
Sebanyak 35 lima orang yang datang melamar di rumah besar bergaya kastil eropa itu. Namun, Keluarga Rudy Hendrik hanya membutuhkan 10 orang, artinya akan ada 25 orang yang tidak lulus.
Tahap pertama yang harus mereka lalui untuk diterima adalah mengisi jawaban 20 soal isian di kertas soal. Pertanyaan-pertanyaan tidak sesulit soal ujian anak SD, seperti pertanyaan: Apakah Anda serius ingin bekerja? Apa agama Anda? Apakah Anda sudah menikah? Apakah Anda setuju gaji 5 juta sebulan? Apakah Anda bisa menyetir mobil? Apakah Anda punya penyakit jantung? Dan lainnya.
Setelah menyelesaikan semua soalan tersebut, barulah mereka dipanggil satu per satu. Berdebar-debar Ayu dan Tina menunggu namanya dipanggil agar masuk ke dalam ruangan tempat wawancara. Ayu bahkan tidak bisa tenang, sesekali bangun berdiri, sesekali duduk. Bahkan ia sudah tiga kali ke toilet sebelum namanya dipanggil.
Berbeda dengan Tina. Ia duduk alim, meski keringat bermunculan di dahinya. Berulang kali ia harus menyeka dahi dan wajahnya dengan tisu. Sepasang bibirnya terlihat seperti mulut ikan dalam membaca doa.
Sementara Jur, dia duduk tenang dengan kepercayaan diri yang tinggi.
“Ayu Nostalgia!” panggil wanita berseragam hitam-hitam yang tadi menjadi penyambut tamu. Ia memanggil dari ambang pintu ruangan tempat wawancara.
“Saya!” sahut Ayu dengan wajah yang seketika tegak. Namun, ia tidak langsung berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung 1 inchi, lalu menghembuskan napasnya pelan-pelan.
Selanjutnya ia bangun berdiri dan berjalan pergi masuk ke dalam ruangan yang kemudian pintunya di tutup rapat.
Ayu berjalan masuk.
Sepasang mata Ayu mendelik. Aroma khas bau misik begitu kuat. Aroma yang seharusnya wangi menyenangkan, justru berubah horor. Ia tidak menyangka jika ruangan tempat wawancara gelap seperti warung remang-remang. Dinding ruangan didominasi warna merah gelap dengan lantai terbuat dari kramik berwarna hitam. Lampu yang menyala hanya sebutir bohlam berwarna biru redup. Suasana remang ruangan itu dihiasi dua kepala banteng yang menempel sangar di atas dinding, tepat satu meter di atas kepala lelaki yang duduk di belakang meja kayu besar.
Lelaki berpakaian biru gelap itu duduk menghadap ke belakang bersama kursinya. Kepalanya mengenakan blankon khas orang Jawa. Di depan meja ada sebuah kursi kosong.
“Horor banget,” gumam Ayu.
Ayu berjalan mendekat ke meja.
Setelah dekat, Ayu memelankan langkahnya sambil kepalanya dijulurkan mencoba melihat apa yang sedang dilakukan oleh lelaki itu. Jantungnya berdebar-debar.
“P... Pak!” panggil Ayu. “Saya sudah di sini, Pak!” kata Ayu dengan gerakan yang hati-hati.
“Duduk!” seru lelaki itu sambil tiba-tiba berbalik menghadap kepada Ayu.
“Kolor kodok!” pekik Ayu terkejut saat melihat wajah lelaki itu. Lalu teriaknya lagi, “Bang Jago?!”
“Silakan duduk, Ayu!” kata lelaki berkumis tebal bermata lebar itu, sambil tersenyum melihat keterkejutan gadis gemuk itu.
“Hahaha! Hampir saja saya kejar Bang Jago sampai kuburan kalau info lowongannya tipu!” kata Ayu kencang setelah tertawa terbahak-bahak. Ia belum juga duduk. Lelaki yang duduk di depannya itu adalah orang yang memberikannya info lowongan kerja di tempat tersebut.
