Manusia 2 Alam

Manusia 2 Alam
9. Obrolan Mistis Dalam Bus


__ADS_3

Mendapat bonus uang Rp4 juta yang ditujukan untuk belanja apa saja, kemudian pergi ke tempat hiburan, dan mendapat jatah libur dua hari, seolah-olah jadi obat penyembuh bagi kesepuluh karyawan baru Keluarga Hendrik.


Seperti layaknya sekelompok turis lokal, mereka pergi dengan sebuah medium busmewah yang memiliki kapasitas 29 kursi. Bus itu berwarna hitam dengan tulisan besar hijau berbunyi “Hendrik Family” berhias gambar sepasang mata merah menakutkan. Di sisi dalam bus, formasi tempat duduk dipasang dua set di kanan dan dua set di kiri. Interiornya mewah berwarnah cream. Lengkap dengan fasilitas AC, LCD TV – DVD – microphone untuk karaoke, cool box untuk mendinginkan minuman, hingga safety feature berupa kapak pemecah kaca dan tabung pemadam api, termasuk pintu darurat.


Kapasitas 29 kursi membuat mereka bersepuluh, plus sopir dan Wakil Kepala Pelayan bernama Sabita, bisa duduk dengan leluasa. Pakaian seragam putih hitam yang mereka kenakan membuat mereka terlihat seperti kelompok komunitas.


Bus mewah milik Keluarga Hendrik itu disopiri oleh Jupri Junedi alias Bang Jago, tokoh yang telah mewawancarai semua pelamar sebelum memasuki lorong uji nyali. Pada dasarnya, Bang Jago adalah sopir pribadinya Nyonya Rudy, tetapi kali ini dia dipinjamkan untuk mengawal kesepuluh karyawan baru itu. Dengan direkrutnya tiga orang sopir hari ini, maka setiap orang dari keluarga Rudy Hendrik masing-masing memiliki sopir pribadi.


Rombongan itu dipimpin oleh Sabita, seorang wanita berusia 35 tahun. Ia sosok yang berperawakan besar dan tinggi, tetapi normal sebagai manusia biasa. Orangnya berkulit putih bersih dengan rambut panjang sepunggung, tetapi diikat satu lalu selalu diletakkan terkulai di bahu kanan. Hidungnya mancung, seolah masih memiliki garis keturunan dari leluhur India atau Pakistan. Ciri rumpun itu diperkuat dengan model mata yang agak lebar dan alis yang cukup tebal.


Ternyata seorang Sabita adalah sosok yang cakap dalam mencairkan suasana. Terlihat ketika ia menghidupkan suasana dengan pancingan pertanyaannya kepada Bang Jago. Mereka berdua termasuk karyawan senior di Keluarga Rudy.


“Bang Jago!” sebut Sabita yang duduk di kursi dekat pintu depan bagi penumpang.


“Saya, Neng Sabita!” sahut Bang Jago sambil tetap fokus dalam mengendalikan laju bus.


“Dari kesepuluh karyawan baru kita ini, apakah Abang tahu siapa yang keluar dari ruang uji nyali dalam kondisi bau pesing?” tanya Sabita yang pertanyaan itu juga didengar oleh semuanya.


“Oh ya? Ada yang sampai seperti itu? Hahaha!” Bang Jago justru bertanya lalu tertawa.


“Eh eh eh!” seru Ayu cepat. Ia cepat melihat gelagat arah pertanyaan Sabita yang akan menyasar kepadanya, karena ia adalah orang yang dimaksud oleh Sabita. “Jangan bahas kejadian di ruang uji nyali!”


Sabita tertawa kecil mendengar protes Ayu.


“Memangnya Ayu ngompol di ruang uji nyali?” tanya Sabita.


“Si... siapa yang ngompol? Saya itu paling tahan kalau urusan rumah hantu,” kata Ayu agak tergagap, sambil mendongakkan sedikit wajahnya untuk menjaga wibawanya.


“Tidak usah kusta, teriak saja apa adanya. Faktanya kamu itu tampol waktu nabrak gajah setan itu,” kata Tina yang tetap memilih duduk berdua bersama Ayu. Beberapa katanya salah ucap.


“Dusta, Tina, bukan kusta,” ralat Ayu lalu mencebik.


“Eh, Embak Sabita!” panggil Johan Sukmo, pria bertubuh tinggi besar, hampir sama dengan Jur. Namun, Jur lebih berotot dan lebih 10 tahun lebih muda.


“Ya, Mas Johan?” sahut Sabita seraya setengah memutar badannya menghadap kepada Johan.


“Boleh tahu? Apakah setan di ruang uji nyali itu badut-badutan?” tanya Johan dengan kening berkerut kencang. Sebagai seorang yang sehari-harinya adalah pria pemberani, Johan juga sempat duel dengan makhluk seperti goblin di lorong uji nyali. Namun, nasibnya lebih buruk dari Jur. Makhluk itu sampai membantingnya tiga kali ke lantai. Ia sempat mengalami cedera, tetapi dalam waktu singkat lukanya bisa disembuhkan oleh tim ahli Keluarga Hendrik.


“Itu setan sungguhan, tidak ada kostum badut di dalam ruang uji nyali,” jawab Sabita.

