Lumina

Lumina
Lumina // bab 3


__ADS_3

"Baik anak-anak. Ibu akhiri pembelajaran kita kali ini. Jangan lupa mengerjakan tugas yang sudah Ibu berikan dan nanti perwakilan kelas temui Ibu di ruang guru ya, Ibu akan beri kisi-kisi untuk ulangan minggu depan. Selamat siang dan selamat beristirahat."


"Siang, Bu!" balas mereka serentak kecuali Zelmira. Gadis itu hanya bertopang dagu sambil menatap papan tulis yang dipenuhi dengan coretan spidol. Dari sekian banyak materi yang disampaikan tak satupun yang berhasil masuk ke dalam otak Zelmira.


"Ra, ada yang nyariin lo tuh," ucap seorang pria dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.


"Siapa?" Bukan Zelmira yang bertanya, tapi Raya. Gadis itu mengeluarkan kepalanya dari jendela mencoba mengintip siapa yang ingin bertemu Zelmira.


"Katanya, sih, calon suaminya." Tepat setelah pria itu menyelesaikan perkataannya. Nendra memasuki kelas dengan gaya yang cool. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Tak lama dua pria menyusul masuk, salah satunya terlihat cool secara alami, dan satunya lagi menunjukkan wajah masam dengan membawa nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas es teh.


"Selamat siang, cantik!" sapa Nendra dengan senyum manisnya. Pria itu berjalan menghampiri Zelmira yang duduk dibangku sambil menatapnya jengah. Mata Nendra berotasi lalu memberi isyarat agar siswa dan siswi yang berada di dalam kelas keluar, kecuali kedua teman Zelmira tentunya.


"Dugong, minggir! Gue mau duduk," ujar Nendra sambil menarik kerah bagian belakang Fara seperti induk kucing yang sedang menggendong anaknya. Fara menepis tangan Nendra dan menatap pria itu kesal. Tak urung ia bangkit dan berdiri di samping Raya.


Nendra melambaikan sebelah tangannya isyarat agar Dean meletakkan nampan di atas meja.


"Selamat makan Tuan dan Nyonya," ucap Dean sambil meniru gaya seorang waiter yang sedang melayani pelanggan. Setelah itu ia berdecak kesal dan mengambil ancang-ancang untuk memukul kepala Nendra dengan nampan, tapi sudah direbut terlebih dahulu oleh Andra.


Beberapa siswi dari kelas lain mulai berdatangan. Mereka berkumpul di luar jendela untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan Nendra, pria yang masuk ke dalam list pria incaran mereka.


"Kok bisa, sih, Kak Nendra suka sama cewek bodoh kaya dia?"


"Jangan-jangan si otak udang pake jaran goyang buat memikat hati Kak Nendra."


"Kalau beneran kaya gitu mending kita undang orang pinter aja. Kasihan Kak Nendra nya."


Samar-samar terdengar suara bisikan-bisikan dari luar kelas. Nendra mencondongkan badannya ke arah jendela membuat Zelmira harus terpojok kan ke tembok. Nendra tersenyum manis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi didetik selanjutnya wajahnya berubah datar. Sebelah tangannya ia tarik ke depan leher lalu menggerakkan nya seolah itu adalah benda tajam dan memotong lehernya.


Mereka bergidik ngeri melihat itu. Nendra mengibaskan tangannya isyarat menyuruh mereka pergi, dan dengan serempak mereka pergi menjauhi kelas 11 Ips 3 itu.


Nendra membenarkan jambulnya, ia tersenyum pongah karena hanya dengan isyarat tangan saja ia bisa mengusir siswa-siswi yang berkumpul. "Lo emang hebat, Ndra," puji nya dalam hati.


"Aduh!" ringis Nendra saat merasakan kulitnya ditarik memutar.


Nendra menegakkan tubuhnya dan mengusap pinggangnya yang dicubit oleh Zelmira. "Minggir! Gue mau keluar," ujar Zelmira yang sudah tidak tahan berada di samping pria itu.


"Mau kemana? Ini makan dulu, udah dibawain sama calon suami, loh."


"Mana ada?! Itu gue yang bawa! Lo cum--hmphh ... bwueh! Tangan lo bau terasi njir!" Dean mengelap mulutnya yang baru saja lepas dari bekapan tangan Nendra.


