Maaf Telah Membohongimu, Mas!

Maaf Telah Membohongimu, Mas!
21. Terus Berasumsi


__ADS_3

Alesha menatap tubuh nya di depan kaca. Pagi ini ia dan suami nya akan meeting di tempat yang di sediakan Daniel untuk bertemu.


Karena Alesha merasa pertemuan kali ini sangat penting, maka Alesha berusaha menampilkan penampilan yang setidak nya sopan.


Kali ini Alesha memakai kaos turtleneck dan celana panjang. Ia mengikat rambut nya dengan menyisihkan beberapa bagian rambut di area depan dan mencatok nya.


Kemudian me-make up wajah nya dengan sedikit bedak dan lipstik. Saat merasa sudah siap, Alesha melihat kaus yang di kenakan nya cukup memperlihatkan body nya. Sehingga ia mengambil blazer yang warna nya senada dengan celana.


"Nah, sudah siap." Alesha tersenyum senang. Perlahan dia keluar dari ruang berdandan yang langsung dilihat Rach yang kebetulan sedang berjalan di depan ruangan itu.


"Cantik nya …" gumam Rach ternganga. Meski Alesha sudah terbilang lama menjadi istri nya, tetap saja hati Rach menggebu-gebu untuk Alesha.


Alesha yang melihat ekspresi 'tak biasa' Rach pun mengerutkan kening, "Penampilan ku jelek ya?" seketika rasa minder nya muncul.


Rach segera menggeleng. "Kamu sangat cantik! Aku tidak menyangka saja, istri ku bisa seluar biasa ini!"


Alesha tersenyum kecil, sambil berkata dengan pelan "Makasih."

__ADS_1


Di sisi lain.


Daniel sudah ada di taman belakang perusahaan milik nya. Taman itu sangat luas, bahkan seperti hutan terawat. Ia duduk di salah satu bangku yang memang ada sana kira-kira tiga jam lebih awal dengan senyum yang tak kunjung pudar.


"Bos, nona Alesha dan Suami nya tidak akan datang sedini ini. Sebaik nya anda mengerjakan yang lain sebelum nya," Daniel ingat, Susan sudah berkata seperti itu beberapa jam sebelum ini. Wanita paruh baya itu memprotes tindak 'gila' nan tak masuk akal yang dilakukan Daniel.


Tapi, Daniel dengan keras kepala nya tentu tidak peduli apapun. Ia terus menunggu tanpa melakukan apapun sampai saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul delapan.


'Cinta benar-benar gila' batin Susan menggeleng.


Alesha dan Rach mengendarai mobil untuk sampai ke kantor Daniel. Mobil itu di parkirkan di basement.


"Tentu saja besar. Ini perusahaan terbesar pertama di negara ini. Apa kamu tidak tahu?" tanya Rach.


"Aku tau. Aku hanya tidak percaya mantan sekretaris ku ternyata orang kaya." Alesha tersenyum.


"Jangan mendua ya," kata Rach memperingatkan.

__ADS_1


"Untuk apa aku melakukan nya?" Alesha menggeleng bingung dengan perkataan sang suami.


"Mungkin aja, dia kan memiliki segala nya," jawab Rach.


"Kamu satu-satunya," balas Alesha meyakinkan Rach.


Terdengar Rach menghela nafas. Tapi tidak berkata apapun. Alesha menyaksikan nya, wajah suami nya terlihat lebih lemas tidak bertenaga.


Mas Rach cemburu ya? duga Alesha.


Mengingat yang mereka temui adalah sekretaris masa lalu Alesha. Ah, tapi untuk apa aku berpikir mas Rach cemburu? Yang jelas aku dan Daniel hanya sekretaris dan atasan di masa lampau. Alesha merasa bingung, entah kenapa akhir-akhir ini dia suka berasumsi banyak hal yang belum tentu terjadi.


"Di mana kita akan temui tuan Daniel-nya?" Alesha berbicara untuk mencairkan suasana.


"Menurut tuan Daniel, di taman belakang perusahaan nya."


Alesha mengangguk paham. Sewaktu masih bekerja di perusahaan milik nya, Alesha pernah pergi ke perusahaan Flien. Pemilik nya memang suka membuat klien merasa nyaman dengan berbincang sambil jalan-jalan.

__ADS_1


Mungkin kebiasaan ini sudah jadi tradisi. Maka nya Daniel ikut melakukan nya. Lagi-lagi Alesha berasumsi.


__ADS_2