Marriage In Lost Memories

Marriage In Lost Memories
Enam Puluh Empat


__ADS_3

Aku memutar mutar cairan merah semerah darah ini hingga air disana nyaris tumpah.


Lalu ku minum dan rasa manis juga pahit membasahi tenggorokan ku.


Kulihat di depan ini Devan masih bercengkrama ria dengan Alea dan Jack.


Aku ragu apakah aku bongkar saja hubungan gelap Alea dengan Devan. Mumpung ada Jack. Tapi kesan nya aku jahat banged ngurusin rumah tangga Jack dan Alea. Apa iya aku bakalan jadi super hero kalau ngebongkar kebenaran. Tapi dampak nya Devan akan marah besar dan malahan ini bisa memicu perpisahan Jack dengan Alea jadi cepat.


Aku menggeleng geleng lalu minum lagi anggur ini.


Aku harus cari cara. Dan minuman terus aku tegak.


Spontan aku geser gelas Alea yang dituangkan Devan.


" Aku aku...


Devan dan Alea tampak kaget tapi ku tak peduli. Aku membusungkan dada seolah tak peduli dengan tatapan mereka yang heran bersamaan kaget.


" Thanks" Minuman itu aku tegak lagi setelah Devan memberikan anggur itu lagi.


Alea mau buka mulut dan aku keburu menyamber nya.


" Dev... Aku mau 1 botol buat dirumah bisa kan"


Lalu aku tersenyum garing pada Alea dan menjulurkan lidah.


Alea tampak kaget ia hanya tersenyum miring.


" Tentu. " Sahut Devan.


Mereka mau bicara lagi. Aku menepuk bahu Devan.


" Oh. Aku lupa kemaren waktu kamu tidur. Ada dengar suara gedebuk keras ga Dev.. Aku kok dengar ya.. Tapi mata aku ngantuk banged. Kira-kita apa yang jatuh ya. Apa jangan jangan ada pohon tumbang di depan???" Cecar ku lengkap dengan gaya tangan kemana mana seolah olah cerita ku ini hot banged.


Devan melebar matanya bibir nya bergetar sesaat. " Aku ga dengar..." Kata nya disana menyembunyikan muka nya yang jelas jelas memerah. Kena kamu!!


" Oh ga dengar ya. Aku nanya ke Marissa katanya dia dengar juga. Tuh kan.. Aku pikir ada orang yang sepertj gajah jatuh dari langit. Hahaha habis suara nya keras sekali. Rumah sampai bergoyang..Apa mungkin gempa bumi ya Dev.. Aku jadi takut kalau saat tidur tiba tiba bumi bergetar." Aku menggigit kuku ku dengan wajah cemas.


Devan yang merasa dirinya di singgung sungguh nampak misuh misuh. Sangat menggelikan. Dia sadar kalau yang aku bilang itu dia dan lihat saja wajah tak enak nya langsung terlihat. Mungkin dalam hati nya ia mengumpat kesal padaku mengatakan ia seperti pohon, gajah atau berat sekali badan nya sampai seperti gempa bumi.


" Ga ada gempa bumi Alena. Tenang saja" Kata Devan mencoba menenangkan ku sambil mengurut pangkal hidung nya.


Hhaa tentu saja bukan. Wong dia yang jatuh.


Bisa kunikmati wajah kesal nya disana juga frustasi.


" Aah begitu ya. Semoga saja" Kata ku bernafas lega.


Kudengar ponsel Mr. Jack berbunyi. Ia memberi isyarat untuk mengangkat telepon itu dan beranjak dari sana.


" Woooh.. Suami mu dapat telepon dan langsung pergi. Jangan jangan itu dari wanita? Apa mungkin selingkuhan nya??" Aku mendelik kearah Alea, korban ku berikutnya Alea.


Alea nampak kaget dan menengok kearah suami nya yang disana sedang berbicara dengan telepon nya.


