
"Tina, perhatikan jalannya. Kalau kelewatan, sopirnya mana mau mundur seperti undur-undur!” kata Ayu kepada teman seperjuangannya yang bernama Tina, seorang gadis berparas cantik, tetapi tubuhnya sedikit kurus, hampir-hampir saja tidak memiliki dua benjolan di bagian dadanya.
“Iya!” sahut Tina sambil meruncingkan sepasang bibir bergincu merah terangnya. Lirikannya tidak ramah kepada sahabat gemuknya yang duduk berhadapan dengannya di dalam mikrolet angkutan dalam kota itu.
Keduanya serius memperhatikan jalanan di depan. Menurut catatan yang mereka pegang, alamat tempat mereka akan melamar pekerjaan sudah tidak jauh lagi.
Hanya ada tiga orang di dalam mobil tersebut.
Orang pertama adalah Ayu Nostalgia, seorang gadis perawan yang makmur dari segi fisik. Kedua pipinya laksana bakpao lapis cokelat karena memang ia berkulit putih, tetapi kurang banyak. Hidungnya seksi meski agak pesek. Sepasang alisnya hitam panjang, lebih panjang dari aslinya, meski sedikit tidak imbang. Sekali bertemu pandang dengan Ayu, maka orang pun akan langsung tahu bahwa alisnya sedikit panjang sebelah. Gadis berlemak berusia 21 tahun itu tampil dengan kemeja lengan panjang yang agak ketat, sehingga lipatan lemak tubuhnya tampak berbaris dari bawah hingga atas, terlebih jika ia duduk seperti saat ini. Ia mengenakan celana panjang hitam dan sepatu warna kuning terang. Rambutnya dikuncir kanan dan kiri agar ia terlihat cantik. Untuk lebih cantik, kuncirannya diikat dengan lilitan pita kuning.
Orang kedua adalah Tina Cihuy. Gadis usia 23 tahun berambut sepunggung yang diikat satu di belakang. Ia tipe wanita yang suka tampil simpel tanpa mau banyak proses. Meski faktanya, bedak dan lipstiknya cukup tebal, tidak seimbang dengan tatanan rambutnya yang sederhana. Ia pun mengenakan kemeja putih lengan panjang dan rok hitam sebatas lutut. Tubuhnya yang kurus justru membuat bajunya terkesan kebesaran. Ia mengenakan sepatu hitam dan kaos kaki panjang hitam yang hampir menyentuh lutut.
Orang ketiga adalah sang sopir angkot, seorang perjaka tua yang terobsesi dengan kehidupan terminal dan jalanan.
“Tapi saya kok rasanya masih tidak percaya, Yu. Apa iya, lulusan SMP seperti kita bisa diterima kerja yang gajinya 5 juta?” kata Tina. “Saya takut seperti Yona, katanya kalau sukses penghasilan sebulan bisa tembus 20 juta. Eh tahunya, hari intermilan aja....”
“Interview!” hardik Ayu memotong dengan mata melotot seperti Suzanna dalam peran sendal yang bolong.
“Iya, itu maksud saya,” ralat Tina. Lalu lanjutnya, “Eh, malah ktp-nya ditahan. Harus bayar uang pendaftaran sama modal awal 3 juta. Itu mah nanam inveksi namanya.”
“Nanam investasi, Cantik!” ralat Ayu lagi sambil menekan semua giginya karena gemas dengan Tina yang memang suka salah kata.
Tina hanya tertawa pendek setelah sadar ia salah ucap kata. Ujung-ujungnya Ayu tertawa juga, malah lebih haha hingga sepasang matanya tertutup rapat.
“Enggak ada salahnya kita coba dulu. Masa ia sih Bang Jago bohong sama kita? Kalau memang tahunya dia benar-benar tipu, saya bakalan kejar sampai ke kuburan!” kata Ayu.
“Buat apa kejar Bang Jago sampai kuburan?” tanya Tina, seperti orang lugu.
“Buat kawin! Hahaha!” jawab Ayu setengah berteriak lalu tertawa terbahak. Lalu katanya lagi, “Ya buat bikin pelajaran, lalu kubur!”
“Selem sekali,” komen Tina sambil tersenyum lucu.
“Serem, bukan selem!” ralat Ayu.
Tina cuek. Pikirnya, salah kata sedikit saja kok selalu diralat.
“Setop, Bang! Setop setop setop!” teriak Ayu tiba-tiba dan keras.
“Astoge!” pekik bang sopir terkejut. Spontan kakinya injak rem dalam-dalam.
__ADS_1
“Allahuakbar!” pekik Tina saat tubuh entengnya terlempar ke depan menghantam punggung kursi depan.
“Kolor kodok!” pekik Ayu juga pada saat yang sama. Tubuh bulatnya terseret ke depan dan juga menabrak belakang kursi bang sopir.
“Astaghfirullah, Neeeng!” sebut bang sopir dengan perasaan lemas, jantungnya seolah hampir berhenti main tik-tok.
“Abaaang! Kalau berhenti rem jangan mendadaaak!” jerit Ayu geram, lalu meringis menahan sakit di beberapa anggota tubuhnya akibat benturan tadi.
“Aduuuh, Si Abang!” keluh Tina juga seraya meringis. Ia segera bangkit dan kembali duduk di kursi panjang mikrolet.
