
Max melihat seorang gadis diseberang sana, gadis Asia dengan rambut sebahu berwarna cokelat, gadis itu mengenakan gaun putih polos ia menebak kalau perempuan itu teman nya Alena atau kerabat nya dari Indonesia.
Nita berjalan buru-buru juga agak aneh, ia tampak ketakutan. Hingga tiba-tiba ada seseorang mengenakan pakaian hitam dan memakai Hodi muncul dari belakang membekap mulut Nita yang dengan cepat tubuh nya sudah jatuh ke pelaku.
Dengan cepat Max mengintruksikan Lucas untuk segera menolong Nita. Kaki kuat nya berlari seperti angin dan berhasil mendekati target. Pelaku itu sudah menyeret Nita tadi tapi dengan cepat ia mencambuk pelaku itu dengan kencang hingga ia kesakitan dan meninggalkan Nita yang jatuh ke tanah. Apalagi suara ringkikan Lucas mengundang para penjaga disisi sana dan melihat seorang laki laki berpakaian mencurigakan melarikan diri. Mereka segera mengejar pelaku itu.
Sedangkan Max segera turun dari Lucas mengangkat Nita dari sana.
*
*
*
Rudy menghentikan mobil. Ia dan Devan baru tiba di mension saat hari gelap.
Tampak didepan sana ada beberapa wanita bergerombol dengan 1 kuda dan empunya yang tampak primadona lagi.
" Seperti nya Alena perlu di hukum kalau terus genit-genitan dengan pria kuda itu!!! " Dengus nya jengkel. Dan merasa kembali cemburu.
" Seperti nya tidak begitu tuan" Sela Rudy yang kali ini menajamkan penglihatan melihat wanita yang ia kenal sedang memeluk Alena tapi mata nya sedang memuja pria disana.
Devan segera keluar dari mobil begitu juga Rudy yang mengekori dibelakang. Biasanya ia tak akan ikut campur tapi ia merasa perlu memastikan. Penglihatan nya.
" Aku terimakasih sekali Max. Kamu sudah menggagalkan penculikan Nita! " Kata Alena dengan sungguh-sungguh bahkan ia masih syok dengan kejadian barusan.
" Tidak masalah Alena. Kebetulan aku baru selesai mengajak Lucas jalan jalan dan melihat kejadian itu" Sahut Max dengan senyun manis nya mencoba menggeriyang pandangan nya pada Alena.
" Sebaiknya kita cek kamu ke klinik Nit! Aku takut ada efek dari obat nya" Kata Susan mengingatkan. Nita mengangguk pias, ia masih terlihat lemah tapi juga masih bisa jelalatan matanya memandangi pria penolong nya ini. Apalagi Max kalau dilihat secara dekat semakin ganteng.
" Aku rasa kamu sudah baikan" Gerutu Susan hanya geleng-geleng melihat Nita seperti itu.
" Eh.. Suami kamu datang Len" Intruksi Susan melihat ke belakang.
Alena dan Nita juga menoleh kebelakang. Nita langsung bugar lagi setelah melihat Rudy ada dibelakang Devan. Entah kenapa ia malah lari ke belakang Max ia masih merasa di permalukan pria itu dengan kata-katanya tadi siang. Dan malas untuk bertatap muka.
Devan berhenti disana sambil berkecak pinggang. Mata nya setajam elang menatap pria disana. Max!
" Kenapa kalian malah kumpul-kumpul diluar! " Kata Devan dengan dingin.
Alena mendehem. Ia tau betul kekasih nya ini sedang cemburu buta apalagi pada Max.
" Sayang... Nita baru saja di culik beruntung ada Max yang nolong" Kata Alena segera merangkul pria nya disana dan memeluk nya erat. Ia sengaja melakukan nya didepan Max agar pria nya ini tak salah paham lagi.
Melihat itu Max hanya senyum masam tapi tak bisa berbuat apa apa. Apalagi lawan nya Devan. Mending ia memilih mundur ketimbang mati muda.
" Apa!! Di culik siapa?! " Kekagetan itu keluar dari mulut Rudy yang spontan kaget dengan reaksi nya yang heboh sendiri. tak terkecuali Nita yang mesem mesem tapi ia menggeleng ia tak ingin salah paham lagi dengan kepedulian Rudy yang palsu.
