Manusia 2 Alam

Manusia 2 Alam
10. Makan dan Belanja Sepuasnya


__ADS_3

"Nyonya Rudy adalah perempuan manusia asli, putri tertua seorang pengusaha ekspor tekstil,” kata Bang Jago menjawab pertanyaan Lussy, tanpa beralih pandangannya dari jalanan. Bang Jago menambahkan, “Nyonya tidak punya mata merah, lidah ular atau gigi taring.”


“Tapi....” Kali ini yang bersuara adalah Ilham Sanusi, pria berusia 40 tahun yang akan bekerja sebagai tukang kebun. Ia bertubuh kurus, tetapi memiliki kekerasan otot yang menunjukkan bahwa ia adalah lelaki pekerja berat. “Tapi, kita aman kan kalau bekerja di sana?”


“Aman!” jawab Sabita cepat. “Memang menyeramkan, tetapi Keluarga Rudy ataupun keluarga besar Hendrik tidak jahat. Seperti yang Nyonya selalu ingatkan kepada karyawan baru, kesetiaan. Kesetiaan kita kepada Keluarga Rudy atau Hendrik harus selalu dijaga.”


“Pokoknya tenang saja, untuk urusan uang, Tuan dan Nyonya Rudy royal dan tidak pelit!” sambung Bang Jago.


“Oke! Nanti, setelah kita nonton film dan makan di restoran, kalian boleh belanja barang-barang pribadi sepuas kalian!” seru Sabita.


“Horeee!” sorak suara mayoritas. Sementara Cucun Maghfirah hanya diam, meski ia senang tapi tidak begitu larut.


“Tapi ingat, jika belanja kalian lebih dari empat juta, maka tanggung sendiri!” tandas Sabita.


“Siap, Mbak Sabita!” teriak Jur sambil bangkit berdiri dari kursinya, layaknya seorang kopral menjawab komandannya.


“Mas Jur benar-benar gagal,” ucap Tina genit dengan tatapan sayu terkagum dengan kegagahan Jur.


“Gagah, Tinaaa, bukan gagal!” ralat Ayu lagi.


Mereka semua hanya tertawa rendah. Keseringan Tina berkata salah membuat mereka akhirnya paham bahwa gadis cantik kurus itu punya kelainan. Namun, mereka tidak mempermasalahkan kekurangan itu, tetapi justru itu mereka anggap unik dan menghibur.


Setelah perjalanan selama satu jam lebih, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan megah di Jakarta Pusat. Mereka turun dari bus seperti turis domestik. Sabita memimpin mereka.


Sabita sudah merencanakan perjalanan itu dan sudah memilih jenis hiburan apa yang kira-kira tepat diberikan kepada mereka. Menurutnya, menonton film komedi di bioskop adalah hiburan yang tepat agar tubuh mereka bisa beristirahat tetapi otak dan perasaan bisa segar kembali.


Di dalam ruangan bioskop yang gelap, tawa mereka meledak-ledak. Suara tawa Ayu paling khas terdengar kencang terbahak-bahak. Snack popcorn atau berondong yang mereka beli lebih banyak bertumpahan karena tawa mereka yang berguncang-guncang.


Hingga film tamat dan penonton bubar, buntut tawa mereka masih tersisa.

__ADS_1


“Hahaha! Sutradaranya kehabisan ide, tukang becak narik tapi duduknya di belakang. Hahaha!” kata Ayu.


“Kamu tuh yang error, Yu!” sergah Sudinah sambil berjalan pelan di antara penonton yang menuju pintu keluar. “Dari Sabang sampai Marauke, semua tukang becak duduk di belakang.”


“Iya nih Ayu, tukang becek duduk saja dipermalasin,” timpal Tina pula.


“Dipermasalahin, Tina Sayang, bukan dipermalasin!” Kali ini yang meralat kata salah Tina adalah Jur.


“Mas Jur perhatian bengek!” ucap Tina girang sambil kesepuluh jemari tangannya saling berpelukan di bawah dagu.


“Hahaha...!” tertawalah Sabita dan para rekan yang semakin akrab.


Sekeluarnya mereka dari ruang bioskop, mereka pun langsung masuk ke restoran.


Demi menjaga kekompakan, persaudaraan, dan keakraban, tiga set meja mereka gabung jadi satu meja yang memanjang, sehingga mereka ber-12 bisa makan dalam satu lingkaran.


Menilai bahwa jarang ada kesempatan kedua seperti itu, maka mereka pun memesan menu yang tidak tanggung-tanggung. Tidak sedikit pun terlihat ada keberatan tergambar dari wajah Sabita. Urusan uang bukan hal menjadi beban, semua sudah dijamin oleh Nyonya Rudy, yang penting laporannya ada tercatat lengkap.


