Lumina

Lumina
Lumina // bab 7


__ADS_3

"Zelmira." Suara lembut terdengar disusul dengan suara ketukkan pintu. Zelmira yang menatap plafon kamarnya pun merangkak turun dari ranjang dan mengenakan sandal bulu berwarna abu-abu miliknya.


Tangan Zelmira menarik kenop pintu lalu nampak lah wanita paruh baya yang sedang menyodorkan paper bag. "Jam setengah tujuh nanti kita ke rumah Nenek, kita makan malam bersama di sana. Sekarang kamu siap-siap, gih, sekalian kasih dress yang satunya ke Zafira. Ibu mau mandi dulu." Rena mengusap puncak kepala Zelmira lembut sembari tersenyum.


"Kalau kamu gak mau ikut, nanti Ibu--"


"Zelmira, ikut. Ibu mandi aja, aku kasih ini ke Zafira dulu." Zelmira menutup pintu kamarnya lalu melangkahkan kakinya ke kamar Zafira yang berada di samping kamarnya.


Rena menghembuskan napasnya perlahan. Ia menatap Zelmira yang sedang mengetuk pintu. Melihat putri sulungnya itu masuk ke dalam kamar, ia pun bergegas pergi.


"Ini hadiah dari Ibu, ya?" Zafira merebut dua paper bag yang digenggam Zelmira dan mengeluarkan isinya di atas ranjang. Korean style off shoulder short sleeve slash neck sweet dress berwarna putih dan hitam adalah isi dari paper bag itu.


"Kok modelnya sama, sih?" Zafira mengambil dress yang berwarna hitam dan menempelkan di badannya. Lalu berganti ke dress yang satunya.


"Bagusan yang mana, Kak?"


"Sama aja."


"Kamu mau yang mana?" tanya Zelmira.


"Ha? Oh, ini satunya punya, Kakak?"


Zafira menatap kedua dress itu, lalu mengais yang berwarna hitam.


"Yang ini aja, deh. Sekali-kali pake baju warna gelap," ucapnya.


Zelmira manggut-manggut dan meraih dress yang berwarna putih lalu bergegas keluar. Saat tiba di daun pintu Zelmira berujar, "Setengah tujuh, ke tempat, Nenek."


Empat pasang kaki jenjang menghentak lantai marmer di sebuah rumah megah bernuansa eropa. Langkah mereka terhenti di depan meja panjang yang sudah hampir terisi penuh.


"Maaf kami terlambat." Agus duduk di bangku pojok disusul oleh istri dan kedua anaknya.


"Menunggu Kakak selama setengah jam gak akan buat kami mati kelaparan," ucap wanita yang wajahnya mirip dengan Agus.


"Gimana kabar kalian?" Agus tak menggubris perkataan kembarannya itu.


"Seperti yang kamu lihat," ucap ibunya, "Zafira, sini! Duduk sama, Nenek."


Zafira melirik ayahnya. Melihat Agus yang mengangguk, Zafira, pun beranjak duduk di samping Sarah. Wanita berumur enam puluhan itu memeluk dan mencium cucunya, lalu menyerahkan paper bag berisi tas branded.


Zafira adalah kesayangan. Dimanapun ia hadir pasti disambut dengan senyuman. Berbeda jika yang datang Zelmira. Gadis itu seperti tak kasat mata saat kumpul bersama keluarga besar ayahnya. Terkadang rasa iri muncul saat melihat Zafira yang bisa berbaur dan begitu disayangi oleh orang banyak. Tapi apa boleh buat? Iri pun tak akan membuatnya dipandang.


"Duh, cucu kesayangan, Nenek. Udah cantik, pinter, sopan, paket komplit banget, deh. Yang jadi suami kamu nanti pasti beruntung banget. Gak kaya Kakak kamu. Yang mau nikah sama dia paling cuman mau harta sama cantiknya aja. Kerjaannya cuman ngehabisin duit, sih, apa-apa gak bisa. Nyusahin aja!" sindir Sarah.


