
Nyess!
Ketika Ayu membuka pintu ruangan berikutnya, hawa dingin dari dalam ruangan langsung berhembus menerpa tubuhnya. Jika di ruangan sebelumnya kental dengan aroma misik, tapi dari dalam ruangan ini aroma bunga melati langsung menusuk tajam indera penciumannya.
Namun, Ayu tetap harus masuk. Pintu ia tutup rapat kembali.
Kini Ayu berdiri tegak, diam menatap ke depan. Sebuah lorong lebar berwarna hitam dan remang yang kini dihadapai oleh gadis gemuk itu. Lorong bernuansa remang karena hanya ada lampu-lampu kecil berwarna biru redup yang terpasang di langit-langit yang tinggi. Jarak satu lampu dengan yang lainnya masing-masing 4 meter. Tidak terlihat jelas di mana ujung lorong itu.
“Allah!” sebut Ayu lirih seiring perasaannya yang syok. Jantungnya terasa meluncur jatuh ke kolam waterboom. “Ini uji nyali rumah setan ya?”
Ayu melangkah selangkah. Terkejut Ayu, ternyata kakinya gemetar. Hawa dingin yang cukup menusuk, ditambah aroma mistis dan nuansa gelap. Sadar bahwa kakinya gemetar, Ayu hanya mengerenyit menahan rasa takut yang menyerangnya.
“Bang Jago tega banget. Memang kerjaannya apa sih, tesnya pakai begini banget?” keluh Ayu tanpa menemukan jawabannya. “Mana dingin banget, jadi mau pepes, eh, pipis maksudnya.”
Ayu menepuk mulutnya sendiri karena salah kata.
“Jadi ketularan Tina saya.”
Ayu menelan salivanya. Ia coba bangun keberaniannya. Ia tegakkan wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam sehingga dadanya lebih membusung.
Tuuut!
Suara merdu dari lipatan bokong Ayu justru menghentak keluar di saat yang tidak perlu.
“Pakai kentut segala. Untung enggak ada orang,” ucap Ayu lirih sambil senyum sendiri. Lalu ucapnya agak keras, “Semangat! Berani! You are a monster!”
Ayu akhirnya memaksakan kakinya melangkah, meski gemetar. Tidak hanya kaki, tangan dan jari jemarinya juga gemetar.
“Hehehe....”
Setelah berjalan sepuluh meter jauhnya, tiba-tiba Ayu berhenti. Ia diam mematung, tetapi sepasang pupil matanya liar bergerak, seolah mencari-cari. Jelas ia mendengar kekehan suara lelaki tua, meski terdengar pelan.
Setelah diam satu menit tanpa berani bergerak, akhirnya Ayu memberanikan diri untuk menengok ke belakang. Dan....
Tidak ada siapa-siapa dan apa-apa di belakang.
“Hih!” Ayu tergidik. “Saya cepat-cepat saja, biar cepat sampai!”
Gadis gemuk itu akhirnya memutuskan berjalan cepat. Selain memang manahan air seninya, rasa takut juga menuntutnya ingin segera lari.
“Hehehe....”
Spontan Ayu berhenti lagi. Telinganya kembali menangkap suara kekehan seorang kakek. Kali ini sedikit lebih keras, membuat Ayu yakin bahwa dia tidak halusinasi. Ia cepat menengok melihat ke belakang. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Ia kembali melihat ke depan. Kosong juga, tapi sudah terlihat ujung lorong yang berupa tembok. Tidak jelas apakah buntu atau di sana nanti ada pintu.
Tanpa Ayu ketahui, pintu di ujung lorong yang cukup jauh di belakangnya terbuka. Masuklah Tina yang seketika itu juga dilanda ketakutan. Lebih takut daripada yang dialami Ayu sebelumnya.
__ADS_1
“Siapa itu?” gumam Tina dengan kedua rahang yang gemetar, sama dengan semua anggota tubuhnya.
Tina melihat sosok gelap cukup jauh di depan sana. Ia pun berpikir.
Diketahui dari urutan masuknya ke ruangan itu dan dilihat dari bentuk sosoknya yang seperti kue bantal nan enak, Tina segera menyimpulkan bahwa sosok di depan sana adalah Ayu.
“Pasti itu Ayu,” terka Ayu lirih sambil tangannya saling menggenggam menahan dingin. “Ah, saya kagetin saja.”
Maka, niat untuk menjahili Ayu menciptakan separuh keberanian dalam diri Tina, terlebih ia tidak sendirian sekarang.
Meski gemetaran, Tina berjalan cepat mencoba mengejar Ayu. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar Ayu tidak sadar akan dikejutkan. Namun, tetap saja suara langkah sepatu Tina menimbulkan suara.
Mendengar ada suara langkah kaki yang datang mendekat dari belakang, Ayu kembali berhenti. Ia tegang, diam mematung seperti ayam mendengar suara dari alam kubur. Bagi Ayu, suara langkah itu semakin dekat. Ia berpikir, ia harus melihat ke belakang.
Sementara Tina, sambil tersenyum rapat menahan tawa dan dingin, semakin mendekati Ayu, hingga tujuh langkah....