"Dih, ngadi-ngadi lo!"


"Tangan gue wangi kok," sambung Nendra sambil mengarahkan telapak tangannya ke depan hidungnya lalu mengendus aromanya.


"Awas gue mau lewat!" Dengan kasar Zelmira mendorong tubuh Nendra yang menghalangi jalannya. Nendra yang terdorong pun terpojok ke meja dengan Dean dikungkungannya. Raya dan Fara pun melakukan hal yang sama. Mereka dengan sengaja mendorong punggung Nendra hingga meja bergeser karena tak kuat menahan beban Dean dan Nendra.


"Eh, Zel! Zelmira! Ish, gara-gara lo, nih, ngebacot mulu. Jadi kabur, 'kan, calon bini gue," decak Nendra.


"Kok nyalahin gue? Lo yang dari tadi nge-- eh, monyet! Bagi-bagi, dong, kalau makan." Dean mendudukkan bokongnya di kursi yang tadi di duduki oleh Nendra. Ia menarik piring berisi nasi goreng lalu melahap nya tanpa memedulikan pria yang saat ini menatapnya dengan tajam.


Nendra berdecak kesal saat melihat dua pria yang saat ini sedang memakan nasi goreng yang seharusnya ia makan bersama Zelmira jika saja gadis itu tidak pergi. Akhirnya, Nendra melangkahkan kakinya keluar kelas untuk mencari gadis pujaannya.


"Gak mau tau. Hari ini gue harus dapet nomernya, Zelmira. Pantang pulang sebelum sayang!" gumam Nendra dengan dirinya sendiri.


Nendra menyusuri koridor kelas sebelas tapi tak kunjung menemukan keberadaan Zelmira. Ia pun pergi ke kantin dan benar, Zelmira serta kedua temannya sedang makan di bangku paling pojok.


"Eh, kita ketemu lagi. Emang ya, kalau jodoh itu gak akan kemana," celetuk Nendra dengan posisi sedikit membungkuk dengan salah satu telapak tangan bertengger diujung meja.


"Boleh, 'kan, gue duduk sini?" tanya Nendra yang sudah duduk manis di samping Zelmira.


Mulut Fara terbuka ingin menyemprotnya dengan kata-kata, tapi ia urungkan saat tangannya tiba-tiba digenggam oleh Raya. Raya menggelengkan kepalanya lalu melirik Zelmira yang tampak tidak peduli dengan kehadiran pria di sampingnya itu.


Nendra tersenyum senang saat melihat Zelmira diam saja. Meskipun tidak dijawab, setidaknya ia tidak diusir dari situ. "Zel, kemarin lo pergi ke mall bareng siapa?" tanya Nendra yang tiba-tiba mengingat apa yang ia lihat di mall kemarin. Ia melihat Zelmira pergi bersama seorang dengan tangan yang saling bertautan membuat Nendra kebakaran jenggot. Saat Nendra ingin menghampiri mereka Andra menahannya, katanya ia tidak punya hak untuk protes.


Zelmira terus memasukan makanan ke dalam mulutnya tanpa menjawab pertanyaan Nendra. Meskipun begitu dalam hati ia menyanggahnya karena kemarin ia sibuk dengan hobinya, yaitu menggambar.


"Cangcimen, cangcimen! Kacang, cinta, permen! Eh, Bro, mau cinta gak?"


"Gue udah punya. Kasih aja, noh, ke orang yang membutuhkan," seru Andra membalas pertanyaan Dean sambil melirik Nendra yang saat ini juga melirik nya dengan geram.


Dean tertawa jahat lalu mempercepat langkahnya sambil mempererat genggamannya pada nampan di tangannya. Ia dan Andra ingin mengembalikan piring kosong pada ibu kantin, tapi malah disuguhkan oleh kemiris-an Nendra. Tentu saja bibirnya itu tidak tahan untuk tidak meledek temannya itu. Anggap saja ini pembalasan dendam nya karena dijadikan pesuruh.


Sedangkan Nendra sudah mengabsen nama-nama hewan di dalam hatinya. Menahan kesal tangan Nendra tanpa sadar meraih kerupuk yang ada di piring Zelmira dan mengarahkannya ke mulutnya yang sudah siap menyambut rasa gurih kerupuk itu.


