
Dari sudut ketajaman mata Dave ia bisa melihat sniper itu mengarah ke arah lantai yang ia tempati. Dan garis bidikan itu bergerak gerak mengikuti gerakan kepala sodaranya. Devan! Ia pun segera mengambil pistol milik nya yang ada di belakang baju nya. Menyelusup di tirai sana. Seperti angin. Dengan tajam Dave membidik dan menempatkan jari nya di pelatuk. Menunggu peluru disana dilepaskan.
Dari matanya ia bisa melihat jari si penembak melepaskan pelatuk nya hingga peluru itu melesat sangat cepat dan dari hitungan sangat akurat saat peluru lawan nyaris masuk untuk membunuh sodaranya. Ia juga melepaskan pelatuk. Pelurunya melesat dengan cepat menghantam peluru penembak itu hingga pelurunya membentur dan peluru lawan hancur menjadi kepingan diudara.
Dalam 1 detik ia kembali menembak orang dibalik senjata api disana. Kali ini peluru nya melesat. Pelaku disana seperti nya sudah mengetahui tindakan nya barusan. Dan dengan cepat pelaku itu segera kabur dari sana.
" Suara apa itu tadi? " Tanya Mami sayup sayup mendengar suara tembakan. Amarah nya meredup dan melepaskan jeweran nya di kuping Devan.
Devan yang mendengar juga segera melihat situasi. Dave tak terlihat disana. Bahkan ia yakin Dave tadi duduk di kursi nya seeperti bocah yang bermin komedi putar, hingga ia bisa melihat sodara nya itu berada di bilik tirai. Keluar dari sana dengan rahang mengeras dan aura nya tampak gelap. ia melihat Dave menyembunyikan pistol nya di balik baju nya. Devan yakin ada sesuatu yang terjadi.
Devan melangkah lebar-lebar.
" Ada apa?? "
"Kepala loe nyaris bocor bro! Gila! Apa yang terjadi! " Bisik Dave dengan mata melotot keluar.
Devan mengintip ke tirai dengan tenang matanya menangkap kaca jendela gedung seberang sana yang terbuka. Bekas sniper itu berada.
" Kaca disini sudah anti peluru! Kamu bawa Mami ke mension sekarang juga! Aku rasa baru membuat psycho itu kumat" Perintah nya masih dengan nada tenang. Ia tak ingin ibu negara disana bakal kebakaran jenggot kalau tau lantai ini baru diserang seseorang.
Dave mengangguk dan bertepatan itu Alena dan Susan muncul.
" Jangan ceritakan ke mereka" Sambung Devan lagi sambil tersenyum kearah Alena disana dan berjalan cepat mengarah kewanita itu dengan wajah manis.
" Mami, Susan kita istirahat dulu yok.. Mami kan mau ketemu Adela. Dan gue juga kangen berat sama simerah" Cicit Dave yang kembali berubah menjadi alay berbeda saat ia beraksi barusan.
" Tadi itu suara apaan Dave dengar ga ada suara tembakan gitu?? "Cicit Mami masih penasaran.
Dave tertawa ringkih" Ooh itu kan Dava baru maen games Mami.. Udah yuk.. Balik. Alena kamu mau ikut apa ga??? "
" Nanti aja deh. Kalian aja dulu. Masih ada kerjaan" Tolak Alena yang sambil di rangkul Devan.
" Kerjaan apa sayang. Mami kan baru datang. Papa kamu juga ada! Libur.. Libur.. Kamu harus Libur. Mami ga mau tau" Sembur Mami tidak mau di bantah.
Devan mengangguk menyuruh Alena agar mengikuti perintah Mami nya dulu walaupun ia enggan terpisah dengan Alena.
Alena sebenarnya mau menceritakan cincin itu tapi ia juga mengerti Ibu Negara disana masih berkuasa atas segala nya. Bahkan 2 putera bandel nya itu tam berkutik kalau beliau mengamuk.
