Manusia 2 Alam

Manusia 2 Alam
7. 10 Calon Karyawan Baru


__ADS_3

Ayu dan Tina bersama tiga wanita lain kini duduk menghadapi satu meja kayu panjang. Ayu dan Tina duduk bersebelahan. Mereka berhadapan dengan tiga wanita lain yang duduk di seberang meja.


Wajah-wajah mereka bersih dan cerah dengan rambut yang masih terlihat lembab. Itu semua karena mereka semua sudah mandi membersihkan diri usai menjalani tes yang sangat menguras energi dan kebahagiaan. Terbukti, meski wajah mereka segar, tetapi wajah semuanya terlihat datar tanpa ekspresi, tatapan pun sering kosong karena sulit melupakan horor yang baru mereka lewati.


Di depan mereka tersaji bubur nasi, tetapi dilengkapi dengan udang tanpa kulit, telur mata sapi, dan sisiran daging ayam. Singkatnya, mereka disuguhkan bubur ayam. Segelas besar teh manis hangat menemani menu buburnya.


Tidak hanya hidangan yang diberikan, pakaian baru pun berupa kemeja putih bawahan hitam diberikan lengkap, plus pakaian dalamnya. Mereka semua kini mengenakan baju hitam dan rok hitam. Sepatu dan kaos kaki pun diberi baru berwarna hitam.


Ayu duduk berhadapan dengan seorang wanita muda lagi cantik, berwajah putih bersih, berhidung bangir dan bermulu mata lentik. Melihat dari kwalitas kecantikan wajah dan tipe bodinya, seharusnya wanita berusia 25 tahun itu ikut casting bintang sinetron atau audisi model, bukan justru melamar ke rumah tua yang ternyata banyak setannya. Terbukti kini ia terdiam menatap kosong seperti tanpa ruh. Ia bernama Cucun Maghfirah.


Di samping kiri Cucun duduk  wanita yang usianya sekitar 45 tahun dengan perawakan gemuk, tapi tidak lebih gemuk dari Ayu. Namanya Sudinah, seorang janda tanpa anak. Memilih terus sendiri selama 15 tahun setelah pernikahannya hancur oleh pengkhianatan.


Wanita di sisi kiri Sudinah adalah seorang berkulit hitam dengan rambut keriting halus yang diikat satu di belakang. Hidungnya mancung agak besar dengan bibir hitam agak tebal. Namun, sepasang alis tebalnya dan setitik tahi lalat di dagu ala Elvi Sukaesi membuatnya terlihat sedikit lebih manis. Ia bernama Lussy Asilulu asal Ambon.


Selain kelima wanita itu, di meja lain yang serupa di ruangan besar tersebut duduk lima orang lelaki, salah satunya adalah Jur yang sudah tidak memakai kacamata hitam kerennya.  Kondisi mereka pun tidak jauh berbeda dengan para wanita. Mereka juga mengenakan seragam baru putih hitam.


Hidangan yang mereka hadapi pun sama.


Masih ada meja-meja kayu panjang lainnya yang kosong, dilengkapi dengan kursi-kursi yang tertata rapi. Di sisi lain ruangan ada prasmanan dan dapur yang lebih ke dalam posisinya. Tempat itu lebih seperti ruang makan untuk para karyawan di rumah besar tersebut.


Mereka bersepuluh ditunggui oleh dua staf perempuan berseragam hitam-hitam.


Sementara ini tidak ada yang bicara. Suasana hening. Hanya suara benturan sendok dan mangkuk yang sesekali terdengar.


Sebelumnya mereka telah diberi arahan dan pengumuman singkat bahwa mereka bersepuluh yang lulus dari tes.


“Sebelum bertemu dengan Nyonya Rudy dan mendapat izin dari Nyonya, kalian dilarang membahas apa yang baru saja kalian temui dan alami di ruang uji nyali!” kata lelaki serba putih yang memperkenalkan dirinya sebagai Kepala Pelayan Keluarga Rudy, namanya Subana Tirtawana. Ia akrab dipanggil Pak Tirta. Katanya lagi, “Kalian makan dulu, tenangkan pikiran, lalu kemudian menghadap Nyonya Rudy.”

__ADS_1


Pak Tirta untuk sementara meninggalkan mereka di ruang makan karyawan.


“Nyonya Rudy orangnya sangat baik dan pengertian, tidak perlu takut,” kata salah satu staf perempuan yang menyajikan makanan kepada mereka. Sengaja lebih awal ia memberi bocoran karena ia tahu bagaimana rasanya calon karyawan baru usai melalui ruangan uji nyali yang ekstrem.


