
Di rumah Lusi.
"Aku mau melakukan donor benih," kata Alesha yang seketika membuat Lusi terbatuk.
"Uhuk! Apa?" tanya Lusi terkejut.
"Iya, aku sudah bertekad," jawab Alesha yakin.
"Ini ga bakal jadi masalah?" tanya Lusi tidak percaya.
"Ga masalah."
"Suami kamu?" tanya Lusi lagi.
"Em …" Alesha berpikir sejenak.
Setelah menunggu hampir dua menit, Lusi akhirnya kembali berkata, "Aku rasa ini ga harus dilakukan. Aku hanya bercanda, tapi kamu malah menganggapnya serius."
"Bukan nya kamu bilang Vasektomi mempunyai peluang 1% membuat pasangan nya hamil?" tanya Alesha.
"Hem, iya. Tapi, tunggu. Aku berusaha berpikir seperti mu, jangan pikir kamu mau buat alasan ini untuk membuat bang Rach percaya?" Lusi menduga.
"Eng–iya sih. Sedikit. Tapi maksud ku, selagi mas Rach ga tau, aku mau berbohong saja. Ini demi anak, anak mau anak," jawab Alesha bertekad.
Lusi hanya mampu terdiam dalam ketidak percayaan yang masih dirasakan nya. Ia tidak menyangka, ide absurd nya ditanggapi Alesha dan ide ini malah menjadi keputusan wanita itu.
"Kamu yakin ga bakal menyesal?" tanya Lusi lagi memastikan.
"Enggak, untuk apa menyesal? Toh Suami ku ga bisa memberi ku anak. Dia juga ga tau kan. Apalagi kami juga sering melakukan nya, pasti mas Rach pikir anak itu milik nya. Lagipula, selama ini juga aku udah kasih semua harta kekayaan ku, mau anak mas Rach atau bukan, harta tetap milikku, aku yang berhak bukan dia." Alesha mulai berpikir realistis.
__ADS_1
Dengan berat hati, Lusi katakan, "Ya sudah, itu sudah jadi keputusan mu. Oh ya, kamu mau jenis benih seperti apa?"
"Maksud nya?" Alesha tidak mengerti.
"Setiap perempuan pasti mau punya anak dari benih yang kualitas nya premium. Kamu mau wajah anak mu seperti apa, ditentukan dari gen ayah nya bukan? Jadi, tentukan dari sekarang."
Alesha mulai mengingat bayi yang diingat nya dalam mimpi, sehingga ia mulai berkata, "Aku pernah memimpikan nya, tapi aku ga pandai menggambar."
Untuk itu, Lusi menepuk jidat dan Alesha tersenyum malu. "Kalau begitu, kebetulan Diara pandai menggambar. Tapi dia masih di sekolah," jelas Lusi.
"Diara bisa menggambar atas arahan. Kayak kalau aku bilang bola mata nya coklat dia bisa gambar ga?" kata Alesha memastikan.
"Tunggu dulu ya, aku kasih tunjuk sesuatu." Lusi berdiri dan mengambil sesuatu dari kamar milik Diara, saat dia datang, Alesha melihat benda yang dibawa Lusi.
"Ini lukisan Ayah Diara. Dia melukis nya hanya dengan membayangkan raut wajah ayah nya," jelas Lusi.
"Oke."
***
Setelah pulang ke rumah nya, Alesha tidak langsung istirahat, melainkan pergi ke sebuah rumah di ruli dan menemui seorang ibu rumah tanggal.
"Bu … aku datang lagi," kata Alesha sopan. Terlebih dahulu dia mengetuk pintu.
"Silahkan masuk, Bu Alesha."
Alesha memperlihatkan senyum terbaiknya. Kemudian duduk di karpet bersama ibu Asti, yang memiliki seorang bayi berusia sebulan.
"Ibu mau gendong Cantika?" tanya Ibu Asti.
__ADS_1
"Sudah boleh Bu?" tentu Alesha senang. Ia sangat menunggu waktu ini. Soal nya selama beberapa hari selalu bergaul dengan beberapa ibu yang memiliki bayi, Alesha belum diperbolehkan menggendong. Hem, sebenarnya bukan tidak diperbolehkan, tapi Alesha yang tidak berani memintanya.
"Gimana cara menggendong nya Bu?" Alesha kebingungan.
Ibu Asti mulai membantu Alesha menggendong bayi perempuan itu, ada rasa bahagia dirasakan Alesha ketika menggendong nya. Aroma bayi yang familiar, serta bayi anteng yang tidak terlalu menyulitkan Alesha menguasai cara menggendong nya.
Ternyata menggendong nya seajaib ini! jika tidak mengingat tempat, maka Alesha ingin berteriak saat ini.
"Bagaimana, nyaman tidak?" tanya Bu Asti.
Alesha mengangguk senang. "Ternyata menggendong nya ga susah ya, Bu Asti."
Bu Asti mengangguk sebagai pertanda setuju. "Tapi Bu Alesha, baru-baru saja menggendong nya menyenangkan, kalau sudah sejam, rasa nya mau mampus, Bu."
Alesha sangking senang nya tidak mempedulikan fakta itu. "Ga papa Bu. Saya malah senang," jawab Alesha.
"Ya sudah, ibu Alesha coba bawa Cantika di gendongan ibu selama 1 jam," ucap Bu Asti.
"Beneran Bu?" tanya Alesha terkejut.
"Iya, saya sudah percaya sama ibu Alesha."
"Ke rumah saya boleh? Ibu Asti ikut pun, ga papa," pinta Alesha.
"Ibu Alesha saja bawa Cantika-nya. Soal nya saya masih punya banyak kerjaan di rumah. Cuci baju, menyetrika, bereskan rumah … nanti kalau udah puas, bawa ke rumah ini lagi ya, Bu. Jangan diambil, soalnya Cantika anak perempuan saya satu-satu nya."
"Siap, Bu Asti!" Alesha dengan bahagia membawa Cantikan mondar mandir, meski untuk saat ini masih di dalam rumah Bu Asti.
Alesha seperti pengasuh untuk bu Asti, tapi perempuan itu merasa tidak keberatan.
__ADS_1