
Kabar Nendra yang berpacaran dengan Zelmira tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Hampir semua siswa tidak setuju dengan hubungan mereka. Termasuk Dean yang sedari tadi mengatai Nendra bodoh.
"Bego banget, sih, lo! Dia itu cuman mau main-main! Coba, deh, lo pikir pake logika, mana ada orang dalam kurun waktu beberapa hari doang bisa ngerubah rasa gak suka jadi cinta? Lo gak inget, gimana dia mempermaluin lo di koridor waktu itu?"
Nendra mengedikkan bahunya acuh. Ia memasang earphone di telinganya dan mengatur volume musik sekeras mungkin agar ia tidak mendengar ocehan Dean.
Dean mengacak-acak rambutnya. Berbicara pada Nendra saat ini tidak ada gunanya. Pria itu sedang dimabuk cinta, kenyataan pun tak ia pikirkan karena rasa dihatinya. "Aish! Gak habis pikir gue sama lo, Ndra! Udah aslinya bego, kenal cinta jadi makin bego. Ditambah dibegoin cewek dengan mengatasnamakan cinta. Udah, gak guna banget idup lo! Mending mati aja, deh!"
"Ndra! Lo dengerin gue gak, sih?!" Dean menarik kabel earphone dengan kasar. Matanya mendelik ke arah Nendra yang terlihat jengah dengan tingkahnya.
Nendra menengok ke arah Dean. "Mencintai seseorang itu takdir, mengejar dan mempertahankan itu pilihan. Lo bilang gue bego karena lo belum pernah jatuh cinta sama cewek. Coba, deh, rasanya ... ah, mantap!" Nendra mengusap bibirnya lalu mengancungkan ibu jarinya. Senyum manis terbit di wajahnya saat mengingat wajah kekasihnya yang sudah ia rindukan. Padahal belum ada tiga jam mereka berpisah. Ah, wajah mungil itu benar-benar candu bagi Nendra.
"Bener-bener gak bisa diselametin lo, Ndra!"
"Ck! Udahlah gak usah nyerocos mulu. Kerjain soal lo, keburu Bu Suk balik lagi," ujar Andra.
Dean menelengkan kepalanya ke arah Andra yang sedang berkutat dengan bukunya. "Gue? Ngerjain soal?" Dean menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya. "Gunanya punya temen pinter apaan anjir?"
"Cih! Parasit!"
"Sialan!"
~OoO~
"Nendra suka sama lo itu cuman sementara. Jadi lo gak usah sok jadi cewek tercantik di sekolah ini!" Gadis dengan rambut dikuncir kuda mendorong bahu Zafira hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
"Semua orang juga tau kalau, Zelmira, cantik. Emangnya lo, yang menang dempul doang!" Fara tersenyum puas melihat wajah kakak kelasnya yang memerah. Mungkin kalau ia berada di komik, telinganya pasti sudah mengeluarkan asap dengan tanduk yang sudah menjulang di kepalanya.
"Cantik doang kalau gak punya otak apa gunanya hah?!"
"Lo ..." Zafira menahan Fara yang ingin menghampiri gadis tersebut. Zafira menatap Fara, matanya seolah mengatakan bahwa ia yang akan mengurus nya.
Zafira menatap perempuan yang saat ini menatapnya dengan penuh keangkuhan. Ia menghampiri gadis yang bersedekap dada itu lalu ia membalik tubuh gadis tersebut menghadap cermin. Dengan tangan yang masih bertengger di bahu gadis bernama Naurah, Zafira, berujar, "Alis lo panjang sebelah, tuh. Pensil alisnya habis atau otak lo yang miring? Perlu gue bantu gambar alis? Eh, sorry, gue gak bisa. Soalnya cantiknya gue itu natural."
"Lo!" Naurah menatap tajam ke arah Zafira melalu cermin.
Zafira tersenyum mengejek lalu berjalan keluar dari toilet diikuti oleh Fara dan Raya yang tertawa melihat ekspresi Naurah. "Tumben banget, sih, Zel, lo mau nanggepin tuh nenek lampir. Biasanya juga lo skip," ujar Raya.
"Ya elah, Ray, orang bisa berubah kali. Malah bagus, Zelmira, mau ngelawan biar gak dibully mulu." Raya mengangguk membenarkan perkataan Fara.
"Eh, Ra. Lo masih punya utang penjelasan sama gue, sama Raya juga."
Zafira menaikkan alisnya bingung dengan perkataan Fara. Sedangkan Raya menganggukkan kepalanya. "Jelasin serinci mungkin, gimana lo bisa jadian sama dia." Zafira ingin membuka suara tapi mendengar seseorang memanggilnya ia pun menengok ke belakang.
