
Empat minggu terjadi tidak terasa. Banyak hal terjadi dalam diri banyak orang, termasuk Daniel. Dia menjadi pribadi yang berbeda, tidak gila seperti sebelum nya, bahkan jauh lebih 'bisa diharapkan'.
Mengingat sang ayah yang berhasil menangkap nya saat akan pergi ke bandara untuk melakukan misi 'gila' nya, kemudian Ajustin berusaha menasehati putra nya bersama seorang psikiater.
Sekarang pekerjaan Daniel adalah meeting dengan klien, kemudian melakukan segala hal untuk memajukan perusahaan lebih ke taraf yang lebih baik lagi. Beberapa kali pulang tidak menentu, kadang sampai jam 11 malam.
Sekarang, setelah Ajustin merasa Daniel sudah mampu menjadi dirinya sendiri, Ajustin memperbolehkan putra tunggal nya memiliki apartemen sendiri. Bangunan yang lokasinya cukup dekat dengan perusahaan hingga tidak menghabiskan cukup banyak tenaga dan waktu.
Tapi, tiada yang tahu. Di balik semua perubahan ini, Daniel menyimpan rahasia 'lama' yang mulai dilupakan.
Dia masih mencintai Alesha. Rasa itu tidak hilang sampai kapan pun dalam diri Daniel.
Tapi, Daniel mulai bercermin. Dia akan menjadi orang aneh kalau tetap mencintai perempuan seperti orang gila. Lebih tepat nya terobsesi.
Ia tetap memperhatikan Alesha, tapi tidak sering. Hanya terkadang jika bosan. Alesha seperti 'obat' lelah nya. Alesha bagai oksigen, alasan dia hidup … ah, ungkapan seperti ini terlalu berlebihan.
Tapi memang itu lah kenyataan nya.
Daniel ingin selalu melihat pergerakan Alesha, dan untuk itu, ia suka mengirimkan paket berisi buah atas nama 'Mezanmi si pengemar'.
__ADS_1
Bagus nya, Alesha menerima nya. Menikmati buah mahal yang kaya nutrisi, sekaligus membuat Daniel merasa ikut berkontribusi menyehatkan tubuh Alesha.
Malam ini, Daniel berada di rumah nya, dan sedang makan malam. Di hadapan lelaki itu ada CCTV yang memperlihatkan wajah dan tubuh Alesha yang juga sedang makan.
"Makan yang banyak, istri ku!" kata Daniel berbicara pada laptop. Terlihat di sana, Alesha hanya makan sendiri. Perempuan itu tidak pernah makan bersama suaminya, ya … ini sejauh pengamatan Daniel. Entah kemana Rach, Daniel sendiri tidak peduli. Yang penting ia melihat Alesha makan dengan tenang.
Huek!
Dengan telinga nya sendiri, Daniel mendengar suara mualan. Dalam sekejap, Daniel terbengong. Pertanda apa ini? pikir nya.
Laptop yang menangkap situasi rumah Alesha itu dapat menangkap suara. Buru-buru Daniel mengganti posisi menjadi wastafel.
Dalam lima belas menit, Alesha muncul di meja makan. Perempuan itu tampak menyeka mulut nya dengan tissue.
"Sebenar nya dia kenapa? Alesha ku sakit?" gumam Daniel bingung.
...******...
Alesha.
__ADS_1
Sehabis memuntahkan cairan yang keluar dari mulut nya, kepala Alesha pusing. "Aku kenapa sih?" gumam Alesha bingung.
Ia termenung dalam beberapa detik, hingga terdengar suara bel di pencet beberapa kali.
"Tunggu!" kata Alesha membukakan pintu.
Di sana, Rach baru pulang.
"Aku pulang, sayang," kata Rach sambil memeluk Alesha.
Daniel yang menyaksikan adegan 'romantis' ini hanya bisa menggerutu, "Andai si sialan itu berganti jadi aku, pasti lebih bagus!"
Tak lupa Rach juga mengecup bibir Alesha, lalu wajah nya menunjukkan ketidaknyamanan. "Kenapa mulut mu bau mual? Kamu baru muntah ya?" tanya Rach penasaran.
"Iya, mas. Aku kan baru makan, terus langsung mual aja," balas Alesha jujur. Dia memeluk manja Suaminya itu.
Rach terdiam sebentar.
"Kenapa mas diam?" tanya Alesha.
__ADS_1
"Mas hanya berpikir satu hal. Apa mungkin kamu hamil?"