
"Yang harusnya sadar diri itu lo bukan Nendra! Lo sadar kalau lo itu gak punya apa-apa, lo sadar lo bego, dan lo juga harusnya sadar kalau lo itu cuman sampah yang beruntung disukai oleh cowok sesempurna Nendra! Banyak yang berharap ada diposisi lo, tapi lo malah sia-siain itu. Lo berhak gak suka dia, tapi lo gak berhak buat mempermalukan dia kaya gitu!" Gadis berambut hitam legam mendorong bahu Zelmira hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
Raya dan Fara menghampiri Zelmira dan menarik tangannya yang menutupi pipinya yang memerah.
Fara maju mendekati gadis itu.
"Lo ngomong Zelmira gak berhak ngerendahin dia, terus lo berhak gitu buat nampar Zelmira?! Lo siapa? Pacarnya Nendra? Bukan! Lo saudaranya? Bukan! Lo itu bukan siapa-siapanya, Nendra, jadi, lo gak usah sok jadi pahlawan dengan belain dia dan berharap dia mau sama lo." Telunjuknya mendorong pelan bahu perempuan yang saat ini menatapnya dengan sorot permusuhan.
"Gue emang bukan siapa-siapanya, tapi gue cinta sama dia dan disaat gue tau Nendra suka sama cewek bego itu, gue mundur. Gue lepasin Nendra! Berharap dia akan bahagia, tapi apa? Cewek gak tau diri itu malah ngerendahin orang yang udah sayang sama dia!" Lesya menunjuk Zelmira.
"Gue tau cinta itu emang gak bisa dipaksain, tapi setidaknya jangan buat hati orang lebih hancur dengan kata-kata lo."
Lesya mengapit tangan Nendra dan menariknya membelah kerumunan. Saat berada di samping Zelmira, Lesya berhenti, ia berbisik, "Suatu saat lo pasti akan nyesel, Ra. Gue yakin." Lesya menyenggol bahu Zelmira dengan sengaja lalu pergi dengan Nendra yang diam membisu.
"Mampus! Sok kecakepan, sih, jadi orang!"
"Kak Nendra emang pantesnya sama kak Lesya, Zelmira cuman jadi setan diantara mereka berdua."
"Kak Lesya keren banget!"
"Kalau gue jadi Lesya, udah gue tampar sampe dower, sampe pingsan sekalian kalau bisa. Udah, bego, sok jual mahal lagi. Dasar otak udang!"
Para siswa-siswi pergi sembari membicarakan kebodohan Zelmira dan memuji keberanian Lesya yang berani menampar anak dari Agus yang notabene nya adalah salah satu donatur terbesar di SMA Merah Putih.
Dean berjalan menghampiri Zelmira. "Lo yang paling tau seberapa besar usaha Nendra untuk dapetin hati lo. Gue kira lo itu baik, tapi ternyata enggak. Lo gak bisa hargai perjuangan seseorang, gimana lo mau dihargai sama orang lain? Hati manusia itu lebih rapuh dari kaca. Kalau mulut lo gak bisa ngomong yang baik-baik, lebih bagus kalau lo diem aja, setidaknya dengan diemnya lo gak akan buat orang lain sakit hati."
"Lo apaan, sih?! Pergi sana!" Fara mendorong tubuh Dean menjauh. Dean menatap kesal ke arahnya, tak urung ia melangkahkan kakinya pergi.
"Ra, lo gapapa?" Fara meringis menatap pipi Zelmira yang memerah.
"Gue keterlaluan, ya?" tanya Zelmira lirih.
Raya dan Fara saling pandang. Raya melingkarkan tangannya di pundak Zelmira dan mendorongnya perlahan isyarat agar gadis itu melangkahkan kakinya. "Ke UKS aja, yuk. Pipi lo merah, gitu, harus dikompres bi--"
Zelmira menepis tangan Raya pelan.
"Jangan ikutin gue." Zelmira melangkah pergi menyusuri koridor yang berlawanan dengan arah Nendra pergi.
~OoO~
Nendra berdiri dengan kedua tangan yang bertumpu pada teralis yang berada di rooftop. Pandangannya tampak kosong, dadanya masih terasa sesak mengingat perkataan Zelmira tadi.
"Ndra." Lesya menyentuh pundak Nendra laku beralih pada teralis yang dicat berwarna hitam.
"Yang lo rasain saat ini mungkin itu karma dari Tuhan karena lo udah nyakitin hati gue." Lesya menatap gedung-gedung tinggi yang terlihat indah saat memantulkan cahaya matahari.
Nendra diam membisu. Lesya melirik pria di sampingnya itu, lalu menggengam tangannya. "Lupain Zelmira dan buka hati lo buat gue, Ndra."
Nendra menghela napas. Ia menarik tangannya perlahan membebaskannya dari genggaman Lesya. "Gue gak bisa," ucapnya.
"Kenapa? Kenapa lo gak bisa buka hati lo buat gue? Apa, sih, kurangnya gue, Ndra? Gue selalu nunggu lo, gue selalu dukung lo, gue selalu ada buat lo, tapi kenapa lo gak bisa suka sama gue?"