Sendok berisi nasi goreng berhenti di depan mulut Zelmira yang sudah terbuka. Tatapan mata gadis itu mengikuti kerupuk putih miliknya yang mulai menjauh dari piring. Matanya melotot saat benda putih itu masuk ke dalam mulut Nendra. Kunyahan demi kunyahan membuat rasa kesalnya bertambah.

__ADS_1


"Em, nyam, nyam, nyam, kerupuknya enak. Gue minta satu lagi, ya, Zel," ujar Nendra sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kerupuk dari piring Zelmira. Raya dan Fara saling menatap sebelum bibir mereka menipis menahannya agar tidak tertarik ke atas. Dalam hati mereka mengasihani ketidaktahuan Nendra, tapi mereka juga senang karena sebentar lagi akan mendapat tontonan yang seru.


Zelmira menepis tangan Nendra dengan kasar. Ia menarik piringnya ke depan dadanya dan melingkarkan salah satu tangannya ke piring itu, mirip seperti sedang memeluk. Sorot matanya menajam menatap pria di sampingnya yang sedang meringis dan menatapnya dengan tatapan bingung.


"Pergi lo dari sini!" usir Zelmira dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan.


"Gak mau," tolak Nendra. Ia masih belum mengerti jika saat ini Zelmira sedang marah.


"Pergi!"


"Gak. Gue gak mau pergi."


"Pergi gak?!"


"Lo kenapa, sih? Lagi pms, ya?"


Nendra melirik dua gadis yang duduk bersebrangan dengannya. Fara dan Raya dengan kompak membuka mulutnya dan mengatakan kata mampus tanpa suara.


Nendra yang tak paham, pun membuka mulutnya ingin menanyakan apa yang diucapkan oleh kedua gadis itu, tapi sebelum suaranya sempat keluar, sesendok penuh sambal masuk ke dalam mulutnya lalu disusul oleh beberapa kerupuk yang dimasukkan secara paksa ke dalam mulutnya yang sudah penuh.


"Makan, tuh, kerupuk!" Zelmira bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.


"Tolong bayarin, ya," ucap Fara sambil meletakkan uang lima puluh ribuan di atas meja. Ia pun pergi menyusul Raya dan Zelmira yang sudah lebih dulu pergi.


Uhuk uhuk


Nendra meraih gelas berisi teh hangat sisa milik Zelmira. Baru sekali ia meneguk Nendra sudah menyemburkan isinya.


"Huek, pait."


Nendra berlari ke arah Dean dan Andra yang berdiri di depan pantri menunggu jus yang mereka pesan. Saat ingin menerima gelas berisi jus dari tangan ibu kantin, gelas itu malah lebih dulu disebut oleh Nendra. Satu gelas habis, Nendra meraih jus satunya lagi dan meneguknya hingga tandas.


"Ah," desah Nendra merasa lega karena rasa pedas di lidahnya berangsur-angsur hilang.


"Makasih ya," ucap Nendra sambil meletakkan dua gelas kosong itu di atas meja pantri lalu pergi ke luar kantin.


"Astaga, gada akhlak, tuh, anak. Ndra, bayar, lo, 'kan, sepupunya," titah Dean sambil menunjuk dua gelas kosong itu dengan dagunya.


"Gak mau, lah. Lo aja yang bayar, lo, 'kan, temennya," kilah Andra.


Dengan berat hati Dean merogoh saku celananya dan memberikan pada ibu kantin. "Duit gue sisa segitu, tambahin!"


"Sepupu, sialan! Kerjaannya nyusahin mulu," decak Andra. Ia membayar sisanya dan pergi bersama Dean.


~OoO~


Semenjak kejadian di kantin itu, Nendra terus mengikuti kemanapun Zelmira pergi. Setiap hari Nendra membawakan gadis itu sebungkus kerupuk untuk meluluhkan hati Zelmira agar ia tidak marah lagi pada Nendra. Kerupuknya memang diterima, tapi Zelmira tetap tidak berbicara sepatah katapun pada Nendra. Nendra berpikir kerupuk yang ia berikan kurang. Hari ini Nendra mengagetkan seluruh isi sekolah karena kendaraan yang dibawanya.


Dengan santai Nendra turun dari mobil dan berjalan ke arah kelas 11 Ips 3 sambil memutar-mutar kunci mobil dengan jari telunjuknya. Ia masuk ke kelas dan menghampiri Zelmira dengan semangat.