" Ya sudah lah! Aku go home dulu"
Devan tersenyum lalu mengecup kening Alena sebelum perempuan itu berbaur dengan keluarga nya dan menghilang di bilik pintu.
Nafas nya baru terbuang dengan berat.
Ia segera memasang interkom.
Air muk nya berubah dratis. Terasa atmosfer disana berubah seketika.
" Dari lantai gedung seberang muncul sniper! Cepat selidiki" Perintah nya disana sambil bergegas menuju laptop nya.
Disana Rudy juga sudah mengirini email. Ada kode seri yang berhasil ia dapat kan.
Dengan keahlian otak nya yang mengalir di kesepuluh jarinya ia berhasil mendeteksi keberadaan gps sesuai nomor seri benda itu. Sudut bibir nya tertarik keatas.
Dilayar tampak seperti peta di kota itu sekarang ada titik kuning yang bergerak gerak tak jauh dari gedung perusahaan nya.
" Shit!!!
Devan segera mengirim titik lokasi itu pada Rudy juga Paul.
" Segera temukan titik itu diam-diam. Itu Jordan!! " Titah nya lagi sambil berteriak sampai urat leher nya mencuat. Ia marah besar karena Jordan nyaris saja membuat kepala nya bocor. Pria itu memang lawan yang tidak main-main.
Tidak mau hanya menunggu. Ia mengambil mantel nya dan senjata api dari laci nya.
Belum sampai beranjak. Ponsel nya berbunyi ada chat dari Alena.
Alena mengirimi sebuah foto.
Ia pun membuka pesan dari kekasih nya tersebut.
Foto cincin bermata berlian yang berwarna biru
" Dev.. Jo ada disekitar sana. Tadi di kamar mandi aku menemukan cincin ini yang dulu ia berikan padaku. Aku tak ingin nanti kamu salah paham. I love u. Alena!! "
__ADS_1
Membaca itu jelas membuat diri Devan terbakar.
Bagaimana bisa keamanan yang sudah ia perketat malah kecolongan lagi! Jo malah mengirimi cincin itu ke tangan Alena.
" Baiklah.. Jo.. Aku rasa aku akan membiarkan mu memakai cincin itu disaat kamu jadi mayat" Geram nya lalu menarik pelatuk nya dan segera melangkah pergi dari sana.
Sementara itu
Alena yang berada di mobil sedang mendengarkan celoteh Mami dan Dave juga celetukan Nita yang juga sudah bergabung. Mereka mirip emak emak ngerumpi yang asik menggosipkan tetangga. Dan Nita yang baru kenal Mami saja sudah sebegitu cocok nya.
" Ya begitu dah Len di pesawat 3 rumpi ini heboh dengan aib artis! Pusing tau ga. Ga bisa tidur. Apalagi pas mau tidur adik ipar kamu itu dengkur nya ya ampuuun.. Mirip toak. Keras sekali. " Cicit Susan menggeleng geleng.
Alena hanya cengengesan ia sendiri sudah menderita kurang tidur saat 1 pesawat dengan Dave dan bisa membayangkan bagaimana Susan saat mengantuk menyerang mau tidur malah ga bisa terganggu oleh ngorokan Dave.
Mobil limosin itu pun meluncur dengan aman sampai di mension.
" Iih kok banyak penjaga gini sih Len.. Emang begini ya Devan sok presiden sampai banyak penjaga?? " Tanya Mami kebingungan.
" Iya ya kayak ngalahin sultan arab aja! " Tambah Nita juga.
" Mmm biar Mami lebih aman kali Mam.. " Sahut Alena tak tahu harus berbohong yang bagaimana.
" Lebay banged ah si dedev yuk ah turun. Mami dah ga tahan mo ketemu cucu Mami. " Kata Mami semangat empat lima dan segera menjulurkan kaki nya keluar dari mobil yang sudah di kawal beberapa penjaga.
" Kayak nya laki kamu posesif banged nih Len.. Ngejaga kamu! Iya sih kalo lawan nya Jo juga harus kudu hati-hati banged. Pengaruh nya kan juga gede!! " Kata Susan sebelum keluar dari limo itu.
