lo beneran cinta sama, Zelmira?" tanya Andra serius.


"Gue rasa lo gak buta."


Andra menghela napas sabar. Pria satu ini sedang dalam mode menjengkelkan. "Untung gue orangnya penyabar," ucap Andra dalam hati.


"Selama ini lo gak pernah deket sama cewek. Lo gak, gay, 'kan, Ndra?"


Mata Andra melotot menatap Nendra tajam. "Lo minta gue jotos, hah?!"


Suara dentingan lonceng terdengar. Tiga orang gadis tampak tertawa bahagia sambil mengusap wajah mereka yang terkena tetesan air hujan. Seorang waitress yang membawa nampan berisi tiga gelas cokelat hangat sepertinya tak sadar jika ketiga gadis itu berjalan ke arahnya sambil asyik bercerita dan tidak memperhatikan jalan.


Suara teriakan disusul suara gelas yang pecah karena menghantam lantai terdengar. Para pengunjung sontak langsung menengok ke sumber suara. Beberapa dari mereka sudah mengacungkan kamera siap memotret dan merekam.


"Ikut gue," titah Nendra yang menyampirkan jaketnya ke pundak seorang gadis. Ia pun menuntunnya ke arah toilet.


Nendra menghentikan langkahnya di depan pintu toilet wanita. Ia berbalik menatap gadis yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo ganti pake jaket ini aja," ujar Nendra dengan tatapan yang berpusat pada noda berwarna cokelat di baju bagian depan gadis itu.


"Gue tunggu sini," sambungnya.


Belum sempat gadis itu membuka suara, Nendra sudah lebih dulu mendorongnya mereka memasuki toilet. Tak lama kedua teman gadis itu datang dan menatapnya sekilas sebelum memasuki toilet.


Ponsel Nendra berdering, tertera nama Andra di sana. Ia pun menggeser tombol hijau dan terdengar lah suara Andra yang tampak gusar.


"Ndra, lo di mana?" tanya Andra yang sudah berada di dalam mobil bersama Dean.

__ADS_1


"Gue lagi nunggu, Zelmira, ganti baju."


"Buruan ke mobil! Mama lo masuk rumah sakit."


"Hah? Terus kita disuruh ke Malaysia, gitu, buat jenguk?" tanya Nendra bingung. Tak ada gurat kekhawatiran pun di wajahnya saat mendengar ibunya masuk ke rumah sakit. Bukannya ia tidak peduli, hanya saja ibunya itu sering berbohong jika dirinya sakit agar Nendra mau pergi ke Malaysia.


"Ck! Gak usah banyak tanya, Njir! Buruan ke sini atau lo gue tinggal," ancam Andra.


Sambungan terputus. Nendra berdecak kesal. Ia menatap pintu toilet yang tak kunjung terbuka.


"Mba," panggil Nendra pada seorang waitress yang kebetulan lewat.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya waitress itu sopan. Matanya menatap wajah Nendra kagum.


~OoO~


Binar-binar bahagia memenuhi salah satu kamar inap VVIP yang ada di sebuah rumah sakit. Kabar akan hadirnya anggota keluarga baru membuat mereka terharu. Berbeda dengan pria yang saat ini melipat tangannya di depan dada dengan raut wajah kesal.


"Gra, jangan cemberut gitu, dong. Ini kabar bahagia, loh," ujar seorang pria paruh baya yang saat ini menatapnya dengan sorot penuh kemenangan.


"Ma ... 'kan, Nendra, udah pernah bilang, Nendra gak mau punya Adik," kesal Nendra. Kabar dirinya yang akan menjadi seorang kakak, benar-benar membuat moodnya bertambah buruk.


"Gra--"


"Nendra," tekan Nendra. Ia tidak suka dipanggil dengan nama Graha. Bagaimana ia bisa suka, jika arti dari namanya itu adalah buaya?


Papa Nendra terkekeh. "Oke, oke, Papa, panggil kamu, Nendra." Papa Nendra menatap Nendra yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh kekesalan. "Mama kamu butuh temen, di sana. Ditambah kamu gak mau tinggal di Malaysia--"


"Alesan! Nendra, 'kan, selalu ke sana setiap tiga bulan sekali. Ngaku aja itu maunya Papa, 'kan? Mama udah tua, beresiko--awss ...."


"Ngomong yang baik-baik. Jangan asal mangap aja!"


"Nendra, doain, Mama bisa dapet suami yang lebih baik."


"Heh! Anak kurang ajar!"


Sebuah sepatu fantofel berwarna hitam berputar-putar di udara dan melaju menghantam bagian sofa yang tadi diduduki oleh Nendra. Sedangkan Nendra berlari ke arah pintu keluar ingin menghindar dari amukan papanya, tapi sialnya Andra malah menghalangi jalannya.