"Zel, ikut gue, yuk! Gue punya kejutan untuk lo," ujar Nendra sambil menarik tangan Zelmira untuk mengikutinya. Zelmira mencoba menarik tangannya agar terlepas dari genggaman pria itu, tapi tenaga Nendra lebih besar. Dengan malas ia mengikuti kemana kaki pria itu melangkah.


Beberapa siswa dan siswi tampak berlarian menuju tempat parkir. Perasaan Zelmira mulai tidak enak.


"Lo mau bawa gue ke mana?" tanya Zelmira.


"Please, jangan jawab tempat parkir," mohon Zelmira dalam hati.


"Tempat parkir."


"Gue gak mau ke sana." Zelmira menarik tangan Nendra. Nendra berbalik dan menatap Zelmira.


"Di sana ada kejutan buat lo, lo harus ke sana." Sebelum Zelmira kembali protes, Nendra kembali menariknya menuju tempat parkir.


Zelmira semakin gelisah saat melihat siswa-siswi terlihat berkumpul di tempat parkir, mereka berdiri mengelilingi sebuah mobil box berukuran sedang. Tangan Zelmira yang meronta meminta dilepaskan membuat Nendra semakin menguatkan genggamannya.


Terdengar kasak-kusuk siswa-siswi yang ada di sana. Sebagian dari mereka minggir memberi jalan untuk Nendra dan Zelmira, lalu kembali berkerumun.


Semua siswa-siswi bersorak saat melihat Nendra membawa Zelmira ke tengah-tengah kerumunan. Mereka menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di sana. Zelmira terus menunduk hingga rambutnya menutupi wajahnya.


"Gue minta maaf untuk kejadian di kantin waktu itu. Gue gak tau kalau lo suka banget sama kerupuk, dan untuk menebus kesalahan gue, gue bawain satu mobil box kerupuk buat lo."


Zelmira reflek mendongakkan kepalanya. Ia melotot saat melihat mobil box berukuran sedang ada tepat di hadapannya. Tatapannya beralih pada Nendra yang tersenyum seolah apa yang ia lakukan ini adalah hal biasa.


"Lo gila?!" pekik Zelmira tertahan.

__ADS_1


"Tes, tes! Ekhem. Panggilan kepada Nendra anak kelas dua belas IPA dua untuk segera menemui Bu Dewi di ruang BK. Sekali lagi, panggilan untuk Nendra ...." Suara bariton khas pria itu menggema diseluruh sudut sekolah. Mendengar itu Nendra menggaruk tengkuknya sambil tersenyum polos.


Zelmira menunjuk Nendra dan menatapnya dengan tatapan tak percaya sekaligus geram. "Lo ...." Gadis itu menyugar rambutnya furtasi. Ia emosi sampai sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Zelmira memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Ia merasa amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.


"Anak-anak, bubar! Masuk ke kelas kalian masing-masing!" teriak seorang guru dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.


Suara sorakan kekecewaan terdengar. Tak urung mereka pergi meninggalkan tempat parkir. Beberapa siswa yang kepo mengintip di balik tembok, bahkan ada yang merekam atau mengambil gambarnya.


"Kalian berdua ikut, Ibu ke ruang BK!" tunjuk guru itu ke arah Nendra dan Zelmira.


Nendra dan Zelmira mengangguk dan mengikuti guru itu ke ruang BK.


Nendra mencolek bahu Zelmira dan meminta maaf, tapi gadis itu malah mempercepat langkahnya dan berjalan di samping bu Dewi.


Dalam hati Nendra merutuki kebodohannya. Ia hanya fokus dengan misinya, yaitu mendapatkan maaf dari Zelmira, tapi malah begini jadinya. Nendra melirik para siswi yang mengintip dari dalam kelas. Ia menegakkan kepalanya dan membenarkan jambulnya. Di manapun, kapanpun, dan dengan situasi apapun, ia harus terlihat tampan, itulah prinsip Nendra.


"Duduk," titah bu Dewi yang sudah lebih dulu duduk di kursinya.


Zelmira pun menarik kursi itu dan mendudukinya. Disusul dengan Nendra yang duduk di sampingnya.


"Nendra, kelas berapa kamu sekarang?"


