Lumina

Lumina
Lumina // bab 2


__ADS_3

Suara riuh para siswa-siswi yang berteriak memesan makanan menjadi sambutan saat Zelmira dan kedua temannya menjejakkan kaki mereka di kantin. Banyak siswa-siswi yang berdesakan berebut makanan. Meja pun sudah penuh tanpa sisa. Ya, seperti inilah konsekuensi jika pergi ke kantin mendekati jam masuk kelas.


"Balik aja, yuk! Gak bisa napas gue di sini," ucap seorang gadis sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangannya yang terbuka.


"Nanggung, udah sampe sini. Mending lo pesen makanan, gue sama Zelmira cari tempat duduk."


"Dih, itu mah enak di lo eneg di gue. Dahlah, kita ke kelas aja. Yuk, Ra!" Raya menarik tangan Zelmira keluar kantin. Sedangkan Fara mengekor dengan bibirnya yang maju beberapa centi karena kesal.


"Zelmira!" teriakan dari seorang pria membuat ketiga gadis itu berbalik. Beberapa siswi mulai berbisik saat melihat pria dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh centimeter itu berjalan menghampiri Zelmira dan teman-temannya.


"Lo mau makan? Gabung sama gue aja, tuh, mejanya di pojok sana." Pria itu, Nendra, menunjuk ke arah meja yang berada dipaling pojok. Di sana sudah ada dua pria yang sedang menatap layar ponsel mereka.


Zelmira melirik Nendra sekilas lalu matanya berotasi menelisik setiap sudut kantin. Banyak siswi yang sedang memerhatikannya. Zelmira tidak suka menjadi pusat perhatian.


"Kakak, ini, Kak Nendra, 'kan, ya? Yang waktu itu ngelempar botol bekas ke kepala gue?" tanya Fara yang sedang menatap wajah Nendra dengan kening berkerut. Ia lupa lupa ingat dengan wajah pria yang pernah melempar kepalanya dengan botol bekas tiga bulan yang lalu.


Tatapan Nendra beralih ke gadis bertubuh tambun itu. Matanya menatap wajah Fara sama beberapa detik sebelum ia cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sorry, itu gue gak sengaja. Lo duduk di samping tong sampah, sih, jadi gue kira lo tong sampah, soalnya mirip," ucap Nendra yang tentunya dua kata terakhir hanya ia ucapkan dalam hati.


Melihat ekspresi kesal Fara, Nendra kembali membuka suara. "Eh, kalian jadi makan gak? Mumpung bel belum bunyi," ujar Nendra mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mendengar makanan, ekspresi Fara menjadi sumringah."yuk, makan, yuk! Gue laper banget ini," ujarnya.


"Kalian aja," ucap Zelmira singkat. Ia memutar balik badannya dan melenggang pergi.


"Lo makan aja, Far, gue ke kelas. Zelmira, tunggu!" Raya berlari-lari kecil menghampiri Zelmira. Nendra yang melihat Zelmira pergi pun raut wajahnya menjadi lesu. Ia ingin mengejar tapi melihat wajah Zelmira yang sepertinya sedang bad mood dan tidak ingin diganggu, ia pun mengurungkan niatnya. Nendra tidak tahu jika yang membuat gadis itu bad mood adalah dirinya.


"Yaudah, yuk!"


"Kemana?"


"Makanlah, 'kan, lo tadi nawarin," ujar Fara. Mereka berdua beradu pandang.


"Gak bisa, udah penuh." Nendra berbalik dan melangkah pergi.


Fara mendelik tak percaya. Jelas-jelas di sana masih ada bangku kosong. Demi cacing-cacing di perutnya yang sedari tadi berteriak meminta makan, Fara menghampiri meja Nendra dan duduk di salah satu bangku kosong, di sebelah pria berambut hitam legam.