__ADS_1


“Hah!” kejut mereka bersamaan, meski terkesan keterkejutan itu terlambat.


Seketika saat itu juga mereka kembali terbayang lekat dengan apa yang mereka alami saat di ruang uji nyali. Bayang ketakutan kembali muncul dalam pikiran mereka. Johan dan Jur menjadi khawatir jika setan yang mereka lawan nanti akan membalas dendam.


“Itu, itu artinya... itu artinya... setan kuntilanak itu tinggal di rumah itu?” tanya Sudinah dengan wajah mengerenyit takut.


Sambil tersenyum, Sabita bangkit berdiri menghadap kepada kesepuluh karyawan baru itu. Satu tangannya berpegangan pada kursi agar tidak kehilangan keseimbangan.


“Baik, dengarkan! Itu adalah awal bagi kalian, agar nanti jika bertemu dengan makhluk yang lain lagi, kalian tidak lagi harus mati di tempat karena ketakutan. Semua makhluk halus yang ada di rumah dan sekitarnya tunduk di bawah kendali Tuan Rudy,” jelas Sabita.


“Waw!” desah sebagian besar dari mereka yang memang mendengarkan dengan serius penjelasan wanita yang tergolong cantik tersebut. Keseriusan mereka terlihat dari ekspresi semi tegang yang mereka tunjukkan.


“Berarti Tuan Rudy dukun sakti dong?” terka Jur.


“Bukan, tetapi Tuan Rudy adalah seorang zilm,” jawab Sabita.


“Apa? Silem?” tanya Aditya Harapan. Calon sopir salah satu tuan muda itu merasa kurang jelas.


Guna memperjelas jawabannya, Sabita lalu mengeja alfabet dari kata zilm, “Z I L M, dibaca zilem.”


“Apa itu?” tanya Rajab Syah, pria bertubuh kurus mungil yang juga calon sopir salah satu tuan muda Keluarga Rudy.


“Berarti, berarti setan yang kita jumpai di ruang uji nyali termasuk bangsa film?” tanya Tina.


“Bangsa zilm, Tina, bukan film Bollywood,” ralat Ayu.


“Hahaha!” tertawalah mereka semua, hanya Tina yang tersenyum kecut karena baru kali ini ia ditertawai ramai-ramai.


“Yang kalian temui di ruang uji nyali adalah bangsa jin, sahabat-sahabat Tuan Rudy, bukan aktor Bollywood.”


“Hahaha...!” meledaklah tawa mereka mendengar jawaban Sabita yang hanya tersenyum ketika menjelaskan, seolah ia meniru gaya komunikasi Nyonya Rudy.


“Tina... Tina...!” sebut Ayu, seolah menyalahkan.


“Apaan sih?” dengus Tina, tetapi sambil turut tertawa.


“Anu, Bu...” sahut Lussy mau bicara juga.


“Anu siapa?” celetuk Jur pula.

__ADS_1


“Hahaha...!”


Kembali meledak tawa mereka. Meski topik bahasan mereka sempat membuat tegang di awal, kini suasana itu berubah cair dan santai.


“Anumu!” sahut Sudinah dengan wajah merengut kepada Jur yang duduk berseberangan kursi dengannya. Meski ia sempat tertawa, tetapi janda itu agak kesal kepada Jur yang menjurus omongan jorok.


Namun, sahutan Sudinah justru memperparah tawa mereka. Dari mentertawakan Tina, lalu Lussy, lalu beralih ke Jur. Namun Jur malah tertawa kencang yang membuat Sudinah akhirnya tertawa juga.


“Silakan Lussy, mau bicara apa tadi,” kata Sabita setelah tawa mereka mereda.


“Anu....”


“Hahaha!”


Baru saja Lussy menyebut “anu”, yang lain langsung tertawa lagi, membuat Lussy menahan kata-katanya dan hanya tersenyum asam.


“Oke, tahan sejenak, mohon bersabar!” seru Sabita menenangkan massa.


Akhirnya mereka berhenti tertawa, tetapi berujung pada senyum-senyum.


“Silakan, Lussy!” kata Sabita.


“Itu...” ucap Lussy, mengubah awal kalimatnya.


“Nah!” seru Jur dan Johan bersamaan, tanda mereka puas dengan perubahan awal kalimat Lussy.


“Itu artinya, Nyonya Rudi yang sangat cantik itu juga punya lidah seperti biawak?”


“Hahaha...!” Bang Jago tiba-tiba meledak sendiri tawanya, membuat semuanya memandang belakang kepala sopir yang menyetir.


“Yeee, Bang Jago! Orang tanya dia malah ketawa!” sahut Ayu.


“Perlu kalian tahu, Bang Jago ini adalah salah satu orang yang sangat dekat dengan Nyonya Rudy karena dia adalah sopir pribadi Nyonya,” kata Sabita. “Jadi, dari semua yang ada di bus ini, Bang Jago yang paling tahu tentang Nyonya.”


“Berarti Ayam Jago tahu dong Nyonya itu setan atau genit?” tanya Tina dengan dua kata yang salah. Dia berani bertanya karena ia akrab dengan Bang Jago yang disebutnya “Ayam Jago”.


“Demit, Tinaaa, bukan genit,” ralat Ayu.


“Iya, maksudku itu,” kilah Tina. (RH)

__ADS_1


__ADS_2