“Ehhem!” dehem wanita di dekat pintu, bermaksud menegur Ayu yang bersikap tidak sepatutnya.
Ayu mendadak diam lalu menengok kepada wanita pemanggil absen yang duduk di dekat pintu yang tertutup. Ayu segera sadar diri.
“Silakan duduk!” kata lelaki berusia 35 tahun itu. Ia populer dikenal dengan nama Bang Jago, meski nama aslinya adalah Jupri Junedi. Orang tua-orang tua yang mengenal masa kecil Jupri, biasa memanggilnya dengan panggilan “Juju”.
Ayu segera duduk di kursi sambil tersenyum kaku kepada Bang Jago.
“Meski kita kenal, tapi saat ini urusan kerja,” ujar Bang Jago mengingatkan.
__ADS_1
“I... iya, Bang.”
“Saya akan bertanya, tolong Ayu jawab dengan jujur, ya?”
“Siap, Bang.”
“Semua karyawan yang diterima bekerja di sini, harus tinggal di sini juga. Baru bisa pulang pada hari libur yang hanya satu hari dalam dua minggu. Apakah Ayu siap?” tanya Bang Jago, layaknya seorang pejabat di rumah tersebut.
“Libur hanya satu hari dalam dua minggu? Bujubuneng!” gerutuh Ayu.
“Berarti Ayu tidak bersedia?” tanya Bang Jago seolah menyimpulkan.
“Bukan bukan bukan!” bantah Ayu cepat. “Tapi liburnya hari apa, Bang?”
“Pelamar tidak boleh bertanya!” tandas Bang Jago.
“Saya siap! Saya siap!” seru Ayu cepat dengan kencang. Ia takut jika Bang Jago terlanjur mencoret namanya, sebab Bang Jago sedang memegang sebuah pena dan selembar kertas yang adalah kertas tes yang sebelumnya mereka jawab di luar.
Sambil melihat kertas yang dipegangnya, Bang Jago bertanya lalu memandang Ayu dengan sorotan yang tajam, “Jadi, Ayu masih perawan?”
“Iya dong!” jawab Ayu cepat dengan setengah berteriak dan mata mendelik kepada lelaki berkepala tiga di depannya.
“Jujur?” tanya Bang Jago lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Eh, Bang Jago, jangan macam-macam. Tangan kanan rumah sakit, tangan kiri kuburan nih!” kecam Ayu sambil berdiri dari duduknya dan kepalkan tangannya bergantian.
“Eh! Jangan jangan jangan, Bang!” seru Ayu cepat memotong kata-kata Bang Jago. Lalu katanya sambil cengengesan, “Tangan kanan masak mie rebus, tangan kiri cuci baju. Hehehe!”
Bang Jago hanya tersenyum melihat luruhnya kesangaran Ayu yang sebenarnya adalah tetangganya.
“Satu hal yang penting. Jika bekerja di sini, apakah Ayu mau berjanji? Dan jika melanggar akan diberi hukuman yang berat. Bersedia?” tanya Bang Jago.
“Janji apa?” tanya Ayu.
“Tidak boleh bertanya!” Bang Jago mengingatkan.
Ayu langsung menutup mulutnya dengan merengut.
“Jika keberatan, tidak apa-apa. Berarti tidak lulus,” kata Bang Jago.
“Eh, Bang Jago, jangan buru-buru gitu dong! Saya bersedia!” sergah Ayu kesal. Lalu ucapnya lirih, “Kapan lagi ada peluang gaji besar.”
“Soal terakhir. Kalau Ayu tidak punya penyakit jantung, berarti Ayu tahan kaget, ya?” tanya Bang Jago lagi.
“Iya, dong,” jawab Ayu percaya diri.
“Sekarang Ayu masuk ke ruangan selanjutnya kalau memang tidak punya penyakit jantung. Lulus tidaknya Ayu tergantung dari tes di ruangan itu. Pesan saya, jangan pernah pingsan atau kabur!” kata Bang Jago mengarahkan.
