
Tubuh Elisya remuk-redam, terkulai di tengah arena yang dipenuhi sorak sorai penonton yang semakin liar. Kabut asap akibat serangan Lucya melanda, namun, ketika kabut itu menghilang, keajaiban pun muncul. Elisya, yang dianggap telah terkalahkan, masih mampu berdiri, tangan kirinya menghiasi luka bakar dan darah.
Para penonton, yang sebelumnya meragukan kemampuan Elisya, mulai berteriak memohonnya untuk bertahan. "Hebat! Ayo, Elisya! Bertahanlah!"
Dengan kekuatan terakhir yang tersisa, Elisya berusaha bangkit berdiri. Dia bernapas berat, luka-luka di tubuhnya membuatnya tergopoh-gopoh. Sementara Lucya bersiap untuk menyerang sekali lagi, dengan serangan yang sama seperti sebelumnya.
Tapi kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Sebelum serangan kedua Lucya bisa mencapainya, Elisya tiba-tiba mulai mengatur napasnya, menenangkan dirinya sendiri. sekilas ia mengingat moment indah kenangan bersama keluarganya, ia merasa sudah berada di deretan takdir yang salah, memaksa dirinya untuk bisa melihat sebuah kenyataan pait yang ada di hadapanya. Matanya berkaca-kaca, dan air mata yg bercampur keringat turun dari pipinya, jatuh ke lantai sebagai butiran es.
Dengan cepat, butiran es tersebut berkumpul membentuk sebuah gelombang lingkaran di sekitar Elisya. Suara detak jantung mereka di arena itu terdengar semakin keras, seperti gemuruh badai yang mendekat.
Tiba-tiba, Lucya merasakan sesuatu yang sangat aneh dan kuat dalam diri Elisya. Kakaknya mulai merasa ketakutan sekaligus takjub. Raja dan penonton yang hadir juga merasakan kehadiran yang menggemparkan di tubuh Elisya.
"Ini... ini adalah sesuatu yang dahsyat!" seru sang raja dengan penuh kengerian.
Angin dingin mulai mengelilingi tubuh Elisya seperti badai salju yang mendekat. Pedangnya, yang hampir patah, kini tertutup oleh lapisan es yang membentuk perlindungan. Mata Elisya berubah menjadi sinar biru yang mempesona, rambutnya yg biru kini perlahan memudar menjadi putih pekat, seolah-olah dia adalah kekuatan alam yang tak terkendali, seperti longsoran salju yang memusnahkan segala yang ada di jalannya.
__ADS_1
Kakaknya, Lucya, yang sekarang menyadari bahwa adiknya telah mengalami "awakening," merasa campur aduk antara ketakutan dan kebahagiaan.
"Ini... ini adalah adikku!" teriaknya dengan kegembiraan yang sulit diungkapkan.
Namun, di balik kebahagiaan, ada rasa ketakutan yang muncul di hati Lucya. Kekuatan sejati Elisya yang baru saja terungkap ini, mungkin juga akan menjadi ancaman baginya sendiri.
Suasana di arena semakin menegangkan, raja sendiri menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar pertarungan biasa, melainkan duel antara dua kekuatan alam yang saling berlawanan: monster api dan es. Penonton tak bisa lagi menyembunyikan ketegangan mereka; beberapa di antara mereka bahkan berkeringat dingin, cemas dengan apa yang akan terjadi.
Angin badai es masih mengelilingi tubuh mungil Elisya, dan matanya telah berubah menjadi sorot mata pembunuh yang tak kenal ampun.
Lucya mencoba menyapanya, tetapi Elisya tidak merespons. Lucya menyadari bahwa adiknya belum sepenuhnya mampu mengendalikan kekuatan besar yang baru saja muncul.
"Bruuukkk!"
Duri-duri besar berbentuk es muncul tepat di bawah kaki Lucya, namun dia dengan gesit berhasil menghindarinya.
"Hampir saja..." gumam Lucya sambil merasa semangat, menyadari bahwa dia tidak lagi berhadapan dengan adik kecil yang manja. Dia merasa seperti melawan musuh yang kuat di masa lalu.
__ADS_1
"Terima ini!" Luscya menghunus pedangnya menuju adiknya, lalu tiga bola api keluar secara bersamaan meluncur menuju Elysia .
"Bhuuaaarrr!".. sshhhhhh...
Asap tebal mengelilingi tubuh Elisya , tetapi ketika kabut asap itu hilang, terlihat bahwa adiknya sama sekali tidak terluka. Dia hanya menahan bola-bola api dengan satu tangan kirinya, seolah-olah itu adalah mainan yang tidak berbahaya. Sebuah barrier berbentuk kubah kecil dari es melindungi Elisya dengan sempurna , dan seakan panas api berhasil dijinakkan oleh dinginnya es.
Elisya kemudian membalas serangan kakaknya. Dia melepaskan sebuah mantra sihir: " call, snow sowrd ice breaker" Sambil mengibaskan pedang esnya, sebatang cahaya es berbentuk sabit terbang menuju Lucya.
Kakaknya berusaha membalas serangan dengan sihir api miliknya, dan dua kekuatan bertabrakan di tengah arena, menciptakan kilatan cahaya yang menyilaukan mata penonton. Terjadi ledakan kecil yang menggetarkan lapangan.
"bhooommm.. dhuaaarrr..."
Kembali, arena dipenuhi asap tebal, menghalangi pandangan mereka. Tiba-tiba, Elisya meloncat dengan cepat menuju Lucya, yang terkejut oleh kecepatan adiknya. Dengan refleks, Lucya mencoba menghindar dari serangannya.
"Cring... cringgg... taass... tasss...clangg.. clanggg!"
Suara benturan pedang kini lebih nyaring dari sebelumnya. Penonton hanya bisa membayangkan betapa mematikannya pertarungan monster kakak-adik ini. Mereka bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika keduanya berada di tengah lapangan; satu tebasan saja mungkin akan membelah arena menjadi dua.
__ADS_1
Pertarungan ini begitu mengerikan, tetapi penonton semakin semangat, teriakannya memenuhi arena.
"Wwhuaaaaaa!!!!! Hajaaarrrrrr!! Maju terussssss!"