"Eh, kok ada dugong terdampar di sini?" Dean melirik Fara sekilas lalu beralih menatap Nendra dengan tatapan bertanya. Nendra menganggukkan kepalanya memberi isyarat agar temannya itu membiarkan Fara duduk di sana. Sedangkan Fara yang dipanggil dugong pun menatap Dean tajam, tapi itu tidak lama karena aroma makanan membuat ia mengalihkan perhatiannya.


Fara melirik pria yang duduk di sampingnya yang sepertinya tidak menyadari keberadaan Fara. Dengan lihai tangan gadis itu menarik mangkuk berisi mie ayam dan melahap nya. Masa bodo dengan malu, saat ini ia benar-benar harus makan.


"Eh, dugong! Punya Andra itu!" ujar Dean yang tidak digubris sama sekali oleh Fara.


Mendengar perkataan Dean, pria tampan di samping Fara itu reflek menengok dan terperanjat kaget saat melihat gadis bertubuh tambun itu tanpa tahu malu memakan mie ayam miliknya yang belum ia sentuh sama sekali karena sedang bermain game.


Pria itu menarik mangkuk berisi mie ayam menjauh dari Fara. Beberapa helai mie menggantung dari mulut Fara. Gadis itu mendelik kesal, ia meraih mangkuk itu tapi kembali direbut, tapi kali ini direbut oleh Nendra.


"Gue bakal kasih semua makanan yang ada di meja ini, tapi dengan satu syarat."


Fara menelan sisa mie yang ada di mulutnya dan menggangguk dengan cepat. Matanya berbinar binar saat mendengar tentang makanan. Ia menatap ke arah meja yang terdapat tiga mangkuk mie ayam dan tiga gelas jus jeruk itu. Ia menjilat bibirnya tak sabar ingin memasukan semua makanan itu ke dalam perutnya.


Tangannya terulur untuk meraih salah satu mangkuk itu mie ayam itu, tapi sialnya mangkuk tersebut ditarik lagi oleh Nendra. "Eitss, tunggu dulu."


"Lo harus janji bakal lakuin apapun yang gue suruh," sambung Nendra. Pria itu menarik bibirnya membentuk senyum tipis memuji ide yang terlintas di kepalanya.


"Iya, iya, gue janji. Puas lo?! Udah siniin mie nya, gue laper." Fara pun meraih mangkuk mie ayam dan melahap isinya hingga habis. Gadis itu makan sangat lahap seperti tidak diberi makan selama berminggu-minggu. Bahkan ketiga pria itu mendadak merasa kenyang saat melihat cara makan Fara yang jauh dari kata anggun.


"Comblangin gue sama Zelmira."


Uhuk Uhuk


Sehelai mie keluar dari lubang hidung Fara. Gadis itu meringis merasakan sensasi panas bercampur perih di hidungnya. Tangan kanannya mengambil beberapa helai tissue dan menarik mie itu keluar. Beberapa siswa terbahak melihat itu, ada pula yang merasa jijik. Berbeda dengan ketiga pria yang berada satu meja dengannya, mereka menatap Fara dengan tatapan ngeri.


"Lo gapapa?" tanya Andra, pria yang duduk di samping Fara. Pria itu mengulurkan segelas jus jeruk dan langsung direbut oleh Fara. Setelah merasa mendingan Fara menatap sekeliling kantin yang sudah tak seramai tadi. Dalam hati ia merutuki Nendra yang membuatnya tersedak. Sakitnya tak sebanding dengan rasa malunya. Apalagi setelah melihat beberapa siswa terkekeh sambil menatap ke arahnya, rasanya Fara ingin menghilang saat itu juga.


"Gue balik ke kelas. Thanks untuk traktirannya." Dengan cepat Fara bangkit dari duduknya, ia berlari-lari kecil sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Nendra, sialan! Gue malu banget anjir. Sumur mana sumur? Emak, Fara malu-" batin Fara.


"Eh, si dugong malah kabur. Gak jadi dapet nomornya si Zelmira dong gue," dengus Nendra kesal.


"Pulang sekolah tunggu aja dia di depan gerbang, terus minta nomornya," ujar Dean.

