
Nyess!
Ketika pintu itu bergeser membuka sebuah lubang masuk, hempasan udara yang lebih dingin langsung menabrak sosok Ayu dan Tina. Mereka mendapati sebuah ruangan yang gelap, tapi tidak gulita, karena mereka masih bisa melihat sebuah daun pintu yang berwarna putih di ujung lain dari ruangan itu.
“Ini kulkas apa lamar mayat?” tanya Tina dengan gigi yang beradu-adu halus karena kedinginan.
“Memang kamu sudah pernah ke kamar mayat?” tanya Ayu dengan suara bergetar pula, ia juga kedinginan.
“Maruk atau batik lagi, Yu?” tanya Tina, dua katanya salah sebut.
“Ya masuklah, buat apa balik lagi. Sudah terlanjur basah, lompat ke sumur sekalian!” tandas Ayu. “Saya enggak mau rugi. Gaji 5 juta harus di tangan!”
Ayu lebih dulu masuk, lalu berhenti menunggu Tina ikut. Setelah Tina masuk, Ayu kembali menggeser pintu itu hingga rapat.
Jleg!
Mendelik Ayu. Pintu itu berhenti, tidak mau rapat dengan menyisakan cela kecil. Ayu coba geser balik sedikit lalu mendorong lagi agar bisa rapat.
Jleg!
Pintu itu tetap tidak merapat ke tepian ambang pintu. Seperti menabrak sesuatu yang keras tapi empuk.
“Pasti terganjal di bawahnya,” terka Ayu lirih.
Ayu dan Tina lalu memeriksa di sisi bawa pintu dengan pandangannya.
“Kolor kodok!” jerit Ayu.
“Aaak!” jerit Tina pula.
Respek keduanya melompat mundur munjauhi pintu.
Di sisi bawah pintu, ada sebuah tangan besar berjari-jari panjang tidak normal dan berkuku-kuku panjang lagi runcing. Telapak tangan itulah yang mengganjal laju pintu mencegahnya menjadi rapat. Posisi tangan tunggal itu menunjukkan bahwa si pemilik tangan ada di balik pintu, mungkin sedang duduk atau berbaring. Kondisi gelap membuat tangan itu hanya terlihat hitam. Namun dilihat dari bentuknya, jelas itu bukan tangan manusia pada umumnya.
“Biar... biar kita sekolah SMP... doang, tapi... tapi kita enggak... lugu-lugu amat kan, Tina? Jelas... jelas tadi enggak... ada o... orang, kenapa tahu-tahu... a... ada... ada tangan?” kata Ayu terputus-putus, efek terlalu takutnya.
“La... la... laki. Eh, la... la... lari!” ucap Tina pula, latah gagap.
Tap!
Dari cela pintu muncul lagi satu telapak tangan yang sama, memegang pinggiran daun pintu.
“Aaa...!” jerit kencang Ayu dan Tina bersamaan.
Mereka pun kompak balik kanan dan langsung lari terbirit-birit. Keduanya menuju ke pintu putih yang ada di agak jauh di depan, sebab ruangan itu luasnya seperti seluas lapangan basket.
Blugk!
Entah bagaimana ceritanya? Meski ruangan kondisi gelap remang-remang, tetapi kalau ada orang yang berjalan di depan Ayu dan Tina, mereka pasti bisa lihat, setidaknya sosok bayangan gelapnya. Namun, kejadiannya tidak seperti itu.
__ADS_1
Entah datang dari mana, tahu-tahu ada makhluk besar bulat berjalan pelan menghadang lari Ayu dan Tina. Ayu dan Tina menabrak sosok besar empuk yang tiba-tiba muncul melintas di depan mereka tanpa awalan. Mereka seperti menabrak perut gajah yang melintas pelan menyeberang jalan.
Ayu dan Tina terpental ke belakang dan jatuh berjengkangan. Keduanya meringis kesakitan, benar-benar sakit, bukan pura-pura.
