Manusia 2 Alam

Manusia 2 Alam
11. Uang Syukur


__ADS_3

Empat ban mobil bervelg jenis Forgiato Luminoso Emilano L seharga lebih Rp200 juta berhenti di depan tangga lobi hotel. Mobil mewah seharga lebih Rp8 miliar itu memiliki warna biru dongker. Di depan moncongnya bertengger besi perak berbentuk abjad B yang memiliki dua sayap.


Ternyata orang yang duduk di belakang setir mewahnya adalah Bang Jago. Penampilannya lebih keren dibandingkan ketika ia menyopiri bus pada dua hari kemarin. Kali ini ia berjas hitam lengkap dengan dasi berwarna biru. Sisiran rambutnya rapi dan terkesan selalu basah berminyak. Kacamata hitam model wrap around membuat tampang pas-pasannya bertambah tampan.


Bang Jago membuka pintu di sisinya. Yang pertama turun adalah sepatu hitam mengilap jenis pantofel yang dipakai Bang Jago. Ia berjalan cepat memutari separuh badan mobil. Ia segera membuka pintu sisi kiri.


Kaki putih bersepatu merah menyala turun dari mobil. Sosok Nyonya Rudy alias Lestari turun dengan busana merah menyala jenislong dress yang model rok bawahnya lebar seperti bunga hendak mekar. Lengan baju yang pendek membuat kulit tangan Nyonya Rudy yang putih bersih bersinar. Sepasang gelang emas bertahtakan berlian melingkar cantik di kedua pergelangan tangannya. Sepuluh kuku jarinya tetap berwarna hijau muda. Model rambutnya tetap hitam lurus dibiarkan tanpa hiasan. Kali ini warna bibirnya lebih merah untuk mengimbangi warna penampilannya. Kecantikannya semakin membuat penasaran mata orang asing karena sedikit tertutupi oleh kacamata hitam.


Seiring itu, dari pintu lain yang terbuka turun wanita berambut putih bertopeng koala. Setelah menutup pintu, Ramala berlari kecil untuk tiba di sisi kanan majikannya. Saat kedua wanita itu menaiki tangga hotel menuju lobi, Bang Jago segera kembali masuk ke belakang setir lalu membawa mobilnya untuk diparkir.


Penampilan Nyonya Rudy yang begitu mencolok kecantikannya dan penampilan Ramala yang unik, membuat mereka menjadi pusat perhatian yang sekilas bagi orang-orang yang berpapasan dengan mereka atau yang kebetulan melihat mereka. Namun, suasana seperti itu bukan hal yang diindahkan oleh Nyonya Rudy. Ia sudah terbiasa dan ia pun tidak pernah mempermasalahkan keberadaan Ramala selama ini.


Namun ternyata, Nyonya Rudy tidak menuju ke resepsionis untuk memesan kamar atau pergi ke lift untuk naik, tetapi berbelok menuju restoran mewah yang ada di lantai dasar itu.


“Selamat datang, Nyonya Rudy!” ucap satpam yang berdiri berjaga di depan pintu masuk restoran yang dindingnya semua terbuat dari kaca.


Nyonya Rudy mengangguk kepada pria keamanan itu seraya tersenyum manis.


“Selamat datang, Nyonya Rudy!” ucap pegawai perempuan penyambut tamu di sisi dalam pintu masuk. Ia menyapa dengan senyum cantiknya yang sejuk bagi pelanggang yang datang.


Nyonya Rudy hanya tersenyum seraya mengangguk.


Sapaan yang menyebut nama itu memberi petunjuk bahwa Nyonya Rudy sudah dikenal akrab di restoran tersebut.


Semasuknya, Nyonya Rudy langsung menuju ke sebuah meja. Kedatangannya langsung menjadi pusat perhatian sejenak bagi pelanggan yang melihatnya.


Di sebuah meja, seorang lelaki berkacamata putih segera berdiri dari duduknya saat melihat Nyonya Rudy dan asistennya datang ke arahnya.


Pria bertubuh gempal itu sudah cukup berumur. Rambutnya hampir semua sudah memutih. Kerut dan kendornya kulit bisa menunjukkan usianya. Ia mengenakan kemeja putih berhias dasi merah bergaris-garis hijau. Pria berperut agak buncit itu tersenyum ramah menyambut kedatangan Nyonya Rudy.


“Maafkan saya, Prof!” ucap Nyonya Rudy dengan mimik rasa bersalah. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sambil berkata, “Tidak sopan rasanya membuat orang yang lebih berusia harus jemu menunggu.”