“Aduh, Eneng. Kalau minta berhenti jangan bikin kaget begitu!” keluh bang sopir pula.
“Iya nih Ayu!” sungut Tina pula. “Berhentikan angkot sudah seperti lihat cewek ganteng saja!”
“Hahaha!” Ayu dan pak sopir justru tertawa mendengar perkataan Tina.
“Cowok ganteng! Mana ada cewek ganteng?” ralat Ayu.
“Saya juga tahu!” ketus Tina membela diri.
“Turun di sini, Neng?” tanya pak sopir.
Serentak Ayu dan Tina bergerak untuk turun. Namun, keduanya terpaksa berhenti karena tubuh mereka bertubrukan seolah sedang berebut keluar lewat pintu yang hanya ada satu.
“Ih apaan, sih?!” jerit Tina yang separuh badanya terjepit di pintu oleh Ayu.
“Astoge, Neng... Neng.... Ya satu-satu dong!” ucap pak sopir prihatin.
“Maklum, Bang, lowongan kerja gajinya gede, jadi, turun saja pakai berebut lobang,” kata Ayu seraya cengengesan setelah ia menarik mundur tubuhnya.
“Asal jangan pas kawin pakai berebut lobang!” celetuk pak sopir yang memendam rasa kesal.
“Hahaha...!”
Ayu dan Tina tertawa kencang mendengar banyolan pak sopir.
Ayu memberi kesempatan kepada Tina turun terlebih dahulu. Barulah kemudian ia menyusul keluar dengan pelan, agar tubuhnya tidak tergesek oleh pintu yang ukurannya hampir menjepit tubuh Ayu.
Ayu membayar ongkos untuk dua orang.
__ADS_1
“Lain kali jangan diulangi, minta berhenti pakai teriak kencang!” pesan pak sopir.
“Abang juga, lain kali kalau berhenti jangan rem mendadak. Untung kita masih pada utuh cantiknya!” balas Ayu.
Tanpa mau berpanjang debat, sang sopir memilih pergi membawa mobilnya yang kini kosong penumpang.
Kini tinggallah Ayu dan Tina berdua, seperti angka 10. Orang kurus dan gemuk berdiri berdampingan.
“Di mana, Yu?” tanya Tina sambil memandang ke sekitar.
Ayu tidak menjawab. Ia juga memandang daerah sekitar tempat mereka turun. Ia merogoh kantong tas merahnya dan mengeluarkan selipatan kertas putih.
“Nama jalannya sudah benar. Nama tempatnya... Keluarga... Hendrik. Nomor 99,” kata Ayu sambil membaca dengan seksama nama alamatnya.
“Nomor rumah ini 96,” kata Tina sambil melihat nomor yang ada di tembok samping pintu gerbang sebuah rumah.
“Berarti ke arah sana!” tunjuk Ayu lalu berjalan meninggalkan Tina.
Tina buru-buru mengikuti.
Daerah itu cukup hijau, karena banyak pohon yang tumbuh di pinggir kanan dan kiri jalan raya. Daerah itu masih termasuk wilayah Ibu Kota, tetapi kategori pinggiran, tidak jauh dari perbatasan dengan Bekasi.
Ayu dan Tina terus berjalan di jalan yang tergolong sepi, karena sejak tadi ia tidak melihat ada warga setempat yang terlihat beraktivitas di pinggir jalan atau di luar rumahnya. Tepat di daerah itu, jarang ada rumah warga. Selain ada tembok pembatas jalan yang cukup panjang, ada pula lahan kosong tidak terawat yang ditumbuhi rerumputan liar belaka.
Ayu dan Tina melewati sebuah jembatan kecil yang di bawahnya mengalir sungai kecil. Sesekali mobil dan sepeda motor melintas di jalan raya yang lebarnya sedang. Jika ada dua truk yang berpapasan, keduanya harus bergerak pelan agar tidak saling menyenggol.
“Pasti itu!” tunjuk Ayu yakin.
Tidak berapa lama, berhentilah keduanya di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam yang tembok tingginya juga berwarna hitam. Di sisi kanan gerbang teralis besi itu ada sebuah pintu kecil berwarna hitam pula, sehingga nyaris tidak dikenali sebagai pintu jika tidak diperhatikan dengan seksama. Di sisi atas dari tembok yang kiri ada sebuah tulisan besar berwarna merah yang berbunyi “Hendrik” dan di bawahnya ada angka 99.
“Tuh kan benar, ini tempatnya,” kata Ayu.
Sejenak mereka berdua berdiri diam memperhatikan tempat yang mereka hadapi. Mereka mencoba menembuskan pandangannya ke dalam, ke balik tembok. Namun sulit melihat ke dalam, sebab pandangan mereka terhalang oleh rimbunnya daun pohon yang tumbuh di belakang tembok.
Di belakang tembok tumbuh sederet pohon-pohon besar yang tinggi dan berdaun lebat. Maka wajar jika area luar tembok cukup penuh oleh dedaunan kering yang berserakan.
“Sepertinya di dalamnya luas,” kata Tina.
“Kok enggak ada pos jaganya?” kata Ayu sambil mendekati pintu gerbang. Tina juga mengikuti Ayu, seolah tidak mau jauh, apalagi tempat itu ia nilai agak angker. (RH)
__ADS_1