Ketika keduanya memandangi apa yang telah mereka tabrak, terdiamlah keduanya dalam ketakutan yang tinggi.
Dalam keremangan ruangan yang dingin dan beraroma melati yang menyengat, mereka melihat sesosok besar makhluk sebesar ibu gajah. Tapi itu bukan gajah karena sosoknya berdiri tegak dan berjalan pelan dengan dua kaki yang kecil bercelana pendek seperti anak SD. Makhluk berbaju itu tidak terlihat memiliki leher, tetapi kepalanya yang sebesar kepala kambing itu juga memiliki sepasang mata, hidung dan mulut, bahkan telinga seperti manusia. Namun, tinggi tubuhnya mungkin mencapai 3 meter.
Makhluk berbadan ekstra gendut itu berjalan pelan sambil menengok ke samping kiri memandangi Ayu dan Tina tanpa ekspresi. Dingin menusuk jantung Ayu dan Tina.
“Heh!” Tiba-tiba makhluk sebesar gajah berkepala kecil itu tersenyum lebar tapi singkat kepada Ayu dan Tina, menunjukkan deretan gigi-gigi putih cemerlang. Namun kejamnya, bentuk gigi-gigi itu runcing-runcing seperti mata gergaji.
“Yaaah, jebol,” ucap Ayu lirih dan lemas, seolah dia pasrah dalam ketakutannya.
“Hiks... hiks... hiks...!” Tina justru menangis di tempat.
Makhluk tidak wajar itu melanjutkan langkahnya yang pelan menuju ke sisi ruangan yang lebih gelap.
Ayu coba menengok ke belakang, khawatir makhluk pemilik tangan di pintu tahu-tahu ada di belakang dan siap memakan mereka berdua. Namun, ia lega, tidak ada siapa-siapa di belakang mereka.
“Hiks...! Kok bau cacing?” tanya Tina dalam tangisnya.
“Saya ngompol, Tin,” jawab Ayu, juga menangis, tapi isaknya lebih halus terdengar, seperti orang flu berat.
“Kok gado-gado masih kompol sih? Hiks...!” tanya Tina sambil sesegukan.
“Gede-gede kan saya juga ketakutan, Tina,” kilah Ayu.
“Hihihi...!”
“Hihihi...!” tawa perempuan itu terdengar berkepanjangan.
Ayu dan Tina bisa menerka arah sumber suaranya. Dengan diselimuti ketakutan, Ayu dan Tina yang masih terduduk di lantai dingin, pelan-pelan menoleh untuk melihat ke pojok kanan atas.
“Aaa...!”
Sempurnalah penderitaan keduanya dalam ketakutan. Jeritan keduanya begitu tinggi.
Di sudut kanan di langit-langit ruangan itu, bertengger sosok perempuan berpakaian putih nan gombrong. Sepasang kaki dan satu tangannya menempel di plafon. Rambut panjangnya terjuntai berantakan. Wajahnya yang putih seputih kertas tertawa dengan sepasang mata yang merah menyala seperti lampu kendaraan. Yang lebih menyeramkan, saat tertawa itu, ada lidah bercabang seperti lidah komodo yang keluar menjulur dari dalam mulutnya.
“La... lali! La... lali!” teriak Tina kepada Ayu, tergagap dan jadi cadel.
Dengan saling bahu-membahu, Ayu dan Tina saling bantu dalam berdiri. Dan ketika berdiri, terasa lemas lutut mereka. Kedua kaki mereka gemetaran kencang.
“Sa... saya... enggak bisul lari,” ucap Tina sambil pejamkan mata, takut melihat makhluk yang bertengger di atas sana.
“Pasti, pasti bisa lari!” kata Ayu memberi semangat.
Pak!
__ADS_1
Meski dalam kondisi ketakutan setengah mati, Ayu ternyata masih punya ide. Dia tepuk bokong kempes Tina kencang-kencang.