Sudinah selaku orang dapur dan tukang masak, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba menu yang jarang ada tapi menurutnya lezat.


Kaum lelaki tampak mendominasi dengan porsi lebih dari takaran normal. Johan dan Jur wajar jika makan banyak karena tubuh mereka juga besar. Namun, agak aneh jika seorang Ilham yang bertubuh kurus makan banyak.


“Wuih! Ilham, saya curiga kamu sedang ketempelan setan!” tukas Jur yang duduk berseberangan dengan Ilham.


“Ja... jangan takut-takuti saya kamu, Jur!” kata Ilham sambil melotot serius kepada Jur. Sementara mulutnya dalam kondisi penuh oleh daging cumi. Perkataan Jur itu langsung membuatnya merinding.


“Lihat saja, badanmu kecil begini, tapi kamu makan lebih banyak dari Ayu,” kata Jur.


“Saya akan bekerja berat nanti di kebun, butuh protein 56 gram sehari, 2.000 kalori per hari, 38 gram serat, macam-macam mineral seperti kalsium, zat besi sampai zat baja, pottasium, magneisum sampai mesiu, dan macam-macam vitamin dari A1 sampai awan. Jadi, saya harus pastikan semua kebutuhan tubuh saya dalam beraktifitas terpenuhi,” kata Ilham yang terdengar sarat dengan ilmu gizi.

__ADS_1


“Hahaha! Tapi apakah kamu tahu berapa banyak dada ayam yang harus kamu makan untuk dapat 56 gram protein dan berapa banyak nasi dan daging untuk 2.000 kalori?” tanya Jur lagi. Sebab dia sebagai seorang yang menjaga kecantikan otot juga mengerti tentang jatah asupan makanan bagi tubuh.


“Tidak tahu,” jawab Ilham jadi bingung.


“Hahaha!” tertawalah mereka mendengar jawaban Ilham.


“Hari ini, yang penting kita nikmati dan nanti ketika pulang, kita bisa tidur nyenyak sampai bablas!” sahut Sabita menengahi.


“Ah, Tina mah tidak mau bablas, nanti malah menikah!” sahut Tina pula.


“Meninggal, Tinaaa, bukan kawin!” ralat Ayu.


“Hahaha...!”


Tibalah mereka pada tahapan akhir, yaitu belanja puas terbatas. Yang pertama mereka serbu adalah pusat toko pakaian. Bagi kaum wanita, toko kosmetik wajib dimampiri. Sepatu dan berbagai asesoris pun mereka beli. Termasuk benda-benda keamanan “dalam negeri” seperti celana dalam dan bra mereka beli. Khusus bra, para lelaki tidak beli.


Mungkin sebagai bentuk kesyukuran atas rejeki yang Tuhan berikan, pakaian yang baru mereka beli langsung dipakai di tempat, lengkap dengan sepatu baru dan kacamatanya. Mereka bersikap santai saja meski banderol harga masih tersemat.


Dan puncaknya adalah ketika mereka bersepuluh, plus Sabita, melangkah bersama keluar dari pintu utama mall dengan penampilan ganteng dan cantik. Semua yang terlihat di tubuh mereka serba baru. Senyum lebar dan tawa kepuasan menghiasi wajah-wajah berkacamata hitam itu.


Sambil membawa tas-tas belanjaan, satu per satu mereka naik ke dalam bus yang datang menjemput tepat waktu.


Kesepuluh karyawan baru itu benar-benar dimanjakan. Pulang pun mereka diantar sampai ke depan rumah masing-masing, kecuali yang rumahnya terpojok di dalam gang.


“Bang Jagooo!”


Ketika Ayu dan Tina turun di dekat rumah mereka, sekelompok wanita dewasa berteriak memanggil Bang Jago. Mereka terkejut melihat penampilan Bang Jago yang gagah. Terlebih membawa bus mewah membuat kata “keren” melekat di wajahnya. Memang, hampir semua orang yang tinggal di lingkungan itu dan mengenalnya, tidak tahu apa pekerjaan pasti pria tersebut.


Ayu dan Tina adalah tetangga dekat Bang Jago. Dari Bang Jagolah keduanya mendapat info lowongan pekerjaan.

__ADS_1


Kesepuluh karyawan baru sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka tinggal istirahat dan menjaga amanah dari Nyonya Rudy, yaitu tidak bercerita ke mana-mana tentang peristiwa yang mereka alami demi mendapat pekerjaan itu. Terlebih mereka sudah menandatangani surat perjanjian.


Namun, bercokol pula rasa penasaran yang tinggi di dalam pikiran mereka. Masing-masing penasaran dengan suasana hari-hari yang akan mereka lewati saat sudah aktif bekerja. (RH)


__ADS_2