
Setelah kurang lebih satu bulan Zulfa menjalani masa liburan setelah kelulusan,kini tiba saatnya Zulfa berangkat ke Pesantren untuk melanjutkan pendidikannya, Zulfa akan masuk Mts yang berada dalam satu naungan dengan pesantren tempat Zulfa mondok.
Besok Zulfa akan berangkat ke pesantren,semua persiapan telah dipersiapkannya dari mulai baju,alat mandi,alat makan dan segala apa yang diperlukan saat di pesantren nanti.
Sehabis sholat isya Pak Wahyu,Bu Arni,Arfan Zulfa duduk di ruang keluarga....
"Bagaimana persiapan untuk keberangkatan kamu besok ke pesantren nak....apa sudah lengkap semua?"...tanya Pak Wahyu pada Zulfa
"Alhamdulillah sudah lengkap Pak..."jawab Zulfa.
"Apa kamu juga sudah pamit sama teman-temanmu?...ibu Arni menyahut.
"Tadi sore Zulfa sudah pamit sama teman-teman Zulfa juga sudah pamit sama Mira,tapi saat ke rumah Mira,Mira malah sedih katanya kita akan jauh dan jarang bertemu dengan Zulfa Bu...."Zulfa menjelaskan.
" Tidak apa-apa nak,ibu maklum kok kalau Mira merasa sangat sedih jika harus berpisah denganmu,kalian berteman sedari kecil,kemana-mana selalu bersama tidak bisa terpisah,tapi yakinlah kalau kalian akan tetap berteman walaupun Kalian saling berjauhan"...ibu menjelaskan
"Iya Bu....insyaallah kami akan selalu menjaga persahabatan kami"...jawab Zulfa sambil tersenyum.
" Ya sudah...ini sudah malam,cepat kalian istirahat,terutama kamu Fan...kamu besok akan mengemudikan mobil,kamu harus istirahat yang cukup jangan sampai kau kurang tidur"...titah ayah kepada Zulfa dan Arfan.
"Baik pak..."jawab Zulfa dan Arfan serempak.
" Kita juga harus istirahat Pak..."ajak Bu Arni kepada suaminya.
Setelah mereka sampai dikamar dan berbaring di atas kasur,tiba-tiba Bu Arni menangis...air matanya membasahi pipinya...
__ADS_1
"Ibu kenapa Bu...kok menangis"tanya pak Wahyu pada istrinya
"ibu sedang teringat dengan kata-kata anak kita Zulfa... Cita-citanya ingin menjadi seorang Khafidhoh karena dia ingin memberikan jubah emas kepada kita kelak di akhirat,ibu sangat terharu dan sangat bangga kepadanya,diusianya yang baru menginjak dewasa tetapi cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa"...kata Bu Arni.
"Bapak juga sangat bangga mempunyai anak seperti Zulfa....kita doakan saja,semoga apa yang di cita-citakan dapat tercapai dan semoga ia selalu diberi kemudahan dalam segala urusan,"ucap pak Wahyu.
"Aamiin... aamiin... aamiin"sahut Bu Arni.
"Ya sudah,kita istirahat...besok kita harus pergi pagi-pagi".kata pak Wahyu.
Hari sudah pagi,semua telah bangun dan bersiap untuk mengantar Zulfa ke Pesantren.
Setelah beberapa jam perjalanan mereka sampai di pesantren,setelah menemui pengurus pesantren Zulfa dan ibunya masuk ke asrama dan diantar ke kamar yang akan ditempati Zulfa,karena masuk asrama putri jadi hanya ibunya yang diperbolehkan ikut masuk ke dalam asrama,sementara Ayah Zulfa dan Arfan menunggu di aula pesantren,setelah merapikan semua barang-barang bawaan Zulfa di loker yang telah tersedia Zulfa dan ibunya keluar ke aula berkumpul bersama Pak Wahyu dan Arfan sembari menunggu giliran untuk menemui Abah Kyai untuk memasrahkan Zulfa yang akan menuntun ilmu agama di pesantren ini.