"Gus, mending Zelmira itu jodohin aja sama pengusaha kaya. Gak usah disekolahin lagi! Dia itu bodoh, gak guna nyekolahin dia! Yang ada malah buang-buang duit."


"Emang ada yang mau sama cewek otak udang, Bu? Bukannya jadi istri yang ada dia malah jadi babu." Perkataan Agista disambut kekehan oleh mereka. Kecuali, keluarga kecil Agus tentunya.


"Tujuan kumpul di sini itu mau makan atau mencaci anak Agus?" Ruang makan sontak menjadi sunyi. Jika Satya sudah angkat bicara makan tidak ada yang berani melawan.


Sarah berdeham. Ia memanggil bi Rumi untuk menghidangkan makanan. Rena menggenggam tangan Zelmira laku merematnya pelan, memberitahu gadis itu bahwa dia tidak sendiri. Zelmira meletakkan tangannya yang lain dan meletakkannya di atas punggung tangan Rena. Ia menatap ibunya menyampaikan bahwa dirinya baik-baik saja.


~OoO~


Matahari terbit dari ufuk timur lalu terbenam digantikan oleh bulan dan bintang. Hari demi hari berlalu, kehidupan Zelmira tak sedikitpun berubah. Nendra malah semakin gencar mendekatinya dan membuat Zelmira semakin risih dengan kehadiran pria itu.


"Zel, gue bawain kerupuk kesukaan lo."


"Zel, pulang sekolah bareng gue ya?"


"Zel, gue punya cinta, lo mau gak?"


"Zel, lo gak capek jomblo terus? Pacaran sama gue, yuk!"

__ADS_1


"Zel...."


Suara Nendra terus terngiang-ngiang dibenak Zelmira. Tiada hari tanpa Nendra yang membuatnya kesal. Apalagi semenjak laki-laki berjambul itu memiliki nomornya. Hampir setiap hari, Nendra menelpon dan mengirim spam. Bahkan saat Zelmira memblokir nomornya, Nendra akan menggunakan nomor lain untuk menganggu nya.


Kaki Zelmira melangkah menapaki lantai koridor dan meninggalkan jejak sepatunya di sana. Pagi tadi air hujan mengguyur Jakarta bagian selatan dan membuat tanah menempel di sepatunya karena basah.


"Zelmira."


"Stop ganggu gue!" Zelmira menepis tangan yang menyentuh pundaknya. Dengan alis yang menukik ia membalik badannya.


"Kalau gak mau diganggu gak usah gitu juga kali! Sakit, nih, tangan gue!" Fara meniup-niup punggung tangannya yang tergores kuku runcing Zelmira.


"So-sorry, gue kira lo Nendra," ucap Zelmira.


"Ngomongin apa, nih? Kok bawa-bawa nama gue?" Zelmira tersentak kaget saat melihat kepala Nendra yang sudah ada di samping kepalanya.


"Jailangkung," celetuk Zelmira.


"Dan lo adalah kekasih Jailangkung," ucap Nendra percaya diri.


"Astaga, Nendra. Makin hari makin bucin, ya, lo! Pagi-pagi udah ngapelin doi aja. Bersihin kelas dulu sono! Laci lo, noh, penuh sampah, jadi sarang nyamuk," ujar Dean.


"Apa, sih?! Dateng-dateng, kok, sewot. Iri bilang, mblo!"


"Jomblo teriak jomblo. Ayo, ikut gue! Kita piket." Dean menarik tas yang dikenakan Nendra dan menyeretnya.


"Eh, kambing! Tas gue sobek ganti rugi! Satu juta itu woee!" Nendra mencoba melepaskan cekalan Dean pada tasnya. Ia berjalan mundur dengan kedua tangan berada di belakang kepala


"Halah! Paling goceng dapet dua." Dean terus menyeret pria itu dan menjadikan mereka pusat perhatian para siswa-siswi yang berada di koridor.


"Zelmira! Tolongin gue! Aakhh! Kampret! Pelan-pelan!" Gelak tawa menggema di Koridor saat melihat Nendra memegangi celananya yang melorot. Pria itu terus mengumpat sambil membenarkan sabuknya yang terlepas.


