Lumina

Lumina
Lumina // bab 4


__ADS_3

Setelah membagikan ratusan bungkus kerupuk Zelmira pergi ke toilet dan disusul oleh kedua temannya. Sedari tadi Zelmira terus menyumpah serapahi Nendra yang menurutnya sangat menjengkelkan. Rahang Fara dan Raya mungkin akan jatuh mengenai lantai jika saja mereka tidak mengatup mulutnya dengan cepat. Kedua gadis itu menatap Zelmira tak percaya. Gadis yang biasanya masa bodo kini terlihat sangat kesal dan mulutnya tak berhenti mengeluarkan umpatan untuk pria bernama Nendra itu.


Meskipun masalah tadi bisa dibilang tidak ringan, dan jika mereka ada diposisi Zelmira, mereka juga pasti akan sangat kesal. Tapi ini adalah Zelmira. Zelmira yang tidak pernah mengeluarkan suaranya hanya untuk berbasa-basi, kini merelakan suaranya untuk menyumpah serapahi pria yang baru ia kenal kurang dari dua minggu, bahkan sampai mengeluarkan ekspresi frustasinya.


"Kasih tau gue, kasih tau gue, gimana caranya biar, tuh, cowok stop ganggu hidup gue?" tanya Zelmira frustasi.


Zelmira sungguh tidak tahan dengan kehadiran pria itu yang terus mengusiknya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali Nendra sudah membuatnya kehilangan kesabaran. Dan Zelmira tidak akan membiarkan pria itu kembali mengusik kehidupannya. Tidak. Tidak akan pernah.


"Zel," panggil Raya lirih.


"Apa?!" Tanpa sadar suara yang dikeluarkan Zelmira begitu keras dan terkesan membentak.


"I-ini, ada surat buat lo," ucap Raya sedikit terbata. Jujur ia sedikit takut dengan Zelmira yang ada di hadapannya sekarang. Raya menyerahkan sebuah amplop berwarna pink dan langsung di serobot oleh Zelmira.


Dengan terburu-buru Zelmira membuka surat itu. Bukan karena ia antusias tapi karena ia ingin tau apa surat yang ditulis oleh pria menyebalkan itu untuknya.


Untuk Zelmira, sang pujaan hati.


Sejak pertama kali gue lihat lo, gue udah jatuh cinta. Terlalu aneh memang kalau gue nembak lo di awal pertemuan kita. Saat itu gue lagi dimabuk cinta. Mata jernih lo mengalirkan lebih dari 100ml bir cinta di setiap detiknya. Dan di setiap 100 ml darah gue mengandung lebih dari 20 ml alkohol cinta. Alkohol itu meningkatkan fungsi emosional gue sampai maksimal dan akhirnya kalimat itu terucap. Gue jatuh cinta sama lo, Zelmira.


Saat gue lihat mata indah lo, gue selalu terpana. Setiap lo ada di deket gue atau bahkan hanya dalam mimpi, jantung gue akan berdetak dua kali lebih cepat. Menurut gue ini bukan lagi cinta monyet, melainkan cinta sejati yang sudah Tuhan takdirkan. Lo jodoh gue dan gue jodoh lo. Sampai lebaran monyet pun itu gak akan berubah. Nama lo akan selalu memenuhi pikiran dan hati gue, sampai suatu saat mata dan pikiran gue terhenti menatap sosok lo, tapi satu yang harus lo ingat, meskipun pikiran gue terhenti, mata yang selalu menatap lo ini tertutup, dan jantung yang selama ini berdebar telah terhenti, hati gue selamanya tetap milik lo. Milik gadis cantik berambut sebahu yang udah buat gue jatuh cinta pada pandangan pertama, yaitu lo, Gaozhan Naisha Zelmira, gadis yang gue cintai. Gue pengen lo jadi pacar gue, Zelmira.


So, will you be my girlfriend? Yes or yes?


Gue tunggu lo di taman belakang sekolah setelah pulang sekolah nanti.


From your prince, Graha Danendra.


Ekspresi Zelmira seketika berubah. "Setelah buat gue marah, sekarang dia mau gue jadi pacarnya? Hah? Mimpi!"