Jidat ku tau-tau di sentil Devan " Alena kenapa kamu ngomong seperti itu?" Ia melotot tidak suka. Memperingati tingkah ku.


" Lho emang kenapa. Kan dia juga selingkuhin suami nya dengan kamu kan. Bisa saja karma lagi berlaku. Suami nya juga selingkuh" Cicit ku dengan jiwa serasa aku benar seratus persen lagian aku kesal dengan tingkah Dev dan Alea yang sok suci sekarang ini.


" Alena.. Kenapa kamu jadi bertingkah konyol begini. Kamu seperti tukang gosip tau ga" Devan menarik ku dan berbisik dengan geram. Aku melotot padanya.


" Tukang gosip! Aku hanya bicara apa adanya! Apa..! Kenapa melototi ku. Apa kamu kesal karena aku memperingati kekasih terlarang mu? Ha!!


Aku balas melotot padanya bahkan ingin aku jambak saja rambut Devan ini karena kesal.


"Ehem.. " Alea mendehem. Aku menoleh padanya dengan kekuatan sinar ultra semoga saja ia segera terbelah belah disana. Sayang nya itu hanya imjinasi ku saja.


Alea nampak diam saja sambil menekuri minuman nya bahkan seolah menikmati keributan yang kubuat. Apa aku terlihat lucu baginya.


" Kalian jangan ribut-ribut nanti Jack bisa dengar" Kata wanita rubah ini kemudian. Aku ingin semakin membuat keributan saja dengan nya.


" Apa kamu takut? Kamu takut ketahuan selingkuh oleh suami mu. Biar aku kasih tau sekalian...


Aku berdiri dengan geram saat hendak beranjak dari sana Devan langsung menangkap ku dengan gesit.


" Apa? Kamu mau melarang ku?? Coba saja...


Aku segera melancarkan pemberontakan. Tapi tau tau tubuh ku malah di angkat.


Yaa Dev..sialan. Lepasin...


Teriak ku disana sudah tidak tau lagi gimana kondisi ditempat itu yang ku bikin rusuh.


" Jaaaack.. Aku mau ngomong... Jack.. Istri mu.. Hmmmmpppnh


Mulut ku dijejal dengan tangan Devan. Rasanya mulut ku sesak sekali. Dan tempat ini tau tau sudah berada di daratan lagi. Pintu disana terbuka. Devan yang masih memanggul ku seolah berjalan cepat mengejar pintu disana.


Aku harus mengatakan nya pada Jack... Harus!!!


Tapi sekuat tenaga bergerak aku kalah kuat.


Hingga bisa sedikit ada peluang. Tangan itu aku gigit dengan keras.


Devan menjerit disana.


" Alena apa yang kamu lakukan.." Omel nya dan kami malah terhuyung, saat aku menggeliat lagi.


Bruk...


Devan lebih dulu berada di bawah. Aku menindih nya dengan pantat menduduki wajah nya.


Dengan cepat aku merangkak dari sana. Disana Devan masih gulung gulung kesakitan. Ternyata kami sudah berada di luar.


Pria itu dibantu beberapa orang untuk bangun. Dan aku mencari cari Jack juga Alea. Tapi mereka tak terlihat apakah Alea sudah mengamankan suami nya.


Ckck!!! Sialan... Liat aja nanti akan aku uber sampai ketemu.


" Dimana Alea?" Tanya ku pada Marissa yang menggendong Adela.


Marissa menggeleng ia terlihat masih bingung. Mungkin takjub dengan kegaduhan yang aku ciptakan.


" Alena.. Kamu mabuk... " Suara Devan di belakang ku.


" Mabuk. No!" Aku menatap nya sengit.


" Ini gara gara kamu.. " Jerit ku kesal.


Kulihat ia mengintruksi Marissa dan Becca untuk mengamankan anak anak. Apa dia pikir aku akan menyerang anak anak?


" Eh kalian mau kemana.. Marisaa.." Panggil ku panik.


