LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy

LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy
kedewasaan di balik kenyataan


__ADS_3

*wwoosshhh...*



Angin berhembus lembut, mengusap wajah cantik Elysia, saat ia menatap langit, Ia mulai merenungi arti kehidupan di tengah arena yang telah hancur, dengan puing-puing lantai menyaksikan pertarungan hebat yang telah terjadi. Rambut biru keputihannya berkibar seiring hembusan angin, dan darah serta kematian telah menjadi hadiah tak terduga di hari ulang tahunnya. Ia merasa kehampaan menghampirinya.


wwuuusshhh..


angin berhembus kencang, membawa ingatannya ke masalalu tepat 2 bulan sebelum tragedi mengenaskan itu terjadi.


*clangg... clangg.. clanggg... *"


Dalam suara adu pedang yang bergema, dua putri tengah berlatih. Putri pertama, Lucya, memiliki arti nama yang berarti "tidak pernah istirahat," dan ia terkenal penuh energi dan mahir dalam melindungi yang lemah. Sedangkan putri kedua, Elysia, memiliki arti nama yang berarti "pandai menjaga perasaan orang," dan ia dikenal dengan sifat keceriaan dan kelembutannya.


Lucya seringkali dianggap sebagai sosok wanita yang tegas, berambut merah, kuat, dan mahir dalam bertarung. Ia kerap melatih adiknya, Elysia, dalam seni pedang untuk memastikan bahwa Elysia bisa menjaga dirinya sendiri dari ancaman apa pun. Namun, sang adik yang manja sering merasa bahwa ia tidak perlu serius dalam berlatih pedang karena ia tahu kakaknya akan selalu melindunginya. Sambil tertawa manis, ia kadang cemberut karena lelah usai latihan pedang bersama kakaknya.

__ADS_1


"Hah... hahh... hahh... Hei, Kak! Ayo istirahat sebentar! Kau masih terlalu kuat! Aku bahkan tak akan bisa menandingimu!" eliscya pun tersungkur di lantai karena kelelahan, dan keringat membanjiri wajahnya.


luscya: "Hei, dengar ya, Lebah Kecil! Bagaimana jika suatu saat kerajaan kita diserang? Dan saat itu aku sedang sibuk membantu pasukan kerajaan melawan musuh, dan tidak ada yang menjagamu? Apa kau akan berteriak minta ampun agar mereka tidak menculikmu?" kata sang kakak sambil menggaruk kepala.


Elysia: "Hehe... Ayolah, Kak! Kau tahu kerajaan kita sangat kuat! Sudah banyak musuh yang mencoba menyerang, tapi sampai sekarang, tak ada yang berhasil! Itu karena kakak yang kuat dan ayah kita yang bijaksana!"


Sambil menghirup napas dalam dan menghembuskan nafasnya, sang kakak mulai berbicara kepada adiknya, "Eliscya, adikku, dengarkan kakak. Mungkin saat ini kerajaan sedang baik-baik saja, tapi kita tidak tahu kapan musuh seperti apa yang akan datang di masa depan. Suatu hari, kakak harap kau mulai mengerti..."


"Ya... ya... ya..." sahut sang adik dengan muka cemberut.


*Plakk.. ! Kepala sang adik di jitak*


"auuuwww* sahut sang adik.


luscya :"Dengar ya, kekuatan elemen sihir ini adalah anugerah dari sang dewa. Lagipula, kau tidak akan bisa mengendalikannya jika energi asli dalam dirimu belum bangkit. Dan tidak semua orang bisa memilih energi elemen sihir yang mereka inginkan. Sebuah elemen sihir yang kita kendalikan biasanya berasal dari kepribadian kita sendiri." Kakaknya menunjukkan tangannya yang mengeluarkan api. "Tapi kamu tidak boleh terpaku pada kekuatan elemen sihir ini. Kadang-kadang, kau harus menggunakan kekuatanmu sendiri. Jika kita bertemu musuh yang membawa pedang, dan kita hanya membawa pecahan kaca, apa yang akan kau lakukan?"

__ADS_1


eliscya: "Hmm... Ah... Melemparnya tepat ke arah titik vitalnya! Hehehe..." sahut sang adik.


luscya: "benar.. Dengar ya, adikku, kau tidak boleh terpaku pada kekuatan elemen sihir ini. Kadang-kadang, kita harus menggunakan kekuatan kita sendiri dan apa yang ada di sekitar kita,"


Tok... Tok... Tok... Suara pintu diketuk. "Masuklah, kami sedang istirahat," kata sang kakak.


Seorang penasehat raja datang menghampiri Lucya. "Tuan putri, ayahanda memanggil Anda untuk bertemu di aula taman sekarang juga."


"Baiklah," sahut Lucya sambil menyarungkan pedangnya. "Orang tua itu selalu saja memanggilku saat aku ingin berdua dengan adikku yang bawel ini."


, "Lanjutkan latihanmu ya dik.. Atau nanti kakak akan cerita ke ibu rahasia kecilmu jika kau suka tidur sambil mendengkur!"


"Aaaa... Awas saja ya, ka!" . "Baiklah, sana pergi, hufht..


Sambil mengayunkan pedangnya, Elysia merasa bosan. Ia berpikir, apakah nanti kekuatannya bisa membatu para prajurit di medan perang? terkadang eliscya merasa iri dengan bakat sang kakak yg sudah mahir dalam menggunakan teknik berpedang dan pengendalian elemental api miliknya..

__ADS_1


__ADS_2