“Maaak!” jerit Tina melengking tinggi, terkejut bukan alang kepalang. Ia sangka yang memukul bokongnya adalah setan. Karenanya, kelemasan lutut dan gemetarnya kaki seolah sirna tertutupi oleh rasa takut yang hampir mati.
Tina berlari kencang terbirit-birit menuju pintu.
“Tinaaa! Tungguuu!” teriak Ayu menangis sambil berlari dengan kepala menunduk seperti banteng siap menyeruduk.
“Hihihi...!” Makhluk seperti kunti di atas plafon terus tertawa, menertawakan kedua gadis perawan itu.
Akhirnya Tina sampai ke pintu. Lebih bersyukur lagi ia bahwa pintu itu punya handle.
Clek!
Handle pintu ternyata berfungsi. Pintu bisa ditarik dan terbuka, membuat cahaya terang dari luar seketika membias masuk. Belum lagi Tina keluar....
“Aaa...!” teriak Ayu yang datang berlari seperti banteng.
Bduk!
Seenaknya saja Ayu menabrak Tina dari belakang. Keduanya pun jatuh bertindihan di luar depan pintu.
Setelah itu, seorang wanita berseragam hitam-hitam segera menutup pintu ruangan gelap.
“Aduh, Ayu!” rintih Tina yang tertindih Ayu.
“Sudah keluar, sudah keluar!” kata Ayu dengan wajah putih pucat pasi seperti tidak memiliki aliran darah. Namun, ada segaris darah mengucur dari satu lubang hidung seksinya. Ia segera bangun berdiri. Bibirnya bergetar. Sepasang lututnya tidak bisa tegak karena gemetar. Bajunya basah oleh keringat yang membanjir.
Tina pun mencoba berdiri sambil meringis kesakitan. Rasa perih di sejumlah titik di kulitnya ia rasakan. Sepasang kakinya yang tipis lebih gemetar saat berdiri. Terdengar peraduan dua baris gigi di dalam mulutnya yang bergetar. Wajahnya pun putih pucat dengan tatapan seperti tanpa nyawa. Cantiknya mendadak hilang karena ada bengkak memar di bawah mata kiri. Kesepuluh jari tangannya saling berpelukan di depan dada.
“Siapa yang mengompol?” tanya satu suara lelaki. Nadanya datar.
Ayu dan Tina segera fokus memandang kepada orang yang bertanya.
Orang itu adalah seorang lelaki berusia lebih dari separuh abad. Rambut putihnya ia sisir rapi ke belakang. Kumis putihnya pun tertata rapi. Ia mengenakan seragam putih-putih dan terlihat bersih mengkilap. Sepatunya pun berwarna putih. Ia berdiri dengan kedua tangan bertaut di belakang pinggang. Satu tangannya memegang tongkat pendek berwarna hitam sepanjang 60 cm.
Di kanan dan kiri lelaki berwajah dingin tapi berwibawa itu berdiri wanita berseragam hitam-hitam.
“Sa... saya,” jawab Ayu. Ia sebenarnya malu, tapi apa mau dikata.
“Ngompol karena takut?” tanya lelaki putih itu lagi.
“Bu... bukan. Tapi, tapi sudah kebelet dari tadi,” jawab Ayu, meski ompolnya bocor di saat ia ketakutan.
“Winda, bawa mereka untuk membersihkan diri!” perintah lelaki itu sambil sedikit menengok ke kiri.
“Baik, Pak,” ucap wanita yang berdiri di sisi kiri. Ia lalu berkata kepada Ayu dan Tina, “Ayo ikut saya. Jangan khawatir, ujian tesnya sudah selesai!”
Tanpa bersuara, Ayu dan Tina mengikuti wanita bernama Winda yang sudah melangkah pergi menuju ke suatu tempat. (UT)
__ADS_1
**********
Bagi yang suka dengan novel ini dan murah hati, silakan beri rate, like, vote, dan komen. Terima kasih.