Manusia 2 Alam

Manusia 2 Alam
6. Melawan Makhluk Aneh


__ADS_3

Giliran Jur yang masuk ke ruang berikutnya. Rasa dingin dan aroma melati langsung menyergapnya. Namun, itu tidak masalah baginya. Ia masuk ke dalam lorong dengan kacamata hitam tetap terpasang di wajahnya. Tidak lupa ia tutup pintu dengan rapat.


“Gelap sekali,” ucap Jur lirih. Lorong itu terlihat lebih gelap dari yang dihadapi Ayu dan Tina. “Eh, lupa, masih pakai kacamata.”


Jur tersenyum sendiri sambil menepuk jidadnya. Ia membuka kacamatanya. Semakin tersenyum dia karena melihat lorong itu sedikit lebih terang dibandingkan pakai kacamata. Ia menyangkutkan kacamatanya di kancing kemejanya.


“Fuh, dingin juga,” keluh Jur lalu menggosok-gosok lengannya sendiri bergantian. Meski tubuhnya penuh dengan otot besar, tetap saja hawa dingin tidak pandang bulu. Lalu gumamnya, “Lucu kalau begini saja orang gagah seperti saya takut. Ini mah dibuat-buat biar pelamar banyak yang tidak lulus.”


Jur mulai berjalan maju menyusuri lorong di bawah penerangan lampu-lampu biru yang redup. Meski dingin menggigit, tetap saja Jur berusaha berjalan gagah. Pikirnya, “malu sama otot kalau sama dingin saja mengeluh.”


“Hehehe...!”


Saat separuh jalan sudah ditempuh di dalam lorong itu, tiba-tiba Jur mendengar suara tawa kekehan orang tua laki-laki.


Jur berhenti. Ia terdiam sejenak. Ia menoleh ke belakang. Keningnya berkerut heran karena tidak ada orang lain di sepanjang lorong tersebut. Jur memilih untuk berjalan lagi. Namun, baru berjalan lima langkah, ....


“Hehehe...!” Kekehan orang tua itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan agak panjang tawanya.


Jur berhenti lagi. Ia melihat ke sekitar, termasuk ke atas dan ke belakang. Tidak siapa-siapa, tetapi tawa itu masih terdengar.


“Hei, dengar! Jur tidak akan takut dengar suara kaset seperti itu! Hahaha!” seru Jur lalu memaksa dirinya untuk tertawa.


Jur kembali berjalan menuju ke ujung lorong.


“Hehehe...!”


Tawa orang tua itu kembali terdengar, tetapi kali ini suara itu terdengar begitu keras, seolah memakai speaker volume full. Jur sampai terkejut dan menutup kedua telinganya. Wajahnya mengerenyit.


Deg deg deg!


Meski akhirnya tawa itu berhenti dan suasana kembali sunyi, tetapi tawa itu berhasil membuat jantung Jur berdebar-debar.


“Sampai seperti ini dikerjai demi mendapat pekerjaan,” keluh Jur.


Jur kembali berjalan. Namun, ia kembali berhenti. Ia melihat ada sebuah benda di dekat ujung lorong. Jur tidak bisa memastikan benda itu. Seingatnya, tadi sangat jelas bahwa tidak ada apa-apa di sana selain kekosongan. Tidak ada cara lain untuk memastikannya selain mendekatinya.


Tanpa rasa takut, Jur mendekati benda yang saat didekati terlihat berwarna abu-abu kebiruan. Benda itu seperti orang yang sedang duduk berjongkok memeluk dua lututnya dan kepalanya ditundukkan ke dalam. Posisinya diam tidak bergerak membelakangi Jur. Anehnya, makhluk atau benda itu tidak memakai baju maupun celana.


“Ini orang atau bakso urat?” ucap Jur lirih, penasaran.


Untuk lebih memastikan benda apakah itu, Jur lebih mendekat. Ia julurkan telunjuk kanannya menusuk benda yang kulitnya ternyata seperti kulit kerbau dan agak basah berlendir. Mendapati hal seperti itu, wajah Jur mengerenyit seolah jijik.


Jreng!


