
Hembusan angin pagi menyapu lembut di kamar perawatan tempat Elisya terbangun. Aroma obat-obatan dan keheningan malam memenuhi udara. Tubuhnya terbalut perban, bekas pertarungan yang menguras tenaga tampak tergambar di setiap luka. Saat ia mencoba bangun, langkahnya masih goyah.
"Tuan putri sudah bangun! Penjaga! Panggilkan ibunda ratu!" seru seorang perawat, keheranan tergambar di wajahnya melihat Elisya sudah sadar.
Dalam sekejap, sang ratu melangkah masuk, merangkul Elisya dengan erat. Air mata bahagia mengalir di pipinya.
"Nak! Ibu pikir ibu akan kehilanganmu juga!" serunya sambil menangis, merasa lega karena sang anak telah pulih dari tidur panjangnya.
Elisya, dengan raut wajah yang masih terlihat pusing, lalu bertanya, "Gimana keadaan kakak?"
Ketidakpastian tergambar di matanya. Ingatan tentang pertarungan itu muncul, dan dia mencoba bangkit.
"Arrghhh... kakak!" teriak Elisya, melemparkan selimut kasurnya, berusaha merangkak mencari keberadaan sang kakak.
__ADS_1
Sang ibu berusaha memindahkan Elisya kembali ke kasur, panik memanggil dokter dan perawat melihat kondisi anaknya yang masih lemah.
Namun, ketika bantuan tiba, Elisya dengan sengaja melarikan diri, mengunci mereka dengan bingkai es di di tengah-tengah pintu yang ia ciptakan untuk sementara waktu.
"Nak, kau belum sembuh! Jangan paksakan dirimu! Ibu mohon, kembalilah ke kasurmu!" pinta sang ibu, tangannya memukul-mukul es yang dibuat Elisya.
Dengan keadaan fisik yang belum stabil, Elisya berusaha mencapai kamar kakaknya.
"Brakk!" Suara pintu terbuka dengan keras.
Elisya masih sulit menerima kenyataan bahwa kakaknya telah tiada di arena pertarungan.
Pandangannya beralih ke sebuah meja di samping kasur. Sehelai kertas surat menarik perhatiannya. Dengan sinar matahari pagi yang lembut menyinari, Elisya duduk di kasur sang kakak dan membuka surat tersebut.
__ADS_1
"Untuk adikku yang bodoh dan manja! Jika kamu membaca surat ini, itu berarti kakakmu yang hebat ini sudah tiada. Hehe, dari awal kita memulai pertarungan, kakak tidak berniat untuk membunuhmu. Lebih baik kakak yang mati daripada kakak harus merenggut nyawa adiknya sendiri, Elisya. Dengar, kakak, terkadang hidup itu seperti sebuah pecahan kaca yang tidak bisa disambung lagi. Beberapa kenyataan yang kita hadapi adalah bagian dari takdir yang mungkin tidak bisa kita hindari. Kakak harap dirimu mulai bisa terbiasa dengan realita yang kejam ini. Meskipun sebenarnya kau bukanlah adik kandungku, mungkin ayah dan ibu merahasiakan hal ini karena mereka memiliki maksud tersendiri. Tapi meskipun kita tidak memiliki hubungan darah, bagiku, kau sudah seperti adik kandungku sendiri... Saat itu, kakak masih berusia 4 tahun. Kakak sangat kesepian. Saat itulah kakak melihat ke langit dan berharap pada bintang di malam hari supaya diberi adik agar kakak punya teman main. Tiba-tiba, kakak berjalan di depan ruangan kerajaan dan mendengar suara tangisan anak bayi. Kakak penasaran! Kakak masuk ke kamar ayah dan melihat ibu sedang menggendongmu! Saat itu, kau sangat berisik dan bersemangat! Bahkan tangisanmu membuat satu istana kewalahan hahaha, kau tidak bisa berhenti menangis! Lucu sekali, bukan? Padahal ibu sudah menggendongmu, tapi tidak ada satupun orang di kerajaan ini yang bisa menenangkanmu kecuali kakakmu! Kau tahu? Saat itu, kakak mencoba menghiburmu dengan api kecil berbentuk kupu-kupu, dan saat itu kau matamu terpaku melihat cahaya kupu-kupu. Kau pun mulai berhenti menangis dan sedikit tertawa, dan saat itulah kakak selalu menidurkanmu dengan trik api kecil yang kakak buat... Elisya, kakak harap kau bisa menemukan tujuan hidupmu. Kau tahu, ibu pernah bilang kepadaku, jika kita merasa terjebak oleh pikiran kita sendiri, hal yang harus kita lakukan adalah menerima kenyataan dan mencari cara terbaik untuk menghadapinya. Hahaha, orang tua selalu punya cara untuk menghibur anak-anaknya ya. Kelak, jika nanti suatu saat kamu sudah menikah dan menjadi seorang istri dan memiliki anak, kakak yakin kamu pasti akan jadi orang tua yang bawel, anak anakmu kelak akan sering di marahi oleh imutnya suara adikku! hahahahahaha. Elisya, detik kau membaca surat ini, kau sudah tumbuh dewasa.
selamat ulang tahun adiku "
Air mata Elisya menetes seakan setiap kata yang dibaca membawa sang kakak berbicara di sampingnya. dan Elisya menemukan pita rambut biru berbentuk kristal menandakan bahwa itu adalah hadiah kado ulang tahun terakhir dari sang kakak kepada adiknya.
tidak lama setelah itu, bingkai es yang membuat kurungan sementara di ruang perawat, perlahan mencair, Sang ibu secara sigap mencari keberadaan Elisya, kuatnya insting sang ibu kepada anaknya mengarahkan dirinya menuju ke sebuah tempat bahwa Elisya pasti pergi ke kamar kakaknya, dan setelah melihat sang anak bungsu menangis sambil merenung di kasur sang kakak, sang ratu kembali mendekat. Ketika ingin memeluk Elisya, tiba-tiba sang putri berkata, "Apa benar semua yang kakak tulis ini?"
Pelukan hangat sang ibu menjadi jawaban, "Ya benar, nak. Kau memang bukan anak kandungku, tapi ibu dan ayah menunggu waktu kapan kita bisa berbicara jujur seperti ini dan memberitahumu kebenaran identitas aslimu. Maafkan ibu, nak!" Air mata mengalir dari mata sang ratu.
"Tapi... kenapa ibu merahasiakan hal ini? Kenapa tidak memberitahu ku lebih dulu?" Tekanan mental karena kehilangan sang kakak, ditambah dengan kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung kerajaan, membuat Elisya merasakan kesakitan yang mendalam.
"Nak, ayah dan ibu memiliki alasan yang kuat mengapa kita merahasiakan hal ini, termasuk tentang kakakmu. Sayangnya, ibu dan ayah tidak bisa memberitahumu siapa identitas aslimu yang sebenarnya sampai waktunya tiba," jawab sang ibu dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Lalu kapan, bu?" teriak Elisya dengan nada penuh tekanan. "Siapa orang tua asliku?"
Suara tangis memenuhi ruangan saat Elisya menangis di pelukan sang ibu, mencari jawaban atas pertanyaan yang telah mengguncang dasar hidupnya.