Setelah beberapa waktu kami menunggu akhirnya tiba giliran kami menemui Abah Kyai...kami masuk bersama lima santri baru yang didampingi oleh kedua orang tuanya...,satu per satu dari kami mengucapkan pasrah kepada Abah Kyai agar Sudi mendidik anaknya untuk menimba ilmu agama di pesantren ini.
Setelah giliran kami selesai....tibalah giliran terakhir yang ada dibelakang kami,sepertinya dilihat dari penampilannya ia adalah seorang yang berpengaruh seperti pejabat pemerintahan,dengan lantangnya orang itu pasrah kepada Abah Kyai...
"Abah Kyai...saya titipkan anak kami untuk didik di pesantren ini...tolong berilah anak kami pelayanan yang sempurna,tempat tidur yang layak dan nyaman,dan berilah anak kami makanan yang enak dan bergizi dan fasilitas yang penuh,berapapun biayanya akan saya bayar...."ucap orang itu.
"Abah Kyai mengangguk dan mengiyakan semua permintaan orang tersebut."
Setelah orang itu selesai menyampaikan keinginannya kepada Abah Kyai,sekarang giliran Abah Kyai menjawab permintaan orang tersebut....
"Bapak ingin memondokkan putra bapak di pesantren sini?...tanya Abah Kyai.
__ADS_1
"Betul sekali Abah Kyai..."jawab orang itu.
"Bapak tadi meminta agar putra bapak diberi tepat tidur yang layak dan nyaman serta makan yang enak juga bergizi serta fasilitas yang lengkap dan Bapak mau mbayar berapapun biayanya?....tanya Abah Kyai lagi.
"Betul Abah Kyai..." jawab orang itu lagi.
"Itu sangat mudah Pak..."jawab Abah Kyai
orang itu tersenyum puas karena merasa permintaannya akan dikabulkan oleh Abah Kyai.
" Di belakang pesantren ini masih ada tanah kosong yang masih masuk wilayah pesantren,silahkan bapak bawa material bangunan secukupnya,silahkan bapak bangun pondok seperti yang bapak inginkan untuk putra bapak dan isi dengan semua fasilitas seperti yang bapak inginkan,biar saya yang menyediakan lahannya...."ucap Abah Kyai.
Seketika wajah orang itu langsung pucat dan tertunduk di hadapan semua orang yang berada bersamanya di kediaman pengasuh pondok pesantren.
"Kami dari pihak pesantren tidak akan membeda- bedakan satu santri dengan santri lainnya walaupun yang satu adalah anak seorang pejabat dan yang satu anak tukang becak sekalipun kami akan memperlakukan semua sama tidak ada yang akan kami beda-bedakan.
Pada hakikatnya hidup di pesantren itu bukan hanya untuk menuntut ilmu agama tetapi juga untuk melatih anak menghadapi kesulitan hidup yang mungkin suatu saat mungkin akan dialami dan dihadapi di kehidupannya,ia harus bisa menghadapi masalah dalam hidupnya sendiri.
Hidup di dalam pesantren itu tidak ada yang namanya hidup mewah,karena hidup di pesantren itu penuh kesederhanaan makan seadanya tidur juga ditempat seadanya,hidup enak itu bukan berarti hidup mewah dengan fasilitas serba ada,tetapi hidup enak itu tergantung masing-masing orang yang bisa menikmatinya,makan dengan makanan yang sederhana dan seadanya,tidur di lantai hanya beralaskan tikar,tidak ada fasilitas yang mewah itu akan terasa enak dan nikmat selagi kita menjadi orang yang pandai bersyukur atas segala karunia dan kenikmatan yang Alloh limpahkan kepada kita.
Mendengar permintaan Bapak tadi,sepertinya Bapak tidak ingin jika anak bapak hidup susah di pesantren,kalau begitu silahkan bapak ajari saja putra bapak sendiri,tidak perlu di kirim ke pesantren..."jelas Abah Kyai.
"Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam mendengar penjelasan Abah Kyai.
Orang itupun segera meminta maaf kepada Abah Kyai karena telah berbicara dengan congkaknya.
__ADS_1