"Zelmira!" Nendra berlari-lari kecil dengan Andra dan Dean yang berjalan di belakangnya. Dean tak henti-hentinya mencaci kebucinan Nendra. Sedangkan Andra hanya diam dengan earphone yang menyumpal telinganya.
"Kok kamu di luar, sih? 'Kan, aku minta kamu nungguin aku di kelas." Nendra meraih tangan Zafira untuk digenggam.
Tanpa bisa dicegah, rona merah muncul di pipi Zafira. Berada di dekat Nendra membuat jantungnya berdisko. "Ke toilet sebentar," ucap Zafira.
Nendra manggut-manggut. "Ke kelas kamu, yuk! Biar De--"
"Beli sendiri! Gue bukan babu lo!" sela Dean.
Nendra mendengus kesal. Ia melirik temannya itu sinis lalu beralih pada Zafira dengan sorot mata berubah lembut. "Kamu duluan aja, aku beliin makanan dulu," ujarnya.
"Kenapa gak sekalian makan di kantin aja?" Alis Zafira sedikit menukik.
Matanya sedikit menyipit menatap pria yang lebih tinggi darinya itu.
Nendra mengusap lembut surai cokelat gadisnya. "Kamu terlalu bersinar untuk ada di kerumunan manusia nyinyir. Udah, kamu ke kelas aja. Tunggu pacar tampanmu ini membawakan hidangan lezat un--"
"Tin tin tin! Jomblo mau lewat!" Dean menyatukan telapak tangannya dengan posisi horizontal memasuki celah diantara sepasang kekasih itu, lalu membuka tangannya ke samping memaksa mereka berjauhan.
Tepat berada di tengah-tengah Nendra dan Zafira, Dean menepuk-nepuk tangannya sambil tersenyum manis. Ia melirik Nendra dan Zafira bergantian. "Terimakasih," ucapnya.
Dean melambaikan tangannya dari belakang ke depan.
__ADS_1
"Pasukan jomblo, GO!" Dean bergegas pergi diikuti Raya dan Fara serta Andra dengan wajah datarnya.
Nendra mengusap dadanya sabar. Tatapan matanya beralih ke Zafira yang tersenyum sambil menatapnya. Mata besarnya itu menyipit dengan bibir yang melengkung indah.
Nendra balik badan. Satu tangannya bertengger disalah satu pilar yang ada di koridor dan tangan lainnya memegang dadanya yang berdebar-debar.
Zafira berjalan cepat ke arah Nendra. Ia memegang lengan dan pundak pria itu. "Sayang kamu kenapa?"
Pupil mata Nendra membesar. Ia menatap wajah Zafira yang terlihat khawatir. "Dada kamu sakit?" Zafira memegang tangan Nendra yang bertengger di dada lalu menariknya menjauh.
"Sa-sayang?" cicit Nendra.
Zafira mendongak menatap wajah Nendra yang memerah. "Muka kamu merah, sakit banget?" Zafira mengusap dada Nendra lembut. Debaran di dada Nendra sangat terasa di telapak tangan Zafira, tapi gadis itu tidak menyadari jika dirinyalah penyebab itu terjadi.
"Lagi," ucap Nendra lirih.
"Apa?" Zafira masih mengusap dada Nendra pelan. Wajahnya yang khawatir terlihat begitu menggemaskan di mata Nendra.
"Panggil aku sayang."
"Say—" Mata Zafira mengerjap menyadari apa yang ia ucapkan. Seketika pipinya memerah bak tomat masak.
Tak tahan. Nendra benar-benar tidak tahan untuk tidak menggigit pipi gembul gadis itu. Tangannya terulur untuk meraih wajah Zafira, tapi ia tarik kembali saat menyadari koridor yang ramai. Senyum di wajahnya sudah tidak bisa ditahan, ia menutup wajahnya dengan tangannya dan tersenyum lebar.
"A-aku ke kelas." Zafira berlari sambil menutupi pipinya yang memerah.
Tangan Nendra beralih membekap mulutnya. Wajahnya sama merahnya dengan wajah Zafira. Ia berdeham dan merubah saat wajahnya menjadi biasa saja, tapi bibirnya tidak bisa berhenti untuk terus tertarik ke atas. "Sial! Gue gak bisa berhenti senyum," ucap Nendra dalam hati.
"Sayang, kamu kenapa? Sayang ...."
"Akh! Gue bisa gila!" Suara Zafira terus terngiang-ngiang membuat wajahnya semakin memerah. Terlalu senang dengan panggilan sayang dari Zafira, ia sampai lupa jika mereka ada janji makan bersama. Gadisnya itu benar-benar seperti alkohol yang dapat membuat Nendra mabuk. Nendra bisa gila jika terus begini.
~OoO~
Zelmira menatap pria di hadapannya itu jengah. Sedari tadi Reyhan terus mengikuti kemana pun ia pergi. Awalnya ia mengira jika menjadi Zafira akan terbebas dari orang menyebalkan seperti Nendra, tapi ternyata tidak. Nendra, lagi-lagi nama laki-laki itu muncul di otak Zelmira.