__ADS_1
Mendelik Ayu mendengar pesan terakhir Bang Jago. Di dalam kepalanya pun muncul dugaan-dugaan yang menakutkan. Seketika jantungnya berdebar-debar.
“Silakan,” kata Bang Jago seraya mengarahkan tangan kanannya ke pintu lain yang ada di ruangan itu.
“Iya,” jawab Ayu singkat dengan senyum kecut di wajah bakpaonya.
Ayu bangkit dengan perasaan diselimuti keragu-raguan. Ia melangkah lambat menuju pintu berwarna hitam yang tertutup. Warna hitamnya seolah menjadi simbol kegelapan nasib para pelamar hari itu.
“Jangan lupa tutup rapat kembali pintunya!” pesan Bang Jago saat Ayu akan membuka pintu.
Akhirnya Ayu membuka pintu itu dan bergerak masuk. Tidak lupa ia menutup kembali pintunya dengan rapat.
“Tina Cihuy!” panggil karyawan wanita kepada pelamar berikutnya agar masuk ke dalam ruang wawancara.
Tina bergegas dengan berlari kecil datang masuk ke dalam ruangan, meski jantungnya berdebar-debar.
“Aaaa! Bang Jago? Ini benaran Bang Jamu?” pekik Tina histeris, seperti fans fanatik yang akhirnya bertemu dengan sang idola.
“Bukan Bang Jamu, tapi Bang Jago,” ralat Bang Jago. Sebagai tetanga, ia tahu bahwa Tina adalah orang yang suka salah sebut kata. Entah penyakit apa namanya.
Meski suasana ruangan itu sempat membuat Tina agak takut, akhirnya rasa ciut itu berganti rasa gembira. Tina tertawa girang. Bang Jago hanya tersenyum-senyum melihat reaksi gadis cantik bertubuh kurus itu.
“Ehem!” dehem karyawan wanita di pintu, mengingatkan Tina agar menjaga tingkahnya.
Tina seketika terdiam. Ia segera sadar bahwa ia sedang bertingkah salah. Akhirnya ia memilih tertawa tanpa suara, karena masih diliputi kegirangan. Ia tahu bahwa Bang Jago adalah seorang duda. Meski Bang Jago adalah tetangganya, tetapi Tina jarang sekali bertemu dengannya.
“Silakan duduk, Tina!” kata Bang Jago. “Ingat, kita dalam urusan pekerjaan.”
Tina hanya menjawab dengan manggut-manggut seraya masih tersenyum tanpa henti.
Bang Jago pun kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan kepada Ayu.
Sebenarnya, cara wawancara Bang Jago yang sifatnya menggoda hanya dilakukan khusus kepada Ayu dan Tina karena mereka ada sesama tetangga. Namun bagi pelamar yang lain, Bang Jago tetap bersikap formal tanpa begitu mengorek status perawan seorang perempuan.
Sebenarnya Tina merasa ngeri untuk bekerja di rumah besar itu, tetapi karena bertemu Bang Jago yang sepertinya punya kedudukan di rumah itu, ia jadi bertekad harus kerja di kediaman mewah itu.
Bang Jago pun mengingatkan Tina tentang tes penentu di ruang berikutnya.
Akhirnya, dengan perasaan yang dag dig dug, Tina pergi masuk ke ruangan berikutnya.
“Mahjur Supeno!” staf dekat pintu memanggil pelamar berikutnya.
Maka berdirigagahlan Jur. Rupanya, nama lengkapnya adalah Mahjur Supeno. Ia menjadi pusat perhatian para pelamar yang lain yang masih menunggu giliran panggil.
Bagi pelamar yang sudah menikah atau memiliki orang yang masih harus ditanggung dan diurusi di rumah, dinyatakan tidak lulus dan diminta keluar lewat pintu sebelumnya. (UT)
*****
__ADS_1
Yuk dukung novel ini dengan rate, like, komen, dan favorit. Terima kasih, ya.