Manusia 2 Alam

Manusia 2 Alam
2. Melamar di Rumah Tua


__ADS_3

"Itu ada belnya!” kata Tina kepada Ayu sambil menunjuk dengan matanya ke tembok kanan sisi gerbang.


Baru saja keduanya mau mendekati si bel, sebuah mobil mikrolet berhenti di pinggir jalan, tepat di depan gerbang, hampir mencium bokong Ayu.


“Kolor kodok!” pekik Ayu terkejut karena tahu-tahu ada benda besar sangat dekat di sampingnya. Sampai-sampai ia menepuk moncong mikrolet sambil mencecar sopir mobil dengan ocehan, “Eh, Bang Sopir! Kira-kira dong kalau berhenti, enggak bisa bedakan mana sapi mana cewek cantik!”


“Hahaha!” sopir mikrolet justru tertawa tanpa nafsu menanggapi kemarahan Ayu.


Dari dalam angkot turun seorang pria mempesona, karena Ayu dan Tina jadi terdiam terpesona melihatnya.


Pria itu seorang yang besar, besar karena otot-ototnya yang besar. Ia mengenakan celana jeans hitam bersepatu kets putih bergaris biru. Sabuk kulitnya berwarna hitam berkepala tengkorak. Bajunya kemeja ketat lengan pendek warna putih, memperlihatkan tonjolan otot dada dan lengan yang berombak-ombak. Lehernya tampak kokoh dengan tampilan rambut cepak. Wajahnya tidak begitu tampan, tetapi kacamata hitamnya yang seperti kacamata orang buta membuatnya terlihat keren. Ia pria muda yang berhidung mancung, bertulang rahang kokoh dan berbibir seksi agak tebal. Pria itu berusia 25 tahun. Ia membawa sebuah map cokelat.


“Uuuh, keren banget,” desah Ayu dengan mulut terngangah dan pandangan mata tanpa berkedip kepada pemuda besar itu.


Tina juga tanpa sadar ternganga dan memandang tanpa kesadaran penuh, meski tanpa desahan dan komentar.


Pria itu segera menyelesaikan pembayarannya kepada sopir. Ia belum sadar bahwa ada dua perawan yang sedang terpesona memandanginya.


Sopir yang melihat sikap Ayu dan Tina, berbuat iseng dengan menekan klakson mobilnya.


Tit!


“Kolor kodok!”


“Ak!”


Ayu dan Tina memekik terkejut. Sambil tertawa, pak sopir segera kabur membawa mobilnya.


“Sopir kodok!” maki Ayu gusar sambil buru-buru melepas satu sepatunya hendak ia lempari si sopir. Namun apa daya, mobil itu sudah melaju kabur.


“Eh, mau melamar ya?” tanya si pemuda gagah kepada Tina.


“Iya, Mas,” jawab Tina seraya senyum-senyum malu, lebih malu dari kucing.


“Iya iya iya,” sela Ayu sambil bergerak ke depan pria itu dan membelakangi Tina. Sambil senyum-senyum pula, ia ulurkan tangan kanannya yang menenteng sepatu. “Kenalkan, saya Ayu. Eh, maaf, hehehe.”


Ayu terkejut saat sadar bahwa tangan kanannya yang mau bersalaman masih memegang sepatu. Buru-buru ia jatuhkan sepatunya dan membuka tangannya untuk bersalaman.


“Panggil saja Jur,” kata pemuda itu sambil menyambut tangan empuk Ayu dengan senyum kecil menggoda. Lalu katanya lagi, “Juragan Empang maksudnya. Hahaha!”


Ayu dan pemuda bernama Jur itu tertawa bersama.


“Saya Tina!” seru Tina sambil menyerobot tangan Jur dari tangan Ayu.


“Oh, Tina. Saya Jur,” kata Jur lagi dengan hangat.


“Mas genteng sekali,” puji Tina, tetap senyum-senyum malu, tapi justru membuat wajah Jur membeku sejenak, mencoba mencerna perkataan itu.


“Ganteng, bukan genteng!” hardik Ayu kepada Tina.