" Penculikan!! Kapan kejadian nya?? " Tanya Devan dengan nada sudah melunak pada Max. Tapi mata nya masih tajam dengan berita barusan.
" Ya. Aku dan Susan sedang mencari Nita dan penjaga mengatakan ia ada di tempat Max. Nita baru saja siuman dari bius! Aaah ini mengerikan Dev.. Apa menurut mu ini ada hubungan nya dengan Jordan?? " Alena menatap Devan dengan cemas.
" Jangan takut!dia hanya menakut-nakuti kita saja! Aku akan jamin kita semua akan aman! " Sahut Devan mengusap lengan Alena dengan sayang. Menenangkan wanita nya itu agar tidak panik.
" Jadi ini tindakan Jo" Benak Alena merasa tidak menyangka saja dan tentu ia tambah resah.
" Terimakasih Max. Sudah ikut membantu. Kami memang sedang diteror " Ucap Devan langsung di sambut tangan nya oleh Max yang melebarkan senyum.
" Sudah sepantasnya sir!! Ah ini saya temukan di tempat kejadian" Max lalu merogoh saku nya dan memberikan sebuah pin disana.
Melihat itu wajah Devan kembaki mengeras. Ia kenal itu pin pengawal nya sendiri. Secara gamplang mengatakan kalau pengawal nya sedang berkhianat dan tidak menutup kemungkinan pengawal lain juga ada yang masih diragukan kesetiaan nya.
" Rudy! Selidiki dia" Devan memberikan pin itu pada Rudy.
" Iya tuan" Rudy mengambil pin itu dengan tatapan tajam. Tentu ia merasa perlu mencari pelaku nya. Ada rasa kemarahan disana. Entah kenapa ia sangat tak ingin Nita di sakiti seseorang.
" Sebaiknya kita masuk. Disini dingin. Dan aku sangat rindu dengan anak anak ku juga mau sungkeman sama mertua ganteng tersayangku... " Bisik Devan membuat Alena ingin rasanya menendang bokong Devan. Lama lama ia geli dengan takar kealay-an Devan sekarang yang menggelikan.
" Kita duluan ya gaes.. Noh.. Nita tinggal pilih mau sama Max apa Rudy ke klinik nya.. " Goda Alena mengedipkan mata sebelum pergi dari sana.
Susan mendehem nyaring setelah pasangan calon pasutri itu tak terlihat lagi. Ia melirik kearah Rudy yang juga tak beranjak dari sana. Dan situasi disana agak kikuk. Ia perlu mehidupi keadaan disana.
" Nita... Aku ga bisa bayangkan bagaimana kalau kamu tadi di culik sama penjahat itu. Nanti ngomong apa aku sama emak kamu... " Ringis Susan sembari menarik Nita dari persembunyian nya dan menangkup wajah perempuan ini yang menatap nya kaget. Mulut Nita sampai monyong monyong di tangkuo Susan dengan kencang.
" Beruntung ada Max ya. Dia sudah menyelamatkan nyawamu Nit.. Selain baik dia juga ganteng" Cicit Susan disana melihat Max dengan suka cita. Lalu melepas kan Nita yang ngos-ngosan memijit bibir nya nyaris monyong sungguhan.
Max hanya mengangguk cengo. Ia tak paham bahasa yang di keluarkan wanita bertubuh tinggi dan kurus ini. Tapi dari nada nya ia menebaknia sedang di puji lagi.
Nita memelas " Iya.. Aku juga ga tau harus balas dia dengan apa.. " Nita meringis pada Max lalu menggenggam implusit kearah Max kedua tangan nya ia genggam erat dan menatap nya dengan rasa terimakasih dengan imut.
Rudy merasa tenggorokan nya mengering melihat tingkah Nita yang seberani itu didepan nya dan bukan pada dia tapi pria lain. Rasanya mata nya terasa terbakar.
Lalu muncul angel bertanduk merah di belakang nya, Susan!
" Woooh.. Lihat! aku rasa Nita mulai menyukai Max deh! Max pria seksi! Badan nya bagus! Kulit nya coklat jantan banged!!Wajah nya juga ganteng dan lagi dia tipe Nita banged " Bisik Susan mencoba mengmpor-ngompori Rudy yang hanya bisa mencerna perkataan Susan dengan gelisah. Kata kata itu seperti mantera mujarab mengotori pikiran Rudy.