"Ndra, minggir! Heh! Mi--ahk! Ma, Papa, Ma!" Nendra berlari sambil memegang pantatnya yang terasa panas karena di pukul oleh papanya.


Nendra berlari bersembunyi dibalik tubuh kakeknya. Napasnya tersengal-sengal. "Pecat Papa jadi menantu, Kek. Cari menantu baru!" seru Nendra sambil berlindung di belakang punggung kakeknya itu.


Papa Nendra mendelik kesal, ia ingin menjewer putra kurang ajarnya itu, tapi panggilan dari istrinya membuat keinginan itu terbuang jauh-jauh.


"Iya, sayang? Kamu mau makan apa?" tanya papa Nendra yang menghampiri ranjang istrinya. Jangan lupakan sebelah kakinya yang hanya memakai kaus kaki berwarna pink itu tampak bertolak belakang dengan tubuhnya yang gagah.


Nendra berekspresi seperti ingin muntah mendengar suara papanya yang berubah lembut jika sedang berbicaranya dengan mamanya. Ia berjalan ke arah sofa dan mendudukkan bokongnya di sana.


"Nendra," panggil mama Nendra dengan pelan. Ia duduk bersandar ditumpukkan bantal yang disusun sedemikian nyaman oleh partner hidupnya itu.


"Kamu pulang duluan sama Andra, sekalian anterin Kakek sama Nenek kamu," sambungnya.


"Oke." Nendra mengambil tas Andra yang ada di atas sofa lalu melemparnya ke pemiliknya yang ditangkap dengan mudah oleh Andra.


Senyum jahat terbit di wajah Nendra saat melihat sepatu fantofel milik papanya. Dengan cepat ia meraih sepatu itu juga tasnya lalu berjalan keluar setelah mencium tangan mamanya. Setibanya di daun pintu Nendra dengan sengaja mengacungkan lalu menggoyangkan ke kanan dan ke kiri sepatu yang ada di tangannya dan langsung berlari saat mendengar teriakan papanya.


"Nendra! Balikin sepatu, Papa! Nendra!" papa Nendra mengambil ancang-ancang untuk mengejar anak sulungnya itu tapi ditahan oleh Vita, istrinya.


"Udah, biarin," ujar Vita.


"Masa aku mau pake sepatu sebelah doang?"


"Yang satu dilepas sekalian, kamu nyeker aja."


"Astaga, Yang, kamu tega liat aku nyeker? Lantainya dingin, loh, ini." Melihat wajah istrinya yang berubah cemberut membuat Genta mengalah. Ia melepas sepatu sekaligus kaus kaki dan meletakkan ya di bawah ranjang.


"Awas aja, kamu, Ndra. Papa lempar kamu ke kandang buaya," ucap Genta dalam hati.


~OoO~


Seorang gadis dengan rambut sebahu keluar dari salah satu bilik toilet dengan mengenakan jaket berwarna cokelat. "Ra, lo kenal cowok tadi?" tanya gadis berlesung pipi yang mengulurkan sebuah paper bag.


"Enggak, gue gak kenal. Tapi tadi dia manggil gue, Ra, kayanya dia tau nama gue, Zafira," ucap Zafira sambil memasukan pakaiannya yang kotor ke dalam paper bag.

__ADS_1


"Eh, tapi, lo beneran gapapa, 'kan? Cokelatnya tadi lumayan panas loh."


Zafira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia bercermin dan membenarkan tatanan rambut nya lalu keluar dari toilet. Matanya berotasi mencari keberadaan laki-laki yang tadi menolongnya, tapi nihil, laki-laki itu sudah pergi. Tanpa sadar rasa kecewa hinggap di hati Zafira.


"Mba, yang namanya, Zelmira, bukan?" tanya seorang waitress.


"Zelmira? Dia bukan, Zelmira, Mba, namanya Zafira," ujar salah satu teman Zafira yang bernama Afalia.


"Tapi tadi, Mas-nya, bilang, Mba, namanya Zelmira. Apa saya salah denger, ya?"


"Mas siapa?" tanya Zafira.


"Itu tadi, ada laki-laki yang berdiri di sini dan nitipin saya ini. Saya disuruh ngasih ke cewek yang keluar dari toilet pake jaket cokelat yang namanya Zelmira," paparnya.


"Iya, mungkin, Mba, salah denger tadi." Zafira mengambil sebuah kertas yang dilipat membentuk hati.


"Makasih, ya, Mba," sambungnya. Waitress itu pun pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Zafira memasukkan kertas itu ke dalam saku jaketnya. Ia akan membacanya di rumah.


