
...Happy reading...
...****************...
Selama dua hari Alesha menunggu. Hati nya terlampau gembira, membuat nya sangat mood dalam melakukan segala pekerjaan yang bukan pekerjaan nya.
Mencuci, menyapu, mengepel dan beberes rumah yang hanya di kerjakan para pelayan pun mulai di kerjakan perempuan dengan rambut coklat gelombang itu.
"Selama dua hari ini, mas kira kamu selalu bahagia, Alesha. Coba berbagi, boleh kan?" tanya Rach dengan lembut.
Alesha menggeleng, ia sudah berjanji akan menutup semua nya serapat mungkin.
"Ayolah, Alesha …" kata Rach membujuk.
"Enggak ada, Mas. Aku kan memang selalu senang," jawab Alesha ngeles.
"Kapan? Kemarin-kemarin mas liat kamu nya selalu murung. Sekarang tiba-tiba malah senang, apa sih yang terjadi, berbagi sedikit lah." Rach sangat penasaran.
"Ya sudah, Alesha beritahu ya." ucapan Alesha membuat Rach senang.
Derrrttttt …
Tiba-tiba ponsel Alesha berdering, " Tunggu ya mas, Alesha jawab telepon dulu."
Alesha segera pergi ke kamar untuk menjawab telpon itu.
"Apa," tanya Alesha berisik.
"Dokter udah bilang, masih ada cadangan sp3rma yang mirip dengan sketsa mu," jawab Lusi.
Mata Alesha membulat lebar. Kebahagiaan nya sangat penuh hari ini. "Terimakasih! Terimakasih!" buru-buru Alesha pergi ke rumah Lusi.
__ADS_1
Dan Rach yang tidak dapat mengikuti istri nya karena memiliki pekerjaan yang tak dapat terlewatkan pun tidak dapat membuat banyak.
Tentu saja Alesha permisi dulu dengan Rach, "Aku pergi dulu ya, Mas. Jaga rumah! Aku hanya sebentar kok!"
Hari ini Rach kurang enak badan, namun ia tidak dapat istirahat karena memiliki banyak pekerjaan.
***
Alesha memperhatikan sekitar. Ia tahu kalau dia tidak dapat pergi dengan ada nya pengawasan.
Beruntung nya, Rach tidak terlalu ketat penjagaan nya. Jadinya Alesha bisa dengan mudah nya berkeliaran di luar.
Bersama Lusi, Alesha pergi melakukan inseminasi buatan.
"Rasanya sakit ya?" tanya Alesha basa-basi.
"Kamu kan udah jebol Alesha. Jadi ga bakal sakit," jawab Lusi mengenai pertanyaan konyol sahabatnya.
"Banyak."
"Wah, biasanya itu kenapa ya?" Alsha penasaran.
"Bisa dibilang terdapat beberapa faktor yang memengaruhi, yang pertama bisa dari suami yang ga mau sentuh istrinya tapi perlu anak. Bisa juga karena suaminya sakit tapi harus memiliki keturunan."
"Oh, aneh juga begitu ya," komentar Alesha.
"Setiap orang kan berbeda-beda. Ayo, masuk ke dalam. Dokter sudah nunggu itu."
Mereka masuk ke dalam ruangan dokter. Dokter Obygn mengecek berbagai kesehatan Alesha dan semuanya baik-baik saja.
"Apa ibu Alesha siap?" tanya dokter.
__ADS_1
"Siap dok."
Dokter mulai menyuruh Alesha tidur di ranjang pasien, kaki perempuan itu dibuka dan mereka mulai melakukannya. Sebuah corong di masukkan ke dalam inti perempuan itu.
Di sisi lain.
Daniel Flien sedang memperhatikan dari ruangannya, keadaan ruangan pasien tempat Alesha berada.
"Calon anakku akan dimasukkan ke dalam sana, semoga kalian jagoan tangguhku bisa berenang ke dalam sel telur ibu kalian dan jadilah bayi," gumam lelaki itu bahagia.
Ia teringat kejadian dua hari lalu.
Dua jam setelah Alesha menemui dokter obygn, Daniel datang dan menawarkan kesepakatan kepada dokter untuk menyerahkan benihnya dalam membuahi rahim Alesha.
Dokter yang tidak ingin terlalu lelah-lelah mengambil benih dari bank sp3rma menyetujuinya.
Daniel juga bilang ia tidak ingin siapapun tahu diri nya.
***
Kembali pada Alesha.
Seusai melakukan inseminasi buatan, Alesha mulai membayang-bayangi bagaimana semuanya akan terjadi. Ia akan mengandung, lalu melahirkan bayi yang sangat ia inginkan.
"Sehat-sehat di dalam ya sayang," gumam Alesha sambil mengelus perutnya.
Lusi langsung mendatangi Alesha yang masih berbaring di ranjang sesuai instruksi dokter.
"Gimana rasanya?" tanya Lusi.
"Sebenarnya biasa saja sih. Cuma aku merasa lebih bahagia saja," jawab Alesha.
__ADS_1