Kenyataannya, mayoritas pelamar wanita yang melewati ruang uji nyali banyak yang pingsan, bahkan mengalami kesurupan. Termasuk sejumlah pelamar lelaki yang mengalami syok berat dan berujung kepada stres. Hasil yang mereka alami itu membuat mereka tidak lulus untuk diterima sebagai karyawan di rumah tersebut.


Keluarga Rudy berani mengadakan tes semacam itu karena mereka sudah siap. Ada tim medis khusus, bahkan tim ahli untuk mengembalikan kondisi normal jiwa dan mental orang-orang yang gagal. Terlebih, mereka akan diberi konpensasi masing-msing minimal 2 juta rupiah untuk dibawa pulang.


Maka, kesepuluh orang itulah yang terbaik hasilnya dari tes uji nyali.


“Set! Set!” desis Ayu sambil menatap dingin Cucun.


Desisan itu membuat Cucun yang menyuap dengan tatapan kosong tanpa makna, jadi terjaga. Ia alihkan tatapannya kepada Ayu. Cucun lalu bertanya kepada Ayu dengan gerak alisnya yang memberi kode.


“Cantik-cantik kok melamar di sini?” tanya Ayu berbisik, khawatir didengar oleh staf yang berjaga agak jauh di belakang mereka.


“Hah! Mau jadi sopir?!” kejut Ayu bereaksi agak keras.


“Ayu!” seru staf wanita yang berjaga. Tampaknya ia sudah menghafal nama mereka semua.


Seketika Ayu menengok dengan wajah mengerenyit merasa bersalah.


“Iya, Bu!” sahut Ayu dengan menyebut staf itu “Bu” sebab usianya memang sekitar 40-an.


Ayu terpaksa diam lagi dan kembali ke aktifitasnya memakan bubur. Rekan yang lainnya hanya sempat memandangi Ayu.


“Jangan agar-agar typo kamu jadi dicat sebelum kerja,” kata Tina, setengah berbisik kepada Ayu.

__ADS_1


“Gara-gara kepo, Tina, bukan agar-agar!” hardik Ayu geram, tapi setengah berbisik sambil menggigit giginya sendiri. Untung bukan menggigit lidahnya sendiri.


Tap tap tap!


Terdengar suara langkah sepatu mendekat di ruangan itu. Sejenak mereka menengok melihat siapa yang datang. Oh, ternyata si pria putih, Pak Tirta.


“Perhatian! Dua puluh hitungan ke depan, ikuti saya bertemu Nyonya Rudy. Jadi silakan habiskan!” seru Pak Tirta dengan nada suara yang berwibawa.


“Dua pulu detik?” ucap Ayu mendelik. Buru-buru Ayu menyuap sebanyak-banyaknya dan mengunyah secepat-cepatnya. Ia harus akui, bubur itu terlalu rugi jika harus disisakan. Ia yakin, itu bubur restoran, bukan bubur gerobakan.


Melihat Ayu makan seperti orang kesurupan, Tina jadi latah. Ia pun buru-buru. Ternyata bukan Tina saja yang latah, tetapi ketiga wanita dan kelima pria lainnya ikut makan cepat.


“Waktu habis! Semua bangun! Ikut saya!” seru Pak Tirta setelah tepat 20 hitungan alias 20 detik.


Tanpa tercipta kekompakan, semuanya buru-buru bangun. Ayu tersenyum sendiri karena mangkuk dan gelasnya bersih tak tersisa. Sementara Tina berdiri diam. Sepasang bibirnya ia tutup rapat-rapat, menjepit ekor ayam. Eh, maksudnya ekor daging ayam, dengan sepasang pipi yang mengembung penuh oleh bubur. Ia belum sempat minum tehnya.


Sementara bubur Cucun dan Lussy masih tersisa sedikit. Makanan dan minuman Sudinah berhasil habis.


Di kelompok lelaki, semuanya tanpa sisa. Rupanya mereka benar-benar lapar setelah melalui masa ketakutan.


“Ikut saya!” perintah Pak Tirta lagi. Ia lalu berbalik dan melangkah pergi.


“Ayu, Tina, Cucun, Sudinah, Lussy!” sebut staf wanita yang sejak tadi berdiri menjaga mereka.


Cucun bergerak lebih dulu. Menyusul Sudinah, Lussy, Ayu dan Tina. Mereka berjalan berbaris beberapa meter di belakang langkah Pak Tirta.


Kemudian menyusul Jur dan keempat rekan segendernya. Kedua staf wanita mengikuti di belakang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2