"Lah, Ibu, 'kan, wali kelas saya, mas--"


"Nendra, Ibu sedang tidak bercanda!"


"Gak ada yang bilang Ibu lag-- aw, sakit, Yang," ringis Nendra dengan tangan mengelus pahanya dan matanya melirik ke arah Zelmira yang saat ini melotot ke arahnya.


Zelmira kembali mencubit paha pria itu. Tidak peduli dengan guru yang ada di sana, Zelmira ingin melampiaskan kekesalannya, dan apa tadi? Yang? Gila. Nendra benar-benar gila. Apa pria itu sengaja ingin membawanya ke dalam masalah ini? Kesabaran Zelmira sudah habis.


Bu Dewi memukul meja dengan keras.


"Nendra! Zelmira! Perhatikan Ibu! Kalian ini sudah dewasa, sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ibu juga yakin kalau kalian paham betul dengan tata tertib di sekolah ini. Sekarang Ibu, tanya, kenapa kamu bawa mobil box ke sekolah dan menimbulkan keributan?"


"Saya mau bagi-bagi kerupuk gratis, Bu. Ibu mau? Kalau iya saya ambilkan sekarang," kilah Nendra yang sudah bersiap pergi untuk mengambil kerupuk.


"Nendra," panggil bu Dewi yang mulai kehilangan kesabaran.


"Hadir, Bu."


Bu Dewi memijat pangkal hidungnya. Muridnya yang satu ini benar-benar membuatnya kesal. "Ibu, tanya sekali lagi. Kenapa kamu bawa mobil box ke sekolah? Jawab yang jujur, Nendra!"


"Mau bagi-bagi kerupuk, Bu. Serius, deh. Tanya aja sama Zelmira. Iya, 'kan, Yang?" Nendra menelengkan kepalanya ke Zelmira sambil tersenyum. Sedangkan Zelmira menatap ke arah Nendra dengan sorot penuh kebencian dan ancaman.


"Kalian pacaran?" tanya bu Dewi.


"Iya."


"Nggak," jawab Nendra dan Zelmira bersamaan.


Bu Dewi menatap mereka dengan bingung. "Yang benar yang mana?" tanyanya.


"Saya pacaran sama Zelmira, Bu," jawab Nendra.


Zelmira menggelengkan kepalanya. "Nggak, Bu, saya gak pacaran sama dia."


"Pacar saya ini lagi ngambek, Bu, jadi ya, gitu...." timpal Nendra sambil menepuk-nepuk puncak kepala Zelmira.


Dengan kasar Zelmira menepis tangan yang bertengger di kepalanya. "Bu, saya kasih tau, nih, ya. Cowok ngeselin ini bukan pacar saya, dan keributan di sekolah hari ini, tidak ada sangkut pautnya sama saya. Itu murni kesalahan cowok lintah ini. Jadi, kalau Ibu mau marah, ya, marah ke dia aja, jangan bawa-bawa saya," ucap Zelmira dengan menggebu-gebu.


"Lintah? Ganteng gini, kok, dipanggil lintah. Manggil, tuh, sayang, baby, at--"


"Udah, udah! Pusing Ibu ngurusin kalian. Nanti kalian bagiin itu kerupuk ke seluruh penghuni sekolah waktu jam istrahat, tapi jangan buat keributan, dan kamu, Nendra, tulis pernyataan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seratus kali, dikumpul di ruangan Ibu sepulang sekolah. Juga, kamu harus bersihin tempat parkir selama seminggu, tidak ada penolakan. Sekarang kalian boleh keluar," tegas bu Dewi.


"Loh, Bu, kok yang dihukum cuman saya?" protes Nendra.


"Emang mau siapa lagi? Yang salah, 'kan, kamu. Udah untung, Ibu, gak hukum kamu lebih berat atau kamu mau hukuman tambahan?"


"Eh, nggak-nggak, Bu. Saya balik ke kelas aja." Nendra pun keluar ruangan, ia menyenderkan tubuhnya di tembok sambil melipat tangan di depan dada.


Tak lama Zelmira keluar, Nendra mencekal tangannya. "Zel, ma--Zel! Zelmira! Duh, salah lagi, salah lagi. Emang gak bener kayanya idup gue," decak Nendra saat melihat punggung Zelmira yang mulai menjauh.


_________________________________________


TBC

__ADS_1


__ADS_2