
Ayu dan yang lainnya mengikuti Pak Tirta berjalan sedikit memutari sisi luar bangunan besar itu. Tampak matahari belum naik ke titik tertingginya.
Pak Tirta menaiki tangga untuk masuk, membuka pintu kayu berkaca tebal yang mewah. Hawa dingin langsung menyerang keluar. Semasuknya mereka, kesepuluh calon karyawan itu terperangah takjub melihat interior ruangan yang indah dengan gaya klasik nan megah.
Dua ruangan yang mereka lalui sama-sama memiliki hiasan lampu kristal besar di center langit-langit. Setiap ruangan diisi oleh furniture unik dan mewah berwarna hijau gelap. Sejumlah porselen antik bergambar unik terlihat dipajang di rak dan beberapa sudut ruangan.
Di ruangan pertama, ada sebuah lukisan besar terpajang di dinding berwarna cream. Lukisan pemandangan dalam hutan yang gelap berkabut. Hanya gambar pepohonan besar tanpa ada lukisan orang atau fauna.
Di ruangan kedua juga ada satu lukisan besar yang menggambarkan sebuah bangunan tua dalam guyuran hujan lebat. Namun, bangunan tua dalam lukisan itu tidak mewakili rumah besar tersebut. Kedua lukisan itu memberi nuansa menyeramkan.
Lalu masuklah mereka ke ruangan ketiga. Sebuah ruangan besar yang hampir seluruh dindingnya tertutupi oleh deretan rak kayu besar. Di satu sudut ruangan ada satu kursi kayu besar berukir berwarna hitam. Di depannya sebuah meja kayu hitam pula yang di atasnya sudah ada setumpuk kertas.
Staf wanita mengatur kesepuluh calon karyawan baru untuk berdiri satu saf menghadap ke meja dan kursi yang kosong. Pak Tirta dan kedua bawahannya juga berdiri menghadap ke arah yang sama.
Mereka berdiri diam menunggu.
Sambil berdiri menunggu, sepasang mata kesepuluh calon karyawan baru itu liar memandang ke sana dan ke sini, tanpa berani menengok. Mereka bisa melihat bahwa ruangan itu dilengkapi oleh kamera CCTV.
Hanya saja, satu hal yang membuat mereka bertanya-tanya adalah di mana perangkat pendingin ruangan berada. Sejak pertama masuk hingga ke ruangan ketiga, hawa dingin begitu terasa di kulit, tetapi mereka tidak pernah melihat ada perangkat seperti AC atau sejenisnya.
Jgreg!
Kesepuluh calon karyawan baru terkejut saat rak di belakang kursi bergerak mundur ke dalam tembok lalu bergeser sejauh dua meter. Maka terbukalah sebuah lubang pintu seiring aroma mawar menyerbak memenuhi seantero ruangan tersebut.
Tidak menunggu lama, dari dalam lubang pintu keluar sesosok wanita cantik berpakaian hijau gelap. Wanita berkulit putih bersih itu melangkah masuk ke ruangan dengan lemparan senyum yang sudah begitu ramah kepada seluruh manusia yang menunggu. Gincu merahnya yang tidak begitu terang terlihat basah. Rambutnya hitam kelam sebahu tanpa hiasan. Riasan wajahnya sederhana tetapi begitu sempurna, membuat mata ingin selalu memandang kecantikan wanita berusia 45 tahun tersebut.
Hal yang lebih mempercantik wanita itu adalah perhiasan yang melekat di telinga, leher, dan beberapa jarinya yang dilingkari cincin indan nan mahal.
Memang sulit memalingkan mata dari keanggunan wanita berok panjang itu, tetapi orang yang bersamanya cukup menarik perhatian dan unik. Seorang wanita berambut putih panjang sepunggung berjalan di belakangnya. Rambut putih itu bukan rambut uban nenek-nenek, karena wanita itu memiliki kulit yang putih susu dan halus. Selain rambutnya yang unik, ia juga mengenakan topeng wajah koala yang menutupi seluruh wajahnya. Wanita yang tingginya sedikit lebih pendek dari wanita cantik itu mengenakan seragam hitam-hitam.
Wanita bertopeng itu membawa sebuah ponsel di tangannya.
“Selamat pagi semuanya!” sapa wanita cantik dengan senyum ramah yang mekar lebar, memperlihatkan sedikit gigi putih bersihnya yang rapi.
__ADS_1
“Selamat pagi, Bu!” jawab mereka semua, serentak.
Wanita cantik berkuku warna hijau muda itu lalu duduk di kursi hitam. Pandangannya tetap memandangi mereka dengan senyum yang tetap terjaga. Sementara wanita bertopeng koala berdiri di belakang kursi agak menjauh ke samping.
“Mungkin ini Nyonya Rudy. Adem betul perasaan...” membatin Ayu.
Dugaan Ayu segera terjawab ketika wanita di kursi memperkenalkan diri.
“Perkenalkan, saya Lestari. Saya nyonya di rumah ini. Bisa kalian sebut saya Nyonya,” kata wanita itu. Lalu berhenti sejenak. Tetap tersenyum. Lalu tanyanya, “Kalian paham?”
“Paham, Nyonya!” jawab mereka serentak.