" Kalau aku jadi kamu akan aku seret Nita malam ini. Jadikan dia milik mu selama-lama nya... " Bisik Susan lagi persis malaikat jahat dengan tanduk dan wajah merah sedang menari nari di telinga Rudy. Suara nya pun di buat dramartis meniup kan aroma kecemburuan pada Rudy. Pria ini semakin gelisah tapi setelah melihat asal suara semua nya redup.
" Emang siapa peduli" Ucap Rudy pada Susan yang sedang merentangkan tangan nya bak sayap sayap. Spontan Susan langsung meringis dan menurunkan tangan nya melihat tatapan Rudy yang seolah tak terpengaruh.
Rudy kemudian melihat kearah Nita yang masih bertingkah imut didepn Max. Bibir nya mengerut dan segera beranjak dari sana dengan langkah lebar lebar.
__ADS_1
Nita mengenbalikan mimik asli nya setelah melihat Rudy pergi. Ia meringis kecewa melihat Rudy sebegitu acuh nya. Tapi ia menutupi nya dengan senyum didepan Max setelah pria ini menanyakan sesuatu.
" Ck! Ga berhasil... Dasar hati Alien!! " Gerutu Susan kesal. Ia lalu menuju Nita dan Max yang mengobrol kikuk.
" Okey Max. Kami pamit dulu yaa! " Susan berbaur dengan santai. " See u.. " Susan lalu merangkul sahabat nya itu dan melambaikan tangan pada Max dengan senyum sumringah.
" Eem kita balik dulu Max. Nanti aku traktir ya. Byee.. " Pisah Nita melambaikan tangan di balas Max yang juga melambaikan tangan sembari menarik Lucas pergi dari sana.
Dua sahabat ini terseok seok berjalan di perkarangan itu.
" Aku rasa Rudy cemburu buta" Kata Susan sambil melepas rangkulan nya.
" Cemburu buta dari Hongkong. Wong dia pegi gitu aja" Sungut Nita kesal.
" Hmm.. Kalau aku jadi dia ga bakal ikut ninbrung lama juga kali itu artinya dia kesal tu kamu dekat sama Max. Sudah buruan sana kejar. Nanti dia salah paham.. " Usir Susan mendorong Nita pelan. Nita terhuyung nyaris jatuh.
" Ops sorry Nit ga sengaja... " Kekeh Susan.
" Aah okey ga papa Sus..Kamu memang sahabat terbaik. Lup u Sinchaaan" Seru Nita memonyongkan bibir nya dan memberi Susan kiss di udara. Susan hanya cengat cengir saja lalu segera masuk kedalam sana sambil merentangkan tangan dan persendian nya. Perjalanan dari Jakarta-Batam lalu ke Inggris dan langsung ke kantor Devan tentu membuat nya pegal linu.
*
Nita berlari dan melihat Rudy sudah masuk kedalam mobil hitam itu. Ia semakin nekat saat mobil sudah meninggalkan perkarangan. Beruntung Rudy menginjak rem kalau tidak gadis itu akan tertabrak.
Nita sendiri langsung masuk kedalam mobil.
" Kamu gila? Mau mati! " Omel Rudy yang hanya disambut cengiran ala Nita.
" Kalau mati di tangan mu sih aku rela" Ringis Nita sambil ketawa.
Rudy berdecak kesal " Kenapa kamu kesini! Keluar.. " Usir Rudy dingin.
Bibir Nita mencebik sedih" Ihk kok gitu siiih"
" Aku mau pulang Nita! Jangan bikin ulah deh!! "
" Ikuuut"
Rudy mendelik kaget. Dan melirik Nita yang melancarkan aksi godaan nya dengan sorot seperti anak rusa yang bersedih. Ia mulai merasa pengap sekarang.
" Kepala ku masih pusing. Bius nya masih bikin mual, gatal-gatal, encok juga" Ringis Nita dengan suara mendayu dayu bahkan ia melihat Rudy dengan manja.
" Itu efek bius atau salah makan sih. Mana ada gatal-gatal encok segala. "
"Ops.. Hmm iya ya.. Tapi serius. Kepala ku masih pusing Rudy!!! Anterin aku ke klinik terdekat ya. Aku takut kalau efek nya nanti kenapa napa!! Pernafasan ku juga ga baik ini. Ngos-ngosan. Hmmmp hhmmmmp"
Nita mengambil udara dalam dalam disana sambil Mengibas-ngibaskan tanya nya ke udara.