Lalu tubuh ku kembali di angkat dengan 1 lengan nya mengikat di pinggang ku sampai aku terjepit di pinggulnya. Seperti sedang membawa map saja!!

__ADS_1


Aku kembali berjalan diatas udara dengan kaki mendayung diudara.


" Dev.. Lepas" Pekik ku berusaha menggapai nya tapi hanya udara yang bisa aku raih.


Aku dibawa beberapa meter dari sana. Dari keramaian yang sudah berkumpul untuk menyaksikan sinetron Indonesia.


Hingga punggung ku terhentak oleh sebuah sofa berlapis kulit berwarna merah. Kami berada di atas ketinggian yang cukup tinggi. Sampai bulu kuduk ku meremamg saat melihat kebawah yang hanya berlantai kaca transparan tebal. Lutut ku langsung kesemutan melihat kebawah.


" Jangan menggila Alena... " Hardik Devan disana lalu mengurung ku dengan tubuh nya dengan kedua tangan menangkup lengan ku dan mengunci nya keatas.


" Kamu yang gila Dev.. Kamu gila" Teriak ku.


Kulirik lagi ke bawah aku meremang " Kamu bilang jaga sikap dan jadi ibu yang baik buat Adela. Kamu sendiri apa kamu baik untuk bapak nya Adela. Kamu mau memberikan pengaruh negatif unuk Adela? Kamu berhubungan dengan istri orang. Kamu sadar yang kamu lakukaan.." Teriak ku lagi disana dengan kemarahan masih menempel di kepala ku. Tangan ku terasa sakit di tekan disana tapi tak menyulutkan emosi ku.


Devan disana hanya melihat ku malah seperti menonton wayang golek. Mata nya tak bergeming malah bisa kulihat ada garis senyum.


" Kamu cemburu?" Timpal nya dengan santai nya!


" Cemburu? Kamu gila..?" Pekik ku kaget.


" Cemburu?kamu gila?"


Ia malah mengikuti dan meniru suara ku.


Aku mengerutkan kening. Dia malah ikutan juga. Aku melotot dia juga melotot lebay.


" Yaa Dev !"


"Yaa Dev!"


" Jangan mengikuti ku!!"


" Jangan mengikuti ku!!"


Aku makin dongkol kata kata ku diikuti dengam suara kecewek-cewekan, bahkan suara ku lebih bagus dari yang ia tiru. Dari pada dia mirip banci.


" Mau mu apa??"


" Mau mu apaa??"


Kepala ini semaki penuh dengan yang nama nya esmoci.


Kaki nya aku tendang, tapi ia menghindar dan malah tersenyum lebar.


Melihat itu aku makin berusaha mengejar kaki nya. Tapi lagi lagi dia lolos.


" Dev....


" Dev...


Aku terperangah kesal melototi nya tanpa ampun.


Tangan ku berusaha memberontak tapi ia sudah menggunakan kedua tangan nya. Aku jelas kalah.


" Katakan saja kalah kamu cemburu. Aku akan beri ampunan..." Ucap nya disana seolah merayu ku dalam tatapan.


" Jangan mimpi!!! Aku tidak cemburu. Siapa yang cemburu. Silahkan sana dengan wanita tidak tau malu itu. Kamu dan dia serasi. sama sama hmmmmmmmmp


Mulut ku malah dijejal dengan bibir nya. Lidah nya menerobos tajam dan berusaha menjinakkan emosi ku disana.


Aku benar benar tidak bisa berbuat apa apa. Tangan di tahan. Tubuh di jepit dan ini bibir ku malah di lahap rakus. Dan lidah nya berkeliaran didalam rongga mulut ku.


" Lepaskan aku baj*ngaaaan, lepaskan.." Lolong ku dalam hati.


Mencium ku dalam keadaan sadar! Apa dia sudah gila!! Kenapa main cium cium aja. Aku tidak semurah itu!!


Ia melepas ciuman nya. Aku yang masih syok mencoba menarik nafas dalam dalam. Oksigen aku butuh oksigen.