“Dan dia....” Lestari menunjuk wanita bertopeng dengan menengok sejenak kepadanya. Lalu katanya lagi kepada kesepuluh calon karyawan baru, “Namanya Ramala, asisten saya. Jikalau nanti kalian punya kepentingan mendesak kepada saya, kalian wajib menyampaikannya lewat Pak Tirta yang nanti akan disampaikan kepada Ramala. Paham?”
“Paham, Nyonya!” jawab mereka lagi.
“Sebelumnya saya minta maaf kepada kalian, karena sudah memaksa kalian melewati hari yang sangat buruk. Namun, itu bukan untuk menjahili para pelamar, tetapi itu sebagai tolok ukur karena suatu saat nanti, mungkin kalian akan menemukan lagi situasi yang serupa di sini. Itu tidak perlu kalian pertanyakan, nanti kalian akan tahu dengan sendirinya setelah bekerja di sini,” tutur Lestari. Lalu perintahnya kepada Kepala Pelayan, “Pak Tirta, perkenalkan mereka satu per satu dan posisi pekerjaannya!”
Pak Tirta lalu melangkah mendekati pria paling ujung lalu memperkenalkannya kepada Lestari.
Akhirnya Pak Tirta selesai memperkenalkan mereka satu per satu. Satu per satu mereka diperkenalkan dan satu per satu mereka tersenyum kepada Nyonya Rudy.
“Baik, kita sudah saling mengenal. Jadi, saya akan tegaskan kepada kalian bahwa bekerja di sini intinya adalah kesetiaan. Ingat baik-baik, kesetiaan. Sebab, jika kalian tidak setia suatu saat nanti, itu akan memberi kerugian besar bagi Keluarga Hendrik secara luas. Dan jika itu terjadi, maka kami pun tidak akan segan-segan. Kesetiaan. Ingat itu. Mengerti?” ujar Lestari.
“Mengerti, Nyonya!” jawab mereka seperti paduan suara.
“Jika kalian setia, kami pun akan berusaha berterima kasih dengan layak. Nah, di meja saya sudah ada setumpuk surat perjanjian yang harus kalian tandatangani. Saya hanya minta kalian tidak membicarakan tentang keluarga ini kepada orang luar yang tidak memiliki hubungan dengan rumah dan keluarga ini. Jika itu dilanggar, maka kalian harus menanggung sanksi berat berupa penjara khusus. Apakah kalian siap?”
“Siap!” jawab sembilan orang di antara mereka. Hanya Ayu yang tidak menyahut.
“Tanya, Nyonya!” sahut Ayu, tapi wajahnya menunjukkan keragu-raguan.
“Silakan, tidak apa-apa. Jangan takut,” kata Lestari lembut bersama senyumnya.
__ADS_1
“Kalau bicaranya sesama teman, bagaimana?” tanya Ayu.
“Tidak apa bicara tentang keluarga ini kepada sesama teman karyawan di dalam lingkungan ini, tapi jangan kepada teman di luar lingkungan. Paham?” jawab Lestari.
“Paham, Nyo... Nyonya,” jawab Ayu sendirian.
“Jika kalian nanti ada pertanyaan dan ingin tahu, kalian diizinkan bertanya kepada sesama karyawan. Dan sebagai tanda permintaan maaf Keluarga Hendrik kepada kalian, saya akan memberi kalian waktu untuk pergi bergembira ke taman hiburan dan berbelanja keperluan pribadi. Saya akan memberi kalian uang bonus masing-masing 4 juta untuk berbelanja.”
Mendengar kata bonus dan angka 4 juta, seketika sumringahlah wajah kesepuluh calon karyawan baru itu. Ketika yang lainnya hanya tersenyum-senyum tanpa berani melonjak kegirangan, Ayu dan Tina justru berteriak girang sambil berpelukan dan meloncat-loncat di tempat.
“Empat juta, Tinaaa!” pekik Ayu sambil memeluk kencang tubuh kering Tina.
“Hahaha! Bisa nabung buat kencing!” seru Tina pula.
“Ehhem!” dehem Pak Tirta agak keras, sebagai kode teguran bagi Ayu dan Tina.
Ayu dan Tina terkejut dan segera sadar diri.
Lestari sendiri hanya tersenyum lebar melihat tingkah keduanya, terlebih ketika mendengar akhir perkataan Tina yang kata “kawin” disebut “kencing”. Lestari melanjutkan penjelasannya.
“Wakil Kepala Pelayan Sabita akan membawa kalian ke tempat hiburan dan pergi berbelanja setelah kalian menandatangani surat perjanjian ini. Dan kalian diberi waktu libur awal dua hari untuk pemulihan sekaligus menyiapkan mental. Hari ketiga kalian sudah mulai aktif bekerja dan bertugas. Bisa dimengerti?”
“Bisa, Nyonya.”
“Baik, cukup hari ini. Pak Tirta akan mengurus surat perjanjiannya dan memberikan arahan tambahan,” kata Lestari. Sambil tersenyum ia kemudian berdiri. Lalu katanya lagi, “Ingat, kesetiaan!”
“Baik, Nyonya!” jawab mereka.
“Selamat pagi!” ucap Lestari.
“Selamat pagi, Nyonya!” jawab mereka.
Lestari lalu melangkah pergi ke belakang, masuk kembali ke ruangan rahasia di balik rak. Ramala, wanita berambut putih bertopeng koala, mengikuti majikannya.
__ADS_1
Setelah itu, Pak Tirta mengatur penandatanganan surat perjanjian. (RH)