Nita jadi frustasi. Pria ini susah sekali sekarang di taklukan. Beda dengan yang dulu. Ia pun menyerah.
" Ya sudah! Aku minta tolong sama Max aja deh. siapa tau dia mau di ajak pakai kuda berdua. Kan romantis tuh.. " Cicit Nita pelan. Ia pun membuka pintu mobil. Tapi tau-tau kunci disana tenggelam.
" Pakai sabuk pengaman!! " Kata Rudy disana dengan ketus kemudian langsung menyalakan mesin mobil lagi dan menjalankan nya dengan kecepatan tinggi. Nita mesem mesem lagi.
Kemudian mereka tiba di kota dan menemukan klinik terdekat disana. Nita segera di periksa keadaan nya. Ia masih baik baik saja dan hanya diberikan resep dokter untuk penghilang pusing.
" Okey. Sudah! Kalau gitu anter aku pulang " Kata anak itu setelah masuk kembali kedalam mobil.
Rudy menyalakan mesin dan menjalan kan nya lurus dan tidak berputar arah. Merasa lain jalur Nita merasa aneh.
" Kita kemana? Seingat ku tadi bukan jalan disini?!! "
" Kata nya kamu mau ikut aku pulang kan" Sahut Rudy disana dengan santai
" Aku kan hanya bercanda! Pulang pulang.. Aku belum ketemu ponakan ku Adela.." Pekik Nita juga merasa sangat lelah. Baru saja ia tiba dari perjalanan jauh sudah mengalami kejadian pahit dan sangat perlu istirahat.
Rudy tetap lurus menjalan kan mobil nya.
" Hey.. Kamu ga dengar ya Rud! Aku bilang pulang. Aku aduiin ke Alena nih.. Atau Boss Devan sekalian. " Ancam Nita jengkel.
" Aduin saja. Aku rasa mereka akan senang hati aku menampung mu malam ini" Sahut Rudy disana sambil melirik.
" Menampung... Apa maksud nya itu? Ya.. Kamu pikir aku gelandangan yang perlu di tampung.. Kamu jangan sembarangan ya Rudy!!! Kamu pikir hmmmm
Mulut nya tau-tau di jejal Rudy dengan tangan nya. Tapi Nita segera menggigit nya. Spontan Rudy menepikan mobil. Ia meringis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangan nya.
" Kau.. Ini jelmaan anjing apa! Main gigit orang!! "
" Siapa suruh! Main sumpel kemulut orang. Kamu pikir itu tangan enak. Asin tau cuiih cuiiih.. Ga enaaaak"
Rudy makin greget dengan Nita ia kembali menutup mulut Nita dengan tangan nya. Bahkan kedua tangan nya. Nita yang tak terima semakin memberontak menjambak pria itu dengan bringas. Kepala Rudy kesana kemari di tarik Nita dengan kekuatan super.
Bruk..
Kepala Rudy menghantam dashboard.
Melihat itu Nita langsung kecut. Hantaman nya barusan cukup nyaring dan keras. Ia yakin kepala itu pasti sakit nya bukan main.
" Aaaiiiish.. Aduuh sakit sekali.. Kamu makan apa sih sampai jadi strong begini" Ringis Rudy kembali menarik diri ke kursi nya kepala nya sampai kesan kemari merasakan pusing juga sakit yang bersamaan.
Nita merasa bersalah dan mencoba melihat keadaan kepala Rudy ia khawatir ada yang bocor
__ADS_1
" So sory.. Pasti sakit banged ya aduduh.. Sorry ya Rudy!! Khilaf... Khilaf...
Cicit Nita mencoba melihat kekiri kanan kepala Rudy. Ia sungguh menyesal sudah mengamuk seperti tadi.
" Kayak nya pala aku benjol 7 tingkat ini Nit! Kamu harus tanggung jawab! " Tuding Rudy menatap tajam perempuan ini. Walau sebenar nya ia hanya bohongan.
Mendengar itu Nita hanya bisa gigit jari. " Iiya tanggugg jawab nanti aku obatin ya okey...
Rudy mengangguk kalem dalam hati ia bersorak sorai kegirangan.
Sementara itu di kediaman Mr. Devano Alexander Humours sedang terjadi moment sakral. Bukan ijab kabul sih hanya saja Devan lagi bertingkah menjadi calon mantu idaman di depan Papa Andi.
