
hari penentuan tiba..
di Sebuah aula besar yang dikelilingi oleh patung-patung raksasa seperti tiang-tiang hidup yang kokoh menatap ke arah tengah arena pertarungan , atap bulat dengan kaca yang memantulkan sinar gerhana merah mulai menyoroti lapangan. Seolah takdir telah mempersiapkan agar darah mereka tumpah di lantai.
Semua pasukan kerajaan dan tokoh-tokoh penting kerajaan berkumpul untuk menyaksikan pertarungan hidup dan mati antara dua saudara ini.
Elysia, yang masih polos, tidak menyadari bahwa pertarungan ini akan berakhir dengan salah satu dari mereka mati. Dengan kepolosannya, dia berkata, "Wah, ramai sekali di sini. Entah kenapa suasana ini terasa berbeda. Lagipula, pertarungan ini jelas dimenangkan oleh kakakku! Kadang-kadang ayah benar-benar aneh, haha."
Namun, di ujung arena, Lucya memandang adiknya dengan tatapan kosong. Seolah-olah ia telah bersiap-siap untuk membunuh satu-satunya saudara kandungnya ini dengan cara yang tragis.
"Mana yang harus kutebas? Haruskah kuborokkan pedang ini ke jantungnya? Atau kutusukkan ke lehernya? Aku mendengar jika kepala seseorang terputus, mereka tidak merasakan sakit. Semua ini membuatku gila!"
Lalu sang raja muncul di tengah arena dan berkata, "Hari ini akan menjadi penentuan calon pewaris tahta kerajaan! Kedua putriku akan bertarung sampai mati! Siapa yang bertahan hidup akan menjadi calon pewaris kerajaan!"
Elysia pun terkejut mendengarnya, "Ayah, kau bercanda, kan?!"
Tapi sang ayah tidak menghiraukannya.
Semua orang penting dan para bangsawan dalam ruangan itu bersorak-sorai, tetapi beberapa warga yang tidak setuju dengan kekejaman ini mencoba menyerbu arena untuk menghentikan pertarungan. Sayangnya, pasukan raja telah menjaga gerbang, dan tak ada yang bisa masuk kecuali jika mereka ingin mati.
Untuk menjaga kelancaran pertarungan, sang raja memerintahkan bawahannya untuk menciptakan segel pelindung di dalam arena agar tidak ada pihak yang bisa mengganggu pertarungan hidup dan mati.
Sebuah mantra dan cahaya kuning membentuk kubah yang mengunci mereka berdua di dalam arena.
"Pertarungan dimulai!" kata sang raja dengan nada tegas.
__ADS_1
Arena itu sekarang terdiam, dan ketegangan menyelimuti udara. Semua mata tertuju pada dua putri yang bersiap-siap untuk menghadapi takdir mereka dalam duel yang mengerikan.
Elysia, yang masih bingung dan mencoba memahami semua yang terjadi, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah serangan bagai cambuk api yang menyala dari jarak jauh, Dengan refleks yang cepat, Elysia berhasil menghindar.
"Sejak kapan kau mulai memalingkan wajahmu saat di tengah-tengah pertarungan? Bukankah sudah kubelajarimu untuk tetap fokus pada musuh? Kau tidak pernah berubah. Jika terus seperti ini, kau akan mati dengan cepat di medan perang, wahai adikku yang bodoh," kata Lucya sambil menghela nafas.
Elysia masih bingung dan merasa ada yang aneh dengan serangan kakaknya. Rasanya seperti serangan ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan dengan niat membunuh yang kuat.
"Kakak, apa kau serius ingin membunuhku! ?" ucap Elysia dengan suara gemetar
Lalu, dalam sekejap, dengan suara yang menggetarkan arena, Lucya sudah berada di belakang adiknya. Seperti kilatan cahaya,
*sringgggg. *
pergerakan Lucya sangat cepat, dan ia menyerang dari belakang...