Alena terdiam sebentar, kegelisahan nya belum tenang dengan kedatangan para keluarga dan sahabat-sahabatnya itu disana.
Ia lalu melihat Dave masih di mobil sedang mengetik sesuatu di ponsel nya. Ia mau bicara dengan Dave dengan ide dikepalanta, tapi setelah menimbang ia mengurungkan nya. Ia yakin Dave juga tidak bersedia.
" Wooooww. Keren banged udara nya sejuuuk" Jerit Nita disana merenggangkan tangan nya Melihat bukit bukit berwarna hijau yang tampak sangat sejuk dimata. Juga pepohonan disana yang berayun ayun oleh angin padahal masih musim panas tapi berhubung itu di perbukitan udara nya dingin kalau jam siang begini. Gadis itu berputar putar dengan riang.
Nita menebarkan pandang dilihat nya pada penjaga disana yang dengan apik berpakaian jas hitam hitam tersusun dengan tubuh mereka juga sedap di pandang mata apalagi semua nya bule. Mata Nita langsung menggeriyang genit.
" Sus.. Disebelah sana okeh tuh. Busyet mitip vindiesil botak seksi.. "
" Apaan sih. Ga cukup Rudy ya di kecengin. Buruan masuk.. " Seret Susan dikerah Nita.
" Rudy mah lewat. Kering aku di gantungin mulu...
" Ya ampun Sus.. Aku rasanya meleleh" Pekik Nita segera menghentikan langkah Susan. "Sumpah siapa pria disana... " Cicit Nita dengan mata berkabut amor yang tampak keluar dari mata nya. Ia merasa sudah jatuh cinta pada Max pada pandangan pertama.
Susan meringis geli melihat sahabat nya ini yang masih jomblo akut punya gebetan tapi tak ada status sama sekali. " Ya udah terserah deh. Kamu kejar deh pria berkuda itu!!! " Kata Susan memberi dukungan.
" Serius.. Dengan senang hati. Aaah pangeran... " Teriak nya nyaring dan segera berlari kearah berlawanan menuju dimana Max menghilang dengan kuda nya.
Di sisi lain ada penjaga disana yang memang orang Jordan. Melihat Nita keluar dari zona aman. Ia pun berbicara melakui interkom nya secara sembunyi-sembunyi.
Nita menjadi target mereka saat ini.
Sementara itu. Mami yang melihat Jeremy dan Adela malah menangis penuh haru dan rasa kebahagian yang tidak bisa ia sampaikan dengan kata-kata. Jeremy yang tak pernah ketemu Mami jelas ketakutan dan berlari kebelakang Alena .
" Ya ampun Jeremy. Ini oma.. Oma kamu.. Oma yang paling cantik di era 70-an!! Dan masih kece badai di tahun sekarang..Plis jangan takut sama Oma.. Oma bukan nenek lampir" Cicit Mami merasa sangat terpukul melihat cucu laki-laki nya ketakutan seperti itu saat mendapat pelukan pertama dari Mami yang tiba-tiba memeluknya dari belakang saat Jeremy sedang main mobil-mobilan di ruang tamu.
" Mommy... Jeremy takut" Tangis Jeremy malah mengeratkan tangan nya ke kaki Alena.
Alena hanya bisa menahan tawa melihat Jeremy seperti itu. " Ga udah takut Sayang. Ini Nenek nya Jeremy! Mommy nya Papi. Panggil Nenek Jeremy Oma!! Oma baik kok. Kalau jeremy minta segunung tayo oma bakal beliin. Sumpah" Rayu Alena akurat.
" Iiya.. Jeremy minta apapun Oma beliin. Ga seperti Papi kamu. Beliin nya dikit. Ayo sini sayang. Mendekat sama Oma... " Pinta Mami yang sudah tak sabar meuyel pipi bocah bule itu.