" Apa yang kamu lakukan.. Kamu mencium ku! Kamu gi-


Hmmmmp


Bibir ku kembali di lahap dengan dalam beberapa detik aku bisa merasakan lidah panas nya menari nari di rongga mulut ku. Kemudian melepaskan lagi. Ia menggeriyang kan mata.


" Bilang kamu cemburu!!! Aku akan berhenti mencium mu...


" Dev... Aku bukan alea... Aku bukan siapa siapa kamu untuk apa aku cemburu...!"


" Kamu cemburu kan Alena... Mata mu bilang begitu??"


" Ga!" Teriak ku mengerjapkan mata. Apa yang ia lihat dimata ku. Apakah ia bisa mengetahui nya!! Shit!! Lalu aku memejamkan mata takut ia akan menemukan kebohongan dari kalimat ku.


" Berarti kamu ga berani melihat ku. Akui saja kamu cemburu? " Bisik nya disana dengan lembut.


Oh Tuhan...


Aku menggeleng geleng.


"Nih lihat mata ku! Aku ga bohong" Terpaksa ku belalakan mata. Tapi aku tercekat ia menatap ku tajam. Tatapan memuja dan rasanya aku mulai merasa dizona bahaya.


" Kamu cemburu. Akui itu Alena. Aku tidak akan marah" Bisik nya dengan nafas panjang. Menggelitik telinga ku. Jantung ku semakin begendang ria.


" Yaaa yaaa aku akui aku cemburu! Puas! Aku cemburu melihat mu dengan Alea. Aku marah mendengar percintaan panas mu dengan Alea.. Aku benci kamu Dev.. Aku benci sangat" Teriak ku terprovokasi disini. Dan rasa ini rasanya yang sangat mengerikan. Aku mengakui nya bahkan aku merasa lemah tak berdaya dan ini kenapa juga aku menitik kan air mata.


Tangan yang menahan ku terlepas.


Aku sungguh tak bisa membuka mata lagi. Sungguh memalukan. Terjun aja kamu Alena.


Aku mendorong bahu nya dengan keras.


" Aku pikir ini hanya perasaan sementara tapi tidak. Aku benci perasaan ini Dev...


Aku malah terisak. Rasanya sungguh menyakitkan masih mencintai nya saat ia sudah memiliki tambatan hati. Apa begini sewaktu aku memilih Jordan dari pada dia. Rasanya sangat tak enak. Tapi rela menderita demi rasa sayang. Lalu Aku melorot disana dan merasa sudah menyerah.


Tamat sudah riwayat ku!!


" Kita pulang ya..." Devan mengangkat bahu ku. Aku menepis nya.


" Jangan sentuh aku jijik sama kamu. " Teriak ku persis suara yang kerap ada di tiktok.


Lali bahu nya aku tubruk dan meninggalkan Devan disana. Rasanya aku benar benat mau gila karena sudah mengakui nya barusan.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya memeluk Adela yang tertidur. Melihat Devan pun enggan. Rasanya setelah pengakuan ku aku sudah tak punya semangat hidup, terlalu memalukan. Dan menyedihkan menerima cinta bertepuk sebelah tangan.


*


*


*


Hmmmm, ia mendehem nyaring.

__ADS_1


Aku mengganti posisi duduk dan terus melihat jendela luar saat mobil ini kembali mengangkut aku dan Devan untuk kembali beraktivitas keesokan hari nya. Rasanya sungguh horor bersebelahan lagi dengan Devan.


" Jadwal kita apa hari ini?" Tanya nya.


" Maaf kita??" Tanya ku heran.


" Aku! Jadwal ku apa" Ia meralat nya.


Apa ia sengaja mengucapkan nya ingin meledek ku.