“Oh, tidak apa-apa, hahaha!” ucap pria itu seraya tertawa hangat. Ia menjabat erat tangan wanita cantik di hadapannya. “Silakan, silakan!”


Pria bernama lengkap Profesor Rusli Handoyo itu mempersilakan Nyonya Rudy duduk. Di depan Rusli sudah ada segelas minuman berwarna kuning.


Seorang pelayan segera datang menghampiri Nyonya Rudy dengan membawa map tebal berisi menu.


“Nyonya,” sebut pelayan wanita itu sambil dengan sopan menyodorkan daftar menu kepada Nyonya Rudy yang sudah duduk. Sementara Ramala berdiri di belakang kursi majikannya.

__ADS_1


“Minuman yang biasa saja,” kata Nyonya Rudy tersenyum kepada pelayan tanpa menyentuh map yang disodorkan.


“Baik, Nyonya,” jawab pelayan itu setelah menarik kembali sodorannya.


Nyonya Rudy membuka kacamatanya dan meletakkannya di meja. Maka semakin tampaklah kecantikan seorang wanita dengan sepasang mata yang bening bermaskara secukupnya.


“Langsung ke inti dari pertemuan ini, Profesor,” kata Nyonya Rudy.


“Silakan,” kata Rusli.


“Putra saya memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, sehingga jika didaftarkan ke kampus mana saja, 80 persen mungkin akan diterima. Ia pun tidak keberatan jika harus menjalani tes untuk bisa diterima di masa semester yang sedang berjalan. Namun, saya memilih kampus yang Profesor pimpin dengan sejumlah pertimbangan.”


“Tentunya Nyonya Rudy tidak akan meminta pertemuan khusus dengan saya seperti ini jika putra Nyonya kondisinya normal,” kata Rusli yang bisa mendeteksi suatu perkara yang tidak biasa dalam upaya Nyonya Rudy.


“Profesor benar.” Wanita itu tersenyum lebar, sedikit pemperlihatkan deretan giginya yang putih rapi.


“Tidak apa-apa. Asalkan perkaranya adalah hal yang tidak melanggar hukum,” kata Rusli.


“Demi pendidikan ketiga putraku, saya berani mengungkapkan satu rahasia keluarga. Ini bukanlah kondisi yang melanggar hukum, tetapi takdir yang membuat kondisinya memang tidak normal, sehingga membutuhkan dukungan kuat dari pihak pemimpin kampus atau sekolah. Namun, saya tidak bisa menjelaskan sebelum Profesor berjanji untuk menerima putra saya,” ujar Nyonya Rudy.


“Bagaimana bisa berjanji sedangkan saya belum bisa mengetahui kondisi sebenarnya? Risikonya justru saya akan melanggar janji,” kilah Rusli.


“Baik, saya berjanji akan menjaga rahasia itu. Dan saya juga berjanji akan menerima putra Nyonya jika memang tidak melanggar hukum. Namun, jika melanggar hukum, tentunya saya tidak berani ambil risiko,” kata Rusli.


Seorang pelayan perempuan datang membawa segelas minuman berwarna putih bening yang di dalamnya direndam jeruk lemon.


“Terima kasih,” ucap Nyonya Rudy saat minumannya diletakkan di mejanya. Tidak lupa senyumnya mekar.


Setelah pelayan itu pergi, Nyonya Rudy kembali fokus kepada Profesor Rusli.


“Putra saya memiliki kelainan pada fisiknya. Kulitnya putih seperti kertas dan bibirnya hitam. Tidak sama dengan orang lain pada umumnya. Dan itu alami,” kata Nyonya Rudy.


“Menarik,” ucap Rusli lirih dengan wajah serius mendengar pengungkapan wanita di depannya.


“Ia pun memiliki penyakit. Emosinya tidak boleh dipancing ke tingkat yang tinggi karena ia bisa lepas kendali,” tambah Nyonya Rudy.


“Terkait fisiknya, apakah itu sejenis penyakit?” tanya Rusli.


“Bukan. Itu alami bawaan sejak lahir. Ketiga anak saya semuanya demikian. Karena kelainan inilah, putra saya sangat memerlukan dukungan dari pemimpin kampus hingga para dosennya. Kita sama-sama tahu zaman sekarang, begitu mudahnya orang melecehkan orang lain hanya karena sesuatu yang tidak wajar dan itu dianggap sebagai aib. Jika Profesor bisa menjamin keberlangsungan pendidikan putra saya, maka untuk bantuan yang sifatnya materi akan saya bantu dengan senang hati.”

