
"Maaf kami baru datang, tuan Daniel," kata Rach minta maaf. Tapi Daniel tidak menjawab. Matanya terus tertuju pada tubuh Alesha.
Sangat cantik, batin pria itu menilai.
Tak lupa, Daniel berdiri saat Alesha terlihat dalam tangkapan matanya.
"Selamat pagi." Alesha menyapa sambil tersenyum singkat setelah melihat tingkah Daniel yang cukup mengesalkan. Mau sampai kapan dia menatapku? Tentu saja Alesha tak nyaman.
Rach mengulurkan tangan tapi Daniel tidak menghiraukannya. Susan menyenggol tangan Daniel untuk menyadarkan atasannya itu. "Bos," bisik Susan. Akhirnya Daniel kembali pada pemikiran warasnya. "Hem?" ia menoleh ke arah Susan.
"Rach, Bos," balas Susan memperingatkan.
"Oh." Daniel menjabat tangan Rach sambil berkata, "Selamat datang di perusahaan kami." Kemudian duduk diikuti Rach dan Alesha.
"Baik, kita akan mulai.
__ADS_1
Daniel mulai mempresentasikan banyak hal mengenai proyek yang ingin mereka bangun sambil berjalan keliling taman.
Alesha juga ada di sana, perempuan itu ikut membantu suaminya berbicara semampunya. Mereka bertiga berbincang hingga sekitar satu jam dan Alesha merasa sangat lelah.
"Hem Mas … kita boleh istirahat? Aku capek," bisik Alesha pada Rach. Perempuan itu juga ingin muntah karena mencium aroma yang cukup menyebalkan dalam penciuman nya.
Daniel dapat melihat betapa lelahnya perempuan yang 'tengah' mengandung bayinya itu. Sehingga tanpa dikomando, Daniel menghentikan semuanya.
"Kurasa kita harus istirahat sebentar."
Rach yang merasa 'sangat takut' menghentikan pembicaraan yang mereka lakukan merasa lega. Daniel benar-benar lelaki baik.
Rach sebenarnya juga merasa suatu hal telah terjadi antara tuan Daniel dan Alesha. Tapi Rach cukup tahu, seperti apa Alesha memperlakukan Daniel.
Mungkin tuan Daniel ingin tahu seperti apa wajah istriku setelah setahun tak bertemu.
__ADS_1
*******
Sebulan telah lewat.
Rach di kantor kembali merasa kepalanya pusing, dan terasa sakit itu seperti terkena ribuan pasir yang terus menimpa kepalanya tanpa henti. Penglihatan buram, bahkan beberapa kali mengalami kejang. Rach sudah memeriksakan diri ke dokter. Dan dokter mengatakan bahwa dirinya mengalami tumor otak stadium 3.
Meski Rach membantah jika dia tidak pernah merasakan penyakit itu selain dua bulan belakang ini, tapi dokter mengatakan, banyak pasien yang mengaku tidak pernah merasakan sakit dan gejala apapun, tau-taunya sudah stadium tiga seperti yang dialami Rach.
Ketakutan dan kekhawatiran terus menghantui Rach. Apalagi istrinya tengah hamil, ia takut menjadi lelaki terburuk di dunia jika saja ia mati sebelum atau, anaknya lahir namun tidak bisa melihatnya dikarenakan menjalani kemo.
"Jika tuan mengalami kecemasan berlebih, justru itu yang membuat tuan lebih cepat menghadap pencipta. Kami anjurkan anda selalu rileks, berpikir positif dan tidak bekerja terlalu keras. Kami merekomendasikan anda menjalani kemoterapi di Jepang. Di sana, terdapat alat yang dapat mengobati tuan."
Dengan alasan bisnis, Rach pamit ke Alesha buat pergi ke Jepang. Alesha yang tidak terlalu berpikir macam-macam pun mengizinkannya.
Selama Rach tidak ada, Alesha menggantikan Rach di kantor.
__ADS_1
Tapi di sisi lain, Daniel mulai menyusun rencana baru setelah tahu Rach menjalani kemo dan tinggal di Jepang selama dua mingguan lebih.
"Segalanya akan hilang darimu setelah pulang dari Jepang," kata Daniel bertekad.