
Waktu menunjukkan pukul 6.10 pagi. Nendra duduk di atas jok motor sembari mengunyah keripik yang dibawanya. Pria itu mengetuk helm Andra membuat sang empunya menengok. "Apa?" tanya Andra.
Nendra mendekatkan kepalanya ke kepala Andra, karena suara motor dan mobil begitu berisik. "Maju dikit lagi, deh," ucap Nendra dengan suara keras.
"Mau ngapain?" Andra mengegas motornya pelan dan maju dua meter.
"Sedekah," jawab Nendra.
Nendra merogoh keripik hingga segenggam dan memasukkannya ke dalam mulut. Dalam hati ia tertawa jahat saat melihat anak kecil yang duduk di atas motor beat itu menatap bungkus keripik nya dengan lapar.
"Adek, mau?" Nendra menodongkan tangannya yang membawa bungkus keripik.
Anak kecil dengan rambut mirip Dora itu mengangguk dan mengambilnya dengan senang. "Makasih, Bang," ucapnya.
Ayah anak itu menengok dan menatap Nendra lalu juga mengucapkan terimakasih. Seketika tubuh Nendra panas dingin. Ia menatap lampu merah yang tak kunjung berubah warna menjadi hijau.
Anak kecil itu merogoh bungkus keripik berukuran sedang. Tangan mungilnya berotasi kesana-kemari mencari keberadaan sang keripik, tapi tidak ada. Ia membuka lebar bungkusnya dan benar saja, keripik nya sudah habis. Bocah itu menatap Nendra yang membekap mulutnya menahan agar dirinya tidak tertawa.
"Bapak, huaa ... keripiknya habis dimakan Abang yang ganteng itu ...." Gadis kecil itu menangis dengan keras sambil menunjuk bungkus keripik yang kosong lalu beralih menunjuk Nendra yang menutup visor helmnya lalu berpura-pura memainkan ponsel.
Kaki Nendra menendangi kaki Andra meminta agar laki-laki itu segera melajukan motornya. Ia melirik ke arah ayah bocah itu yang meremat bungkus keripik dengan kuat hingga menonjolkan urat yang ada di tangannya. Gumpalan sampah itu dimasukkan ke dalam dasbor motor, lalu pria berkulit sawo matang itu menenangkan putrinya. Nendra menelan salivanya susah payah.
Lampu merah berganti menjadi warna hijau. Motor sport berwarna kuning itu mulai melaju perlahan. Nendra membuka visor helmnya lalu menatap anak kecil yang masih sesegukan. Gadis kecil itu melirik nya yang mulai menjauh.
Nendra merogoh sakunya dan mengeluarkan cokelat batangan. Dengan sengaja ia memasukkan cokelat itu dengan gerakan slow motion. Bocah itu kembali menangis sambil menunjuk dirinya. Seketika Nendra membalik badannya ke depan lalu tawanya pecah. Sisa cokelat di mulutnya tersembur mengotori helm milik Andra.
"Aduduh, karmanya dateng," ucap Nendra dalam hati.
Nendra kelimpungan mencari tisu untuk mengelap noda di helm kesayangan sepupunya itu. Ketahuilah, marahnya seorang Melandri Andra Adyatma itu sangat menyeramkan.
Tanpa diketahui Nendra, dua orang kakak-beradik sedari tadi melihat semua tindakannya dari dalam mobil. Bibir Zelmira tertarik ke atas tanpa bisa di cegah ia terkekeh. Sedangkan Zafira menutup mulutnya mencoba menyembunyikan senyumnya dan berpura-pura tidak melihat aksi pria berjambul itu.
Zelmira menghela napas. Rasa bersalah kembali menghantam dirinya, mengingat perlakuannya kemarin pada laki-laki itu. Zelmira membulatkan tekad. Ia akan meminta maaf pada Nendra atas semua perlakuan buruknya selama ini. Ya, semoga saja pria itu mau memaafkannya.
~OoO~
Nendra duduk anteng di bangkunya sambil berpura-pura membaca buku pelajaran. Ia tidak berani pecicilan seperti biasanya karena takut Andra mengamuk.
"Ndra, mabar, yuk!" Dean duduk di atas meja Nendra sambil membuka aplikasi game online.
"Minggu depan ulangan, gue mau belajar." Nendra melirik Andra yang sibuk bermain ponsel.
"Sama Andra takut, tapi sama Bapak sendiri, lo malah ngelunjak. Gak kebalik?"