Ia mengamit tangan pria itu dan menunduk disana seperti ksatria nyasar.
" Papa.. Devan sudah pernah mengatakan nya di telepon. Kali ini saya minta izin secara langsung untuk mempersunting lagi Alena sebagai istri saya! "
Ucap Devan sungguh sungguh menatap lurus Papa Andi dengan ketulusan nya. Alena sendiri kaget kekasih nya itu tau tau sungkeman dengan Papa nya malah meminta ijin menikahi nya lagi, tapi ia merasa sangat bahagia mendengar dan melihat penuturan Devan disana yang terlihat gentleman sekali, sorot pria nya sangat tajam dan mendalam. Apalagi ini didepan semua yang orang-orang tersayangnya yang langsung tersipu-sipu melihat pertunjukan itu. Kecuali Dave yang merasa mules akut.
Papa Andi menepuk bahu Devan " Papa tidak pernah menghalangi puteri Papa untuk bahagia lagi Dev! tapi Papa minta kamu jangan buat Alena menangis lagi" Ucap Papa menarik Devan untuk berdiri sejajar dengan nya. Kali ini tampak aura kebapaan yang meminta jaminan kebahagian puterinya.
" Sure! Tentu Pa.. Saya akan hanya mencintai dia dan membahagiakan nya. Tak akan ada air mata lagi untuk Alena" Sahut Devan yakin. Dan Papa Andi tersenyum senang mendengar nya. Devan lalu memeluk sekilas pria itu dengan sayang.
" Hmm udah nikahin aja udah... " Teriak Dave iseng.
Membuat seisi disana hanya tertawa. " Tapi tanya dulu ke Alena. Emang dia mau jadi istri loe Dev. Ntar tau tau di nikah sama yang laen lagi"
Kali ini candaan Dave terdengar kacau. Situasi disana yang tadi nya adem ayem malah menjadi canggung. Mengungkit orang ketiga saat lagi romansa nya tentu membuat raut si pemeran utama nya kerucut.
" Haduw.. salah ngomong nih gue.. " Cicit nya langsung menyadari kelaknatan mulutnya.
" Dave.. Ikut Mami yuk sayang. Mami ada bikin sambel terasi di dapur. Mami mau cek dulu level kepedasan nya. Yuuuuk ikut... " Ajak Mami disana sudah siap memberikan hukuman buat putera bungsu nya ini. Dave hanya menurut sekaligus menghindar dari tatapan kesal Devan disana.
" Hmmm, yeaah.. Tanpa ditanya juga aku pasti mau kok" Sahut Alena merasa perlu buka suara ia mendekati Devan dan memeluk nya sebentar meresapi kehangatan tubuh Devan ia lalu kembali mendongak " Aku sudah yakin dengan pilihan ku sekarang Dev.. Kamu juga sumber kebahagian ku sekarang. Anak-anak dan keluarga mu. Aku tidak bisa bahagia tanpa kalian" Ungkap Alena memberi keyakinan pada Devan. " Maaf kalau waktu itu aku sempat meragukan mu...
Devan membalas pelukan nya untuk Alena dan mengecup kening nya dengan dalam dan menghirup aroma lemon dari rambut Alena. Sangat menenangkan pikiran nya.
" Mungkin ini cara Tuhan untuk meyakin kan hati mu sepenuh nya untuk ku lagi Alena dan Melalui Adela kamu dikembalikan untuk ku!! "
Alena menatap dalam sorot Devan disana yang sudah siap meleburkan hatinya lagi. Ia mengangguk dan kembali bergelayutan di bocah besar itu. Ingin rasanya ia mencium bibir itu bertubi-tubi.
" Uhuuuk uhuuuuk! Bikin iri aja siii, Adela juga malu liat Papa- Mama nya romantisan" Celetuk Arya menutup mata Adela dengan kedua tangan bayi itu. Membuat Adela hanya bisa ketawa-ketawa menggemaskan tangan nya di mainkan om nya.
" Apaan sih. Jomblo akut ga boleh lihat" Sahut Alena semakin intim memeluk Devan disana.
" Idih.. Jomblo apaan! Kan ada tante satu nya.. Ssssst sssst" Arya menggeriyang dan mendesisi kearah Susan yang tadi nya mesem mesem melihat kemesraan sahabat nya malah kaget ia disebut tante oleh bocah labil di sebelah sana.
