Lumina

Lumina
Lumina // bab 10


__ADS_3

Sejak sore tidak henti-hentinya bibir Nendra melengkung ke atas hingga matanya hampir hilang karena terlalu lebar tersenyum. Matanya terus memandangi layar ponselnya yang memperlihatkan sepasang kekasih yang saling berpegangan tangan. Siapa lagi kalau bukan Nendra dan pacarnya?


"Kamu udah gak waras? Senyam-senyum sendiri gak jelas banget, kamu!" Nendra menelengkan kepalanya tanpa mengubah ekspresinya.


"Nendra, lagi gak mau ribut, ya, Pa," ucap Nendra.


Genta mencebikkan bibirnya, lalu duduk di sofa single yang berada di seberang Nendra. Tak lama Vita datang dengan membawa nampan berisi cemilan.


"Kan, ada aku, kenapa bawa sendiri, sih? Kalau kamu kecapekan gimana coba? Kasihan kecebong aku." Dengan pelan pria itu menuntun istrinya untuk duduk di sofa.


Nendra mencoba mengabaikan sepasang paruh baya yang sedang bermesraan itu, tapi matanya seakan ditarik oleh magnet dan terus menatap papanya yang tidur dipangkuan mamanya sembari dielus-elus kepalanya. "Menyiksa! Ini gak bisa dibiarin!" gumam Nendra dalam hati.


"Papa, kenapa gak pernah kerja, sih? Kerjaannya nempel mulu sama, Mama. Kalau Papa bangkrut gimana? Nendra gak mau, ya, jadi orang susah." Nendra dengan kurang ajarnya menarik tangan papanya hingga dia terduduk lalu Nendra duduk di antara mereka.


"Serah Papa, dong! Kamu ngapain di sini?! Belajar sana biar pinter!"


Nendra memeluk Vita dari samping. Genta memiting Nendra dengan lengannya lalu menariknya menjauh dari sang istri. "Katanya tadi lagi gak mau ribut, tapi sekarang kamu malah ngajak Papa ribut. Mau kamu apa, sih?!"


"Ih ... jangan digituin Nendra-nya, kasihan!" Vita menarik Nendra mendekati dirinya membuat Genta semakin dongkol.


Sesekali Nendra mengintip papanya sambil tersenyum lalu berubah menjadi ekspresi kesakitan saat Vita melirik nya. Genta menatap Nendra dengan sorot permusuhan. Pria gagah itu pergi tanpa kata.


"Mama sama Papa kapan balikĀ  ke Malaysia?" Nendra merebahkan kepalanya di atas paha Vita.


"Kamu ngusir, Mama?"


Nendra menggeleng dengan cepat. "Enggak, cuman mau tau aja," jawabnya.


Mata Nendra mulai terpejam saat menerima usapan lembut dari mamanya. "Mama mau di sini sampai Adik kamu lahir."


"Mama, aja, 'kan, yang di sini? Papa tinggal di Malaysia?" Nendra menatap Vita penuh harap. Sungguh, serumah dengan papanya membuatnya tidak bisa hidup tenang. Pria paruh baya itu selalu mengumbar kemesraan di depannya dan membuatnya menjadi ingin segera menikah.


Genta datang dan menarik Nendra dengan kuat hingga remaja itu berdiri di hadapannya. Ia mengapit pipi putranya lalu menariknya mendekati wajahnya.


Nendra menggenggam pergelangan tangan Genta mencoba melepaskan tangan papanya dari wajahnya. "Papa, mau nga---"


"Huahh!"


"Anj-- Papa, bau jengkol!" Nendra mendorong tubuh Genta hingga pria itu mundur beberapa langkah. Nendra membekap mulutnya. Perutnya seketika mual. Ia berlari ke arah toilet yang berada di dapur.


"Kamu makan jengkol?" tanya Vita.


"Iya, 'kan, tadi kamu yang minta." Genta memasukkan permen berbentuk pipih ke dalam mulutnya. Tadi siang Vita memang ngidam ingin suaminya itu memakan jengkol.


"Kamu tidur di kamar tamu aja, deh. Aku mual cium baunya." Vita mengapit hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya.


Genta reflek menengok ke arah istrinya. Genta melempar asal bungkus permen yang ia genggam dan beralih menggenggam tangan istrinya. "Tadi kamu minta aku makan jengkol, loh, Yang. Katanya kecebong aku pengen liat Papanya makan jengkol. Terus sekarang aku makan jengkol malah kamu suruh tidur di ruang tamu. Kamu tega aku tidur pelukan sama angin? Nanti kalau aku anginnya suka sama aku gimana?"


"Kentut kamu bau, angin benci sama kamu! Udah, sana! Jangan deket-deket! Kamu bau jengkol!" Vita melempar bantal sofa ke wajah suaminya, lalu melenggang pergi.


"Yang! Jangan pergi, dong. Yang! KUYANG!"


Praaanggg!!