__ADS_1


"Zelmira?" tanya Andra yang tak paham dengan apa yang dibahas Nendra dan Dean.


"Iya, anak kelas sebelas, gebetannya Nendra."


"Nama lengkap?"


"Ngapain nanyain nama lengkapnya, lo mau nikung gue?" Nendra menatap sepupunya itu tajam.


Andra memutar bola matanya malas. "Lo kira gue gak laku? Banyak kali yang mau sama gue, jadi, untuk apa gue nikung lo?" Nendra mengangguk membenarkan. Memang banyak gadis yang ingin menjadi pacar sepupunya itu.


"Ke rooftop, mau gak? Gue mau push rank," ajak Nendra yang dibalas anggukkan oleh Dean dan Andra. Mereka pun melenggang pergi meninggalkan kantin yang sudah sepi karena bel masuk sudah berbunyi beberapa saat setelah Fara keluar dari kantin.


~OoO~


Bel pulang sekolah berbunyi lima menit yang lalu. Nendra mengikuti saran Dean untuk menunggu Zelmira di gerbang sekolah. Beberapa kali segerombolan siswi mendekatinya untuk meminta nomor whatsapp, berfoto atau mengajak pulang bersama, tapi ditolak mentah-mentah oleh Nendra. Di hatinya sudah ada Zelmira, tidak ada celah sedikitpun yang akan ia biarkan untuk gadis lain masuk.


Nendra duduk di atas motor vespa hijau miliknya yang ia beri nama paijo. Sebenarnya ini pertama kalinya ia membawa motor kesayangannya itu ke sekolah. Dan Nendra ingin Zelmira menjadi orang pertama yang ia bonceng menggunakan motor vespa nya itu.


Sekolah tampak semakin sepi. Hanya tersisa sedikit siswa yang sedang menaikan kursi ke atas meja agar besok pagi siswi yang piket lebih mudah membersihkan kelas. Nendra melirik arlojinya dan mengelap keringat yang menetes dari dahinya. Cuaca siang ini sangat panas. Nendra merasa seperti dipanggang, padahal baru sebentar ia menunggu.


"Mana, sih, orangnya? Lima menit lagi sempurna jadi ikan asin gue," monolog Nendra lirih. Ia melirik ke arah koridor dan terlihat tiga orang gadis berjalan beriringan.


"Ikan asin! Eh, kok, ikan asin? Zelmira!" Nendra memukul bibirnya pelan saat salah memanggil Zelmira dengan nama ikan asin. Ia melambai-lambai kan tangannya isyarat meminta Zelmira menghampirinya, tapi Zelmira sama tidak menggubris dan terus melanjutkan langkahnya.


"Duh, calon istri, susah amat di deketin," gumam Nendra. Ia turun dari motor dan menghampiri Zelmira, tapi Fara malah menghadang jalannya.


"Buaya dilarang mendekat!" ujar Fara sambil merentangkan kedua tangannya.


Nendra menatap Fara jengah. "Minggir!" desis Nendra.


"Gak!"


Nendra menunjuk sesuatu berwarna merah yang berjarak dua meter dari kaki Fara berpijak. "Duit sapa tuh?"


Fara reflek menengok dan langsung berlari mengambil kertas itu.


Nendra mendekati Zelmira dan berdiri di hadapan gadis itu. Nendra harus menunduk untuk melihat Zelmira karena tinggi gadis itu hanya sebatas dadanya. "Pulang bareng gue, ya?"


"Jauh-jauh dari gue!" ketus Zelmira.


"Iya, jauh-jauh, deh, lo, kang boong!" sergah Fara yang kesal karena dibohongi oleh Nendra. Yang ditunjuk Nendra tadi bukanlah uang melainkan bungkus makanan ringan berwarna merah yang sialnya terlihat seperti uang di mata Fara.