Jeremy kembali mendongak kearah Alena minta persetujuan.
" Ya Jeremy.. Peluk Oma.. Sekarang itu Nenek nya Jeremy.. Katanya kemaren mau ketemu Nenek.."
Dengan pelan Jeremy mendekat lalu memeluk wanita tak lagi muda itu dengan erat. Mami kembali menangis dan tangis nya kembali pecah saat Adela yang baru bangun tidur keluar bersama Marissa. Bayi menggemaskan itu langsung bercuap apa saja melihat begitu ramai rumah itu saat ini. Penuh dengan wajah wajah baru dan semua tampak antusias mau rebutan menggendong nya. Terlebih si prajurit yang sudah berada di garda depan sana mengambil antrian pertama mengingat Bayi mungil yang hanya sepanjang lengan nya dulu sudah begitu besar juga sangat cantik malah. Dan pernah siang malam bersama nya di apartemen nya dalam sepekan.
Kalau tak mengingat ia seorang militer Dave akan menangis sejadi jadinya sekarang.
Sementara itu Alena langsung menyalami Papa nya. Andi! Dan memeluk nya erat, ia sangat merindukan pria yang sudah berumur 50 an lebih itu, tangisnya ikut pecah mengingat sudah berbulan bulan mereka tak bertemu.
" Papa.. Alena sangat kangen"
" Papa juga Len.. Papa senang akhirnya kita bisa melihat kamu lagi. Dan juga Adela.. Dia sangat cantik. Persis kamu seperti bayi" Kata Papa Andi sambil mengurai pelukan nya.
__ADS_1
" Hmm iya.. Dia mirip Alena banged ya pa.. Dan Alena yakin dia akan hidup bahagia. Banyak yang menyanyangi nya" Ucap Alena yang melihat bagaimana Dave disana rebutan sama Susan untuk menggendong nya. Bahkan Mami juga ikut rebutan disana mengundang gelak tawa saja.
" Tentu!! Dia akan bahagia banyak yang mencintai nya, tapi ngomong-ngomong kapan acara pernikahan nya?? "
Alena menatap Papa nya. " Menikah?? "
" Iya! Devan dua hari yang lalu ada video call ke Papa dan minta ijin buat menjadikan mu istri lagi, lalu besok nya Mami juga Papi Devan nongol. Minta perihal yang sama. Papa sih yang mana kamu bahagia saja Len. Papa selalu setuju. Tapi kamu yakin kan dengan Devan yang sekarang?? " Tanya Papa kali ini dengan serius melihat mata puterinya.
Alena melihat nya sebagai seorang Ayah yang menginginkan keputusan puterinya kali ini yang terbaik.
Alena mengangguk dan mendalami tatapan Papa nya dengan sayang. Memeluk lagi sosok pria itu.
" Alena merasa ga bisa hidup tanpa dia Pa! Kali ini Alena sudah menemukan yang terakhir dan bukan kaleng-kaleng lagi" Cicit Alena membuat pria itu hanya tersenyum lebar dan merasa tenang. Lalu membalas pelukan puteri nya dengan sayang. " Pilihan mu memang telat Alena. Papa dulu menyetujui nya bukan hanya untuk melindungi perusahaan tapi Papa melihat cinta nya sangat besar padamu, tapi mungkin ini hikmah dari segala liku-liku hubungan kalian. Agar menguatkan perasaan cinta kalian"
Alena mengangguk membenarkan perkataan Papa nya. Kalau tak ada cobaan yang datang silih berganti ia mungkin tidak akan merasakan perasaan nya pada Devan sekuat sekarang.
" Jadi kapan pernikahan nya??
Alena mendongak lagi. Ia masih tidak mengerti apa yang dimaksud Papa nya.
" Mami Dev bilang kalian akan menikah di London. Karena itu kami semua kesini.. "
" Apa!!! "
Papa Andi melihat Alena dengan bingung. Jelas Alena tidak tau menahu dengan rencana itu apakah itu inisiatif Mami atau memang kemauan Devan. Hanya saja ia merasa di situasi yang belum mendukung. Firasat nya masih belum membaik setelah kembali nya Jo.