"Tuh, 'kan, bener apa kata gue. Mereka pada bawa doi." Reyhan melirik ke arah koridor, di sana terdapat teman-teman Zafira beserta pacar mereka masing-masing.
Zelmira manggut-manggut. Ya, setidaknya kalau ada Reyhan ia bisa pulang bersama. Zelmira termasuk orang yang parnoan, ia takut dengan keramaian jika ia sedang sendiri.
"Oke," ucap Zelmira.
Reyhan tersenyum lalu mengutak-atik ponselnys untuk mengabari Lolita bahwa ia pulang terlambat hari ini. "Ayo!" Reyhan menggenggam tangan Zelmira dan menariknya pelan.
"Gak usah pegang-pegang!" Zelmira menepis tangan laki-laki itu dan berjalan lebih dulu.
"Pake mobil cowok gue aja, tapi entar pada pulang sendiri ya," ujar Cici.
Mereka semua mengangguk setuju. Zelmira dan Reyhan duduk di kursi paling belakang, Afalia dan pacarnya duduk di kursi tengah, dan Cici serta pacarnya duduk di kursi depan. Di perjalanan Zelmira hanya diam mendengarkan ocehan Cici dan melihat kemesraan dua pasangan itu. Sedangkan Reyhan, pria itu sibuk memperhatikan wajah gadis yang duduk di sampingnya.
Dijejeran rak yang berisi susunan novel yang rapih, seorang laki-laki sesekali melirik gadis di sampingnya yang sedang sibuk memilih novel yang ingin dia beli. Tangannya meraih asal novel yang ada di rak dan berpura-pura sedang membaca.
"Udah?" tanya gadis tersebut.
"Aku gak beli." Nendra mengembalikan novel tersebut, lalu menghadap Zafira.
"Kamu laper gak? Mau makan dulu?" Zafira mengangguk. Nendra menggenggam tangan Zafira lalu pergi ke kasir.
Bertepatan dengan perginya Nendra dan Zafira, segerombol remaja dengan seragam sekolah mereka masuk ke Gramedia. "Ra, lo belum baca novel lumina, 'kan? Coba, deh, baca." Afalia menodongkan novel yang baru saja ia ambil.
Zelmira melirik novel itu sekilas lalu menggeleng. "Gue udah baca," ucapnya.
Afalia manggut-manggut lalu meletakkan novel itu kembali, tapi diambil oleh Cici. "Ini cerita tentang apa?" tanyanya.
"Tentang anak kembar yang tukeran peran gitu, terus terlibat cinta segitiga," jawab Afalia sambil memilih novel.
"Bagus gak?"
__ADS_1
"Menurut gue lumayan, sih."
Cici manggut-manggut, ia melirik pacarnya yang juga sedang memanatap ke arahnya. "Ambil aja, aku yang beliin," ujar pria tersebut.
Cici tersenyum lebar, ia merangkul tangan kekasihnya lalu menariknya ke rak lain. Begitu pula dengan Afalia yang pergi ke rak lain bersama pacarnya. Berbeda dengan Reyhan yang hanya diam sembari menonton gadis mungil yang sedang berdiri di dekat rak itu. Siapa lagi kalau bukan Zelmira?
"Ra, gue mau ngomong sesuatu," ujar Reyhan.
"Lambang nomor atom tiga puluh satu," sela Zelmira.
Mata Reyhan mengerjap, ia memutar otaknya untuk mengingat lambang dari nomor atom yang disebutkan Zelmira tadi. Pria itu terkekeh. "Pede banget, sih, lo. Gue gak mau nembak lo, gue cuman mau bilang, gue mau ke toilet." Melihat Zelmira yang hanya diam, Reyhan, pun pergi ke toilet. Sejenak ia berfikir bahwa gadis itu benar-benar Zafira. Reyhan tahu jika Zelmira tidak terlalu handal dalam pelajaran. Apalagi materinya jauh berbeda dengan jurusannya, dia Zelmira atau Zafira? Benak Reyhan bertanya-tanya.
Reyhan mencuci tangannya di wastafel lalu keluar. "Zelmira?" Gadis berambut sebahu yang baru keluar dari toilet seketika menengok.
K
"Kok lo di sini?" Zafira melirik ke kanan dan ke kiri lalu menghampiri Reyhan. "Lo lagi kencan sama Kakak gue?" tanyanya.
Reyhan menghela napas lega mengetahui perempuan dihadapannya itu Zafira. Lantas ia mengangguk, lalu menggeleng. "Beli novel sama temen-temen lo. Tepatnya nemenin mereka pacaran," ucapnya.
"Mereka lagi di mana?"