Zelmira membuang surat itu asal. Ia mencuci tangannya dengan kasar seolah benda yang tadi ia pegang adalah sumber kuman yang harus segera ia hempas. "Surat menjijikkan, yang nulis juga sama-sama menjijikkan. Semuanya menjijikkan!" gerutu Zelmira.


Raya dan Fara saling pandang. Dengan isyarat mata dari Fara, Raya mengambil surat yang terjatuh di lantai itu. Seketika tawa mereka pecah. Rasa takut yang sempat hinggap kini hilang entah kemana.


Raya tiba-tiba mendorong Fara hingga terpojok ke tembok adan ia mengurungnya dengan kedua tangannya yang ia letakkan di samping kepala Fara. Mereka saling bertatapan. "Udah ngalir berapa liter, Ray?" tanya Fara dengan wajah yang sangat kentara menahan tawa.


"Seratus mili lagi gue mabuk." Beberapa detik kemudian Raya kembali berucap, "Gue udah mabuk, Far."


Raya mendekatkan wajahnya ke Fara, salah satu tangannya terulur mengelus pipi Fara, lalu ia berucap, "Sekarang, di setiap seratus mili darah gue mengandung dua puluh mili alkohol cinta. Lo ma--uhmpp ...." Zelmira menyumpal mulut Raya menggunakan tisu. Matanya menatap kedua gadis itu dengan sorot penuh ancaman, lalu ia pun bergegas pergi meninggalkan kedua temannya yang sudah terbahak di dalam toilet.


"Nendra, sialan!" umpat Zelmira dalam hati.


~OoO~


Bel pulang sekolah berbunyi. Siswa-siswi berhamburan keluar kelasnya masing-masing. Sekolah yang beberapa menit lalu tampak ramai kini berubah menjadi sepi. Suara sepatu yang bertubrukan dengan lantai menggema di koridor kelas sebelas. Gadis dengan rambut sebahu berjalan sembari menyampirkan tas sekolahnya ke pundak.


Sepatu berwarna hitam dengan tali sepatu putih itu kini menapaki tanah yang dibalut rumput. Zelmira, gadis berambut sebahu itu melangkahkan kakinya menuju seorang pria yang duduk di kursi panjang yang sudah sedikit berkarat.

__ADS_1


Mendapati sebuah bayangan yang menutupi tubuhnya dari sinar matahari, Nendra pun mendongak dan matanya bersibobrok dengan mata jernih Zelmira. Meski matanya sedikit menyipit Nendra tetap bisa melihat dengan jelas bagaimana helaian rambut gadis itu menari-nari dan menutupi sebagian wajah cantiknya. Untuk kesekian kalinya Nendra kembali terpesona dengan gadis mungil di hadapannya itu.


Nendra mengarahkan telapak tangannya yang terbuka ke depan wajahnya saat Zelmira dengan sengaja menggeser posisi tubuhnya sehingga sinar matahari menusuk mata Nendra. "Sini, duduk, sini," pinta Nendra sambil menepuk-nepuk bagian kursi yang kosong di sampingnya setelah meletakkan jaket hitmanya di sana.


"Gak perlu," ketus Zelmira sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap Nendra dengan penuh ketidaksukaan.


Nendra bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Zelmira. Bibirnya menyunggingkan senyum manis andalannya. "Jadi, jawaban lo apa?" tanyanya harap-harap cemas.


"Gak minat dan gak akan pernah minat jadi pacar lo. Jadi, mulai sekarang lo berhenti ganggu hidup gue, karena gue udah muak sama lo!" tekan Zelmira sambil mendorong pelan dada Nendra. Saat ini amarah menguasai dirinya. Ia benar-benar sudah muak dengan kelakuan Nendra selama ini.


Senyum Nendra tak luntur sedikit pun. Meskipun begitu matanya menyiratkan kekecewaan dengan sangat sejelas. Sejenak Zelmira merasa bersalah tapi egonya lebih besar daripada simpatinya.


"Lo benci sama gue, Ra?" tanya Nendra lirih. Matanya menatap wajah Zelmira yang mulai memerah karena paparan sinar matahari.


"Iya! Gue benci banget sama lo!"