Nendra tidak menggubris gadis bertubuh tambun itu. Ia maju selangkah mendekati Zelmira. "Kenapa? Kalau di deket gue jantung lo disko, ya?" tanya Nendra dengan percaya diri.


"Lo bau."


"Ha?"


"Keringet lo bau. Gue mau muntah," ucap Zelmira.


Fara dan Raya langsung mengendus-endus Nendra dan langsung menutup hidungnya dengan ekspresi seperti mau muntah. Nendra mengangkat sebelah tangannya dan mencium ketiaknya. "Gak bau, kok, nih, coba cium." Nendra menarik seragamnya dan mendekatkan nya ke arah Zelmira.


Zelmira menatap Nendra ngeri. Ia menggeser tubuhnya dan buru-buru pergi dari sana sebelum pria itu berulah lebih. "Lah, kok gue ditinggal? Zel! Zelmira!" Nendra ingin mengejar Zelmira tapi sudah terlebih dahulu dihadang oleh Raya dan Fara.


"Dia itu gak suka ada di deket lo," ucap Raya yang diangguki oleh Fara.


"Mending lo pulang, mandi, pake minyak kayu putih, terus bedakan biar wangi. Bau lo kecut banget, sumpah, mau muntah gue nyiumnya." Raya mengibaskan telapak tangannya yang terbuka di depan hidung. Setelah itu, mereka melenggang pergi meninggalkan Nendra yang masih kebingungan.


Nendra mencium ketiaknya lagi. "Gak bau, kok." Sebelah tangannya masuk ke dalam seragam dan mengelus ketiaknya lalu mengarahkan telapak tangannya itu ke hidung. "Tuh, 'kan, bau banget anjir! Pantesan Zelmira gak mau pulang bareng gue." Nendra mengusap telapak tangan yang tadi menyentuh ketiaknya ke bagian belakang celana abu-abu yang ia kenakan.


"Zelmira gak ilfil, 'kan, sama gue? Keringet bau itu wajar dong. Iya, 'kan? Gak ilfil, 'kan? Akhh ... keringet sialan!" Nendra mengacak-acak rambutnya, lalu kembali mengarahkan telapak tangannya yang menyentuh ketiaknya tadi ke hidung. Seketika raut wajahnya berubah seperti ingin muntah.


"Fiks, Zelmira, bakalan ilfil sama gue," ucap Nendra sambil menatap telapak tangannya jijik.


Saat ini Nendra dan Andra berada di supermarket. Nendra menceritakan apa yang terjadi tadi pada sepupunya itu dan berakhirlah mereka di sini untuk membeli deodorant dan minyak wangi untuk Nendra.


"Ini baunya enak gak?"


"Gak enak, terlalu menyengat baunya."


"Ini?"


"Itu parfum cewek, oneng."

__ADS_1


"Kalau yang ini?"


"Wangi melati? Bukannya Zelmira yang terpesona malah mba kunti nanti yang klepek-klepek."


"Terus yang baunya enak yang mana?!"


Sudah lebih dari lima belas menit Nendra memilih parfum yang akan ia beli. Semua yang ia pilih selalu ditolak oleh Andra. Sebenarnya yang ingin beli itu dia atau Andra?


"Beli parfum di mall aja, emang lebih mahal tapi baunya enak," ujar Andra.


"Kenapa gak bilang dari tadi Saripah?! Gak guna, dong, gue dari tadi cium ini itu sampe idung gue mati rasa." Nendra berdecak kesal. Ia melangkahkan kakinya ke kasir untuk membayar belanjaannya dan Andra lebih memilih menunggu di mobil.


~OoO~


Keesokan paginya, Nendra menunggu Zelmira di pos satpam. Kali ini ia memakai deodorant dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya, bahkan ia membawa sebotol minyak wangi di tasnya untuk berjaga-jaga jika ia kembali berkeringat.


Dua orang siswi menghampiri Nendra. Pakaiannya ketat dengan dua kancing teratas terbuka. Bibirnya dipoles lipstik berwarna merah dengan wajah yang terlihat begitu putih tampak kontras dengan leher yang berwarna kecoklatan.


