LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy

LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy
Merah darah


__ADS_3

Lusya berdiri di tengah gelapnya pikiran dan emosi dalam dirinya, penuh ketegangan . Dia terdiam, matanya kosong, dan pikirannya berkecamuk dalam konflik batin yang mendalam.


Luscya : (dengan suara gemetar) "Apa yang sedang aku lakukan... Mengapa aku harus memilih seperti ini?"


Dalam dirinya, ada dua suara, dua sisi yang bertarung untuk mendominasi pikirannya.


sisi pertama : "Ini adalah takdir. Ini adalah pengorbanan yang harus aku lakukan untuk kerajaan dan adikku. Raja telah memutuskan, dan aku adalah calon pewaris tahta. Aku harus siap mengorbankan diriku."


sisi kedua : "Tapi ini adikku... Itu adalah nyawanya yang akan kuambil. Bagaimana aku bisa melakukan ini? Bagaimana aku bisa mengambil nyawa orang yang aku cintai?"


sisi pertama : "Ini bukan pilihan. Ini adalah kewajiban. Ini adalah harga yang harus dibayar agar kerajaan dan keluarga kita tetap aman. Aku harus kuat."


sisi kedua: "Tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang tindakan kejam ini. Aku ingin menjalani hidupku bersama adikku."


Lusya merasa pikirannya hancur oleh pertarungan ini. Dia melihat ke arah adiknya, yang masih pingsan di lantai. Kedua tangan Lusya gemetar, dan air matanya terus mengalir.

__ADS_1


Lusya: (dengan putus asa) "Bagaimana aku bisa memutuskan ini? Apakah aku harus menjadi monster untuk menyelamatkan kerajaan ini? Apakah ada jalan lain?"


Pertarungan dalam dirinya berlanjut, ketegangan psikologis merayap mendalam. Tapi, di tengah semua itu, Lusya tahu bahwa waktunya telah tiba, dan keputusan harus diambil, bahkan jika itu adalah keputusan yang tak terbayangkan.


Di tengah kegelapan dan ketegangan yang mendominasi arena, Lucya mengangkat pedangnya, siap untuk mengakhiri hidup adiknya, Elysia, untuk selamanya. Namun, dalam momen tersebut, detik-detik berjalan seolah berabad-abad. Lucya memandang langit yang tercipar merah oleh cahaya bulan yang tak biasa.


Luscya : (berbisik pada dirinya sendiri) "Apa ini benar-benar takdir yang aku inginkan? Apakah semua orang menginginkannya?"


Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayuti pikirannya, membuatnya merenung tentang arti kehidupan dan takdirnya yang tak terelakkan. Ia merasa seperti benang takdir yang tak bisa dia kendalikan, seperti boneka yang ditarik oleh benang kejam kenyataan.


Namun, sebelum ia bisa menemukan jawaban, keputusan harus diambil. Lucya mengumpulkan semua tekadnya, air mata mengalir dari matanya, dan ia berseru dengan penuh emosi.


*sambil mengangkat pedangnya.


Luscya : "Hiiiyaaaaaaa!! Aku akan mengakhiri semuanya!! MAAF, ADIKKU!!"

__ADS_1


*sraattchhhhh*


Saat pedangnya berayun turun dengan cepat, memotong udara dan membawa takdirnya, cipratan darah membanjiri tubuh mereka berdua. Mereka terjatuh bersama, saudara yang sama-sama terluka.


Ketika Elysia akhirnya mendapatkan kembali kesadaran, matanya terbuka perlahan. Ia melihat bahwa sang kakak telah menusuk pedangnya sendiri ke jantungnya. Air mata mengalir dari mata Elysia, menyadari bahwa ini adalah pengorbanan terakhir dari sang kakak. Lucya mati di hadapannya, tubuhnya terkulai, dan pedang yang menembus jantungnya.


Ya, ini adalah pengorbanan terakhir dari seorang kakak untuk takdir dan kerajaannya yang mereka cintai.


Lusya tersungkur di pelukan sang adik. di tengah arena yang telah hancur, pedangnya masih tertancap di dalam jantungnya . Namun, tatapan matanya tidak lagi penuh dengan ketegangan dan pertarungan batin. Kini, ia menghadapi keputusan yang tak terbayangkan dengan tekad yang tegas tanpa ada penyesalan .


lusyia : mengumpulkan sedikit tenaga berbicara yang terakir kalinya kepada sang adik (dengan suara lembut) "Elysia, adikku yang kucintai. Aku tidak akan membiarkan takdir memaksaku untuk mengambil nyawamu."


Elysia yang masih tidak menyangka akan tindakan kakaknya diam terpaku seribu bahasa dengan tatapan kosong penuh kesedihan


lusyia :" adik. Ini adalah pilihanku. Dan aku tidak akan membiarkan takdir yang kejam ini menguasai kita."

__ADS_1


Di atas langit yang masih tergelap, bulan merah masih bersinar. Tetapi keputusan Lusya telah mengubah takdir. Dia mungkin telah memutuskan benang boneka takdir itu sendiri, tetapi ia tahu bahwa tindakannya adalah bentuk pemberian yang sejati, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri.


__ADS_2