"Marahnya, Bapak gue masih bisa diatasi. Kalo, Andra, yang marah, bisa habis barang-barang gue dijual sama dia." Nendra bergidik ngeri mengingat laptop gaming nya dijual oleh sepupunya itu gara-gara ia tidak sengaja menumpahkan kopi ke laptop Andra. Nendra bukan orang miskin yang tidak bisa membeli laptop baru, tapi yang membuatnya trauma adalah akun gamenya yang hampir mencapai tingkat grand master juga dijual oleh pria itu.
Ponsel Nendra bergetar. Notifikasi masuknya pesan baru, muncul di layar ponselnya.
Zelmira
Hari ini
Jam 4 sore gue tunggu di kafe rainbow.
"Siapa?" Dean mencondongkan tubuhnya mengintip layar ponsel Nendra.
"Ck! Lo masih ngejar-ngejar dia? Gak inget kalau kemarin apa yang dia lakuin?"
Nendra tak menggubris perkataan Dean. Ia membalas pesan Zelmira dengan kata oke. Nendra menghela napas. Rasa sakit hatinya masih sangat terasa dan ajakan Zelmira untuk bertemu membuat pikiran negatif nya muncul satu-persatu.
"Bu Rukmati! Bu Rukmati, dateng!" teriak pria yang berlari memasuki kelas. Para siswa-siswi berhamburan duduk di bangku mereka masing-masing.
Di dalam kelas 11 Ips 3 tampak tenang dengan pria berkumis tebal yang menjadi guru terakhir yang menyampaikan materi pada hari ini. "Minggu depan kalian ulangan tengah semester. Kalau ada yang belum paham tentang materi geografi bisa tanya sekarang. Ada yang mau ditanyakan?" tanya pak Bambang.
Para siswa-siswi hanya saling pandang saja tanpa membuka suara.
"Gak ada yang tanya berarti paham semua, ya. Sekarang masukin buku kalian ke dalam tas," titah pak Bambang.
"Boleh pulang, Pak?" Seorang pria dengan kacamata yang bertengger di hidungnya menatap pria dewasa itu dengan penuh harap.
Pak Bambang manggut-manggut.
"Yang bisa tebak pertanyaan saya, boleh keluar duluan, tapi belum boleh pulang sebelum bel bunyi."
"Boleh liat buku gak. pak?"
"Nggak."
"Kasih waktu untuk baca buku, dong, Pak."
"Tutup bukunya dan masukkan ke dalam tas," tegas pak Bambang.
__ADS_1
Beberapa siswa tampak membuka buku dan membaca rangkuman dengan kilat, lalu memasukkan nya ke dalam tas. "Tiga menit persoal. Kalau gak ada yang bisa jawab berarti lanjut ke soal berikutnya. Yang bisa jawab angkat tangan, ya. Sudah dimasukkan semua bukunya?"
"Udah, Pak!" jawab mereka serentak.
"Oke, soal pertama. Paparan yang menghubungkan antara Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Bangka Belitung, dan daratan Asia adalah ...."
"Saya, Pak! Saya, Pak!" Hampir seluruh murid mengangkat tangannya. Sebagian memang tahu jawabannya, tapi sebagian lagi melihat google dengan cara merekam suara pak Bambang saat membacakan soal dan otomatis jawaban akan muncul.
"Kamu, jawab!" Pak Bambang menunjuk gadis yang duduk dibarisan depan.
"Paparan Sahul," jawab gadis itu.
"Salah. Ada yang tahu jawabannya?"
"Iya, kamu. Jawaban kamu apa?" Pak Bambang menunjuk ke arah pria bertubuh tambun.
"Paparan Sunda," jawabnya.
"Betul. Kamu boleh keluar."
Pria itu langsung menyampirkan tasnya ke pundak dan mencium tangan pak Bambang lalu keluar dari kelas. Soal demi soal pun dilontarkan.
Tersisa beberapa siswi yang ada di dalam kelas. Sebagian ada yang duduk di depan kelas sembari mengintip pak Bambang yang sedang membacakan soal.
"Pertanyaan selanjutnya. Sebutkan salah satu taman nasional yang ada di Indonesia yang bertujuan untuk melestarikan badak bercula satu!"
"Taman nasional ujung kulon, Zel. Angkat tangan cepet!" Fara menggoyangkan tangan Zelmira meminta gadis itu untuk angkat tangan dan menjawab soal.
"Pak, Fara, tau jawabannya," ujar Zelmira.
Fara menatap Zelmira kesal. "Ah, lo mah! Dibantuin jawab juga."
"Keluar aja," ucap Zelmira lirih.
"Fara, apa jawaban kamu?"
"Taman nasional ujung kulon, Pak."
"Iya, betul. Kamu boleh keluar."
Fara menjinjing tasnya dan menatap Zelmira. "Gue tunggu di luar," ucap Fara.
