
Aku kembali, semoga yang baca nya masih ada🙃
🌹🌹🌹🌹
Empat tahun kemudian, di kota Surabaya
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, bagi Indira menghabiskan waktu bersama sang anak tidaklah mudah. Di awal mula dia pergi semuanya terasa berat apalagi saat itu dia sedang mengandung, hari-hari yang Indira jalan'ni membuat dia kadang putus asa, dan ingin menyerah.
Tapi sekarang dia telah bangkit, dan memiliki usaha sendiri. Indira membuka toko bunga yang di beri nama 'Jasmine Florist', usaha yang dia bangun berkat bantuan seorang ibu yang dia tolong secara tak sengaja yang bernama Bella Mariana. ibu tersebut telah kehilangan seluruh keluarga nya, dan hanya tinggal dia sendiri. ibu itu sangat iba melihat Indira dengan perut buncit terlunta-lunta di jalan, dan sejak saat itu nyonya Bella mengajak Indira memutuskan untuk tinggal bersamanya.
"Ibu..." pekik seorang anak tampan, yang berlari ke arah Indira.
Indira berjongkok, dan memeluk sang anak yang bernama. Melvin Wijaya putranya dengan Mahesa.
"Hai..sayang ibu kangen sekali," jelas Indira sambil mencium sang anak.
"Aku juga kengen sama ibu." Ucapnya manja.
"Ya ampun, Vin kamu itu yah baru dua hari nenek ajak pergi." Ledek nyonya Bella.
Melvin mendelik pada sang nenek, yang melewati dirinya dan Indira.
"Nenek.." Rajuk Melvin.
"Sudah, ayo masuk kamu harus mandi dan ganti baju, abis itu kita makan yah. Ibu udah buatin makan siang kesukaan kamu." Jelas Indira.
"Baik kapten." jawab Melvin sambil terkekeh.
Melvin dan Indira berjalan beriringan ke dalam rumah, menyusul nyonya Bella. Walau pun nyonya Bella bukan nenek kandung Melvin, tapi dia sangat menyayangi Melvin seperti cucu nya sendiri.
Setelah selesai mandi, dan makan. Melvin menceritakan kegiatannya bersama sang nenek kepada Indira dengan raut wajah gembira, dan sangat antusias. Jika seperti ini Indira merasa melihat Mahesa dalam diri Melvin mereka begitu mirip bak pinang di belah dua. Mengingat Mahesa membuat hati Indira merasakan sesak dan sedih, walau sudah empat tahun berlalu nyatanya Indira masih mencintai Mahesa. Cinta pertamanya.
"Ibu..ibu...huh..ibu melamun yah ?" tanya Melvin, sambil menggoyangkan lengan Indira.
"Ehh..engga ko sayang, ibu gak melamun ibu lagi mikir kenapa ibu gak ikut juga yah." Terang Indira pada Melvin
"Kalo ibu mu ikut, Vin. Siapa yang akan jaga toko bunganya, lalu kamu mau beli mainan dari mana." Sahut nyonya Bella, dari dapur seraya berjalan sambil membawa teh hangat, dan susu untuk Melvin.
Melvin berpikir dengan mengetuk-ngetuk jarinya di kening. "Iya juga yah." Kekeh Melvin.
__ADS_1
Indira dan nyonya Bella tersenyum melihat kelakuan Melvin. "Sekarang kamu minum, susunya abis itu kamu harus istirahat. Ok." perintah Indira, yang di jawab anggukan oleh Melvin.
"Tapi, ibu temani aku yah. Aku rindu di peluk ibu." Ucapnya manja.
"Iya, habis kamu tidur ibu mau pergi ke toko sebentar ko, boleh ?" Tanya Indira lembut.
"Boleh," jawab Melvin. Indira tersenyum dan mengecup kening sang anak.
Bandung, kediaman Mahesa
Berbeda dengan Indira hari-hari Mahesa yang di laluinya pun sangat berat tahun pertama saat dia sadar, dan tak mendapati Indira di sampingnya membuat nya marah, dan lebih membuatnya kaget adalah surat gugatan cerai dari Indira lengkap dengan tanda tanganya.
#Flashback
"Mahesa kamu sudah sadar, nak." ucap nyonya Sekar dengan mata berkaca-kaca.
"Sebentar ibu, panggilkan dokter dulu."
Pada saat nyonya Sekar akan memencet tombol emergency, pintu ruang rawat Mahesa terbuka dan nampaklah Arumi yang membulatkan mata nya menatap Mahesa.
"Arumi," gumam nyonya Sekar.