Aku menyebik kesal. Lalu mengambil tablet. Menjelaskan detail jadwal nya hari ini yang lumayan padat merayap. Tapi aku senang. Biasanya ada beberapa kegiatan yang tidak harus dengan ku. Biasanya sama Clara atau Rudy. Jadi Aku bisa santai sebentar.


*


Kami tiba di kantor dan aktivitas awal ku adalah membuat kan nya kopi. Aku membuat dengan sungguh-sungguh bukan asal asalan lagi seperti sebelum nya hanya untuk curi curi pandang. Karena aku lagi tidak mau melihat nya.


" Terlalu manis...


" Terlalu pait


" Kopi nya kurang sip, bikin lagi


" Rasanya aneh..


" Sekali.lagi ya... Jangan sampai salah. Bikin yang cantik"


5 kali aku bolak balik dari ruangan nya ke pantry apa ia mengerjai ku. Bahkan aku sengaja tidak membuat yang baru tapi tetap ditolak dengan alasan berbeda. Dia memang sengaja mengerjaiku.


" Ini yang terakhir... Sekali lagi ditolak saya akan bunuh diri" Kata ku dongkol.


Kulihat disana ia melengkungkan senyuman. Sungguh niatnya ingin membuat ku kesal.


Devan mengesap kopi yang memang tidak aku bikin baru.


" Naaah ini pas" Katanya disana. Tuh kan dia memang bikin orang membunuhnya. Untung tidak aku kasih sianida.


" Oke pak, saya permisi" Kata ku malas. Lalu segera berbalik.


" Alena..


Ia memanggil ku lagi saat aku hampir meraih pintu. Dan aku kembali kedepan nya sana.


Ia nampak berpikir disana dengan mengurut dahi seolah ada hal berat yang ia pikirkan.


Tik


Tok


Tik


Tok


Aku menunggu lama dan was was. Hingga kurasa sudah 10 menit aku berdiri disana sampai kaki ini pegal. Emang enak apa berdiri denga  heel setinggi 12 cm!


" Ga jadi deh., nanti aja" Katanya disana dengan santainya dan kembali menghadap komputernya.


Sudut bibir ku mengedut " Diaaaaa aaaaaaagggggghr


Imajinasi ku sudah membayangkan kalau ia aku tendang dari sini hingga keluar dari jendela dan berubah jadi bintang di langit biru sana.


" Baik pak" Kata ku yang realita!


Aku undur diri dan beruntung ia tak mengerjai ku lagi.


Aku bisa duduk di bangku ku. Mengacak rambut ku dengan kesal. Sungguh aku menyesal sudah mengakui nya malam tadi.


Andai bisa ditatrik kembali kata kata ku.


Dugaan ku salah ternyata dia tidak mengajak Clara tapi aku dan sepanjang menelusuri lobby kantor. Aku merasa bahwa Devan mau pamer kalau dia sangat populer.


Fans fans dari pegawai nya yang mengelu-elukan nama nya semakin membuat wajah nya setebal sendal jepit, bisa ku lihat ia menaikan Dagu dan Terus-terusan membalas sapaan pegawai nya yang rata rata perempuan. Tentu itu membuat wanita wanita itu menjerit histeris. Padahal sebelum nya ia tak pernah membalas sapaan karyawan nya. Tersenyum pun tidak. Lalu ini apa??


Aku benar benar menelan biji kedondong setiap melihat senyum merekah nya disana yang berlebihan.


Oh Tuhan.. Help...


" Alena.. Cepat masuk" Katanya didalam mobil


Aku mengangguk dan segera masuk kedalam sana.


Kulirik Devan yang masih mengembangkan senyum entah apa yang ia pikirkan.


" Begini" Kata ku kembali menimbang.


Aku menggigit bibir bawah ku.


" Mengenai tadi malam. Itu tolong lupakan!!! " Aku lalu melebarkan senyum. Setelah ia melihat ku dengan penuh penimbangan. Aku segera melihat ke depan lagi jari ku sampai sedingin es. Kenapa pula aku membahas nya.


