LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy

LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy
amarah dan rasa sedih


__ADS_3

Hiatt! *Srat...!


Terdengar suara tebasan pedang tajam dari dalam aula latihan, sementara Lucya memusatkan kekesalannya pada boneka kayu yang terbakar hingga hangus.


Elisya, yang baru saja bangun dari tidur, mendengar suara keras itu dari kejauhan. Dengan menguap karena masih mengantuk, ia mendekati sang kakak dan berkata, "Hei, bukankah masih pagi? Kau benar-benar bersemangat, huaaa."


Namun, sesuatu tampak berbeda pada kakaknya kali ini. Seolah ada beban yang tak terlihat yang membuatnya lebih serius dari biasanya. "Adik, pakailah peralatan pertempuranmu sekarang. Kita akan melakukan latihan serius hari ini."


Elisya merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya. Suasana tampak tidak nyaman, dan sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang kakak.


"Baiklah," kata Lucya dengan tatapan serius. "Latihan kali ini akan menentukan bagaimana kau akan menghadapi serangan musuh pada pertempuran sesungguhnya. Fokuslah pada nalurimu dan abaikan segala pemikiran lain."


Elisya semakin merasa tidak tenang. Ada yang berubah dan sang kakak tampak ingin menutupinya. Namun, ia patuh pada permintaan kakaknya dan mempersiapkan diri dalam posisi bertempur.


Tiba-tiba, sang kakak bergerak cepat dan dengan mantapnya, ia mengayunkan pedangnya menuju adiknya yang belum sepenuhnya siap. "Wushhh..."


Bola api terjangan keras dari kakaknya menghampiri Elisya. "Waah... Hei! Apakah kau benar-benar berniat membakarku hidup-hidup?!"


Elisya, terkejut dan belum sepenuhnya siap, mencoba menghindari serangan kakaknya, tetapi kekuatan pedang sang kakak sangat besar. "Clanggg!" Pedang Elisya terlempar jauh karena tidak mampu menahan serangan kakaknya.


Elisya yang masih terkejut hanya bisa terdiam, menatap kakaknya yang berada dalam kondisi serius, seolah-olah ingin membunuhnya. Lucya akhirnya memutuskan untuk menghentikan latihan ini dengan alasan cukup untuk hari ini.

__ADS_1


Sang kakak meninggalkan arena latihan dengan cepat, meninggalkan Elisya yang bingung dan tercengang.


Di tengah kegalauannya setelah latihan, sang kakak masih merasa belum siap. "Belum... Aku belum siap untuk membunuhnya. Aku masih belum bisa..."


Lucya mengeluarkan kekesalannya dengan membakar sesuatu di sekitarnya. Kini, ia semakin yakin bahwa kakaknya menyembunyikan sesuatu darinya.


Sang ibunda ratu yang melihat tingkah anak pertamanya yang bingung dan marah mencoba menenangkannya. "Kenapa, bu? Kenapa..."


"Kenapa ayah harus membuat perjanjian dengan sosok terlarang itu?"


Ibunda mencoba menjelaskan bahwa terkadang, untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, kita harus berkorban. Saat pertama kali ibu mengetahui bahwa ayah mereka telah membuat kesepakatan dengan sosok terlarang, air mata ibu tidak pernah henti mengalir. Ibu merasa seolah harus kehilangan anak yang telah aku lahirkan.


"Tapi kenapa harus dengan sosok terlarang itu?" tanya Lucya dengan marah.


luscya yang masih tidak terima dengan pernyataan sang ibu, langsung pergi begitu saja, sang ibu pun tak bisa berkata-kata dan membiarkan anak pertamanya itu pergi menenangkan dirinya


Elisya yang masih berada di arena latihan masih mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi, tetapi ia merasa bahwa kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat penting darinya.


siang harinya


sang Raja, yang duduk di singgasana kerajaannya dengan wajah yang penuh perenungan, memanggil penasihatnya, seorang pria bijak yang selalu memberikan nasihat berharga kepadanya.

__ADS_1


"Penasihat, bagaimana kemajuan persiapan upacara nanti?"


Penasihat mengernyitkan kening dan menjawab dengan hati-hati, "Raja, persiapan berjalan sesuai rencana. Semua sudah siap untuk pelaksanaan upacara, termasuk tempat pertempuran yang telah kami siapkan."


Raja menarik nafas dalam-dalam dan menatap jendela istananya. "Sudah saatnya anak-anakku mengetahui apa yang telah ayah lakukan. Mereka harus tahu tentang perjanjian yang telah kubuat."


Saat Raja hendak menjelaskan semuanya, tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar, dan Lucya, yang tampak marah dan bingung, masuk mendadak. "Ayah!" serunya dengan suara lantang.


Raja terkejut melihat putrinya yang datang begitu mendadak. "Lucya, apa yang kau lakukan di sini? Aku sedang dalam pembicaraan penting."


Lucya tidak peduli. "Aku ingin bicara denganmu, ayah. Sekarang juga."


Raja menghela nafas. "Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?"


Dengan mata penuh keteguhan, Lucya mencoba mencari jalan lain. "Ayah, mungkinkah kita mencoba mencari alternatif? Apakah tak ada cara lain untuk memenuhi permintaan sosok terlarang itu? Aku tahu ini sulit, tapi aku yakin kita bisa menemukan solusi lain tanpa harus membuat kami bertarung satu sama lain!"


Raja menatap putrinya dengan kebingungan dan kesedihan di matanya. "Lucya, kau harus mengerti bahwa ini bukan keputusan yang aku inginkan. Tapi ini adalah sebuah perjanjian dan kontrak yang telah berlangsung lama. Tidak ada jalan lain. Kau adalah calon pewaris tahta, dan aku tidak ingin melihatmu mati. Tetapi aku juga tidak punya pilihan lain, aku juga tidak ingin melihat anak kandungku saling membunuh tepat di depan mataku sendiri.


Lucya merasa putus asa. Ia tahu bahwa ayahnya mencintainya, tapi merasa terjebak dalam situasi yang begitu sulit. "Ayah, ada harus ada jalan lain. Aku akan mencarinya, bahkan jika itu berarti berhadapan dengan sosok terlarang itu sendiri!"


Raja menggelengkan kepala dengan tegas. "Lucya, sudah saatnya kau mempersiapkan dirimu untuk upacara ini. Kita tidak punya waktu lagi. Kau harus menerima takdirmu."

__ADS_1


Lucya terdiam, ia memalingkan badannya dan pergi dengan marah meninggalkan sang ayah, Lucya berjalan dengan langkah kaki penuh penderitaan menuju kamar tidurnya


__ADS_2