Lumina

Lumina
Lumina // bab 6


__ADS_3

Di ruang makan tampak lebih ramai dari biasanya. Ada dua orang baru yang bergabung dalam makan malam hari ini di rumah keluarga Agus. Mereka adalah kakak-beradik yang baru saja pindah di depan rumah Agus.


"Semuanya sudah saya urus. Besok kamu tinggal berangkat aja," ucap Agus pada perempuan yang berumur sekitar dua puluh lima tahun itu


"Lolita kerja di kantor kamu?" tanya Rena sembari meletakkan satu mangkuk besar berisi gulai di atas meja.


"Nggak. Lolita kepala sekolah baru di sekolahnya Zelmira," jawab Agus sembari memakan sepotong apel yang diberikan oleh Zafira. Gadis itu duduk di samping ayahnya.


Zelmira terdiam sebentar sebelum melanjutkan kegiatan menuangkan sirup ke gelas mereka satu persatu. Sesekali ia melirik gadis yang dipanggil Lolita itu. Menjadi kepala sekolah diumur yang semuda itu? Itu tidak akan terjadi jika tidak ada campur tangan dari Ayahnya. Zelmira yakin jika ayahnya sengaja menjadikan Lolita kepala sekolah di sekolahnya agar bisa memantaunya.


"Dan mulai besok, Lolita akan jadi guru les privat kalian berdua. Kalian harus nurut dan belajar dengan benar, khususnya kamu Zelmira. Kamu harus sadar kapasitas otak kamu. Ayah gak akan mentolerir kesalahan apapun yang kamu buat untuk ke depannya, jadi belajarlah dengan serius mulai sekarang," sambungnya yang dihadiahi oleh pelototan dari sang istri.


Rena menatap Zelmira yang masih sibuk dengan kegiatannya seakan ia tidak peduli dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ayahnya. Meskipun begitu, Rena tahu bahwa putrinya itu memendam rasa sakit hatinya seorang diri.


Lolita menatap Zelmira dan Agus bergantian. Ia tersenyum canggung melihat dengan jelas ketidaksukaan Agus pada putri sulung nya itu.


Tanpa mereka sadari mata seorang laki-laki yang duduk di samping Lolita terus mengikuti kemanapun Zelmira bergerak. Hingga Zelmira berdiri di sampingnya dan menuangkan sirup di gelas kosong miliknya, membuat ia lebih puas karena bisa menatap wajah Zelmira lebih dekat.


Tiba-tiba Zelmira menelengkan kepalanya dan menatapnya membuat laki-laki berlesung pipi itu reflek mengalihkan tatapannya ke segala arah. Ia berdeham dan mengucapkan terima kasih sebelum meneguk isi gelas hingga tersisa separuh.


Zelmira mendudukan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan perempuan berambut cokelat keemasan. "Ngobrolnya dilanjut nanti, ya, kita makan malam dulu."


"Ta, Rey, makan yang banyak jangan sungkan-sungkan," sambung Rena sembari meletakkan paha ayam goreng di piring Lolita.


"Ah, iya, Tante, makasih." Lolita menarik bibirnya membentuk senyum seperti bulan sabit, lalu ia mengambilkan makanan untuk adiknya, yaitu Reyhan. Pria itu sedari tadi diam dan tidak banyak bicara. Hanya sesekali menjawab jika ada yang bertanya tentangnya.


~OoO~


Suara kerupuk yang hancur menjadi suara utama di dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan standar itu. Zafira yang asyik berbalas pesan dengan teman-temannya dan Zelmira yang dengan tenang makan kerupuk kesukaannya.


Pagi ini mereka berangkat sekolah seperti biasa, tapi satu orang yang menumpang di mobil membuat mood Zelmira buruk. Tiba-tiba tadi pagi Agus bilang bahwa Reyhan akan berangkat bersama mereka setiap hari. Ya, untungnya laki-laki itu satu sekolahan dengan Zafira bukan dirinya.


Reyhan yang duduk di samping kursi pengemudi sesekali melirik ke arah spion dan menatap Zelmira yang memangku satu toples berisi kerupuk. "Kakak gue gak suka diliatin," ujar Zafira tanpa memalingkan perhatiannya pada layar ponsel yang saat ini ia genggam.


Zelmira melirik ke depan sekilas melihat Reyhan yang membenarkan duduknya karena salah tingkah. Ini sudah menjadi hal biasa jika Zafira yang menjadi juru bicaranya. Entah karena Zelmira yang terlalu malas mengeluarkan suara atau Zafira yang terlalu peka terhadap kembarannya itu.


Tiba di depan gerbang SMA Pancasila, Zafira dan Reyhan, pun turun. Kasak-kusuk siswa-siswi yang mulai berbisik saat melihat Zafira berangkat bersama dengan seorang pria. Selain cantik dan pintar, Zafira juga berhati malaikat, itulah penilaian mereka untuk sang primadona SMA Pancasila.


Setelah melihat Zafira masuk ke sekolah, roda mobil yang ditumpangi Zelmira kembali bergerak mengantarkannya ke sekolahnya, yaitu SMA Merah Putih. Jarak sekolah Zafira dan Zelmira memang tidak jauh, tapi juga tidak bisa dikatakan dekat. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke sekolah Zelmira.