Reyhan merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang baru saja bergetar. "Mereka lagi mau makan di restoran, di lantai paling atas."
Zafira melotot. Dengan cepat ia menarik tangan Reyhan ke depan lift, tapi pintu lift sudah tertutup dengan orang yang memenuhi hingga tidak ada celah yang tersisa. Terpaksa mereka menaiki eskalator. Ingin berlari pun tidak bisa karena kondisi mall yang ramai. Tahu begini, Zafira akan menahan urinenya dan membuangnya di toilet yang ada di lantai atas.
Nendra melirik jam tangannya. Hampir sepuluh menit dan Zafira juga tak kunjung muncul. Nendra meraih ponselnya berniat menelpon kekasihnya itu. Niatnya ia urungkan saat melihat orang yang dikenalnya memasuki kawasan restoran. Nendra menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menempel di dahinya dan siku bertumpu pada meja. Pria itu terlihat seperti orang yang mempunyai banyak masalah.
"Eh, ada buaya di sini. Gue gabung bolehlah," ujar Dean yang mendudukkan bokongnya di seberang Nendra.
Nendra menatap Dean sinis. Ini adalah kencan pertamanya dan Dean malah hadir sebagai pengganggu. "Lo ngapain di sini? Pergi sono! Jangan ganggu gue pacaran!"
"Numpang bentar doang elah. Sekalian nunggu Andra." Dean meraih gelas juz yang ada di meja dan meminumnya membuat Nendra mendelik kesal.
"Lo lagi pacaran? Mana cewek lo? Kok gak ada? Apa jangan-jangan dia lagi sama selingkuhannya di lantai bawah?" ucap Dean diakhiri dengan kekehan.
Nendra mendelik ke arah Dean."Ck! Gak usah jadi pho, deh, lo! Zelmira gak akan khianatin gue."
Andra yang baru saja datang menatap Nendra sekilas lalu beralih ke Dean. "Bucin boleh, tapi jangan sisihin temen lo yang udah nemenin lo dari kecil sampe sekarang. Ayo, Yan!" Andra pergi disusul oleh Dean yang menatap Nendra dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
"Eh, kok baperan, sih?"
Nendra bangkit ingin mengejar sahabat serta sepupunya itu, tapi melihat Zafira yang tergopoh-gopoh ia pun mengurungkan niatnya.
"Hey! Ngapain lari-lari? Nanti kalau jatuh gimana?" Nendra menatap Zafira khawatir. Ia memegang pundak gadis tersebut dan mendudukkannya pelan lalu menyerahkan juz mangga miliknya yang belum ia minum setetes pun.
Zafira meneguknya hingga tersisa separuh. Napasnya masih sedikit tersengal-sengal. Ia menatap setiap penjuru restoran, lalu menengok ke belakang. Perempuan itu menghela napas lega saat tak menemukan kakak ataupun teman-temannya.
"Kamu nyariin siapa?" tanya Nendra.
Tatapan Zafira beralih ke wajah kekasihnya. Ia menggelengkan kepalanya sembari menampik pelan tangan Nendra yang ingin menyentuh wajahnya. "Aku udah gak laper, kita pulang aja," ujar Zafira.
Alis Nendra sedikit menukik. Meskipun bingung dengan sikap pacarnya Nendra tetap mengangguk. Tangannya sekali lagi terulur untuk mengelap keringat yang ada di dahi Zafira dan lagi-lagi ditepis dengan pelan. "Aku gak suka kalau ada orang yang pegang muka aku," ucap gadis tersebut.
Sejenak Nendra terdiam. Otaknya masih begitu tajam untuk mengingat bagaimana reaksi Zelmira saat ia menyentuh wajahnya untuk pertama kali. Meskipun ditepis dengan keras, ia masih bisa melihat bahwa gadis itu menikmati sentuhan dari kulitnya yang sedikit kasar.
Entah mengapa meskipun sekarang mereka bersama Nendra tidak terlalu merasa bahagia. Ia malah merasa ada yang berbeda dengan Zelmira, dia seperti berbeda. Berbeda dari Zelmira yang ia kenal selama ini.
Nendra berdecak dalam hati. Ia tidak boleh ragu dengan hubungan ini. Toh, Zelmira mau membuka hati untuknya. Ia yakin jika gadis itu tidak akan berbohong padanya.
Nendra meraih jaket serta tasnya yang ada di kursi lalu pergi bersama kekasihnya dengan tangan yang saling bertautan. Saat menuruni eskalator mereka tidak menyadari jika Reyhan dan Zelmira menaiki eskalator lain yang menuju lantai paling atas.
____________________________________________
TBC
Ada yang kangen sama Nendra?
__ADS_1
Kalian setujunya Nendra sama Zafira atau sama Zelmira? Aku kepo aja sih, aslinya alurnya udah aku tentuin dan gak akan aku ubah:D