Maaf Telah Membohongimu, Mas!

Maaf Telah Membohongimu, Mas!
7. Donor Benih?


__ADS_3

"Adopsi?" tanya Alesha.


"Iya, adopsi. Adopsi biasa nya di buat untuk pancing anak, eh. Maksud ku kayak ganti anak kandung gitu," ucap Lusi menyarankan.


"Tapi rasa nya hati ku berat, Lus. Punya anak bukan yang aku lahirkan. Kamu mah enak, punya anak sampai empat, cantik dan ganteng-ganteng pula lagi itu. Apalagi keluarga mu, harmonis banget sampai maut memisahkan," kata Alesha sedih.


"Setiap masalah pasti ada jalan nya, Alesha," ucap Lusi menenangkan.


"Terus apa jalan nya? Aku mau punya anak, hiks, hiks, hiks, hiks." Alesha menangis di paha Lusi. Menumpahkan segala yang menyangkut di hati nya yang lemah ini.


"Memang saran ku bukan yang terbaik, tapi aku pikir kamu harus coba tanya dulu ke bang Rach apa dia tau kalau udah melakukan vasektomi atau memang semua ini sudah menjadi rencana nya bersama mertua mu atau enggak," kata Lusi menyarankan.


"Mas Rach ga tau," balas Alesha.


Seketika Lusi mengerutkan kening, "Dari mana kamu bisa yakin, Alesha?"


"Dari mata-mata yang aku tugaskan. Dia bilang Mas Rach sama sekali ga tau, segala prosedur vasektomi nya di buat dengan tujuan biar mas Rach ga tau kalau dia udah vasektomi," ucap Alesha menerangkan.


"Apa bang Rach ga pernah merasa aneh sama bentuk cairan milik nya?" tanya Lusi merasakan aneh.


"Ga tau. Mas Rach ga pernah ngeluh tentang itu. Dia kelihatan baik-baik aja selama ini."


Lusi terdiam seribu bahasa. Dia bingung mau melakukan apa untuk masalah yang di derita sahabat terbaik nya ini.


Alesha udah bantu aku di masa sulit saat almarhum suami ku menghadap pencipta-yang di susul ketiga anak ku. Aku harus menemukan jalan keluar supaya Alesha senang. Batin Lusi.


"Maaf ya, tapi entah kenapa … otak ku memberi saran yang agak absurd."


"Absurd gimana?" Alesha penasaran.


"Hem … selagi bang Rach ga tau, dan mungkin berita ini akan sangat mengecewakan nya, kamu bisa merekayasa kehamilanmu," jelas Lusi.

__ADS_1


"Rekayasa?" Alesha terkejut. "Enggak-enggak," tolaknya menggelengkan kepala.


"Kenapa?" tanya Lusi.


"Aku ga bisa melakukannya …" ucap Alesha memberi alasan. "Kalau aku merekayasa, itu sama aja kayak aku berbohong sama suami ku. Gimana kalau udah waktu nya lahiran? Berarti aku harus ambil bayi orang dong. Enggak-enggak. Itu ga boleh. Aku mau melahirkan anak sebanyak apapun selagi ku bisaaaa. Tapi suami ku … hiks, dia udah vasektomi …" ucap Alesha merengek seperti anak bayi. Saat ini Alesha berada di titik terendah hidup nya.


"Bukan gitu maksud ku. Maaf sudah membuat mu semakin sedih, aku paham perasaan mu, tapi pemikiran absurd ku tentang membuat mu melakukan donor sp3rma," ucap Lusi tak enak hati.


Perkataan Lusi seketika membuat Alesha terkejut. Dia merasa aneh dengan sebutan itu, tapi ia paham.


"Maksud mu aku menerima benih pria lain, begitu?" tanya Alesha memastikan.


Dengan sedikit ragu Lusi mengangguk. "Iya, tapi kalau ga mau sih ga papa. Aku paham kamu pasti ga suka."


Alesha tetap terdiam, tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Dia tetap menatap Lusi. "Mungkin aku bisa pertimbangkan. Tolong beri aku waktu sampai esok hari."


Lusi tercengang. "Ka-kamu ga perlu melakukan nya, ini hanya saran absurd ku, kalau nerima juga ga papa, tapi nolak juga ga papa," pinta Lusi supaya Alesha tidak terlalu berpikir lebih dalam lagi.


Malam ini Lusi tidak dapat tidur. Hati nya berpusat pada Alesha yang tidak menolak ide gila nya.


"Aku harap Al enggak setuju begitu aja sama ide ku," gumam Lusi khawatir.


Memang jika pikirkan mengenai situasi Alesha, suami nya tidak dapat memberikan nya anak, sedangkan Alesha memerlukan apa yang tidak dapat Suami nya berikan.


Sehingga tiada jalan lain selain donor sp3rma.


Tapi apakah ini legal? Maksud Lusi, apa keputusan gila ini berdampak buruk atau baik untuk pernikahan Alesha dan suami nya?


Kalau Lusi harap sih, Rach tidak perlu mengetahui nya. Lusi sangat memikirkan perasaan suami sahabat nya itu.


Ah, semua sangat membingungkan saat ini.

__ADS_1


******


Sedangkan di sisi lain, Alesha sudah tidur sangat pulas, karena ia sangat ingin mendapat mimpi melahirkan anak seperti mimpi indah nya beberapa hari yang lalu, maka meski perempuan itu dilanda stres, ia tetap mampu tidur.


Alesha juga tidak lagi menunggu Rach, mau jam berapa pun Rach pulang, Rach pasti sudah mendapati Alesha tidur sejam, dua jam sebelum nya.


"Kamu pasti lelah ya sayang?" tanya Rach sambil mengelus kepala Alesha yang tidur.


Perempuan yang telah menjadi istri nya selama setahun itu sangat cantik. Ia tidak berbohong, Alesha memiliki kecantikan alami, meski tanpa memakai bedak.


Rach merasa beruntung memiliki Alesha. Meski sebenarnya ia cukup tahu ia tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada Alesha.


Saat Rach pergi berganti pakaian, Alesha mengintip, dia menghela nafas. Meski sudah tidur, Alesha tetap bisa merasakan siapa yang menjumpai nya.


Aku ga salah kan mas? tanya Alesha dalam hati. Ia teringat tentang perkataan sahabat nya. Perihal donor benih.


Alesha menyentuh perut nya. Sebuah kerinduan hati untuk mengandung. Tapi tidak mungkin suami nya mampu memberikan nya.


Kalau Alesha melakukan donor benih, bisa-bisa suami nya menolak. Apalagi Rach masih merasa mampu memberikan bayi untuk Alesha.


"Semoga keputusan ku tidak salah …" gumam Alesha bertekad. Bayangan bayi imut yang dilihat nya dalam mimpi memang sangat tampan, ia yakin bayi itu akan menjadi milik nya, tak lama lagi.


"Keputusan apa yang ga salah Sayang?"


Alesha terkejut. Dia menatap Suami nya yang sedari tadi memandangi nya. "Eng-enggak ada, Mas," jawab Alesha berbohong.


"Kamu ga tidur dari tadi?" tanya Rach sambil mendekat.


"Aku bangun waktu Mas elus kepala aku."


"Oh begitu …" Rach langsung paham.

__ADS_1


"I-iya Mas."


__ADS_2