"Zel, lo beneran gak suka sama, kak Nendra?" tanya Raya.


"Dih, gaya lo! Manggil pake embel-embel kak segala. Biasanya juga manggilnya buaya," cetus Fara.


Di kelas 12 IPA 2 gaduh karena Rina, bendahara kelas, berlari mengejar Dean untuk menagih uang kas. "Udah mau lulus, ngapain pake kas-kasan segala?"


"Cuman dua ribu, astaga ... Dean, cepetan! Keburu Pak Boling masuk." Rina menghampiri Dean dan pria itu kembali menjauh.


"Lo kira sopan manggil guru begitu?"


"Ck! Masalah uang dua ribu aja ribut. Nih, gue kasih empat ribu." Nendra meletakkan dua lembar uang dua ribuan di atas meja dengan keras.


Rina menghampiri Nendra dan mengambil uang kertas itu. "Yang dua ribu bayarin Dean?" tanyanya.


"Ya, enggaklah! Ngapain coba gue bayarin dia?! Itu yang dua ribu, buat kas minggu depan, jadi gue gak perlu bayar lagi."


Rina manggut-manggut. Ia menceklis nama Nendra di bukunya, lalu tatapannya beralih pada Dean yang duduk di atas meja sambil menggali emas di hidungnya. Adegan kejar-kejaran pun kembali terjadi hingga akhirnya Andra yang membayar tagihan uang kas pria itu.


"Eh, Pak Boling dateng!" Banu berjalan cepat menuju bangkunya dan duduk di sana. Yang lain pun berhamburan menduduki bangku mereka masing-masing.


Seorang pria paruh baya pun masuk. Kepalanya yang botak dan mengkilap jadi objek pertama yang akan dipandang. "Selamat, pagi!" sapanya.


"Pagi, Pak!" balas mereka serempak.


"Ketua kelasnya siapa?" Serentak mereka menunjuk ke arah Andra.


"Andra, sini!" titah guru itu, "ini ada kisi-kisi ulangan kamu nanti fotocopy terus bagikan ke semua siswa. Untuk jadwal ulangannya, nanti kamu tulis aja di papan tulis, biar mereka catat, dan ini tugas hari ini nanti kamu kumpul di meja Bapak, ya. Bapak mau rapat jadi jangan ribut!"


"Kalau difoto dan dibagi ke grup gimana, Pak? Biar hemat tenaga dan biaya," saran Andra.


"Gak apa-apa, yang penting semuanya harus dapat, ya."

__ADS_1


Andra menerima beberapa lembar kertas yang diserahkan oleh pak Bobi, guru yang sering dipanggil boling alias botak meling itu adalah guru yang sering mereka jadikan objek candaan. Bahkan beberapa kali mereka terpergok oleh sang pemilik nama dan dihukum merangkum hingga dua bab.


Andra kembali ke bangkunya dan langsung dihujani pertanyaan oleh teman-temannya. "Bapak hari ini ada rapat, kalian kerjakan tugas yang tadi sudah bapak titipkan pada Andra. Kalian jangan ribut dan jangan keluar kelas! Andra, kalau ada yang keluar kelas catat namanya terus kasih ke Bapak!"


"Baik, Pak!"


Dua menit setelah pak Bobi keluar, kelas seketika menjadi seperti pasar. Para gadis duduk melingkar di pojok kelas dan memulai kegiatan mereka, yaitu ngeghibah. Ada juga yang membaca novel atau menonton drakor. Sedangkan para laki-laki sudah berpencar mencari tempat yang pas untuk bermain game atau menonton vidio di youtube.


"Semua guru rapat?" tanya Nendra.


Andra berdeham sebagai jawaban.


"Keluar, yuk! Engap gue di sini." Nendra menarik-narik kerahnya kegerahan.


"Selesain tugasnya dulu."


"Gue nyontek lo ajalah kaya biasa. Yan! Ke rooftop, kita mabar!"


