LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy

LUX OBSCURA , Cerita Dari Dunia Fantasy
sebuah realita


__ADS_3

"Tidak mungkin!!" Suara terdengar memekakkan saat Lucya membanting tangan di atas meja.


"Bagaimana bisa kau membuat kebijakan bodoh seperti itu, ayah! Selama turun-temurun, tidak pernah kerajaan kita melakukan hal seperti ini! Kau menyuruhku untuk bertarung dengan adikku sendiri sampai salah satu di antara kita mati? Apa kau tidak waras?!" Suaranya keras dan penuh kemarahan.


Dengan mata serius dan suara kencang, Lucya masih tidak percaya akan perkataan ayahnya. "Nak, dengar ayah baik-baik. Ayah juga tidak ingin melakukan ini, tapi upacara pertarungan ini harus berjalan. Ini akan menjadi tradisi baru bagi kerajaan kita untuk memilih siapa pewaris tahta berikutnya."


"Ya, aku tahu itu, tapi kenapa harus pertarungan sampai mati? Apa kau gila?" Lucya mengejek, kebingungan dan kemarahannya masih terasa kuat.


Seorang penasehat raja mulai membisikkan sesuatu kepada Raja, mencoba memberikan pandangan yang lebih bijak dalam situasi ini.

__ADS_1


Sang ayah akhirnya mengalah. "Baiklah, nak, berhubung usiamu sudah mencapai 21 tahun, ayah akan menceritakan semuanya. Tidak ada gunanya ayah merahasiakan hal ini ke darah daging ayah sendiri."


Lalu sang ayah mulai menceritakan semuanya tentang perjanjian dengan sosok terlarang. Ceritanya membuat Lucya merasa seperti tenggelam dalam keputusasaan.


"Ayah paham perasaan dan reaksi alami mu, tapi berjanjilah pada ayahmu, untuk tidak menceritakan hal ini ke adikmu. Upacara pertarungan akan dimulai tepat di hari ulang tahun adikmu yang ke-17, bertepatan dengan gerhana bulan merah. Untuk sementara, kita akan merahasiakan pertarungan ini ke publik. Tentu akan terjadi gejolak internal yang besar jika berita tentang pertarungan ini sudah tersebar. Selama ini, kaulah yang paling bertanggung jawab dan mahir dalam bertarung. Kau adalah calon pendekar pedang pertama yang akan melindungi kerajaan ini. Sejak kau lahir, bakatmu dalam mengayuhkan pedang sudah terlihat, bahkan energi chi dalam dirimu amat besar sehingga kau mudah memanipulasi elemen api. Ayah sendiri juga tidak ingin melihat kedua putrinya mati, tapi rasa sakit ini, penderitaan kutukan ini, membuat ayah harus berani melihat darah dari anak ayah sendiri."


Air mata Lucya mulai mengalir, dan ia tidak bisa menahan emosinya. "Tidak. Tidak. Pasti ada jalan lain! Biarkan aku bertemu langsung dengan sosok terlarang itu! Mungkin kita bisa mencoba negosiasi lain?!"


"Baiklah, Lucya. Ada hal yang harus ayah lakukan," kata sang ayah sambil meraih bahu putrinya. "Persiapkan mental dan tekadmu."

__ADS_1


Mereka berdua menginggalkan Lucya seorang diri di taman. Lucya pun marah dan membanting meja. "Bagaimana bisa hal ini terjadi? Sial!"


Lucya yang bingung dengan segala informasi yang diberikan ayahnya mulai mencari tahu lebih lanjut tentang sosok terlarang itu. Dia menghabiskan berjam-jam di perpustakaan kerajaan, membaca buku-buku tua dan menggali catatan-catatan keluarga yang tertinggal.


Seringkali, Lucya melampiaskan kekesalannya dengan cara yang tak biasa. Dia pergi ke arena latihan raja, memanipulasi api di tangannya menjadi bola-bola panas, lalu melemparkannya ke target-target yang terbuat dari batu besar. Setiap bola api yang menghantam target itu menyebabkan pecahan batu beterbangan ke segala arah.


Dalam keheningan malam, Lucya duduk di tepi jendela kamarnya, menatap langit yang dipenuhi bintang. Dalam kegelapan, dia merenung tentang takdirnya yang tragis, tentang upacara pertarungan yang akan datang. Dia merasa takut, marah, dan bingung.


Pikirannya berputar-putar tentang perasaan campur aduk yang menghantuinya. Di satu sisi, dia mencintai adiknya, Elysia, dengan sepenuh hatinya. Mereka tumbuh bersama, berbagi rahasia, dan memiliki kenangan manis bersama. Namun, di sisi lain, dia tahu bahwa dia harus membunuh Elysia dalam pertarungan nanti.

__ADS_1


Lucya tidak tahu bagaimana dia bisa menyeimbangkan perasaan cintanya kepada adiknya dengan kenyataan yang mengerikan yang dihadapinya. Hatinya terbelah, dan dia merasa seperti seorang penjahat bahkan sebelum pertarungan dimulai.


Dia meraih bola api kecil yang berputar di tangannya dan dengan gemetar melemparkannya ke langit. Api itu melayang tinggi sebelum memudar menjadi bintang berkedip di malam yang gelap. Lucya tahu bahwa dia harus menemukan cara untuk memahami perasaannya yang rumit dan mengatasi ujian yang tak terhindarkan di depannya.


__ADS_2