Sebuah vas bunga melayang melewati kepala Genta. Genta menelan salivanya susah payah. Genta menelengkan kepalanya dengan wajah memelas menatap istrinya yang melotot ke arahnya.


~OoO~

__ADS_1


" ... persebaran flora dan fauna dapat berupa ...." Lolita menatap Zelmira, menunggu jawaban dari gadis itu.


Dahi Zelmira berkerut. Ia berfikir keras mengingat jawaban dari soal yang Lolita berikan. "Angin," jawab Zelmira.


"Hampir benar. Coba inget-inget lagi." Lolita mengambil buku yang di ulurkan Zafira padanya. Ia mengangguk melihat semua soal dijawab dengan benar oleh gadis itu.


"Bener semua, cuman, yang nomor empat ini jawabannya bisa dibuat lebih simple lagi." Zafira mengangguk lalu kembali membuka bukunya.


"Udah inget jawabannya?" Zelmira menggeleng sebagai jawaban.


Lolita tersenyum menenangkan. Ia mengambil sebuah earphone bluetooth dari sakunya lalu memberikannya pada Zelmira. "Coba kamu dengerin pembahasan materinya berulang-ulang," ucapnya.


Zelmira memasang earphone ke telinganya lalu memejamkan matanya memfokuskan pikirannya pada suara yang ia dengarkan. Beberapa menit kemudian ia membuka matanya dan melepaskan earphone berwarna hitam itu dari telinganya. "Perilaku manusia dan gerakan angin," ucapnya.


Lolita mengangguk membenarkan. Lolita kembali membacakan soal. "Paparan yang menghubungkan pulau Papua, kepulauan Aru, dan Australia adalah ...."


"Paparan ... Arafura-sahul?" Alis Zelmira sedikit menukik, ragu dengan jawabannya.


Lolita tersenyum, lalu mengangguk. "Kayanya kamu lebih paham kalau mendengarkan pembahasan berulang-ulang daripada menulis ulang materi."


Lolita melihat jam tangannya. "Em, Kakak, hari ini ada urusan. Kalian belajar sendiri gapapa, 'kan?"


"Gapapa, Kak. Pergi aja," ujar Zafira.


Zelmira tak menanggapi, ia sibuk mendengarkan pembahasan materi dengan mata yang terpejam. Lolita bangkit dari duduknya. "Yaudah, Kakak, tinggal, ya. Kalau ada yang gak kalian paham besok tanyain aja, ke, Kakak."


Zafira mengangguk, lalu melambaikan tangannya. Melihat Lolita yang sudah pergi, Zafira menelengkan kepalanya ke Zelmira. Merasa diperhatikan, Zelmira, pun membuka matanya. Ia melepaskan salah satu earphone dengan alis yang terangkat isyarat ia bertanya.


Zafira mendekati kembarannya itu lalu memeluknya erat. "Makasih," ucapnya.


Zelmira mengusap kepala Zafira lembut, lalu tangannya beralih mengambil buku catatannya. "Belajar." Tangannya mengulurkan buku itu pada Zafira dan diterima dengan semangat oleh gadis berambut sebahu itu.


~OoO~


Bel sekolah berbunyi. Para siswa-siswi berlarian memasuki sekolah. Tak terkecuali gadis berambut sebahu yang juga berjalan cepat karena takut terlambat. Tanpa ia sadari tali sepatunya terlepas dan membuatnya hampir tersungkur karena menginjaknya.


"Pelan-pelan, Sayang." Sesaat Zafira terpaku mendengar suara lembut yang selalu ia rindukan. Ia mendongak menatap netra gelap itu cukup lama. Tangannya bertengger di dada pria itu. Aroma mint menguar dari tubuhnya.


Zafira berdeham lalu menjauhkan tubuhnya. Rona merah itu muncul lagi di pipinya. Ia membungkuk ingin membenarkan tali sepatunya tapi sebuah tangan sudah lebih dulu mengikatnya. Pria itu mendongak dengan senyum manis yang terbit dibibirnya membuat pipi Zafira memanas.


"Kalau ngiket tali sepatu itu yang kenceng biar gak lepas tiba-tiba." Nendra berdiri lalu menatap tubuh gadis di hadapannya dari atas hingga bawah, melihat apakah ada luka ditubuh pacarnya itu.


"Aku anterin ke kelas." Nendra memasukkan jarinya ke sela-sela jari Zafira, lalu menggengam nya lembut. Mereka berjalan beriringan menuju kelas 11 ips 3. Zafira diam membisu dengan pipi yang memerah bakar tomat masak.


Nendra menghentikan langkahnya saat berada tepat di depan pintu kelas kekasihnya itu. "Kita makan siang bareng. Tunggu aku di kelas, ya, jangan ke mana-mana."


Zafira mengangguk sebagai balasan. Nendra mengusap kepala Zafira. "Inget, kamu udah soldout. Jadi jangan biarin cowok lain dapetin kamu."