" Nanti kita diskusi kan pa" Kata Alena mengambil jalan tengah.
*
*
Devan membuka sebuah mobil yang terpakir tidak jauh dari perusahaan nya.
Titik itu sangat pas dari sinyal yang ia dapat kan.
Saat di buka senjata laras panjang dikerahkan disana tapi mobil itu kosong melopong. Hanya ada 1 kotak disana.
Paul segera mendeteksi benda itu dengan sebuah alat, kalau kalau ada unsur Boom atau benda berbahaya lainnya.
Alat itu tak berbunyi. Dan Rudy segera mengambil nya. Membuka kotak itu lalu mengeluarkan nya.
Sebuah benda berbentuk jarum dengan darah merah yang seperti nya baru dilepas.
Itu adalah chip gps yang ada di tubuh Jo. Bahkan ada surat disana yang bertulisan
" Sedang mencari aku?? "
Devan menggeram kesal.
Jo sudah bisa membaca tindakan nya lalu meninggalkan chip itu disana lagi lagi itu untuk mengolok-olok nya.
" Dia semakin pintar, kalian harus lebih siaga! " Perintah Devan lalu kembali mengenakan kacamata hitam nya kembali dan mengedarkan kesekeliling sana ia tau kalau Jo pasti ada disekitar situ. Kalau saja bisa mendapatkan leher pria itu. Sudah pasti akan ia gantung sekarang juga " Mau sampai kapan main petak umpat kamu Jo!! "
*
Sementara itu Nita sedang menunggu si penunggang kuda yang sudah membuat nya berdebar saat pertama kali melihat.
Max belum kelihatan batang hidung nya juga. Nita sampai jenuh duduk di pinggiran danau buatan itu. Walau ia tak tahu bagaimana mau mengenal pria itu, ia hanya ingin mencerna perasaan nya sekarang memikirkan pertemuan singkatnya lagi dengan Rudy. Pria yang terlalu lama menggantung hubungan nya. Hampir 1 tahun lebih dan tak ada kejelasan sama sekali. Pria itu seperti moody an. Kalau tak di pikirkan akan menghubungi kalau di cari malah menghilang.
Bahkan tadi ia sudah bikin pria itu malu dengan marah-marah tidak jelas saat melihat Rudy sedang bersama wanita berambut pirang yang sangat cantik. Wajah nya mirip selebriti "Emma Stone"
Ia tau sikap nya bar-bar dan kadang tidak bisa di kontrol tapi tadi itu ia hanya refleks tapi perkataan Rudy membuat nya membekas sampai sekarang.
Rudy bilang dia bukan siapa siapa dirinya dan memperingati Nita agar tidak mengulangi perbuatannya barusan.
Tentu itu membuat hatinya sakit. Sudah jelas kalau pria itu sama sekali tidak menginginkan nya. Padahal ia sudah mengosongkan hati nya hanya untuk Rudy. Hingga melihat Max ia merasa harus move on dari pria php itu.
Hingga ia merasa ada sesuatu bergerak di tanaman tanaman sisi disana. Ia merasa merinding saat angin berhembus di kulit nya. Air danau disana tampak tenang tapi desiran angin disana terdengar menyeramkan.
Segera Nita mengangkat kaki nya dari dalam air. Dengan kaki basah ia berjalan di titian kayu disana. Sepatu yang ia pakai sampai harus di pegang dan berjalan cepat cepat.
Firasat nya mulai berubah. Seperti ada yang mengikuti.
__ADS_1
Nita semakin mempercepat jalan nya. Hingga suatu tangan membekap mulut nya. Bau obat bius disana langsung masuk kedalam indera penciumannya. Rasa pusing masuk mendera kepalanya hingga ia merasa tubuh nya berubah jadi jelly dengan syarat tubuh yang kaku seketika. Tubuh itu lalu di seret dari sana.