Zelmira menganggukkan kepalanya. Fara pun keluar kelas. Tersisa Zelmira yang belum menjawab soal. Pak Bambang menatap Zelmira sejenak, ia menghela napas. Muridnya yang satu itu jika diberi pertanyaan, ia ragu jika Zelmira bisa menjawabnya dengan benar mengingat nilainya selama ini selalu dibawah rata-rata.
Sontak perkataannya itu disambut sorakan tak terima dari murid lain yang berada di luar kelas. "Yang adil dong, Pak! Masa dia gak jawab pertanyaan boleh keluar?"
"Kasih pertanyaan, dong, Pak!"
Zelmira memejamkan matanya mencoba mengabaikan perkataan teman sekelasnya yang mulai menghina dirinya. Mereka memang tidak mem-bully nya secara fisik, tapi secara lisan. Cacian yang mereka lontarkan tentu saja menorehkan luka di hati Zelmira, tapi ia memilih diam. Yang mereka katakan adalah fakta, jadi, untuk apa ia membela dirinya?
"Iya, Bapak, kasih pertanyaan. Udah! Kalian jangan teriak-teriak!" tegas pak Bambang.
"Zelmira, jawab pertanyaan, Bapak, ya." Zelmira menganggukkan kepalanya dan memusatkan perhatiannya pada pria berkumis itu.
"Halah! Gue yakin dia gak akan bisa jawab meskipun soalnya mudah."
"Hahaha ... udah pasti itu, namanya juga otak udang."
Zelmira meminta pak Bambang untuk membacakan ulang soalnya. Jarak yang cukup jauh karena Zelmira duduk di kursi pojok paling belakang dan pak Bambang duduk di kursinya. Suara berisik dari luar membuat pendengaran Zelmira terganggu.
"Coba kamu jelaskan apa itu selat!"
Dahi Zelmira berkerut. Ia bingung dengan soal yang dilontarkan pak Bambang.
"Eh, diem-diem! Otak udang mau jawab."
"Pertanyaannya mudah banget, njir! Begonya kebangetan kalau gak bisa jawab."
Pak Bambang berjalan ke arah daun pintu, membuat mereka seketika terdiam. "Jawab sebisa kamu aja, Ra," ucapnya.
"Bapak beneran tanya itu ke saya?" tanya Zelmira yang masih bingung dengan pertanyaan gurunya itu.
"Iyalah, emang mau tanya ke siapa lagi?! Setan?!" teriak salah satu murid dari luar kelas.
Pak Bambang melotot mengisyaratkan agar mereka tidak berisik. Ia beralih menatap Zelmira."Kamu gak tau jawabannya?" tanya pak Bambang.
"Tau, Pak," jawab Zelmira.
"Apa jawabannya?"
"Salad adalah jenis makanan yang terdiri dari sayur-sayuran hijau yang disiram dengan bumbu atau saus. Di in--"
__ADS_1
Gelak tawa yang menggema membuat Zelmira menghentikan perkataannya. Sudah dapat dipastikan jika jawabannya salah karena ditertawakan oleh murid lain.
"Selain bego ternyata dia budek!"
"Anjir, bengek gue woi!"
"Begonya gak ketolong!"
Bwhahahaha ....
"Sudah! Sudah! Kalian diam!" Pak Bambang memukul pintu dengan keras hingga suaranya menggema hingga ke ujung koridor.
"Apa kalian sudah merasa begitu pintar sampai-sampai menghina teman kalian seperti itu? Selain nilai pelajaran, nilai attitude juga penting! Kalian mau Bapak kasih nilai d untuk sikap kalian?" Mereka semua menggelengkan kepalanya sembari menunduk. Ada juga yang berbisik mengatakan pak Bambang pilih kasih dan membela Zelmira karena dia adalah anak donatur sekolah.
Belum sekolah berbunyi. Mereka semua mencium tangan pria paruh baya itu lalu melenggang pergi.
"Jangan diulangi lagi, ya! Menghina orang itu gak baik!"
"Iya, Pak!"
Fara dan Raya mencium tangan pak Bambang dan masuk ke kelas. "Zel, omongan mereka gak usah lo masukin ke hati, ya. Anggep aja mereka anjing yang menggonggong yang minta ditimpuk pake sendal," ujar Fara.
"Kurang mantep, Ra. Pake batu aspal aja, biar mati sekalian," timpal Raya.
Zelmira diam membisu. Ia meraih tasnya dan berjalan menuju pria yang sedang membereskan bukunya.
"Belajar yang rajin, ya, Ra. Kata-kata mereka jangan kamu jadikan beban, tapi jadikan motivasi untuk merubah diri kamu menjadi lebih baik." Pak Bambang menepuk kepala Zelmira pelan.