"Tante, Mahesa kamu..." Arumi tak kuasa berkata-kata, dia kemudian berjalan dan berhambur memeluk Mahesa. Mahesa yang mendapat pelukan secara tiba-tiba tersebut meringis menahan sakit.
"Maaf tan, Arumi senang akhirnya Mahesa sudah sadar setelah lima bulan koma." Tutur Arumi.
Mahesa yang mendengar penuturan Arumi, pun mengeryitkan dahi bingung. Koma selama lima bulan. "selama itu, aku tidak sadarkan diri." batin Mahesa.
tepat pada saat itu, Dokter datang dan memeriksa kondisi Mahesa. "Keadaanya sudah stabil, dan mungkin otot-otot nya akan kaku. Setelah dia lebih baik, kita akan melakukan terapi supaya bisa berjalan sepeti biasa." Jelas Dokter, dan di jawab anggukan oleh nyonya Sekar dan Arumi.
"Kalo begitu saya, permisi selamat siang." Ucap Dokter.
"Terima kasih, Dok." jawab Arumi dan nyonya Sekar serempak.
Kata pertama yang keluar dari mulut Mahesa, menanyakan keberadaan Indira. "Dimana Indira ?" tanyanya lirih.
Nyonya Sekar, dan Arumi saling pandang, dan bingung bagaimana menjelaskan pada Mahesa.
satu minggu Mahesa di rawat di rumah sakit, dia terus bertanya dimana Indira. Sampai sebuah kenyataan pait dia terima bahwa Indira telah pergi, dan menggugat cerai dirinya. Dengan alasan yang tak masuk akal bagi Mahesa.
__ADS_1
"Mahesa..."
belum sempat sang ibu berbicara, Mahesa sudah mengusir nyonya Sekar.
"Keluar," usirnya Lirih.
"Mahesa ibu..."
"Aku bilang keluar...keluar." Bentak Mahesa lirih, tanpa permisi air mata meluncur begitu saja.
Setalah nyonya Sekar keluar, Mahesa duduk termenung menatap jendela kamar rawat inapnya. "Kenapa ?kenapa kamu tega melakukan ini." Lirih Mahesa.
Pada saat itu, Mahesa semakin menutup diri dan selalu bersikap dingin, dan ketus pada siapa pun termasuk pada orang tua nya.
Hari ini Mahesa sudah di perbolehkan pulang, dan melakukan rawat jalan, dan terapi selama beberapa hari dalam satu minggu. Dan dengan setia nya Arumi merawat Mahesa dengan sabar, walau sikapnya dingin padanya.
"Ibu mau kamu nikahi Arumi," pinta nyonya Sekar, saat Mahesa sedang duduk sendiri di halaman belakang rumahnya.
Mahesa mendelik menatap ibunya tak suka. "Aku tidak bisa bu."
"Kamu tidak liat, gimana dia bersabar mengurusmu, menemanimu saat kamu sedang terafi." Bentak nyonya Sekar.
"Aku tidak minta dia melakukan itu." Jawab Mahesa dingin.
"Mahesa setidaknya kamu melanjutkan hidup mu."
Tidak ada jawaban dari Mahesa membuat nyonya Sekar menghembuskan napas secara kasar, dan pergi meninggalkan Mahesa sendiri.
Satu tahun sudah Mahesa sembuh, dan dia sudah kembali bekerja di perusahaan Wijaya grup, dan dengan berat hati dia menikah dengan Arumi atas paksaan sang ibu. Acara pesta pernikahan di gelar pada hari ini.
Mahesa menatap pantulan dirinya di cermin, terlihat tampan dengan setelan jas berwarna putih. senada dengan gaun yang di kenakan oleh Arumi. Mahesa menghela napas, dan mengusap air matanya. " Semoga kamu bahagia Indira dimana pun kamu berada." Gumam Mahesa. kemudian melangkah keluar menuju tempat resepsi di mana para rekan kerjanya telah menunggu sang pengantin baru.
Setelah acara selesai, Mahesa dan Arumi langsung menuju hotel yang di sewa oleh keluarga Mahesa, kamar hotel yang terletak di lantai paling atas kamar khusus pengantin baru. Pada saat Arumi membuka pintu kamar tersebut sudah di hias sedemikian rupa terkesan romantis, kelopak mawar merah bertebaran di atas kasur.
"Jangan harap pada malam pertama kita." Terang Mahesa, mengagetkan Arumi yang tengah berdiri di depan pintu. Dan masuk terlebih duli ke kamar mandi.
"Masih ada waktu, untuk membuat mu jatuh cinta padaku." Gumam Arumi.
#Flashbackend
__ADS_1
tbc...
Maaf typo atau kesalahan dalam nama, jangan lupa komen, like dan beri aku hadiah makasih 🙏