"Karena lo bukan, Zelmira. Lo emang baik, Sya, lo pinter, lo cantik, lo hampir sempurna, tapi hati gue memilih Zelmira. Masalah lain mungkin masih bisa dinego, tapi masalah hati udah harga mati. Hati gue udah memilih dan tugas gue adalah berusaha menjadi yang terpilih di hati dia--"
"Dia gak suka sama lo, Ndra! Bedain mana yang namanya cinta dan kebodohan! Lo boleh berjuang, tapi lo harus tau siapa yang lo perjuangin. Zelmira? Otak udang--"
"Stop, Sya! Ini hidup gue, ini pilihan gue, lo gak berhak memaksakan kehendak lo! Cewek yang lo hina bodoh itu udah berhasil dapetin cinta gue, sedangkan lo? Lo udah tiga tahun ngejar gue tapi apa yang lo dapet? Gak ada. Itu udah nunjukkin bahwa lo harus nyerah untuk dapetin hati gue." Nendra membalik badan dan melangkah pergi.
"Apa lo akan nyerah juga untuk dapetin hatinya Zelmira, Ndra?" Lesya menatap bahu lebar laki-laki yang dicintainya itu.
Nendra menghentikan langkahnya. "Iya. Gue akan nyerah kalau, Zelmira, udah mendapatkan cowok yang tulus sama dia melebihi ketulusan hati gue."
"Dan gue berharap cowok itu gak pernah ada," sambungnya dalam hati.
__ADS_1
Nendra berpapasan dengan Andra di tangga. "Ndra, lo--"
"Gue lagi mau sendiri," potong Nendra.
Nendra melanjutkan langkahnya tapi ditahan oleh Dean. "Ndra, Mama lo ngidam," ujar Andra.
Nendra menelengkan kepalanya dengan dahi yang berkerut. "Hubungannya sama gue apa?"
Andra melepaskan cekalan tangannya lalu nyengir. "Mama lo pengen lo niruin buaya lagi cari mangsa."
"Gue lagi patah hati, loh, ini. Masa disuruh jadi buaya?" Nendra meraup wajahnya nelangsa.
"Ps lima," ucap Andra.
"Mama gue di mana?" Nendra merapihkan jambulnya juga seragamnya. Saat ini ia tampak sangat bersemangat.
"Rumah gue."
"Oke, gaslah! Eh, ta--"
"Udah gue izinin."
"Oke, meluncur!" Nendra menuruni anak tangga dengan cepat. Wajahnya berubah sumringah seakan sakit hatinya benar-benar hilang terganti oleh kebahagiaan.
Nendra melepaskan helmnya dan masuk ke dalam rumah megah yang didominasi warna putih. Di ruang tamu sudah ada orang tuanya serta tantenya yang sedang bercengkrama. Nendra tersenyum cerah dan mencium pipi Vita.
"Mau dimulai kapan?" Nendra jongkok sambil menciumi tangan mamanya itu.
Game adalah kelemahan Nendra. Mengetahui akan dibelikan PlayStation 5 tentu saja pria itu bersemangat melaksanakan tugasnya.
"Sekarang, dong." Vita tersenyum cerah sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.
"Kamu gak ganti baju dulu, Ndra?" tanya Vega.
"Gak usah, deh, langsung aja." Nendra pergi ke dapur dan mengambil paha ayam goreng yang ada di dalam tudung saji. Ia kembali ke ruang tamu, lalu meletakkan piring berisi ayam goreng tadi di atas lantai membuat ketiga paruh baya duduk di atas sofa menatapnya bingung.
Vita ingin membuka suara tapi suaminya memberi isyarat agar dirinya diam. Genta mengambil ponselnya dan merekam putranya yang saat ini menirukan buaya yang sedang kelaparan.
Nendra mengeram dengan mulut terbuka lebar, ia merayap mendekati piring lalu menggigit paha ayam itu seperti anjing yang menggigit tulang.
"Ndra, Mama kamu mintanya kamu godain cewek, loh, bukan jadi buaya kaya gitu," tegur Vega diiringi kekehan.
Genta melotot menatap adik iparnya yang tidak bisa diajak kompromi. Melihat wajah cengo Nendra ketiga paruh baya itu tertawa dengan keras.
Paha ayam itu jatuh ke atas piring menyisakan sebagian dagingnya yang tergigit oleh Nendra. Melihat blitz yang menyala dari ponsel papanya
Nendra melotot. Ia mengunyah daging yang berada di mulutnya sembari bangkit dan berlari mencoba merebut ponsel itu dari sang pemilik.
Genta melompat dari sofa lalu memasukkan ponselnya ke saku celananya sembari berlari menghindari putranya.
"Pa! Hapus gak vidionya?!"
Nendra berlari sambil memegang sabuknya yang kembali terlepas. Sepertinya hari ini memang hari tersial pria berjambul itu.
Lelah dikejar oleh sang anak, Genta pun mengistirahatkan dirinya di sofa dengan berbantalkan paha istrinya. Genta mengecup kilat pipi Vita, lalu mengambil ponselnya dan menyelipkan nya dibelakang tubuh perempuan paruh baya itu.