" Aku cepat suka dengan orang cepat juga melupakan. Jadi jangan dianggap serius. Okey!!"


Setelah mengucapkan nya aku segera menjejal telinga ku dengan headset dan membuang muka lagi ke jendela. Aku tak mau dengan apa sahutan nya cukup tadi sebagai pemberitahuan ku.


15 menit kemudian kami sampai.


Hari ini jadwal Devan menghadiri sebuah seminar di Fakultas Teknologi terkemuka yang ada di Kota itu. Dia diundang sebagai tamu terhormat. Harus nya yang bersama nya Clara tapi di ganti aku. Aku tau dia hanya ingin pamer lagi.


Dan benar saja kan di kampus sini tentu lebih banyak kutil-kutil betina keganjenan yang menyanjung dan memuji nya, bahkan gadis gadis ini terang-terangan mengajak Devan kencan. Aku bisa melihat dan mendengar nya karena harus di belakang nya saat di kerumuni wanita-wanita ini tiba-tiba datang bergerombol saat seminar selesai dan mereka mengepungi kami seperti sedang berbagi sembako murah dan aku seperti sedang bersama superstar saja, mereka berseru dan berteriak menanyakan kata kata sanjungan buat Devan meelu-elukan kekaguman mereka.


" Hey Mr. Alex.. Aku Laura Apa kamu ingat aku! Aku pernah ikut kompentensi Power supply tahun lalu di Microsoft Corporation! Dan juga ayah ku yang di Winds Com." Kata gadis ini  dengan senyum menggoda nya. Penuturan nya jelas lebih unggul dari lainnya.


" Laura? Kamu anak yang memenangkan tahun lalu?" Devan seperti nya mengenal gadis ini. Ia seperti menemukan sebongkah permata di bawah tanah.


Gadis bernama Laura ini tersenyum. Mata hijau nya menggeriyang seperti embun pagi. Tapi menurut ku malah seperti kotoran sapi. Huek. Dan lihat dada nya aja hanya sebesar bini ketumbar.


" Yeah Mr. Alex, besok malam kebetulan ada pesta, mau pergi dengan ku?? " Ucap Laura ini dengan nada genit bahkan suara nya di desah desahkan. Untuk apaan coba itu? Dia spesies ular Inggris apa?


Spontan aku langsung merayap masuk diantara Devan dan gadis abg cabe-cabeaan ini.


" Hmm Sorry. Miss.. Presdir tidak bisa lama-lama dia harus pulang kerumah jadwal bersihan pup anak nya"


Dengan gesit aku menarik Devan dan segera menjauhkan ia dari dewi ular itu. Kulihat Devan di sana mengulum senyum. Seperti nya teruntuk si gadis muda itu.


" Ho hooo, Alena... Tenang Alena... Kamu kenapa" Cicit pria ini bikin keki saja. Aku melepaskan tangan ku dan melihat nya dongkol. Dengan kesal aku langsung masuk pergi dari sana melangkah lebar-lebar duduk disebuah taman dengan nafas ku naik turun. Devan itu makin kesini kelakuan nya childish!!! Tapi aku langsung sadar kalau kelakuan ku barusan lah yang menjijjkan.


" Yaaa ampun Alena... Tadi itu kamu kentara sekali cemburu nya!!!" Jerit ku langsung menjambak rambut ini lalu menghentakkan kaki dengan kuat.


Ponsel ku lalu menyanyi ria disana. Aku pikir itu Devan yang mencari keberadaan ku ternyata nomor tak dikenal dan kode area nya dari Negara itu. Aku menebak itu ada hubungan nya dengan pekerjaan.


" Ya hallo.."


Terdengar suara nafas panjang disana. Aku menunggu sipenelepon bersuara. Tapi firasat buruk menghinggapi ku. Entah apa itu.

__ADS_1


" Apa kabar Alena..." Suara berat dengn bahasa Indonesia yang pasih tapi suara ini familiar di telinga ku.


" Jo....


__ADS_2