Alena ngakak mendengar nya" Aduuh Arya. Susan siih udah mau dihalalin.. Pak Dokter jangan jadi pembinor kamu...
" Ah masa. Sebelum janur kuning melengkung. Apapun bisa kan! Mba aja mau merried sama Bang Jo keburu gagal hayoooo.. Udah didepan mata lagi!!
Alena kali ini mingkem. Kalau di ungkit tentang Jo. Ia kalah telak.
" Lagian tuh ya.. Arya sama tante Susan udah ciplokan lho. Jangan heran kalau tiba tiba... Tante Susan bunting anak Ar-
" Arya... Mulut nyaa" Teriak Susan disana langsung menyerbu Arya dan membukam mulut nya walau sudah telat yang lain keburu dengar.
Wajah Susan langsung merah padam menahan malu.
" Hee kalian jangan salah paham waktu itu Arya kan lagi ikut ke lapangan. Tau tau dia jatuh jadi ga sengaja aku nangkep dan kecelakaan itu terjadi " Cicit Susan tak mengurangi kadar kegelian di wajah Alena juga Devan plus Papa Andi yang menganggap Susan hanya mencoba mencari alibi.
Arya disana geleng geleng kepala nya. Lalu dengan kejahilan nya ia malah mencolek pipi Susan membuat Susan memekik kaget.
" Tuh kan. Tante aja girang di colek Arya. Gini gini brondong lho tante...masih ga ada pengalaman " Umbar Arya disana gemar sekali membuat Susan kebakaran jenggot.
" Arya... Kamu tu! Lagian brenti panggil aku Tante! Umur ku baru 25 tau" Jengkel Susan mengomel.
" Arya baru 18. Nooh beda 7 tahun doang kan Tante. Kita masih serasi ya kaan.. Tante.. " Goda Arya lagi siap siap kabur saat Susan melepas sendal rumah nya.
" Arya.. Jaga mulut kamu.. " Teriak Susan disana mengejar penuh emosi.
" Yaa kalian jangan lari-lari. Kasian Adela... " Teriak Alena disana cemas. Anak nya ikut di bawa pergi Arya.
Hanya terdengar suara tawa Arya di Koridor.
Alena lalu kembali menenggelamkan kepala nya di dada bidang kekasih nya ini, ia sungguh merasakan kehangatan dan rasa sayang dari seluruh orang-orang yang membahagiakan nya malam ini terlebih untuk Devan. Dan keceriaan dalam rumah ini seolah ingin ia ingat sepanjang masa.
Hingga Papa Andi yang merasa jadi obat nyamuk anak nya ia pun segera menyingkir. Mengajak Jeremy disana yang sedari tadi hanya asik menggambar. Dan ruangan itu hanya menyisakan Devan dan Alena.
Devan mencium bibir Alena dengan sayang.
" Dev.. Emang kapan rencana kita menikah?? "
" Kenapa! Apa kamu sudah tidak sabar menanti malam pertama kita! Kalau kamu mau sekarang juga bisa! Kan yang penting halal dulu" Jawab Devan membuat Alena meringis. Ia mengurai pelukan nya.
" Bukan begitu Dev. Aku merasa punya firasat buruk! Keluarga semua datang disaat Jordan meneror kita! Aku hanya takut salah satu dari mereka atau pun kamu akan kenapa-napa! Contoh nya saja tadi Nita baru datang sudah dapat musibah... " Keluh Alena mengutarakan keresahan nya.
" Jadi kamu ingin mengundur pernikahan kita karena takut sama J? " Selidik Devan. " Atau ada alasan lain? Ia malah mencerocoki Alena dengan tuduhan tak mendasar
Alena menggeleng menyela dugaan Devan yang terakhir. . Tentu dia mau saja menikah secepatnya hanya saja waktu sekarang terasa tidak tepat.
" Kalau begitu...! Siap-siap besok kita menikah secara Live!! " Bisik Devan disana membuat Alena meremang. Ia takut ini akan menjadi semakin sulit. Tapi tetap saja ia tak bisa membantah kehendak Devan. Pria itu lalu menggendong Alena dengan sekali angkat. Sampai wanita itu terbengong dan langsung memekik kaget.
__ADS_1
" Dev.. Jangan macam-macam dulu sama Alena.. " Teriak Mami terdengar nyaring memperingati.