__ADS_1


“Oh, hahaha!” Jur baru paham setelah mendengar ralat dari Ayu. Ia pun tertawa.


“Eh, Mas Jur! Mau melamar saya? Eh salah, maksudnya, mau melamar juga?” tanya Tina, kali ini dia sadar sendiri bahwa satu katanya kembali salah.


“Iya,” jawan Jur singkat sambil tersenyum lebar melihat gaya komunikasi Tina.


“Pasti mau melamar jadi sekut, ya?” terka Ayu.


“Apa itu sekut?” tanya balik Jur.


“Itu loh, Mas, sekutiri,” jawab Tina.


“Sekuriti, Tinaaa!” teriak Ayu kesal kepada Tina.


Setelah tertawa enteng menghadapi dua perawan itu, Jur pun kemudian memutuskan.


“Ayo, nanti kita telat!” ajaknya.


“Eh iya, nanti telat kita,” ucap Ayu tersadar.


Ayu buru-buru berjalan mendekati tembok yang ada tombol belnya. Ayu langsung menekan bel yang tingginya setinggi kepalanya. Namun, tidak terdengar suara apa pun tanda bahwa bel itu berbunyi atau berfungsi.


Ayu menekan lagi. Lalu diam menunggu. Tidak ada suara. Ayu menekan lagi, tidak ada suara. Ia pencet lagi, tapi lebih lama.


“Kok enggak ada suaranya?” tanya Ayu dengan wajah mengerenyit. Ia kembali menekan bel dan menahannya agak lama.


“Tolong jangan main bel!” bentak satu suara keras dan nyaring dengan tiba-tiba.


Tina dan Jur juga sempat terkejut, terlihat dari hentakan tubuhnya yang merespon dengan spontan.


Bentakan itu cukup membuat Ayu menelan salivanya. Perasaannya agak bergetar mendapat bentakan tiba-tiba seperti itu.


Mereka bertiga memperhatikan ke atas dengan seksama. Ternyata di atas tembok ada sebuah toa kecil dan kamera yang dipasang di tiga sudut.


“Apa tujuan kalian datang?” tanya suara tadi. Suara perempuan itu jelas berasal dari speaker kecil di atas sana.


“Kita mau melamar pekerjaan!” sahut Jur, sedikit berteriak.


“Tidak usah berteriak, Ganteng!” hardik suara tersebut. “Kalian bicara pelan pun saya bisa dengar.”


“Eh, tahu juga dia kalau saya ganteng,” ucap Jur lirih lalu tertawa sendiri.


Jregr!


Mendelik terkejut Ayu, Tina dan Jur saat tiba-tiba pintu besi hitam yang ada di tembok sebelah kanan bersuara dan terbuka sendiri.


“Masuklah sampai ke teras rumah. Bergabunglah bersama dengan pelamar yang lain!” perintah suara itu.


“Ayo ayo ayo!” seru Ayu cepat sambil berlari kecil ke pintu yang terbuka, seolah takut ketinggalan kereta.

__ADS_1


Tina pun terbawa oleh tingkah Ayu sehingga ia ikut berlari kecil. Sementara Jur memilih bersikap tenang dengan melangkah santai memasuki pintu.


“Waaah!” desah Ayu dan Tina ternganga lebar. Keduanya berdiri diam menyaksikan apa yang mereka lihat.


Jur jadi terbawa. Ia pun berdiri takjub dengan bibir sedikit terbuka. Bahkan ia melepas kacamatanya demi melihat secara jelas pemandangan di balik tembok kediaman Hendrik itu.


Deretan pohon besar yang tumbuh teratur membentuk pagar jalan raksasa menuju ke dalam sana. Di bawah setiap pohon tegak tiang-tiang besi yang diatasnya ada lampu berbohlam sebesar bola sepak bergaya klasik. Jalan lebar tempat mereka kini berdiri terbuat dari batu alam palimanan berwarna gelap. Tanah di luar dari jalan itu adalah rerumputan halus yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar. Bahkan beberapa pohon adalah jenis beringin tua yang tampak angker.


Hutan kecil itu tampak begitu luas. Mereka bahkan tidak bisa melihat batas tepian lahan tersebut.


Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat jauh ke depan. Ada sebuah bangunan yang membuat mereka kagum sekaligus agak mengerenyit. Sebuah bangunan rumah tua bergaya kastil Eropa seperti istana penyihir di zama kuno. Puncaknya memiliki menara-menara kecil, seolah tempat Putri Tidur terlelak bertahun-tahun. Atap dan gentingnya berwarna hitam dengan dinding pun berwarnah gelap. Daun pintu dan jendela berwarna merah gelap. Mereka tidak bisa menebak, rumah itu memiliki berapa lantai.


Di sisi kiri halaman rumah unik bak istana kecil itu, berdiri sebuah patung besar berwujud makhluk bertanduk, bermata bulat melotot, berlidah panjang menampakkan gigi-gigi runcing.


“Ayu, pulang saja yuk!” ajak Tina dengan mimik yang mengerenyit. “Tempatnya seram begini. Lihat saja tuh payungnya.”


“Patung. Itu kan hanya patung, Tina. Kapan lagi ada pekerjaan buat lulusan SMP seperti kita yang bisa dapat gaji 5 juta sebulan? Kalau memang ada setan benarannya, baru kamu boleh mabur. Mungkin bosnya suka nuansa horor,” kata Ayu.


“Jangan takut, ada Mas Jur di sini!” kata Jur jumawa lalu berjalan lebih dulu dengan gaya gagah bak seorang komandan prajurit. Kacamata telah dipasang kembali di wajahnya.


“Ayo!” ajak Ayu sambil menarik paksa tangan Tina.


Bangunan klasik berornamen Eropa itu ada pada jarak 500 meter. Semakin mereka dekati, semakin terlihat jelas bahwa rumah itu besar dan luas. Tak hentinya mereka melihat ke sana dan ke sini. Selain rumah kastil tersebut, ada juga bangunan lain di sisi kiri yang lebih meyerupai gudang atau rumah sederhana tanpa bertingkat.


Ketika jarak mereka semakin dekat, barulah mereka bisa melihat bahwa sebenarnya bangunan itu tidak tua. Pilihan jenis batu alam yang gelap membuat dinding rumah itu terlihat tua dan menyeramkan jika dipandang dari kejauhan. Namun, jika dilihat dari dekat, akan diketahui bahwa bahan untuk membuat dinding rumah itu sangat berkelas dan mahal.


Sebuah mobil antik tua berwarna biru tetapi masih mengkilap mewah, terparkir di halaman. Terlihat pula bahwa rumah itu memiliki garasi yang besar.


Setibanya di teras rumah yang luas, ketiganya bertemu dengan sejumlah pria dan wanita yang mengenakan pakaian atas putih dan bawahan warna hitam.


“Selamat datang di kediaman Keluarga Hendrik!” ucap seorang wanita yang datang menyambut kedatangan ketiganya. Wanita berusia sekitar 40 tahun itu berpakaian baju lengan panjang hitam dan berok hitam sebawah lutut. Ia bersepatu hitam jenis flat. Wajah putih bersihnya tersenyum ramah.


Ayu, Tina dan Jur hanya mengangguk seraya balas tersenyum.


“Silakan isi daftar hadir dan menunggu sebentar. Nanti akan dipanggil untuk tes dan interview,” jelas wanita sopan tersebut.


“Iya, Bu,” ucap Ayu.


“Adu pakai tes segaya. Kura-kura tes apaan ya?” tanya Tina berbisik-bisik di antara mereka bertiga.


“Tes keperawanan!” Ayu balas berbisik ke Tina dengan mata melotot. Kali ini dia tidak meralat kesalahan kata Tina.


“Husy!” hardik Tina sambil menepuk lengan bengkak sahabatnya.


Jur sudah berdiri di depan meja registrasi sambil memegang pena. Di belakang meja duduk seorang wanita muda yang pakaiannya sama dengan wanita penyambut tamu.


Ayu dan Tina segera mengantri di belakang Jur. (UT)


*****

__ADS_1


Yuk dukung novel ini dengan rate, like, komen, dan favorit. Terima kasih, ya.


__ADS_2