"Saya salim lagi, Pak. Mau pulang." Raya menempelkan punggung tangan pak Bambang ke keningnya lalu menyusul Zelmira yang sudah keluar kelas lebih dulu.
"Saya juga mau pulang, Pak."
"Hati-hati di jalan. Langsung pulang, jangan mampir-mampir!"
"Siap, Pak!"
Fara, Zelmira, dan Raya berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Fara yang berceloteh, Raya yang menanggapi, dan Zelmira yang selalu diam. Fara dan Raya adalah teman yang setia yang selalu bersama Zelmira sejak ia masuk SMA. Mereka juga bukan teman palsu yang membicarakan keburukannya di belakang ataupun memanfaatkan dirinya karena ia kaya, tapi entah kenapa Zelmira tidak mau terbuka pada kedua temannya itu.
"Gue duluan," ucap Zelmira. Fara dan Raya melambaikan tangannya saat mobil yang ditumpangi Zelmira melaju menjauhi sekolah.
~OoO~
Nendra mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan jari tekunjuknya. Sudah tiga puluh menit ia menunggu Zelmira yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Nendra menghela napas, lalu menyalakan ponselnya. Ia mendial kontak Zelmira tapi panggilan tidak tersambung. Terbesit rasa khawatir di benaknya takut jika terjadi apa-apa dengan gadis itu.
"Ndra," panggil seorang gadis.
Nendra mendongak menatap gadis berambut sebahu yang sedang menarik kursi lalu mendudukinya.
"Maaf buat lo nunggu lama," sambungnya.
Nendra berdeham menyadarkan dirinya dari pesona perempuan yang sudah mencuri hatinya itu. "Sans, aja. Em, lo mau pes--"
"To the point aja. Gue ke sini mau minta maaf sama lo. Maaf atas perlakuan gue selama ini yang udah nyakitin hati lo. Lo mau maafin, gue, 'kan?"
Nendra terdiam. Ia menatap gadis di hadapannya itu intens. Nendra dapat melihat kegugupan dari gerak-gerik tubuhnya dan entah kenapa, itu terlihat menggemaskan di matanya.
"Gue akan maafin lo, tapi dengan satu syarat. Lo jadi pacar gue." Nendra menyandarkan tubuhnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Ia membuat wajahnya terlihat seserius mungkin, meskipun dalam hati ia sudah tersenyum begitu lebar melihat wajah menggemaskan calon pacarnya. Mengingat kata pacar membuat Nendra yakin bahwa syaratnya akan ditolak, tapi meskipun begitu ia akan tetap menghargai usahanya dan memaafkannya.
"Em, gu-gue. Gue mau jadi pacar lo, tapi itu, itu gue cuman kabulin permintaan lo waktu itu di kafe. Gue kasih lo kesempatan. Kesempatan untuk buat gue jatuh cinta, tapi lo harus inget! Kalau lo gagal gue bisa ninggalin lo kapan aja!"
Nendra mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya berdetak dengan kencang. Nendra mengorek telinga dengan jari kelingkingnya. "Lo ngomong apa tadi?"
"Lo gak mau? Yaudah, gue pe--"
Nendra mencekal tangannya. Matanya menatap netra cokelat itu dalam mencari sorot kebohongan dari sana, tapiĀ nihil. Nendra mengulurkan tangannya mengusap pipinya perlahan. "I-ini beneran lo?"
"Iya, ini gue. Lo gak mimpi, Ndra, ini nyata."
"Lo beneran mau jadi pacar gue?" tanya Nendra memastikan.
Melihatnya menganggukkan kepala. Rasa bahagia sudah tidak bisa tertahan. Nendra tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Pria itu bangkit dari duduknya lalu memeluk perempuan yang mulai saat ini resmi menjadi pacarnya. "Makasih, Ra. Makasih udah mau terima gue." Nendra mengeratkan pelukannya dan menghirup rakus aroma stroberi dari rambut gadisnya itu.
"Gue akan berusaha semampu gue untuk buat hati lo memilih gue sebagai tuan rumahnya. Gue akan buat lo jatuh cinta dengan ketulusan yang gue punya, Ra. Makasih, makasih udah mau buka hati lo buat gue. Makasih udah buat gue begitu bahagia. Makasih, sayang, makasih."
"Kalau ini mimpi, gue berharap gue gak akan pernah bangun," ucap Nendra dalam hati.
__________________________________________
TBC
Ada yang sama kaya Nendra ga? Suka godain anak orang ampe mewek.
__ADS_1
Ikhlas gak, mereka pacaran?
Kasih satu kata untuk mereka berdua. Tulis di kolom komentar, ya.