Bibir Nendra mengerucut saat tak menemukan benda persegi panjang itu di saku celana papanya. Ia membenarkan sabuknya lalu menatap mamanya kesal. "Kenapa gak bilang dari tadi, kalau Mama minta, Nendra, jadi buaya darat bukan buaya amfibi?!" rajuk Nendra.
"Kamu mau ps lima gak?" tanya Genta.
"Ya, maulah!"
"Yaudah sekarang kamu turutin permintaan Mama kamu."
__ADS_1
Nendra menatap papanya intens. "Ini permintaan Papa, 'kan?! Dari dulu Papa pengen banget aku jadi buaya, sampe-sampe nama aku artinya buaya. Kali ini pasti ulah Papa juga. Iya, 'kan, Ma?"
Vita menutup mulut Genta yang sudah siap untuk terbahak. "Ini permintaan, Mama, bukan, Papa. Udah, sana, ganti baju! Kita keluar untuk cariin mangsa buat kamu," ujar Vita.
"Nendra, 'kan, tadi udah jadi buaya!"
"Vidionya nanti Mama hapus." Genta melirik istrinya tak terima, tapi saat melihat mata tajam Vita seketika ia mengalihkan tatapannya ke plafon.
"Oke." Nendra pergi ke kamar Andra untuk meminjam baju pria itu. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan mengenakan kaos berwarna putih yang dilapisi oleh kemeja bermotif kotak-kotak dengan garis putih dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam serta sneakers berwarna putih yang menyempurnakan penampilannya.
Mereka pergi ke sebuah kafe yang terdapat banyak muda-mudi berkumpul. "Udah, sana, cari mangsa! Mama sama Papa liat dari sini," titah Vita.
Nendra berdeham dan merapikan pakaiannya sembari bangkit dari tempat duduknya. Matanya berotasi mencari gadis yang sedang sendirian.
Nendra melangkahkan kakinya menuju meja paling pojok, di sana ada gadis manis yang sepertinya sedang mengerjakan tugas di laptopnya.
"Eh, Mae, udah lama, ya, kita gak ketemu?" Nendra menarik sebuah bangku mendekati gadis itu lalu mendudukinya. Ia menepuk pundak perempuan berwajah oval itu sok kenal.
Gadis itu menengok ke arah Nendra dan mengernyit bingung. "Siapa ya? Gue Mona, bukan Mae."
"Maaf gue salah orang. Gue kira lo Maemunah temen TK gue." Nendra tersenyum canggung, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Lo sendirian?" tanya Nendra.
"Nggak, kok, gue sama temen tapi dia belum dateng."
"Oh." Nendra manggut-manggut. "Lo udah punya pacar?"
"Belum."
"Serius belum? Masa cewek secantik lo, belum punya pacar, sih." Pipi Mona bersemu merah. Ia berdeham mencoba untuk tidak salting.
"Eh, lupa. Kita belum kenalan. Nama gue Joko." Nendra mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Mona. Nendra menarik tangan gadis itu dan mengecupnya, lebih tepatnya mengecup ibu jarinya, karena ia tidak mau mencium tangan perempuan lain selain Zelmira.
"Lo mau gak jadi pacar gue?"
Mona mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa syok dengan kalimat yang dilontarkan pria tampan di hadapannya itu. Mona menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Nendra. "Emang lo punya apa?" tanyanya.
Nendra melirik meja orang tuanya. Di sana Vita memberi isyarat agar dirinya terus melanjutkan aktingnya sebagai buaya darat. "Gue punya mobil," jawab Nendra.
"Wah, cowok idaman banget dong. Btw mobil apa?"
"Mobile legend bang bang bang ...."
Senyum Mona luntur. Ia berdeham lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Eh, gue lupa. Gue ada janji sama pacar gue, duluan, ya." Mona memasukan laptopnya ke dalam tas lalu melenggang pergi.
Vita dan Genta sudah terbahak di mejanya. Nendra merapikan jambulnya lalu kembali ke mejanya.
"Puas?!" Nendra melirik sinis ke arah papanya yang masih terkekeh.
Vita mengangguk cepat, ia mengelus perutnya dan tersenyum. "Mama tambah uang jajan kamu," ucap Vita.
Nendra tersenyum cerah. "Ps lima nya, Nendra, tunggu malam ini. Awas aja kalau telat ngasih! Aku bongkar rahasia Papa ke Mama," ancam Nendra.
Genta melotot ke arah putranya lalu menatap istrinya sambil menggelengkan kepalanya. "Gak ada rahasia apa-apa."
"Boong, tuh, Ma," timpal Nendra.
Vita memicingkan matanya menatap suaminya yang sudah mengecupi tangannya berkali-kali sambil mengatakan bahwa ia tidak mempunyai rahasia.
Nendra terkekeh jahat. "Mampus, tidur di luar," ucap Nendra tanpa suara yang dihadiahi pelototan tajam dari Genta.
__________________________________________
__ADS_1
TBC
Satu kata buat part ini?