Lagi-lagi Zafira hanya menganggukkan kepalanya. Jantungnya berdetak cepat mendapat perlakuan manis dari laki-laki yang berstatus pacarnya itu.


Nendra mengarahkan tiga jarinya ke bibirnya lalu beralih menempelkan nya ke dahi Zafira. "Label tiga empat tiga."


"Ha?"


"Aku cinta kamu." Nendra terkekeh melihat wajah Zafira yang merona. Ia mengacak-acak rambut hitam itu, lalu berujar, "Aku pergi dulu, ya."


Setelah mendapat anggukan Nendra melenggang pergi. Zafira memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdebar-debar. "Andai rasa itu beneran buat gue, pasti gue jadi orang yang paling bahagia," ucap Zafira dalam hati.

__ADS_1


"Zelmira! Kamu gak denger bel udah bunyi?!"


Zafira terperanjat kaget. "I-ini mau masuk, Bu," jawabnya.


"Yaudah cepetan masuk!"


Dilain tempat, Zelmira duduk di samping Afalia. Ia mendengarkan penjelasan guru yang sedang membahas ulang materi yang pernah dipelajari. Lusa penilaian tengah semester akan dilaksanakan dan dihari itu juga ia akan menjadi orang yang paling buruk.


"Psstt! Ra! Zafira!" Zelmira menengok ke belakang saat merasakan tepukan di bahunya.


"Anterin gue ke toilet, yuk," ajak Cici dengan ekspresi menahan sesuatu.


Zelmira mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Cici dan Zelmira maju ke depan dan meminta izin pada pak Ari. Setelah itu, mereka pun pergi ke toilet.


"Selamat pagi, Kak!" sapa segerombolan siswi yang berpapasan dengan Zelmira.


"Pagi!" balas Zelmira.


"Hai, Ra!" sapa seorang laki-laki.


"Pulang sekolah lo ada acara gak?" lanjut pria itu.


"Ada! Dia mau nemenin gue ke mall. Lo mau ikut?" ujar Cici.


Siswa berambut cokelat itu menatap Cici sedikit tidak suka. Tatapannya beralih ke Zelmira. "Emang gue boleh ikut?" tanyanya.


"Enggaklah! Udah, sono lari lapangan! Lo pasti terlambat lagi, 'kan? Udah, yuk, anak gue udah sampe pucuk ini." Cici menarik Zelmira masuk ke toilet. Ia langsung berlari-lari kecil memasuki bilik yang kosong.


Zelmira menyenderkan tubuhnya di tembok. Matanya menelisik setiap sudut toilet yang tampak lebih bersih daripada toilet yang ada di sekolahnya. Dua orang gadis keluar dari bilik paling pojok. Mereka menyapa Zelmira dan di balas senyuman olehnya.


"Kak Zafira cantik banget, ya."


"Pantes jadi primadona di sekolah."


Zelmira menghela napas pelan. Inilah perbedaan dirinya dengan Zafira. Zafira selalu dipuji sedangkan ia dicaci. Kecantikan Zafira dan dirinya tentu saja sama karena mereka seperti pinang dibelah dua, tapi hanya Zafira lah yang dipuji karena parasnya sedangkan dirinya malah dibenci karena parasnya. Bukankah itu tidak adil?


"Ah, leganya." Cici menepuk-nepuk perutnya yang terasa lega. Ia mencuci tangannya di wastafel.


"Lo kenapa?" tanya Cici.


"Ha? Oh, gapapa."


Cici manggut-manggut. "Yaudah, ayo, balik ke kelas. Gue udah selesai," ujarnya.


Sepanjang koridor sapaan tak henti-hentinya dilontarkan para siswa-siswi saat berpapasan dengan Zelmira. Pujian dan gombalan kadang terdengar di telinganya. Semua itu terasa aneh untuknya yang sering mendapat cacian atau lirikan sinis.


Rasa iri hinggap di hatinya melihat betapa dihargai nya Zafira di sekolah, tapi Zelmira membuang rasa itu jauh-jauh. Tentu saja Zafira dipuji karena dia adalah primadona sekolah yang didambakan oleh setiap siswa sedangkan dirinya? Si gadis berotak udang yang terkenal dengan kebodohannya. Siapa yang akan menyukai gadis bodoh sepertinya?


Suka. Mengingat kata itu membuat Zelmira teringat oleh Nendra. Rasa bersalah kembali menyerang hatinya mengingat kemarin ia tidak bisa datang karena harus mengantikan Zafira untuk mengantarkan ibunya ke rumah neneknya. Ponsel Zelmira juga mendadak rusak membuatnya tidak bisa mengabari pria itu jika dirinya tidak bisa datang.


Zelmira melihat jam tangannya, ia akan menemui pria itu setelah pulang sekolah untuk meminta maaf atau ia akan meminta Zafira yang menyampaikan maafnya pada pria itu.


___________________________________________


TBC


Bingung? Sama. Aku juga bingung🤣

__ADS_1


Satu kata untuk bab ini?


__ADS_2