Nendra menarik napas dan kembali tersenyum. "Lo beneran benci banget sebanget-bangetnya sama gue?" tanyanya sekali lagi.


"Iya! Gue benci banget sebanget-bangetnya sama lo!"


"Banget, sebanget-banget, banget, banget, bangetnya?"


"Iya! Banget, sebanget-bangetnya, banget, bangetnya!"


"Lo tau, Ra?"


Nendra terkekeh pelan menatap Zelmira yang mulai terpancing emosi. "Kata orang benci sama cinta itu beda tipis. Kalau benci aja udah beda tipis sama cinta, apalagi yang bencinya banget, sebanget-banget, banget, banget nya, berarti udah gak ada perbedaan yang menjadi pembeda lagi. Lo cinta sama gue, Ra, tapi lo gak sadar."


Nendra mengambil sejumput rambut Zelmira dan membawanya ke belakang telinga Zelmira. "Lo sadar gak, kalau lo itu perlahan mulai berubah? Lo gak secuek dulu, bahkan sekarang lo ngomong lebih banyak dari biasanya. Lo udah berubah, Ra, lo berubah karena lo mulai punya rasa ke gue," sambung Nendra yang kini kedua telapak tangannya sudah hinggap di pipi Zelmira.


Untuk sesaat Zelmira tertegun. Memori dimana dirinya menyumpah serapahi Nendra, bahkan berani mencubit pria itu. Ini bukan dirinya. Zelmira yang asli akan memilih untuk memendam perasaannya, meskipun itu amarah, Zelmira pasti lebih memilih diam. Zelmira tidak pernah bermain tangan pada siapapun, tapi tadi? Ah, tidak. Sudah dari beberapa hari yang lalu ia berani mencubit atau memukul Nendra. Apa benar dirinya jatuh cinta pada pria yang baru ia kenal kurang dari dua minggu itu?


Zelmira mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menepis tangan Nendra dengan kuat. Ia mendongak menatap Nendra yang lebih tinggi darinya. "Menutup mata dari kebenaran gak akan merubah kebenaran itu menjadi seperti apa yang lo mau. Jangan nunggu keadaan memaksa lo untuk membuka mata, karena sakitnya akan lebih sakit dari yang lo bayangin."


"Gue gak cinta sama lo adalah kenyataan! Lo yang buat diri lo sendiri terus berharap padahal lo tau hasilnya. Lo nyusahin diri lo sendiri, Ndra!" Setelah mengatakan itu, Zelmira berbalik dan pergi meninggalkan Nendra yang terdiam.


Teriknya sinar matahari kini telah redup tertutup awan gelap yang siap mengeluarkan isinya. Cuaca seakan mendukung suasana kepedihan yang dirasakan oleh Nandra. Bahkan ketika rintikan hujan turun pun laki-laki tersebut tetap bergeming.


"Ndra! Ayo pulang! Lo ngapain berdiri di situ?! Woi, Ndra! Nendra!" Teriakan dari Andra membuat Nendra tersadar. Ia mengusap wajahnya lalu meraih tas dan jaketnya yang berada di kursi lalu berlari menghampiri Andra dengan jaket yang menjadi payungnya.


"Entah apa yang membuat gue bisa sekuat ini untuk bertahan. Sebanyak apapun lo nolak cinta gue, gak akan buat gue berhenti untuk terus mencintai. Seandainya pun kita gak berjodoh, gue berharap Tuhan menyiapkan sesosok pria yang tulus mencintai dan bisa menjaga lo disaat gue udah gak bisa menjadi pahlawan yang selalu ada buat lo, Ra. Sebelum pria itu hadir, gue akan terus berusaha dan terus mencintai lo, meskipun lo sekuat tenaga menghancurkan perasaan gue."


Hujan hari ini menjadi saksi bagaimana kuatnya kekuatan cinta yang tidak bisa hancur meskipun terus di serang dengan pahitnya penolakan. Cinta yang hadir tanpa alasan, sangat sulit dihilangkan meskipun dengan ribuan alasan. Nendra kecewa. Nendra sakit hati. Tapi rasa cintanya lebih besar dari sakit hatinya atau mungkin berhenti mencintai lebih sulit sehingga Nendra lebih memilih bertahan meskipun harapan cintanya terbalas adalah kemustahilan.