Zelmira menutup toples kerupuk dan meletakkannya di atas kursi yang kosong, lalu mengambil beberapa helai tisu untuk membersihkan tangannya yang berminyak. Tersisa beberapa meter lagi sampai tepat di depan gerbang sekolah yang dicat berwarna putih. "Makasih, Pak," ucap Zelmira sembari menarik handle pintu mobil.


Sepatu berwarna hitam dengan tali sepatu putih itu menapak tanah, disusul dengan munculnya gadis mungil yang turun dari mobil. Seperti slow motion Zelmira menyampirkan tas hitamnya ke punggung sebelah kanan dengan tangan kiri yang menyugar rambutnya yang terurai.


Beberapa siswa terpesona tentunya, tapi mereka tidak berani mendekat karena mereka tahu bahwa perempuan yang saat ini sedang berjalan itu adalah gebetan Graha Danendra, anak salah satu investor terbesar di sekolah ini.


Masuk ke kelas Zelmira dikagetkan dengan tumpukkan kerupuk, bunga, serta cokelat batangan yang memenuhi mejanya. Di ruang kelas sudah ramai para siswa-siswi yang sedang riuh menyalin jawaban temannya. Zelmira melirik Fara yang sudah cemong memakan beberapa bungkus cokelat.

__ADS_1


"Eh, yang punya udah dateng. Maap, ya, Ra, khilaf gue. Abisnya lo lama banget, sih, datengnya, jadi gue izin sama bangku lo doang." Fara menyengir lebar. Ia meraih bungkus cokelat yang sudah tak berisi dan merematnya membentuk gumpalan lalu melemparnya ke arah tong sampah yang berada di pojok kelas.


"Siapa---"


"Gue yang ngasih. Itu permohonan maaf gue, karena gue udah buat lo gak nyaman dengan keberadaan gue di sisi lo," potong Nendra yang bersandar di daun pintu dengan kedua tangan yang ia masukkan ke ke saku celana. Nendra membenarkan jambulnya lalu berjalan ke arah Zelmira yang memutar bola matanya malas.


Zelmira menghempaskan tas di atas kursi lalu pergi ke luar, tapi tangannya dicekal oleh Nendra. Zelmira berbalik dan menarik tangannya, tapi bukannya terlepas ia malah terhempas menabrak dada bidang pria itu. Nendra sengaja menarik tangan Zelmira.  Zelmira mendongak ke atas matanya terpaku pada netra Nendra yang menenangkan. "Gue suka aroma rambut lo." Bulu kuduk Zelmira meremang saat hembusan nafas Nendra yang hangat itu menerpa telinganya.


Teriakan histeris dari siswi yang berada di dalam kelas terdengar hingga membuat siswa-siswi lain berdatangan karena penasaran.


Ternyata tidak hanya mengundang perhatian anak kelas sebelah, guru yang kebetulan lewat pun akhirnya mampir menyaksikan manusia berlawanan jenis itu saling memandang dengan posisi yang mirip seperti berpelukan.


Satu tangan Nendra yang melingkari pinggang Zelmira dan tangan lainnya berada di dalam saku. Sedangkan kedua telapak tangan Zelmira bertengger di dada Nendra.


"Nendra! Zelmira!" Suara yang melengking tinggi mengagetkan Nendra juga Zelmira. Mereka reflek mundur beberapa langkah. Nendra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedangkan Zelmira merotasi kan matanya ke sana kemari.


"Kalian berdua ikut Ibu, ke kantor! Dan kalian semua masuk ke kelas masing-masing! Bel sudah mau berbunyi masih aja aja keluyuran di luar kelas, cepat masuk!" Bu Sri, guru yang terkenal killer itu menghampiri Nendra dan Zelmira ingin menjewer telinganya, tapi suara lembut penuh wibawa menghentikan niatnya.


"Ada apa, Bu, kok ribut-ribut gini?" tanya perempuan berambut cokelat keemasan. Kaki jenjangnya yang terbalut hil heels menghentak lantai dengan pinggul yang berlenggak-lenggok. Ada seorang pria gagah dengan balutan jas semi formal yang mendampingi langkahnya.


"Eh, Bu Lolita, Pak Agus. Tadi saya lihat Nendra sama Zelmira pelukan di dalam  kelas, jadi mereka mau saya bawa ke ruang BK."


Mendengar nama ayahnya disebut, Zelmira reflek menengok dan benar saja. Saat ini Agus sedang menatapnya dengan sorot penuh kemarahan. Meskipun begitu wajahnya tampak tenang. Zelmira menunduk, memilin ujung pakaiannya. Dalam hati ia berdoa semoga ayahnya tidak menghukumnya dengan berat kali ini. Tapi satu pertanyaan muncul dalam benak Zelmira. Kenapa ayahnya ada di sini?


"Mungkin, Zelmira, terpeleset dan Nendra menolongnya supaya tidak jatuh." Lolita tersenyum tipis menatap Zelmira yang terlihat tidak suka saat ia membelanya.