Dean mengacungkan jempolnya dan beranjak pergi. Andra hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya. Selagi mereka tidak terlalu ribut makan Andra akan membiarkannya. Dan untuk masalah kedua pria yang saat ini sudah pergi dari kelas itu, melarang ataupun mengancam tidak akan mempan. Jadi, Andra akan membiarkannya, toh, jika ketahuan mereka berdua yang akan kena hukumannya.


"Ndra, ke kantin dulu, gue laper." Dean mengelus perutnya yang keroncongan.


"Yuklah! Sekalian gue mau ngapel doi," ujar Nendra.


"Udah ditolak berkali-kali, tuh, harusnya lo nyadar. Bany--"


"Zelmira!" Nendra tak menggubris perkataan Dean. Ia berlari menghampiri Zelmira yang berada di luar kelas.


"Giliran ada doi aja, temennya dilupain," gerutu Dean.


Zelmira menarik tangan Fara dan Raya untuk pergi menghindari laki-laki menyebalkan yang selalu mengganggunya itu, tapi Nendra menghadang jalannya.


"Mau ke mana?" tanya Nendra.


Zelmira menghela napas jengah. Ia menatap nyalang ke arah pria yang lebih tinggi darinya itu. "Lo bahagia banget, ya, bisa ganggu hidup gue?"


Nendra mengernyit bingung lalu senyum terbit di bibirnya. "Gue gak bahagia karena bisa ganggu lo, tapi gue bahagia karena masih bisa berjuang untuk dapetin hati lo."


Zelmira melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau usaha lo sia-sia, apa lo akan tetap bahagia?" Terselip nada mencemooh saat ia berbicara.


Siswa-siswi mulai berdatangan mengerubungi Nendra dan Zelmira.


Kasak-kusuk suara mereka berbisik menghujat Zelmira yang mereka anggap sok jual mahal. Beberapa dari mereka bahkan sudah mengangkat kameranya siap memotret dan merekam momen perdebatan dua orang yang berlawanan jenis itu.


Nendra menatap netra cokelat Zelmira dalam. Bibirnya masih setia tertarik menampilkan senyum lembut penuh kasih sayangnya. "Meskipun akhirnya kita gak bersatu, setidaknya semesta pernah menjadi saksi bahwa gue pernah begitu mengharapkan lo."


"Tapi, bahagianya lo bukan kebahagiaan gue! Ngerti gak, sih?!" Wajah Zelmira memerah dengan alis yang menukik tajam. Tangannya kini terkepal di sisi tubuhnya.


Senyum di wajah Nendra perlahan hilang. Tangannya terkepal menahan rasa sesak yang menghantam hatinya saat ini. "Gue ngerti maksud lo, gue paham semua perkataan yang lo ucapin ke gue selama ini, tapi sayangnya hati gue cuman mau mengerti satu hal, yaitu gue cinta sama lo, Zelmira."


"Yang lo suka dari gue itu apa?! Kecantikan gue? Gue itu bego! Yang gue punya cuman tampang doang! Gue gak punya apa-apa!" Zelmira menunjuk-nunjuk dadanya lalu beralih ke wajahnya. Emosinya benar-benar meluap saat ini.


"Untuk menjadi spesial bukan berarti lo harus punya segalanya. Seburuk-buruknya lo, lo akan menjadi yang terbaik dimata orang yang tepat. Dan orang itu ada di hadapan lo, Ra. Gue gak peduli tentang semua kekurangan lo, yang gue peduliin cuman hati gue yang udah lo curi sejak pertama kali kita ketemu."


"Percaya diri itu emang penting, tapi sadar diri itu lebih penting." Zelmira berbalik dan melangkahkan kakinya membelah kerumunan, tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang dan sebuah telapak tangan menghantam pipi kanannya dengan keras meninggalkan jejak-jejak kemerahan di sana.


Plak!


__________________________________________


Satu kata buat Zelmira?


Satu kata buat Nendra?

__ADS_1


Makasih untuk kalian yang mau mampir dan baca cerita aku. Aku sadar, kok, kalau cerita ini pastinya banyak kekurangan, jadi kalian bebas kasih krisar, ya.


See you next chapter:D


__ADS_2