"Pagi, Kak!"


"Selamat pagi, Kak!"


"Pagi!"


Kedua gadis itu tersenyum cerah saat sapaannya dibalas oleh Nendra. Gadis dengan rambut terurai menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia mengulurkan ponselnya sambil tersenyum manis.


"Boleh minta nomor hapenya gak, Kak?" tanya gadis itu dengan suara yang sangat kentara dibuat-buat.


Nendra menatap gadis itu dari rambut hingga ke sepatu. Tak lama ia pun mengangguk. "Boleh," jawabnya.


Gadis itu reflek menengok ke arah temannya dan tersenyum dengan lebar. Ia mengutak-atik ponselnya dengan bibir yang terus tertarik ke atas.


Saat gadis itu menganggukkan kepalanya, Nendra, pun mulai menyebutkan nomor ponselnya.


"Kosong, lapan, dua, lapan, gue udah punya gebetan, cabe kiloan dilarang nampang!"


Raut wajah kedua gadis itu seketika berubah. Gadis dengan rambut dismoothing tertawa canggung. "Jangan diambil hati, Bel. Kak Nendra, emang suka bercanda. Iya, 'kan, Kak?"


Nendra melirik gadis berambut sebahu yang baru saja melewati pos satpam. "Pucuk dicinta, ulan pun tiba," batin Nendra tersenyum.


"Em, kayanya bentar lagi bel bunyi. Gue duluan ya, Tante-tante," ujar Nendra dengan dua kata terakhir ia ucapkan dalam hati.


Nendra berjalan cepat menghampiri Zelmira. "Selamat pagi, cantik!" sapa Nendra dengan semangat.


"Hm, pagi," balas Zelmira malas.


"Gue wangi gak?" tanya Nendra sambil merangkul Zelmira sambil mengarahkan kerah seragamnya ke arah gadis itu.


Zelmira melepas rangkulan Nendra dan berjalan lebih cepat. Dalam hati ia berdoa agar bel masuk segera berbunyi dan ia akan bebas dari cowok menyebalkan itu.


Nendra memperlebar langkahnya dan berjalan di samping Zelmira. "Zel, gue wangi gak?" tanya Nendra sekali lagi.


"Hm."


Nendra tersenyum puas. "Karna sekarang gue udah wangi berarti lo mau, dong, jadi pacar gue?"


Zelmira melirik beberapa siswi yang mulai memperhatikannya dan Nendra. Zelmira tidak suka menjadi pusat perhatian. Langkah kakinya berhenti, ia memutar tubuhnya menghadap Nendra.


"Gue gak minat jadi pacar lo atau apapun yang berkaitan sama lo. Jadi, lo stop ganggu gue!" Setelah mengucapkan itu, Zelmira langsung pergi meninggalkan Nendra yang terdiam.


"Gila, gila! Tuh cewek kalau marah makin cantik anjir. Makin klepek-klepek gue," batin Nendra terpesona.


Tatapannya tak lepas dari punggung Zelmira yang kian menjauh hingga hilang dari pandangannya.


Nendra melirik sekelilingnya. Beberapa siswa-siswi berbisik sambil melirik ke arahnya.


"Apa lo bisik-bisik? Iri? Bilang! Ntar gue kasih hadiah." Mendengar kata hadiah mereka membuka mulutnya untuk berbicara, tapi mereka mengurungkan niatnya secara masal saat mendengar perkataan Nendra.


"Kiri ke rumah sakit atau kanan ke kuburan. Sok, tinggal dipilih." Nendra mengakat kedua tangannya yang terkepal memperlihatkan urat-uratnya yang menonjol membuat mereka seketika bergidik ngeri dan langsung berhamburan masuk ke dalam kelas. Nendra membenarkan jambulnya lalu pergi ke kelasnya sembari bersendandung ria.


_____________________________________________


TBC

__ADS_1


__ADS_2