"Kalau begitu saya sama Pak Agus, pergi dulu ya, Bu."


"Ah, iya, Bu, Pak, silahkan." Bu Sri tersenyum sembari menggeser posisinya memberi jalan untuk mereka. Lolita tersenyum sopan, begitu pula dengan Agus.


"Kalian berdua ikut Ibu!"


Dengan perasaan dongkol bercampur Zelmira mengekor disusul oleh Nendra yang sibuk merutuki dirinya karena kembali membuat Zelmira terkena masalah.


Saat ini Zafira berada bawah sebuah pohon rindang yang ada di taman belakang sekolah. Reyhan berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana. "Lo suka sama Kakak gue?" Zafira mendongak menatap Reyhan dengan sedikit menyipitkan matanya karena sinar matahari yang menyilaukan.


"Lo tau jawabannya," jawab Reyhan.


"Gue bisa bantu lo deket sama Kakak gue, tapi lo juga harus bantu gue." Alis Reyhan naik sebelah tanda ia sedang bertanya. Zafira menarik dasi Reyhan syarat agar pria itu membungkuk. Dengan kening yang berkerut Reyhan membungkukkan badannya menyamai tinggi Zafira yang hanya sebatas dada.


"Lo beli kaya gitu buat apaan?! Gue gak mau!"


"Ck! Lo mau dapetin Kakak gue gak?!" Alis Zafira menukik dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


"Iya, gue mau, tapi itu barang buat apaan dulu?" tanya Reyhan sekali lagi. Matanya menyipit menatap Zafira curiga. "Lo lagi gak mau nguntit orang, 'kan?"


"Gue kasih tau nanti. Jadi, lo setuju gak?"

__ADS_1


"Oke, gue setuju." Zafira mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh Reyhan.


"Deal!"


Dengan senyum cerah secerah mentari, Zafira melangkahkan kakinya ke kelas. Berbeda dengan Reyhan yang masih diam di bawah pohon. "Keputusan gue, bener, gak, sih?"


~OoO~


Zafira menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan mengintip ayahnya yang sedang berada di ruang kerja.


"Yah, Zafira, boleh masuk gak?" tanyanya.


Agus menatap putri kesayangannya itu sekilas lalu berdeham. Zafira menghampiri ayahnya dan berdiri di belakang tubuh Agus lalu memijat pundaknya. "Mau, Zafira, buatin kopi gak?" tanyanya dengan tangan yang sibuk meremat pundak Agus.


"Kamu mau minta uang?" tanya Agus yang sudah hafal dengan tabiat putri bungsunya itu.


"Uang yang, Ayah, kasih kemarin masih, kok."


"Terus?" Agus menutup berkas yang ada di tangannya lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya terpejam menikmati pijatan Zafira.


"Selama ini, 'kan, aku selalu satu sekolah sama Kak Zelmira. Aku udah terbiasa kemana-mana bareng sama Kakak. Teru---"


"Gak boleh." Mata Agus terbuka memperlihatkan matanya yang berwarna cokelat. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Zafira.


"Yah, Zafira, belum selesai ngomong, loh." Dengan bibir yang mengerucut Zafira duduk di atas meja menghadap ke arah Agus. Tangannya ia lipat di depan dada.


"Kamu mau minta pindah sekolah, 'kan? Gak boleh!" Agus membuka lembar demi lembar berkas yang tadi sempat ia campakkan.


"Yah, Zafira, mau pindah." Zafira menggoyang-goyangkan lengan Agus dengan wajah yang ia buat semelas mungkin.


"Ayah lagi kerja, jangan ganggu."


"Yah, Zafira, mau pindah, boleh ya? Aku janji gak akan boros lagi, deh. Boleh ya, Yah? Ya?" Bibir Zafira melengkung ke bawah dengan matanya yang berkaca-kaca. Tangannya terus mengoyang lengan Agus hingga membuat pria dewasa itu mulai terganggu.


"Apapun asalkan bukan pindah sekolah." Agus merapikan berkas yang berserakan di mejanya dengan lengan yang terus digenggam oleh Zafira. Ia menghela napas sabar saat putrinya itu mengacak-acak mejanya.


"Zafira," panggil Agus dengan nada yang terlihat jelas jika sedang menahan emosi. Cekalan tangan Zafira terlepas. Gadis itu keluar dengan kaki yang ia hentak-hentakan.


Zafira masuk ke kamarnya dan meraih ponsel berlogo apel tergigit yang ada di atas bantal. Ia mendial nomor seseorang. Pada dering kedua panggilan diangkat.


"Sama Ayah gak dibolehin, gimana, dong?" Zafira duduk dengan tangan kiri memegang ponsel yang ia tempelkan ke telinga dan tangan lainnya sibuk memelintir tali guling. Raut wajahnya kentara sangat kesal.


"Oh, iya, kenapa aku gak kepikiran coba?" Wajah Zafira kembali sumringah. Ia mematikan sambungan telepon lalu meraih sebuah foto yang ia selipkan di bawah bantal lalu menciumnya berkali-kali.


____________________________________________


TBC

__ADS_1


__ADS_2