“Wah! Kuntilanak ganteng!” pekik Jur terkejut bukan main saat kepala benda itu tiba-tiba bergerak menengok ke belakang. Bahkan pria besar itu sampai terlompat otomatis ke belakang seperti kucing kaget.


Bagaimana tidak terkejut, jika benda yang diam itu ternyata memiliki wajah seperti goblin. Hidungnya lebih mancung dari orang bule, matanya lebar mendelik berwarna kuning dengan pupil hitam, bibirnya lebar, dan memiliki sepasang telinga seperti telinga guguk yang berdiri lancip. Wajah abu-abu kebiruan itu memandang Jur lalu menyeringai, menunjukkan deretan gigi hitamnya.


Setelah terkejut, Jur berusaha mengendalikan perasaan dan dirinya.

__ADS_1


“Hah! Cuma badut!” rutuk Jur. Lalu katanya lagi kepada makhluk yang menatapnya, “Saya tidak mempan kalau cuma ditakuti pakai kaset sama badut-badutan!”


Mendengar kesombongan Jur, makhluk yang berjongkok itu bergerak bangkit berdiri dan langsung berdiri tegak menghadap Jur.


“Hahaha...!” Jur justru tertawa kencang sambil menunjuk benda di bawah perut buncit makhluk itu.


Sebenarnya makhluk itu terlihat menyeramkan. Berdiri tanpa berpakaian sedikit pun setinggi Jur. Sepasang tangannya kurus, tetapi memiliki telapak yang besar dengan jari-jari lebih manjang dari jari manusia dan berkuku-kuku hitam lagi runcing. Meski seram, tetapi adanya benda yang menggantung di bawah perut justru membuat Jur tertawa ngakak.


“Wah parah! Kok mau takutin orang pakai adegan porno begini!” gerutuh Jur. Sambil senyum-senyum dia mendekati makhluk aneh di depannya.


Tanpa rasa takut sedikit pun, Jur mendorong jidat makhluk itu dengan jari tangannya. Lalu ia tertawa.


“Badut bodoh! Hahaha!” umpat Jur, lalu mengulang perbuatannya kembali mendorong jidat si makhluk sehingga kepala berkuping guguk itu tersentak ke belakang.


“Agrrrk!” raung makhluk itu tiba-tiba sambil tangan kiri besarnya mengcengkeram leher Jur.


“Akh!”


Jur mendelik terkejut dengan mata mendelik. Cekikan tangan makhluk itu kuat, langsung membuat Jur kesulitan bernapas. Sepasang tangan kekar Jur cepat memegangi tangan makhluk itu, mencoba melepaskan cekikannya.


Namun, cengkeraman tangan yang seperti asli itu terlalu kuat. Sepasang kaki Jur perlahan lepas landas dari pijakan sehingga menggantung. Tubuh besar Jur bisa diangkatnya lebih tinggi. Jur pun mulai gelagapan. Tangannya berusaha membetot tangan si makhluk, sementara kakinya mulai merontah.


“Agrrrk!” raung si makhluk sambil melempar tubuh Jur.


Bdugk!


Tubuh besar Jur dilempar menghantam dinding lalu jatuh ke lantai.


“Mau main kasar, ya?” kata Jur sambil meringis memegangi lehernya.


Ia lalu tekuk kedua lengannya di depan dada. Ia melompat-lompat kecil di tempat dengan kaki bermain bergantian di lantai, seperti seorang petinju siap tarung. Sesekali tangannya menghentak melakukan gerakan pukulan jab strike bergantian, lalu sesekaliuppercut layaknya petinju profesional.


“Maju! Maju sini! Saya buat iwak peyek!” tantang Jur.


Namun, makhluk itu hanya diam menatap dan menyeringai, memperlihatkan gigi hitamnya.


Tiba-tiba Jur bergerak maju dengan cepat.


Bug!


“Waaa!”


Jur berhasil meninju keras wajah makhluk itu. Maka yang terjadi adalah kepala makhluk itu jatuh terkulai lurus ke belakang, seolah lehernya tidak punya tulang sedikit pun. Sampai-sampai kepala itu menggantung di belakang. Hal itu spontan membuat Jur memekik seperti perawan kecolek pemulung.