"Buka, dong, Ra. Gue kepo sama isinya," ucap Afalia yang diangguki oleh Cici.


"Iya, gue juga pengen tau."


"Besok di sekolah gue kasih tau, deh. Gue pulang duluan ya, bye!" Zafira mengayunkan telapak tangannya yang terbuka lalu bergegas pergi.


Zafira menyetop taksi dan masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.


Setibanya di rumah Zafira langsung masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir ranjang. Ia melempar paper bag berisi pakaian kotornya itu asal. Tangannya merogoh saku jaket model bomber itu. Ia membuka lipatan demi lipatan dan terlihat lah sebuah tulisan.


Kasih gue kesempatan sekali lagi untuk dapetin hati lo, Ra. Seandainya gue gagal lagi, gue gak akan maksa lo buat nerima gue disisi lo. Itu janji gue.


Nendra


"Jadi dia suka sama Kak Zelmira?" monolog Zafira.


Matahari yang tadinya bersinar kini mulai tenggelam dengan semburat kemerahan yang menghiasi langit. Hujan pun sudah reda berhenti digantikan oleh lengkungan indah berwarna-warni bernama pelangi.


Di depan rumah Zelmira tampak beberapa truk mengangkut perabotan rumah tangga. Sepertinya ada yang sedang pindahan. Zelmira duduk di kursi kayu yang ada di balkon kamarnya. Terdapat palet yang ia genggam di tangan kirinya dan sebuah kuas di tangan lainnya. Melihat keindahan pelangi membuat Zelmira bersemangat untuk melukis sebelum wujudnya menghilang dari pandangan.


Tanpa Zelmira sadari, sedari tadi seorang laki-laki menatapnya dari bawah. Raut wajah Zelmira yang sedang serius memang sangat memesona. Mungkin laki-laki yang ada di bawah sana juga terpesona dengan rupa gadis mungil itu.


"Kak," panggil Zafira yang membawa dua gelas cokelat panas di tangannya.


Zelmira hanya membalasnya dengan dehaman.


Zafira meletakkan gelas yang berada di tangan kirinya di meja, lalu ia mendudukan dirinya di samping kakaknya itu. "Fira, buatin cokelat panas kesukaan, Kakak."


"Makasih." Zelmira menyeruputnya sedikit lalu melanjutkan aktivitasnya.


Zafira yang sudah paham tabiat kakaknya itu pun memilih diam sembari memandang bagaimana kuas yang dipegang Zelmira itu menari-nari di atas kanvas dan meninggalkan jejak warna yang berbeda untuk menghasilkan sebuah lukisan yang indah. "Gak takut dimarahin, Ayah?"


Sesaat kegiatan Zelmira terhenti. Agus memang melarang Zelmira untuk melukis ataupun menggambar. Padahal skill Zelmira ada di sana. Menurut Agus lukisan hanyalah sekadar karya dan tidak bisa membuatnya sukses. Tapi bagi Zelmira, itu adalah dunianya. Saat ia menggambar atau melukis, saat ia menciptakan sebuah karya, ia merasa bahagia.


Zelmira bercita-cita menjadi seorang designer dan melukis hanyalah pengisi waktu dikala senggang. Karena itulah, Zelmira selalu melukis dan menggambar secara diam-diam sebelum ayahnya pulang kerja.


Melihat Zelmira yang diam, Zafira mencoba mengalihkan pembicaraan. "Di depan ada tetangga baru. Nanti malam kita makan bareng sama mereka, katanya, Ayah, kenal sama mereka."


"Oh, iya. Fira, mau tanya sesuatu. Kakak udah punya pacar belum, sih?" Zafira meletakkan gelas dan menarik kursinya lebih dekat ke Zelmira.


"Belum." Zelmira mulai merapikan alat lukisnya. Ia melepas kanvas dari easel lalu menggulung nya.


Zafira manggut-manggut. "Kalau cowok yang disuka?"


"Gak ada."


Bibir Zafira membulat membentuk huruf o sambil menagguk paham. Ia pun kembali berujar, "Ibu tadi bilang suruh bantuin masak."


"Aku duluan ke dapur, nanti, Kakak, nyusul, ya," sambungnya yang di iyakan oleh Zelmira. Gadis satu itu masih sibuk membereskan alat lukisnya. Ia meletakkan easel dibalik lemari pakaian lalu meletakkan gulungan kanvas di lemari pakaian yang sudah ia tata sedemikian rupa agar tidak berantakan. Setelah selesai, ia pun mencuci tangan dan turun untuk membantu ibunya memasak.


Dan tanpa Zelmira sadari, pada saat keluar Zafira memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Sebuah lipatan kertas berwarna putih berbentuk hati.


_________________________________________

__ADS_1


TBC


__ADS_2