“Aak!” pekik Tina tiba-tiba. Oleh sebab saking girangnya akan menjahili Ayu, tanpa terencana, satu kaki Tina terantuk belakang kakinya sendiri.
Ayu terkejut bukan main mendengar jeritan di belakangnya. Spontan dia berbalik dengan gerakan ingin mengejutkan setan di belakangnya. Namun, kosong.
“Aaa...!” jerit Ayu keras dan panjang saat satu kakinya ada yang memegang dengan kencang.
“Aaa...!” Tina yang jatuh tersungkur ke depan lalu memegang satu kaki Ayu, turut menjerit nyaring, terbawa oleh ketakutan Ayu.
Tanpa melihat lagi makhluk apa yang memegang kakinya, Ayu spontan berbalik dan berlari sekencang tenaga.
Meski kaki Ayu berhasil lepas dari cengkeraman tangan itu, tetap saja itu membuatnya jatuh berdebam ke depan.
Melihat sahabatnya terjatuh keras, Tina berinisiatif segera merangkak menggapai kaki Ayu lagi. Niatnya kali ini bukan untuk menakuti, tapi untuk menolong.
“Aaa... aaa... aaa...!”
Ayu justru berteriak-teriak histeris pejamkan mata. Sementara kakinya menghentak-hentak membabi buta.
Dak!
“Aww!” jerit Tina karena wajahnya tertendang sepatu Ayu. Tubuhnya terlempar balik ke belakang.
Sementara Ayu tetap menjerit dan kakinya terus menyepak-nyepak.
“Ayuuu!” teriak Tina kesal. Ia didera kesakitan pada wajahnya.
Seketika Ayu berhenti menjerit ketakutan dan kakinya pun berhenti. Suara panggilan itu ia kenal. Segera dia menengok ke belakang dalam posisi yang masih terbaring di lantai. Melihat makhluk yang terduduk di belakangnya itu, Ayu terkejut melotot.
“Tina?!” sebut Ayu.
__ADS_1
“Iya, saya Tina, Ayu jeleeek!” jerit Tina kesal bukan main. Ingin rasanya ia menangis. Tendangan Ayu membuat wajahnya berdenyut-denyut. “Toge banget, muka saya pasti bengkok kamu tendang.”
Ayu buru-buru bangun duduk dengan keheranan.
“Kok kamu tahu-tahu duduk di situ, Tin?” tanya Ayu.
“Tahu-tahu! Kamunya saja yang seperti orang kesirupan!” dumel Tina.
“Kesurupan!” ralat Ayu.
Keduanya lalu bangun dengan wajah sama-sama meringis, menahan sakit karena adegan jatuh-jatuh barusan.
“Begini banget tesnya,” ucap Ayu mengeluh.
Tiba-tiba....
“Hehehe...!”
Kembali terdengar suara lelaki tua tertawa, tetapi tidak terlihat wujudnya. Suara tawanya lebih keras dari dua kali tawa sebelumnya. Kali ini pun lebih berkepanjangan, seolah sedang menertawakan Ayu dan Tina.
“Lariii!” teriak Ayu kepada Tina lalu buru-buru bangun dan berlari menuju ujung lorong.
“Aaa...!” jerit Tina panjang. Tahu-tahu tubuhnya sudah melesat membalap lari Ayu menujung ujung lorong.
Tubuh berat membuat Ayu tidak bisa berlari sekencang ayam.
“Hehehek...!”
Suara tawa orang tua itu semakin panjang dan keras. Benar-benar sedang menertawakan ketakutan Ayu dan Tina.
“Tidak ada gincunya!” teriak Tina panik. Ia telah sampai di ujung lorong.
“Bagaimana ini, kok enggak ada pintu?!” tanya Ayu berteriak sambil datang terengah-engah kepada Tina. Ia meringis menahan lelah. Meski jaraknya tidak begitu jauh, tapi kalau lari sprint seperti itu, tetap saja menghajar jantung.
“Balik lagi!” kata Tina sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena menahan takut yang luar biasa.
Plak!
Mendadak Ayu menepuk kepala Tina dengan keras, membuat sahabat langsingnya itu terkejut dan heran.
“Ini pintu, Tinaaa!” semprot Ayu kesal sambil menunjuk tembok di sisi kanannya.
Tina terdiam, lalu memperhatikan tembok yang dimaksud. Setelah ia lihat seksama, ternyata memang ada pintu. Remangnya ujung lorong itu, ditambah warna yang sama dengan dinding, membuat pintu yang tertutup itu tidak terlihat jelas.
Ditemukannya pintu dan seiring hilangnya suara tawa orang tua, mengurangi rasa takut mereka. Perasaan mereka bisa lebih tenang seperdelapan ketenangan. Namun, tidak ada handle di pintu itu, selain sebuah lubang yang hanya bisa dimasuki oleh dua jari tangan.
__ADS_1
Ayu memasukkan dua jari tangannya lalu mencoba mendorong, tetapi pintu itu bergeming. Kemudian dia coba mendorongnya ke samping, maka barulah pintu itu bergeser. (UT)