Jur berkesimpulan bahwa itu bukan orang yang berkostum badut. Bagaimana bisa kepalanya bisa jatuh seperti itu? Rasa takut mendadak menyerang perasaannya.


Jur memutuskan lari terbirit-birit melewati si makhluk dan segera mencapai ujung lorong. Sementara makhluk aneh itu kembali menaikkan kepalanya, bisa tegak seperti sedia kala. Ia menyeringai sambil menengok memandang kepada kepergian Jur.


“Mana pintu? Mana pintu?!” ucapnya panik setibanya di ujung lorong.

__ADS_1


Setelah meraba-raba, Jur mendapati pintu di tembok. Ia sempat kebingungan untuk membukanya. Ia dorong-dorong tidak terbuka. Ditarik-tarik juga tidak terbuka. Hingga ketika digeser, baru terbuka.


Nyesss!


Hawa dingin seketika menerpa tubuh Jur.


“Hih!” Jur langsung tergidik kedinginan, tetapi ia buru-buru masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Ia berhenti sejenak, berdiri dengan bersandar pada daun pintu.


Jur mencoba mengatur napasnya, hal yang biasa ia lakukan jika sedang berolah raga.


“Setan apa itu? Itu bukan badut,” ucap Jur agak gemetar.


Jur mencoba memfokuskan pandangannya. Ia memperhatikan ruangan kosong gelap yang begitu dingin seperti di dalam ruangan pendingin. Tidak ada apa-apa dan siapa pun. Ia melihat ada pintu putih di ujung sana.


Tiba-tiba Jur merasakan ada gerakan-gerakan halus yang merayapi dahinya. Lalu pandangannya seperti terhalang oleh tirai hitam seperti rambut panjang, tepat di depan bola matanya. Jur jadi curiga. Ada sesuatu di atas kepalanya.


Pikiran tentang hantu langsung membuat jantungnya berdebar kencang. Kaki besar dan kokohnya tambah gemetar. Perlahan ia mendongakkan kepala.


Jreng!


“Hihihi...!”


Bertepatan ketika mata Jur bertemu dengan sepasang mata merah menyala di wajah yang seputih kertas, tepat hanya dua jengkal di atasnya, sosok perempuan berbaju putih di atas plafon itu juga tertawa nyaring mengeluarkan lidah komodonya.


“Nenek!” ucap Jur dengan perasaan yang begitu lemas.


Jur jatuh terduduk karena kakinya seakan hilang kekuatan. Nyawanya serasa nyaris melayang pergi.


“Hihihi...!”


Makhluk perempuan yang menyeramkan itu masih tertawa. Jur perlahan mendongak lagi.


“Setaaan!” teriak Jur keras dan panjang sambil buru-buru merangkak maju terbirit-birit.


Setelah agak jauh dari pintu, ia berusaha bangun dan berlari sekencang-kencangnya menuju pintu putih. Makhluk kuntilanak berlidah komodo itu terus saja tertawa, mungkin Jur dinilainya lucu.


Brak!


Terlalu takutnya, sampai-sampai Jur tidak bisa mengerem larinya. Tubuh besarnya menabrak pintu yang masih tertutup. Beruntung, pintu itu terbuat dari kayu yang keras dan kuat.


Klek klek klek!


Sedemikian paniknya, Jur memainkanhandle pintu berulang kali, tetapi tidak juga terbuka pintu yang didorongnya itu. Seolah terkunci. Jur semakin panik.


Clek!


Namun, ketika pintu itu ia tarik, akhirnya terbuka. Cahaya terang seketika masuk. Ternyata cara membuka pintu itu adalah ditarik, bukan didorong.


Buru-buru Jur keluar ke ruang yang terang-benderang. Jur jatuh berlutut di depan lelaki tua berpakaian putih-putih yang didampingi dua wanita berseragam hitam-hitam. Mereka melihat lelaki berotot di depannya berwajah pucat dan bermandi keringat, terengah-engah sambil sedikit menjulurkan lidah seperti guguk. (RH)

__ADS_1


 


__ADS_2