Lucya berusaha memojokkan Elysia ke tengah ujung arena. Besi bertemu besi, suara hantaman pedang melengking memenuhi arena seperti alunan musik yang siap membunuh siapa pun. dengan langkah kaki yg cepat seolah mendorong Elysia ke arah yg ia lucsya suka
"Sial, gerakan kakak terlalu cepat. Aku tidak bisa mengimbanginya!" batin Elysia.
Tiba-tiba, Elysia melihat celah dalam serangan kakaknya. Saat ia hendak memanfaatkan kesempatan itu, Lucya dengan santainya menghindari serangan adiknya. *wusshhhh*
suara tebasan angin yg lewat begitu saja tanpa mengenai satu helai benang di tubuh lucsya.
"Kupikir kau adik yang bodoh dan tak berbakat, boleh juga," kata Lucya dengan senyuman.
__ADS_1
Arena dipenuhi oleh ketegangan dan drama dua saudara ini yang saling menantang dalam pertarungan yang semakin memanas.
penonton mulai bersorak!
**Pertarungan Meningkat dalam Intensitas**
Pertarungan pedang antara kedua saudari ini masih berlanjut, dan Elysia merasa sulit untuk mengimbangi kecepatan dan keterampilan kakaknya. Namun, meskipun dalam kondisi terdesak, naluri bertahan hidupnya mulai memunculkan kemampuan baru. Tubuhnya secara perlahan mulai beradaptasi dengan serangan-serangan brutal yang datangnya tanpa henti. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tebasan pedang kakaknya sambil berusaha membaca pola serangan.
Elysia akhirnya tersungkur ke lantai karena kelelahan, "hahh.. hahh.. hah" . suara nafas yg lelah dan dia menggunakan pedangnya sebagai tumpuan untuk tetap berdiri. Lucya, di sisi lain, mulai melihat perkembangan adiknya yang semakin meningkat. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Elysia bisa belajar begitu cepat.
Para penonton semakin terhanyut oleh pertarungan ini. Teriakan dan sorakan riuh mulai memenuhi aula besar, bahkan para bangsawan ikut memasang taruhan siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Melihat adiknya yang kelelahan dan berkeringat, Lucya akhirnya berbicara, "Adik, kau telah menunjukkan kemampuan aslimu. Sekarang, saatnya aku memperlihatkan kekuatan asliku."
Elysia, yang selama ini belum pernah melihat kekuatan asli kakaknya dalam pertarungan, mulai gemetar ketakutan. Dia bisa merasakan bahwa sesuatu yang besar dan mengerikan sedang terjadi.
Dengan posisi kaki tegap, pedang di tengah dadanya, Lucya mengucapkan mantra yang menggema di seluruh arena, "Call... Phonix Swordium, Fire of Justice."
Sebuah lingkaran sihir berwarna merah dengan tali berbentuk api mulai melingkari tubuh Lucya. Sepertinya api mantra itu menari-nari di sekitar tubuhnya, menandakan bahwa dia akan mengeluarkan kekuatan sesungguhnya. Merah dan menyala, kedua mata kakaknya berubah menjadi sinar yang menakutkan, seolah-olah dia adalah predator yang siap melahap apapun yang berani mendekatinya. Sebuah sayap api muncul di punggungnya, dan dengan satu ayunan pedang...
Wrruuusshhh...
Sebuah cahaya berbentuk sabit api meluncur menuju tubuh Elysia. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Elysia mencoba dengan sekuat tenaga menahan serangan api yang mengarah padanya.
Dhuarrrrr...
__ADS_1
Elysia terpental hampir keluar arena, bahkan barrier sihir yang dipasang oleh sang raja hampir saja pecah dan menciptakan gumpalan kabut asap yg menutupi bagian posisi Elysia berdiri karena efek dari ledakan tersebut . Pertarungan ini semakin menjadi pertempuran hidup dan mati,..