~OoO~


Zelmira memejamkan matanya, ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Zelmira mencoba menetralkan detak jantungnya yang mulai menggila. Telapak tangannya menekan kenop pintu berwarna silver itu perlahan. Kakinya melangkah maju menapaki lantai granit yang tampak mengkilap memantulkan cahaya dari lampu yang tergantung di plafon.

__ADS_1


Aroma kopi menguar dari ruangan yang didominasi warna abu-abu itu. Zelmira menatap sesosok pria paruh baya yang sibuk membolak-balikan kertas dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Pria dewasa itu meraih secangkir kopi dan menyeruput nya dengan tenang.


"Duduklah," titah Agus setelah meletakkan segelas kopi tadi ke tempat semula.


Tanpa kata Zelmira mengikuti titah ayahnya. Ia mendudukkan bokongnya di sofa dan menunggu ayahnya menyelesaikan pekerjaannya. Sekali lagi Zelmira menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Ia meremat tangannya yang berada di atas pangkuannya.


Ini bukan pertama kalinya ia berada di ruang kerja ayahnya, tapi rasa takut di benak Zelmira masih sangat besar. Apalagi masalah di sekolah hari ini, di tambah nilai ulangannya yang lagi-lagi di bawah rata-rata.


Mengingat sekolah membuat nama Nendra hinggap dipikirannya. Apa pria itu baik-baik saja setelah perkataannya tadi siang? Nendra tidak akan bunuh diri, karena patah hati, 'kan?


Dengan cepat Zelmira menggeleng kan kepalanya mencoba membuang semua pikiran-pikiran buruknya. Sekarang ia harus memikirkan apa yang akan ia katakan jika ayahnya bertanya tentang masalah di sekolah. Benak Zelmira dipenuhi dengan pertanyaan tentang keadaan Nendra. Ia merasakan bersalah karena sudah melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.


"Lo gak salah, Zel, tindakan lo bener. Dengan begitu dia gak akan ganggu hidup lo lagi dan patah hati lebih awal itu lebih bagus, 'kan, daripada nanti-nanti malah sakitnya lebih parah," ucap Zelmira dalam hati.


"Zelmira!"


Zelmira tersentak saat mendengar ayahnya memanggilnya. Matanya melirik Agus yang saat ini sudah duduk di sofa single yang ada di sampingnya. Pria dewasa itu melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja.


"Kamu tau, kenapa Ayah memanggil kamu ke sini?" tanya Agus sambil mengangkat sebelah kakinya lalu meletakkannya di atas kakinya yang lain.


Mata Zelmira berpusat pada tangannya yang saling meremat yang berada di atas pangkuannya saat ini. "Ayah, mau hukum Zelmira?" jawab Zelmira ragu.


"Kamu tau alasannya?"


"


Nilai ulangan, Zelmira, jelek."


"Satu lagi?"


"Masalah hari ini di sekolah? Tapi itu bukan sal--"


"Kamu punya pacar?"


"Hah?" Zelmira menatap ayahnya bingung. Pacar? Sejak kapan Zelmira punya pacar? Dekat dengan pria saja tidak. Kecuali, Nendra yang satu minggu terakhir selalu mengikutinya bak anak ayam yang mengikuti induknya. Mengingat Nendra membuat Zelmira ingat tentang perkataan pria itu di ruang BK.


"Nendra, sialan!" umpat Zelmira dalam hati.


"Dia bukan pacar Zelmira, Yah, Zelmira gak punya pacar," jawab Zelmira. Kali ini ia berani menatap mata ayahnya yang juga sedang menatapnya dengan intens.


"Bagus, Ayah harap itu kebenarannya atau kamu akan tau akibatnya. Untuk hukuman kali ini, Ayah, hanya akan memotong uang jajan kamu. Sekarang kamu ke kamar dan tidur. Jangan lupa mengerjakan tugasmu," tegas Agus yang dibalas anggukan patuh oleh Zelmira.


Zelmira pun bergegas keluar. Tepat setelah pintu tertutup, Zelmira menghela napas lega. Setidaknya hukuman kali ini tidak seberat biasanya.


__________________________________________


TBC

__ADS_1


__ADS_2