__ADS_1


“Putra Nyonya Rudy lulusan sekolah mana?”


“Texas City High School,” jawab Nyonya Rudy. “Jika Profesor tidak siap menjamin keamanan pendidikan putra saya, maka saya bisa menawarkannya kepada rektor yang lain. Sebab saya yakin, dengan limpahan keuangan yang Keluarga Rudy miliki, tidak sulit untuk menyekolahkan anak-anak saya di sekolah umum.”


Profesor yang memang faktanya adalah orang cerdas, segera menangkap isyarat dari kata “limpahan materi” dari kalimat Nyonya Rudy. Terlebih, sebelumnya wanita itu bersedia membantu hal yang sifatnya materi jika putranya dijamin menimba ilmu di universitas yang Profesor Rusli pimpin.


“Saya rasa ini bukan perkara yang pelik. Saya akan menjamin keberlangsungan pendidikan putra Nyonya Rudy di kampus, terlepas masalah kelainan yang dimilikinya sejak lahir,” kata Rusli. “Tapi, apakah Nyonya bisa mengirim foto putranya?”


“Maaf, tidak, Prof. Ini aturan yang diterapkan di dalam keluarga kami. Kami melarang keras foto-foto anggota keluarga mudah tersebar luas dan menjadi konsumsi publik,” jawab Nyonya Rudy.


“Baik, saya menerima putra Nyonya belajar di kampus yang saya pimpin. Besok pagi bisa dimulai. Bawa saja semua persyaratannya dan temui Wakil Rektor III Afifah Syahrini,” tandas Rusli.


“Berarti deal ya, Prof?” kata Nyonya Rudy sambil berdiri dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan tanda sepakat.


“Ya, deal!” tandas Rusli. Ia turut berdiri lalu menjabat tangan halus Nyonya Rudy yang berkuku hijau muda.


“Ramala, kirim 50 juta ke rekening Profesor!” perintah Nyonya Rudy kepada asistennya tanpa memandang kepadanya.


Profesor Rusli tampak agak terkejut. Sementara Ramala memainkan gawai yang selalu ia bawa.


“Maaf, Nyonya!” sergah Rusli cepat, ia jadi sedikit salah tingkah. Uang Rp50 juta itu banyak jumlahnya.


“Ini bukan uang suap, Prof. Sebelumnya untuk menyepakati ini saya tidak membicarakan masalah transfer uang. Ini saya sebut uang syukur karena putra saya sudah mau diterima di kampus yang Profesor pimpin,” jelas Nyonya Rudy, meski ia dalam hati tahu bahwa Profesor Rusli telah memakan umpan pancingannya yang halus terkait “materi” yang ia sebutkan.


Memang benar, sikap keberatan Rusli tidak lebih sekedar basa basi untuk menjaga martabatnya sebagai seorang akademisi tingkat tinggi.


“Sudah terkirim, Nyonya,” lapor Ramala.


“Silakan dicek di rekening Profesor,” kata Nyonya Rudy disertai senyumnya.


Rusli segera meraih gawainya yang tergeletak di meja. Ia mengecek saldo yang ada di rekeningnya. Ternyata memang benar, ada penambahan sebesar Rp50 juta.


“Terima kasih banyak, Nyonya. Tentunya saya pun akan buruk perangai jika menolak kebaikan orang lain yang menaruh kepercayaan kepada saya,” ucap Rusli diplomatis, seraya tertawa ringan.


“Baik, Prof. Jika demikian, kita akhiri pertemuan ini. Saya pun masih ada janji lain. Dan terima kasih atas waktunya. Permisi,” kata Nyonya Rudy.


Nyonya Rudy meraih kacamatanya dan mengenakannya. Ia sedikit pun tidak menyentuh minumannya. Ia melangkah pergi dengan senyuman perpisahan kepada Rusli.


Ramala yang sudah tahu kebiasaan majikannya, segera berinisiatif menyelipkan selembar uang merah di bawah gelas lalu buru-buru mengikuti meninggalkan meja itu.

__ADS_1


Pelayan restoran tersebut sudah tahu kebiasaan Nyonya Rudy. Memesan minuman adalah sekedar basa-basi. Pada akhirnya, minuman itu akan diminum oleh si pelayan dan uang tip yang diselipkan akan menjadi miliknya. (RH)


__ADS_2